
Toko Roti
Seseorang yang tengah menunggu Pingka mulai merasa jenuh karena wanita itu tak kunjung datang. Dia menunggu tak jauh dari toko, duduk di dalam mobil hitam miliknya. Matanya dengan tajam mengawasi tiap orang yang datang ke sana sudah lelah menunggu selama 3 jam, akhirnya orang itu memutuskan untuk pergi.
...----------------...
Sepi dan dingin malam hari ditambah lagi turunnya hujan membuat orang terlelap nyaman di dalam tidurnya. Tapi tidak dengan Endra, pria itu baru terlelap jam 12 malam setelah menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Dalam tidurnya ia merasa sangat lapar dan tidak bisa nyenyak. Endra bangun dan duduk di kasur. Ia perlahan menyentuh lembut pipi sang istri.
"Sayang aku lapar."
Pingka membuka mata perlahan, ia adalah tipe orang yang cepat bangun.
"Kenapa, hm?"
"Aku lapar tidak bisa tidur, maaf membangunkan mu. Aku mau makan nasi goreng buatan mu."
"Tidak masalah ini tugasku, ayo temani ke dapur. Aku akan memasak nasi goreng untukmu." Pingka duduk di atas kasur.
"Benarkah ? Ayo sayang." Endra sumringah.
Ia duduk di kursi meja makan menatap penuh rasa bangga pada istrinya yang mengenakan apron. Dengan lihainya Pingka mengaduk nasi goreng di wajan. Betapa bersyukurnya Endra memiliki istri tak hanya cantik tapi juga pandai memasak. Setelah masak Pingka menaruh nasi di piring dan menyajikan untuk suaminya.
"Ini nasi gorengnya." Pingka meletakkan piring di meja lalu menuangkan air putih.
"Ayo kita makan berdua, Jibi."
"Kamu saja, aku masih kenyang." Pingka duduk di kursi seberang Endra.
Endra memakan nasi gorengnya dengan cepat karena Pingka beberapa kali sudah menguap.
"Pelan-pelan, Gugu." Pingka terkekeh.
"Sudah habis, ayo kita ke kamar besok saja membereskan piring nya." Endra meminum air putih di gelasnya.
Pingka berdiri dari kursi tanpa diduga Endra malah menggendongnya.
__ADS_1
"Turunkan aku, Gugu."
"Syutt, menurut lah pegang yang kuat, aku membangunkan mu ditengah malam begini. Jadi, aku harus bertanggung jawab mengembalikan mu ke kasur." Balas Endra sambil melangkah.
Pingka melingkarkan tangannya di leher Endra dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Benar saja Pingka sudah terlelap kembali karena memang mengantuk sekali. Dengan perlahan Endra meletakkan Pingka. Ia juga merangkak di atas kasur tepat di sisi istrinya. Merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu.
"Mimpikan aku sayang, awas saja sampai ada wajah pria lain di mimpimu ! Apa lagi aktor dari Negeri ginseng yang kamu puja itu." Endra mengecup lembut kening Pingka.
Pria ini seperti tidak waras dengan mimpi istri nya saja bisa cemburu.
Dia pun merebahkan tubuhnya disisi Pingka dan memeluknya erat dalam selimut tebal.
...----------------...
Pagi hari, Endra dan Pingka bersiap untuk pergi ke tempat tujuan masing-masing. Sebelum ke kantor Endra mengantar Pingka terlebih dulu ke toko roti. Baru kembali menuju kantornya walau berlawanan arah tapi Endra tetap memaksa mengantar istrinya.
"Sayang jaga dirimu dan hati-hati." Endra memeluk dan mencium istrinya. Tingkah pria itu setiap hari selalu begitu seperti akan pergi jauh saja dari istrinya.
"Kamu juga, istirahat siang aku antar makanan ke kantor."
"Hari ini sepertinya aku makan siang diluar. Karena akan bertemu dengan Klien sebelum jam makan siang." Ujar Endra.
Endra melambaikan tangannya lalu Dami melajukan mobil menuju kantor.
Di toko Roti, Pingka mulai mencampur adonan roti. Satu persatu loyang dimasukkan kedalam oven dan siap memanggang yang telah selesai di adon. Pingka tersenyum tipis ingatannya melayang pada beberapa bulan lalu, saat membuat adonan dan memanggang roti. Ia pasti di ganggu Endra yang saat itu berjuang mendapatkannya kembali, pria itu selalu banyak akal agar selalu menemui Pingka setiap hari.
