Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Temani aku


__ADS_3

Pagi menyapa penduduk bumi lagi hari ini, hingar-bingar kendaraan mulai terdengar di jalanan kota. Sampai pada ketika dengungan kendaraan membuyarkan lamunan pagi wanita cantik yang tengah berhenti di lampu merah ini.


"Kenapa berangkat terlebih dulu ?" Suara Pria yang selalu menyebalkan tepat di pinggir mobilnya berhenti.


Pingka tak menjawab lalu menaikan kembali kaca mobilnya. Endra tak tinggal diam meminta Dami mengikuti mobil Pingka lalu ia turun menemui wanita itu di sana.


"Semangat, Pak ! Semoga berhasil dan tidak ditendang ke jalanan." Ucap Dami terkekeh


Endra melirik tajam pada Dami.


"Buka pintunya." Pria itu mengetuk kaca mobil.


Pingka terkejut pria ini nekat sekali turun di lampu merah lalu mengetuk jendela mobilnya. "Mau apa lagi ?" Tanya Pingka kesal lalu membuka kaca mobil.


"Beri aku tumpangan sampai ke toko rotimu nanti asistenku menjemput, Dami ada pertemuan sebentar. Ayo cepat pindah biar aku yang mengemudi." Paksa Endra.


"Menyebalkan !" Gerutu Pingka lalu bergeser ke sebelahnya. Terpaksa ia harus menurut karena pengemudi mobil dibelakang sudah berteriak.


Endra tersenyum puas lalu menginjak pedal gas melaju dengan perasaan senang. Beberapa saat mereka hanya diam sampai Pingka menyadari jalan yang mereka lewati bukan menuju ke toko rotinya.


"Ini bukan jalan menuju toko roti ku, mau kemana ini?" Pingka mulai gelisah.


"Ke kantorku, temani aku bekerja sebentar. Istirahat makan siang baru ke toko rotimu." Balas Endra santai.


"Apa ?! Turun disini biar aku pesan taksi online untukmu." Pingka mengeluarkan Ponselnya. Endra melirik dari sudut matanya lalu mengambil ponsel Pingka dan menyimpannya ke saku celana. "Kembalikan !" Suara Pingka sudah mulai meninggi


"Ambil sendiri" Endra tersenyum manis.


Pingka mendengus kesal lalu membuang pandangannya keluar jendela.


Menggemaskan, tak akan aku lepaskan lagi kamu Jibi ku.


Senyum Endra mengembang sepanjang jalan.


Sepertinya pria ini sudah gila


Pingka menggelengkan kepalanya.


Mobil mereka berhenti di depan kantor. Karyawan tercengang karena mobil hitam berhenti tepat di depan pintu masuk. Security datang ingin menegurnya. Namun Endra cepat keluar dari mobil membuat security terkejut.


"Maaf, Pak. Saya tidak mengenali mobil Bapak." Ucap pria tua itu sopan.


"Tidak masalah."


Dari arah luar Dami berlari kecil mendekati Endra. Rupanya pria itu juga baru sampai di sana, sejak tadi Dami mengikuti mereka dari belakang.


Endra membuka pintu sebelah Pingka duduk. " Ayo sayang keluar." Ia menarik tangan Pingka ke genggamannya. Wanita itu keluar dan ingin menarik kembali tangannya, tapi Endra menahannya. "Ingin aku menggendong mu sampai ke ruangan ku." Endra tersenyum nakal.


"Ti-tidak ayo masuk."


"Ayo, aku hanya ingin menunjukkan kepemilikan ku pada semua orang. Agar tidak ada yang mendekatimu. Atau, bisa saja aku membuat tanda kepemilikan ku di tubuhmu. Tapi sebelum itu terjadi aku bisa mati di tanganmu." Endra bicara sambil mengedipkan matanya.


Tanpa sadar Pingka mencubit punggung tangan Endra. "Entah terbuat dari apa kamu ini tidak punya rasa malu." Ucapnya dengan wajah datar.


"Aaww , Sakit sayang !" Endra tersenyum.


Hampir saja karyawan wanita berteriak histeris terkesima dengan senyum menawan Bos mereka. Pingka memilih diam percuma berdebat dengan  Endra takkan pernah selesai pikirnya.


...----------------...


"Mana Ponselku?" Pingka duduk di sofa.


"Sebentar." Endra mengeluarkan ponsel Pingka dari saku celananya dan menelpon nomornya sendiri. Pingka hanya diam tanpa memperhatikan apa yang dilakukan Endra, pikirannya berlarian entah kemana. Pria itu mengambil fotonya sendiri lalu menjadikan layar kunci dan depan ponsel Pingka. "Ini ponselmu." Endra duduk disebelah Pingka.

