
Satu bulan kemudian...
Di hotel keluarga Dimas orang - orang sedang sibuk mempersiapkan pernikahan si pemilik hotel, di salah satu kamar di sana seorang wanita cantik sedang menjalani rangkaian perawatan yang didatangkan khusus untuk dirinya.
Ia harus terlihat cantik dan segar untuk menyambut tamu - tamu yang hadir memberi restu padanya. Terlihat guratan sedih di wajah cantiknya. Dimana hari istimewanya tanpa kehadiran orang tua dan para sahabatnya.
Dimas sudah mengajaknya berkunjung ke makam orang tuanya, tapi ia tak berjanji akan mendatangkan para sahabatnya. Terlebih Pingka yang tanpa kabar sejak hari itu. Ya, dia adalah Salsa calon istri Dimas.
Baru - baru ini Dimas mengetahui keberadaan Pingka dari Endra, tapi ia belum yakin bisa membawa Wanita itu untuk calon istrinya.
Dimas sangat mengerti bagaimana perasaan Pingka saat itu, wanita yang pernah mengisi hatinya sesaat. Merasakan kehancuran rumah tangga yang memang tak kuat sejak awal. Mungkin tak mudah untuknya datang lagi ke sana.
Dimas menyentuh pundak Salsa yang termenung. "Jangan bersedih, apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan kita ?" Pria itu duduk di tepi kasur.
"Sangat bahagia, tapi ada yang kurang. Teman-temanku tidak ada disini." Salsa mengalihkan pandangannya.
"Maaf, permintaanmu yang ini tidak dapat aku penuhi."
"Tidak apa-apa, kita fokus ke depan saja." Salsa mulai tersenyum.
"Baiklah aku akan menemui Endra dulu, dia sudah ada di hotel ini." Dimas berdiri mencium pucuk kepala Salsa.
Salsa mengangguk dan tersenyum, betapa bersyukurnya ia bisa menikahi pria lembut seperti Dimas. Walau sempat ragu tapi pria itu bisa meyakini Salsa kalau ia benar-benar mencintainya.
...----------------...
Tiga pria tampan sedang menyesap kopi hitam di atas meja sambil berbincang masalah pekerjaan nampak begitu serius.
Dimas ikut bergabung bersama pria-pria itu.
"Bagaimana kabarmu?" Dimas menepuk pundak Endra.
"Baik."
"Bagaimana kabar, Pingka?" Dimas duduk menyeruput teh miliknya.
"Baik, tapi tidak seperti dulu banyak berubah. Pingka yang sekarang lebih dewasa dan dingin."
"Aku sangat penasaran, sepertinya aku harus mengatur cuti untuk bertemu gadis pedalaman itu." Dokter Reno tersenyum.
"Kamu mengibarkan bendera perang padaku?!"
"Tidak, mana pernah aku mengibarkan bendera perang padamu." Dokter Reno kembali menyesap kopi hitamnya.
"Lalu, tadi apa maksudmu ?" Endra mulai merasa kesal.
"Aku hanya mengatakan penasaran, sudah lupakan saja ! Apa dia tidak ikut denganmu?" Dokter Reno bertanya lagi.
"Tidak, dia sibuk." Jawab Endra seadanya, ada kesedihan tersirat di wajahnya.
"Dia perlu waktu." Sahut Dimas
Sandi tak banyak bicara sebagai pria beristri ia hanya fokus sebagai pendengar setia. Usai berbincang mereka membubarkan diri, Dokter Reno memilih pulang ke rumahnya yang tak jauh dari hotel itu. Sementara Sandi pulang ke rumah, dan Endra istirahat di salah satu kamar hotel. Mereka semua mengistirahatkan diri sambil menunggu waktunya pernikahan.
...----------------...
Di panggung pelaminan inilah, Dimas dan Salsa berdiri menyalami tamu mereka yang mengucap selamat dan memberi doa restu kepada mereka. Dari sekian ratus undangan belum ada wajah-wajah yang dirindukan Salsa hadir di sana. Dimas ikut merasakan kesedihan Istrinya tapi ia tak mampu berbuat apa-apa.
Begitu juga Endra, ia tak bisa memaksakan Pingka ikut bersamanya. Ia tersenyum kecut pada dirinya sendiri, lihatlah semua tamu undangan menggandeng pasangannya masing - masing hanya dia dan Dokter Reno beserta asistennya yang tidak membawa pasangannya.
Tidak ingin terlarut dalam kesepiannya, Endra memilih menyapa para rekan bisnisnya. Hampir empat jam sudah resepsi pernikahan Dimas dan Salsa berlangsung. Tamu undangan mulai sepi hanya tinggal puluhan orang saja.
