Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Apa aku bermimpi?


__ADS_3

Ibu Erly meletakkan sendok dan berdiri lalu meraih wanita itu dalam pelukannya. Rasanya benar-benar bahagia. Tanpa di minta wanita ini datang dengan suka rela.


"Sejak kapan kamu disini, Nak" Tanya ibu Erly dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Satu jam lalu, Bu. Aku mengambil penerbangan pagi." Pingka masuk menarik kopernya dan tempat makanan.


"Terimakasih mau datang, sayang. Endra pasti senang karena sebelum sakit ia bermaksud menjemputmu lagi." Kata ibu Erly dengan air mata yang lolos begitu saja di pipinya.


"Maaf aku terlambat datang, Pak Sandi dan Pak Dimas sudah memberitahu ku kemarin." Jawab Pingka lalu melihat pria lemah yang tertidur di atas ranjang.


"Kakak Ipar kembalilah pada Kakakku, maafkan dia." Melan menitikkan air mata lalu memeluk tubuh ramping Pingka.


"Jangan menangis yang terpenting Kakakmu sembuh terlebih dulu." Balas Pingka lembut dan mengusap air mata Melan.


"Terimakasih Pingka kamu sudah ada disini." Ucap Sandi tulus.


"Sama-sama Pak Sandi, Dokter Reno bagaimana kondisinya?"


Dokter Reno menjelaskan secara rinci, air mata Pingka mengalir begitu saja tanpa ijin, tangannya tergerak membelai rambut pria itu, rasa rindu yang terpendam satu bulan lamanya terbayarkan hari ini walau sedikit berbeda disuguhkan dengan wajah pucat pasi dan kelopak mata tertutup lemah.


"Cepat sembuh aku disini." Pingka menyentuh tangan kekar agak kekuningan itu.


Dimas memperhatikan Pingka sejak tadi tanpa suara. Kemana rasa rindu ? suka ? Yang dimilikinya pada Pingka. Lalu perasaan apa yang dirasakannya pada wanita itu sebenarnya?


"Pingka, kamu sendiri ke sini?"


"Iya Pak Dimas, Kak Fajar tidak bisa ikut. Dua minggu lagi dia akan menikah dengan Kak Mayang." Jawab Pingka tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah pria di depannya.


"Bagaimana kabar Salsa?" Tanya Dimas merasa merindukan wanita itu.


Pingka menoleh kepada Dimas. "Jadi, kamu belum tahu? Salsa dan Neneknya pindah ke Kota ini setelah dijemput Paman dan Bibinya, Dia tidak memberitahumu?" Pingka kembali yang bertanya.


Dimas menggeleng. "Beritahu aku alamatnya nanti akan ku jemput dia untuk kesini"


"Baiklah." Pingka mengetik pesan dan mengirimnya pada Dimas.


Tanpa lama pria itu langsung melesat keluar. Sandi dan Dokter Reno menatap bingung, di ruangan itu ada Endra dan Pingka lalu Dimas berangkat entah siapa wanita yang akan di jemput nya.


"Apa kabar kita yang jomblo  readers?" Sandi dan Dokter Reno saling lirik


Mereka berdua melihat Melan yang duduk di sofa. Merasa diperhatikan Melan ijin kembali ke kampus. Pingka tertawa begitu juga Ibu  Erly merasa terhibur.


Pingka sengaja membawa koper langsung ke rumah sakit, ia berniat tidak akan pulang sebelum Endra benar-benar sembuh.


...----------------...

__ADS_1


Kilas Balik ...


Pingka tak dapat tidur, jujur ia terpikirkan dengan kondisi Endra di Kota. Beberapa kali memejamkan mata, tapi tak tertidur juga. Bahkan kepalanya sakit memaksakan diri  untuk tidur.


Wanita cantik ini semakin gelisah di dalam kamarnya,  ia melihat jam di dinding sudah menunjukkan jam 3 malam. Pingka keluar dari kamar lalu mengetuk pintu kamar Fajar.


"Masuk" Seru Fajar dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kak, boleh aku minta tolong?" Tanya Pingka hati-hati.


"Katakan ada apa ? Kenapa kamu gelisah begini?" Tanya Fajar setelah kesadarannya sempurna.


"Kak, antarkan aku ke Kota. Perasaanku tiba-tiba tidak enak, dua jam lalu Pak Dimas juga menelponku sepertinya kondisi Endra cukup serius." Ujar Pingka merasa cemas.


Fajar melihat kearah dinding lalu menghitung jam. "Dua jam dari sini ke Kota, lalu lima jam lagi ke Kota Endra jika kamu ikut bus, kamu akan sampai agak siang di sana."


"Aku akan naik pesawat biar cepat sampai, Kak."


"Ide bagus, baiklah... Kamu berkemas. Kakak minta Arif membelikanmu tiket penerbangan pagi " Balas Fajar juga mempersiapkan dirinya.


Pingka berkemas barang seperlunya saja untuk menjenguk Endra. Dalam hatinya begitu cemas jika terjadi sesuatu yang buruk. Maka ia akan menyalahkan dirinya sendiri karena selama ini ia sudah mengabaikan telpon dan pesan dari Endra.


Kilas Balik Selesai...


...----------------...


"Pingka..." Endra mengerjabkan kembali matanya agar lebih jelas. "Apa aku bermimpi ?" Ia Kembali bergumam dan mengumpulkan nyawanya.