Beberapa menit kemudian roti-roti itu sudah matang tinggal adonan terakhir, dengan senang dan sabar Pingka menunggunya. Tokonya tidak sebesar di Kota S tapi cukup banyak pelanggannya, Endra tak menolak saat istrinya ingin membuka cabang. Pikirnya akan mengisi waktu kosong sebelum Pingka menjadi Ibu, karena kesepakatan mereka jika Pingka hamil dan melahirkan nanti, maka ia akan tinggal di rumah hanya fokus pada anak dan suaminya. Endra tak ingin perhatian istrinya terbagi.
Beberapa kali Pingka diajak ke kantor, tapi ia tak dibiarkan suaminya keluar dari ruangannya dengan alasan akan menarik perhatian karyawan lain saat bekerja. Terlebih Ravita dan Rangga, pasti akan menempel dengan istrinya hal itu membuatnya risih. Semua orang tahu betapa cintanya Endra pada istrinya. Jadi mereka sangat mengerti jika Pingka saat ini tak sebebas dulu jika ingin menemuinya.
"Bu, bahan mentah kita sudah habis." Lapor salah satu pegawai wanita.
"Baiklah nanti saya pergi belanja."
Karyawan itu mengangguk lalu kembali ke depan melanjutkan pekerjaannya. Pingka mengecek ke dapur benar saja semua sudah habis, ia melanjutkan mengecek pemasukan bulan ini tenyata hasilnya sangat berkembang pesat. Dapat di perkirakan nya bulan depan bisa balik modal jika omzetnya terus naik.
__ADS_1
Usai mengecek semuanya, Pingka berniat belanja terlebih dulu. Ia turun langsung memilih bahan yang berkualitas untuk rotinya. Pingka berhenti disalah satu pusat perbelanjaan dengan mobil box satu yang mengikutinya untuk membawa barang-barang itu nanti.
Dengan telaten dan sabar karyawan pria mengekornya berbelanja, menghabiskan waktu 2 jam baru selesai semuanya. Tapi sebelum pulang Pingka mengajak karyawannya itu ke cafe untuk sekedar minum menghilangkan haus.
"Saya kembali terlebih dulu, Bu." Ucap Karyawan itu
"Baiklah, hati-hati simpan semuanya dengan benar."
"Baik, Bu. Saya permisi." Balasnya sopan.
Karyawan itu meninggalkan cafe tersebut. Pingka masih ingin tetap di sana sebelum pulang ke rumahnya. Masih asik menyeruput jusnya tiba-tiba ada seorang pria bertubuh jangkung berdiri di dekat mejanya.
"Boleh bergabung? Mejanya penuh." Ucap Pria itu.
Pingka mengangkat kepalanya dan menoleh di sekelilingnya. Betul semua tempat penuh. Sudah tahu penuh kenapa masih masuk begitu pikirnya.
"Silahkan, saya juga sudah selesai."
"Terimakasih, wajahmu sangat tidak asing. Dimana aku pernah melihatmu?" Pria itu tersenyum seolah berfikir.
"Mungkin hanya perasaanmu saja permisi." Pingka berdiri ingin melangkah.
"Tunggu ! Kamu Pingka istri Endra Saguna, 'kan? Kenalkan namaku Dion." Pria itu menghentikan langkah Pingka lalu mengulurkan tangannya.
"Terimakasih sudah mengenal saya, tapi saya harus pergi." Pingka bergegas meninggalkan tempat itu, sebelumnya ia membalas uluran tangan pria itu.
Dion menatap punggung Pingka yang menjauh dan tersenyum, lalu berkata. "Cantik ! Tapi sayangnya seorang Endra Saguna tak pantas untukmu. Menarik, dia wanita tegas."
Dia adalah pria yang menunggu istri seorang Endra Saguna sejak lama, hari ini dia bermaksud datang ke toko. Tapi sebelum sampai masuk halamannya, Dion melihat mobil Pingka keluar dari sana, dengan senang hati ia mengikuti istri Endra itu.
...----------------...
Endra terkejut bercampur marah melihat foto Pingka dan pria yang dikenalnya di Cafe, wajahnya merah serta sorot mata yang begitu tajam. Buku-buku jarinya memutih karena kuatnya mengepal, emosinya sudah tidak terkendali. Hingga benda-benda di atas meja di ruang rapat sudah berserakan dimana-mana. Dami hanya diam menyaksikan kemarahan tuannya yang tak biasa.
"Beraninya dia muncul di depan istriku !" Ucap Endra Geram. Dalam hatinya bercampur aduk perasaannya marah dan cemas.
__ADS_1
Pria 3 tahun lalu datang kembali.
Apa hubungan Endra dan Dion ? Kenapa Endra cemas atas kehadiran pria itu?