__ADS_1
Tanpa diduga masuklah dari arah luar tiga orang yang begitu dirindukan Salsa dan semua orang di sana. Seorang wanita melangkah dengan anggun menggunakan gaun berwarna putih sepanjang mata kaki dan ada belahan sedikit di dadanya dengan tatanan rambut mengombak. Pingka begitu cantik malam ini di apit dua pria tampan yaitu Arif dan Ferdi. Salsa menatap tak percaya pada siapa saja yang baru datang dan berdiri di depannya.
"Selamat atas pernikahanmu." Pingka tersenyum.
"Kemana saja kamu selama ini ? Apa kamu tahu aku kehilanganmu, aku juga bisa merasakan kesakitan dan kesedihanmu ! Apa kamu berpikir saat meninggalkanku dalam waktu yang lama tanpa kabar berita ?! Kamu tega padaku, Pingka ! Aku membencimu !" Salsa meluapkan segala emosinya. Nafasnya naik turun disertai tatapan galak.
Ferdi dan Arif hanya menunduk ke bawah menerima segala amarah Salsa karena menyembunyikan Pingka selama ini.
"Sayang, kenapa kamu memarahi Pingka?" Dimas berusaha menenangkan Salsa.
"Diam !" Bentak Salsa
Endra mendengarkan keributan di pelaminan langsung mendekat. "Jibi." Pria itu senang dan tersenyum bahagia, tapi senyum itu memudar setelah melihat ketegangan semua orang. Dengan cepat ia melangkah menuju pelaminan.
"Kalian berdua pasti bersekongkol menyembunyikan dia dariku !" Tunjuk Salsa dengan nafas memburu.
Endra mendekat pada Dimas. "Kenapa kamu biarkan Salsa memarahi Pingka ?! Aku tidak terima" Ucapnya tersulut emosi.
Dimas mengusap punggung Salsa memintanya berhenti. Tapi dengan cepat Pingka memberi kode pada Dimas jangan mendekat.
"Kamu tahu ? Dirimu bukan hanya sahabat tapi juga ku anggap saudaraku. Hanya kamu yang menerimaku selama ini tanpa syarat, tapi kenapa kamu pergi selama itu dariku ?" Suara Salsa melemah bercampur suara tangis haru. Endra sudah gelisah melihat Pingka tidak bereaksi hanya menampilkan wajah datarnya dan diam. "Cukup ! Jangan lakukan ini lagi, aku kesepian tanpa kalian." Salsa terisak.
"Puas? Bagaimana sudah merasa lega?" Pingka tersenyum lalu membuka kedua tangannya. "Aku merindukanmu."
Salsa membawa tubuhnya di pelukan Pingka. Tangisnya pecah lagi di pundak wanita itu. "Aku merindukanmu." Ucapnya sesegukkan.
Endra dan Dimas menghembuskan nafas lega ternyata Pingka lebih dewasa menghadapi sikap Salsa.
"Selamat untuk kalian berdua." Ucap Ferdi mengusap sudut matanya ikut terharu.
Salsa mengangguk lalu beralih memeluk Ferdi. "Jangan mengabaikan ku lagi." ucapnya melepaskan pelukannya.
"Sa, maaf telah menyembunyikan Pingka setahun belakangan ini, selamat atas pernikahanmu ! Bahagia selalu, jangan pernah menangis untuk sesuatu yang tidak berarti." Mata Arif nampak berkaca-kaca.
Sesak, itu dirasakannya. Hanya bisa mencintai dalam diam tanpa ada keberanian mengatakannya. Itulah kesalahan besar yang ia lakukan. Pingka menyentuh pundak Arif untuk memberikan kekuatan.
Arif melihat pada Pingka dengan senyuman manisnya. Hal itu membuat Endra terbakar cemburu. Mereka juga tak lupa mengucapkan selamat pada Dimas dan seluruh keluarga di sana.
"Halo Pingka aku merindukanmu, ternyata kamu lebih cantik sekarang." Dokter Reno muncul dari belakang. Lalu membuka tangannya lebar untuk memeluk Pingka, tapi sebelum itu terjadi dengan sigap Endra menghalanginya dengan memeluk tubuh Dokter tampan itu.
"Kenapa ? Aku hanya ingin memeluknya bukan untuk memilikinya." Kesal Dokter Reno.
"Tidak boleh." Tegas Endra dengan sorot mata yang tajam.
"Pingka, boleh aku memelukmu?" Dokter Reno langsung bertanya.
Pingka tersenyum lalu membentang tangannya, Endra semakin kesal pada Dokter itu. Pria ini langsung melepaskan pelukannya pada Dokter Reno dan berbalik memeluk Pingka.
"Hanya aku yang boleh memeluknya." Endra memeluk tubuh Pingka dengan erat.