"Iya, kamu bermimpi, karena kamu akan gagal kembali ke alam baka." Seru Dokter Reno duduk di sofa tersenyum mengejek. Mata Endra beralih pada Dokter Reno dengan tatapan tajamnya. "Lihatlah sudah tak berdaya masih saja dia memasang wajah garangnya itu." Cibir Dokter Reno lagi.


Dokter itu tak merasa cemas lagi setelah kedatangan Pingka, kapan lagi pikirnya mengibarkan bendera perang pada raja singa itu kalau tidak pada saat dia tumbang seperti ini. Sandi hanya menggelengkan kepalanya lalu ijin pergi ke kantor lagi.


Endra menatap wajah Pingka sepuasnya, ia takut jika itu hanya mimpi. Pria ini membuka tangannya meminta memeluknya. Tanpa sadar Pingka refleks memeluk Endra.


"Jangan mengabaikan ku lagi, aku bisa gila terimakasih sudah datang untukku." Endra mengusap lembut rambut panjang  Pingka.


Pingka hanya diam merasakan belaian lembut seorang Endra Saguna. Sadar dengan posisinya, Pingkan cepat kembali duduk. Endra kecewa secepat itu Pingka melepaskan pelukannya.


"Kamu belum makan, sekarang makanlah aku sengaja singgah ke rumahmu untuk membuat bubur."


"Rumah Kita." Tegas Endra walau suaranya tak nyaring.


Pingka mengubah posisi ranjang agar Endra merasa nyaman. Bubur yang dibawa Pingka masih hangat, ia meniup bubur itu lalu menempelkan ke bibirnya merasakan masih panas atau tidak. Endra tersenyum tipis dalam hatinya membuncah kebahagiaan melihat bubur itu menempel dibibir Pingka.


Suasana kembali menegangkan saat Endra menerima suapan bubur itu.

__ADS_1


Sampai suapan ke lima bubur itu aman-aman saja melewati tenggorokan Endra. Dokter Reno dan Ibu Erly bernafas lega karena Endra memakan buburnya sampai habis.


"Bilang saja kamu ingin makan bubur buatan istrimu." Seru Dokter Reno .


Endra tersenyum tipis lalu melihat ke arah Pingka yang tersenyum padanya.


"Ibu..." Panggilnya pelan.


"Iya, Nak" Ibu Erly mendekat


"Ibu pulanglah ke rumah istirahat, ada istriku disini." Ucap  Endra tanpa malu. Sementara wanita yang disebutnya istri itu tertunduk malu mendengar kalimatnya.


"Kamu yakin?" Ibu Erly ragu.


Endra mengangguk yakin.


"Ibu pulang saja dulu biar aku disini, Ibu pasti lelah." Tambah Pingka lembut.


Ibu Erly mendekat lalu memeluk Pingka. "Terimakasih, Nak. Maaf Ibu tidak ada saat kamu sakit. Ibu tidak punya keberanian menemui mu. Ibu malu..." Ibu Erly melepaskan pelukannya lalu menatap kedua bola mata Pingka.


"Lupakan saja, Bu. Sekarang Ibu istirahat yang cukup dan makan yang teratur agar Ibu tidak jatuh sakit" Sindir Pingka dengan sudut matanya.


Ibu Erly paham lalu tersenyum.


"Baiklah Ibu akan pulang, biar Ibu tak meracau dalam tidur karena rindu." Ibu mengedipkan matanya. Endra menjadi malu dan memalingkan wajah kearah dinding.


"Ayo, Bi. Biar aku antar ke depan, aku juga akan kembali ke ruanganku. Ini hanya alasan putramu saja meminta Bibi pulang... Dia hanya ingin bermesraan dengan Kakak ipar. Maklumlah ! Satu bulan hidup tanpa belaian seorang wanita." Dokter Reno merangkul pundak Bibi Erly.


Endra mendesis geram bercampur malu menatap punggung Dokter Reno yang sudah menjauh.


"Mau tidur lagi ?" Tanya Pingka menggulung rambutnya keatas nampak leher putihnya bersih tanpa cacat. Endra menggeleng lemah, ia masih belum banyak bicara karena perutnya masih sakit dan tenaganya belum ada. "Aku ke kamar mandi dulu mengganti baju." Pingka membuka kopernya.


Jadi dia menginap disini, kalau begini aku rela sakit lebih lama asal dia bersamaku. Tapi tolong Tuhan jangan memberiku penyakit serius kalau hanya tingkat demam saja, aku bisa kalau sakit yang ini tidak lagi. Ampun sakit sekali.


Endra tersenyum tipis


"Jangan lama aku takut kamu pergi meninggalkanku."


"Aku tidak akan kemana-mana, aku disini sampai kamu sembuh." Balas Pingka tersenyum .


Senyum dan tatapan hangat itu lah yang dirindukan Endra. Tak berapa lama Pingka keluar dengan pakaian santai baju kaos kebesaran dan celana pendek di atas lutut lalu rambut dikuncir kebelakang. Mata Endra melotot melihat kaki putih mulus Pingka.


"Ganti celana mu." Titah Endra seakan tak suka


"Kenapa, aku nyaman dengan celana ini ?"

__ADS_1


"Aku tidak rela bagian tubuhmu dilihat orang lain." Ucap Endra tegas namun perlahan.


Pingka tersenyum senang Endra menjaganya dari tatapan orang lain. Pingka kembali mengganti celananya dan yang ini Endra tak protes lagi karena ia sudah terlelap dalam mimpi.


__ADS_2