__ADS_1


"Jangan mendekat duduk disitu saja." Pingka mengambil ponselnya. Matanya melotot melihat wajah pria itu di ponselnya tersenyum manis. "Kenapa fotomu ada disini?" Kesalnya


"Jangan coba-coba menggantinya." Tegas Endra dengan raut wajah serius.


"Kenapa kamu seenaknya ?! " Pingka menjadi emosi.


"Karena aku mencintaimu, sayang." Ucap Endra tanpa ragu.


Wajah Pingka memerah entah merona karena malu atau karena marah, hanya dia yang tahu.


"Sayang, bulan depan pernikahan Dimas dan Salsa. Mereka ingin kamu ikut denganku ke sana." Ucap Endra disela pekerjaannya.


"Aku tidak bisa ! Berangkat saja sendiri." Balas Pingka tanpa mengalihkan pandangannya.


"Salsa merindukanmu, dia begitu sedih saat kamu tidak ada kabar." Ujar Endra. Dalam hatinya sangat berharap jika Pingka setuju ikut dengannya.


Wanita itu tak berniat menjawab. Ia mengscroll layar ponselnya. Melihat berita apa saja hari ini, rasa jengkelnya bertambah ketika laki-laki yang bicaranya padanya itu membawanya ke kantor ini.


Ponsel Pingka berdering, ia tersenyum melihat nama penelpon nya. "Halo." Jawabnya


"Pingka, kamu dimana aku di toko mu."


Endra menajamkan pendengarannya agar bisa menyimak pembicaraan Pingka dan orang di telpon.


"Aku terdampar, Rif. Ada apa?" Tanya Pingka.


"Dia akan menikah, tadi malam dia meneleponku mengundang kita ke sana. Bagaimana pendapatmu ?"


"Jika kamu siap, kita berangkat. Tapi jika tidak biarkan saja berikan alasan lain." Jawab Pingka dengan wajah serius.


"Aku siap ! Bukankah ? Hidup harus berlanjut."


"Itu yang kusuka darimu, baiklah persiapkan hatimu dan atur jadwal biar bisa berangkat." Pingka tersenyum tipis.


Endra mengeram kesal karena tak bisa mendengarkan suara orang di seberang telpon. Pingka menutup telpon setelah cukup lama berbincang.


"Bukan siapa-siapa, lanjutkan pekerjaanmu."


Endra jadi tak bersemangat melanjutkan pekerjaannya. Ia menatap lekat wajah datar Pingka yang duduk di sofa.


Maafkan jika aku jahat Pingka, tapi tidak akan kubiarkan pria mana pun mendekatimu


Endra menekan tombol interkom.


"Dam, ke ruanganku !" Titahnya.


Tak berapa lama Dami masuk kedalam ruangan CEO. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"


"Kamu selidiki, siapa saja dekat dengan, Pingka?" Bisik Endra.


"Iya." Dami mengangguk patuh lalu permisi keluar.


Endra melihat pada Pingka yang fokus pada ponselnya. "Sayang, boleh aku minta buatkan kopi?" Ia berusaha menarik perhatian Pingka.


"Minta saja pada Dami atau sekretaris mu."


Endra menjadi kesal lalu melangkah menuju sofa, dengan sengaja ia membaringkan tubuhnya di sana.


"Hei apa yang kau lakukan ?!" Pekik Pingka terkejut karena kepala Endra di atas pangkuannya.


"Aku mengantuk." Endra memejamkan matanya.


"Tidur dikamar pribadimu sana."

__ADS_1


"Tidak mau, aku ingin seperti ini. Kamu tahu impian terbesarku adalah hidup bahagia bersamamu dan memiliki anak disini." Endra mengusap perut rata Pingka.


Lagi - lagi dada Pingka berdebar, wajahnya juga memerah. Buliran bening dari netranya kembali membasahi pipinya. Sebelum jatuh mengenai Endra dengan cepat ia mengusapnya.


Tangannya terangkat menyentuh pipi yang tidak lagi mulus seperti dulu itu. Sudah banyak bulu - bulu halus tumbuh di sana, terlihat sekali pria ini sedikit berantakan. Jemari lembut Pingka merapikan rambut menutupi wajah teduh Endra yang tertidur.


Haruskah ? Aku memberimu kesempatan lagi, tapi aku tidak bisa menahannya jika hatiku kembali tersakiti


Dami masuk kedalam ruangan Endra dengan perlahan karena tidak ada sahutan dari Bosnya itu. Langkah laki-laki itu terhenti karena melihat Endra tengah tidur di pangkuan Pingka Jingga Biru.