Jantung wanita itu berdegup kencang baru kali ini ia merasakan pelukan Endra yang begitu kuat seperti takut kehilangan.
"Lepaskan, aku susah bernafas." Pingka mengeluarkan suara. Endra melepaskan pelukannya tapi tak bergeser dari sisi mantan istrinya.
"Kenapa kamu posesif sekali ? Dia bukan istrimu." Cibir dokter Reno.
"Biar manusia langka sepertimu tidak mendekatinya." Balas Endra.
Semua orang terkekeh melihat wajah kesal Dokter Reno.
Dimas meminta mereka menikmati sajian yang sudah disiapkan. Tamu undangan yang hadir hanya tinggal keluarga dekat dan teman - teman Dimas dan Endra.
__ADS_1
Endra sudah mirip perangko menempel terus disisi Pingka sehingga wanita itu merasa risih.
"Kenapa kamu memakai gaun terbuka begini ? Dan kenapa kamu tidak mau pergi bersamaku?" Endra melepaskan jasnya lalu memaksa Pingka memakainya.
"Ada urusan mendadak." Singkat Pingka.
Mereka duduk dalam satu meja bergabung bersama Ferdi dan Arif serta Dokter Reno. Pingka tidak terlalu memperhatikan Endra disisi kirinya, ia fokus pada raut wajah Arif di sebelah kanannya.
"Bagaimana suasana hatimu?" Bisik Pingka.
"Tenang, aku bisa mengatasinya." Balas Arif tersenyum.
Endra merasa kesal Pingka begitu mengabaikannya. Ia berfikir mencoba mengalihkan perhatian mantan istrinya itu. "Aahh" Rintih nya menyentuh kepalanya.
Pingka refleks menoleh pada Endra lalu menyentuh kepalanya. "Kamu kenapa ? Yang mana sakit?" tanya nya cemas.
"Kepalaku tiba - tiba sakit."
Pingka meraih gelas air. "Minumlah ! Mungkin, kamu kurang oksigen atau lapar."
Endra mulai melancarkan aksinya. "Sepertinya begitu." Ujarnya menahan tawanya karena Dokter Reno menatapnya curiga.
"Baiklah tunggu disini, aku ambilkan makanan untukmu." Pingka berdiri tapi tangan Endra dengan cepat menahannya.
"Makan yang ada di piringmu saja." Ucap pria itu manja.
Pingka menatap heran seperti mengerti permainan Endra. Ia pun mengikutinya. "Baiklah" Ia menyendok makanannya ke mulut Endra sampai habis. Pria itu tersenyum senang lalu melihat kepada Dokter Reno dengan tatapan mengejek. "Dokter Reno, tolong periksa dia, apa kamu membawa peralatan mu?" Pingka menatap dokter itu. Endra menjadi salah tingkah bisa saja dia ketahuan berbohong.
"Tentu aku membawanya karena berjaga pada kondisi pengantin di atas sana." Jawab Dokter Reno.
"Pingka, kamu ikut bersama kami kembali ke hotel atau masih tetap disini?" Tanya Ferdi.
"Masih disini, nanti aku kembali ke sana sendiri."
Ferdi dan Arif berpamitan pada Salsa dan Dimas untuk kembali terlebih dulu.
"Pingka." Sapa Sandi senang. Setelah mengantarkan Melan dan Ibunya pulang. Sandi kembali lagi ketempat acara.
"Pak Sandi, apa kabar?"
"Kabarku baik, bagaimana dirimu ?" Sandi ikut duduk di sana.
"Sangat baik, Pak."
Sandi melihat bingung pada Endra yang menundukkan kepalanya di atas meja. "Kamu kenapa?" Tanyanya menunduk melihat wajah Endra
"Dia pusing aku akan memeriksanya." Sahut Dokter Reno yang baru kembali membawa peralatan medisnya.
Dokter itu memeriksa Endra dengan serius dan hasilnya semua nampak normal, ia mulai faham Endra berbohong. Ide jahilnya pun menggoda.
"Bagaimana?" Pingka melihat pada Dokter Reno.
"Tensinya naik, sebentar lagi bisa terkena stroke." Jawab Dokter Reno menatap sinis.
Endra mengangkat kepalanya dengan mata melotot. "Kamu menyumpahi ku?"
"Aku benar, kamu merasa pusing, 'kan?" Dokter Reno tak mau kalah .
"Kamu membohongiku ! "Endra tak terima karena ia memang tak punya riwayat darah tinggi
Perdebatan Endra dan dokter Reno terjadi, tanpa mereka sadari jika Pingka dan Sandi meninggalkan meja itu lalu berpamitan pada Dimas dan Salsa untuk kembali ke hotel tempatnya menginap. Acara sudah selesai Endra baru menyadari jika Pingka sudah tidak di sana.
__ADS_1