"Masuklah, Dam." Kata Pingka karena melihat asisten Endra itu ingin kembali keluar.


"Tapi Nona, Pak Endra sedang tidur. Saya belum pernah melihatnya tidur nyenyak seperti ini."


"Aku butuh bantuan mu, tolong ambilkan bantal di dalam kamar pribadinya." Ujar Pingka.


Dami mengangguk lalu mengambil bantal yang dimaksud Pingka. Dengan perlahan ia memindahkan kepala Endra dari pangkuannya.


"Maafkan Pak Endra, dia sering memaksa kehendaknya." Ucap Dami.


"Tidak apa-apa tunjukkan pantrinya dimana ? Aku ingin membuat kopi untuknya." Kata Pingka tersenyum.


"Baik Nona, ayo ikut saya !"


Pingka mengekor Dami menuju Pantri. Sampai di sana, ia menjadi perhatian kaum hawa yang mengagumi sosok Endra. Pingka bersikap santai, selesai membuat kopi ia kembali keruangan Endra.


Pria itu masih pulas tertidur, Pingka menaruh kopi perlahan di atas meja lalu duduk kembali di sofa. Pingka menatap wajah Endra dengan beragam macam pikirannya. Endra membuka matanya perlahan, lalu tersenyum mendapati Pingka sedang fokus melihat wajahnya.


"Apa kamu sudah jatuh cinta lagi padaku?" Suara Endra mengagetkan Pingka.


"Kamu bangun, itu kopinya sudah ku buatkan." Nada Pingka mulai melembut.


Endra tersenyum senang, Ia langsung menyeruput kopi hitam buatan Pingka. Masih menikmati kopinya pria itu berkata. "Bagaimana, apa kamu bisa ikut denganku?"


"Sepertinya tidak." Pingka menjawab sambil mencari sesuatu di dalam tasnya.


Endra merasa kecewa, tapi ia juga tidak ingin memaksa. Mungkin  Pingka belum siap menginjakkan kaki di kota itu lagi. Kota tempat kehancuran rumah tangga mereka.


"Kemarikan tanganmu." Pingka memegang jepitan kuku. Endra menaruh tangannya di telapak tangan Pingka. Masih bingung apa yang akan dilakukan wanita itu. "Kenapa kamu memelihara kuku yang tidak terawat seperti ini?" Mulai mengomel sambil memotong kuku.


Endra terkekeh, bahagia itulah yang dirasakannya. Wanita berhati dingin dan berwajah datar ini masih perhatian padanya


"Aku lupa cara memotong kuku."


"Katakan saja kamu malas ! Merawat tubuhmu saja kamu tidak bisa." Cibir Pingka.


"Aku lupa cara merawat diri karena orang terakhir merawatku adalah kamu." Endra mengucapkan kalimat itu tepat di hati lunak Pingka.


Wanita itu mengangkat kepalanya lalu memandangi wajah pria di sebelahnya. "Apa sebegitu hancurnya kamu tanpa aku ? Sampai merawat dirimu pun tidak mampu."


"Ya, aku hancur ! Sangat hancur. Setelah kehilanganmu, aku baru menyadari betapa sangat berartinya kamu untukku dan aku lupa cara tidur serta makan dengan baik dan teratur. Bahkan merawat diri aku tidak bersemangat." Endra bersandar di dinding sofa.


"Hidup terus berjalan. Lalu... Kenapa kamu membuang waktu dalam lingkaran yang menyedihkan ?" Pingka kembali memotong kuku Endra.


"Seberapa kuat aku mencoba tapi magnet lingkaran itu selalu menarik ku, untuk tetap berada di sana. Dan memberiku keyakinan, jika suatu saat nanti kita bisa bertemu dan kembali seperi dulu. Tubuh ini serta hati yang kumiliki tidak butuh orang lain, tapi butuh kamu yang aku yakini masih berada dalam lingkaran yang sama denganku." Endra menjatuhkan pandangannya pada manik mata Pingka.


"Kamu yakin ? Waktu setahun tidak merubah isi hatiku !" Pingka selesai memotong kuku Endra.


"Yakin !"


"Bagaimana jika aku sudah membuka hatiku pada orang lain?"


"Tinggal kamu sebut namanya maka besok tinggal berita, karena kamu hanya milikku dan akan tetap begitu." Tegas Endra. Sorot mata hangat itu berubah tajam dan datar.

__ADS_1


Pingka tersenyum tipis. "Habiskan kopi mu, aku sudah lapar."


Endra mengangguk lalu menghabiskan kopinya, pikirannya mulai tak tenang bagaimana jika Pingka memang tak ingin kembali padanya ? Haruskah, Ia menelan pil pahit lagi.


__ADS_2