Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Lamaran dokter Reno


__ADS_3

Kediaman Endra...


Perut Pingka semakin membesar di usia kehamilan tujuh bulan, usai pemeriksaan kemarin, Endra semakin posesif pada Pingka. Ia juga mempekerjakan asisten khusus untuk istrinya. Endra tak ingin ambil resiko dikehamilan Pingka, mereka berdua menempati salah satu kamar di lantai bawah agar istrinya tak lelah naik turun tangga.


"Sayang, apa Ibu juga ikut ke kotanya Arin?" Tanya Pingka seraya merapikan dasi Endra.


"Iya, hanya Ibu orang tua yang dimiliki Reno. Kita akan membuat lamaran untuknya." Balas Endra. Tangannya beralih mengusap lembut perut sang istri. Endra dapat merasakan pergerakkan bayi kembarnya. "Mereka menendang ku, sayang !" Ucapnya tertawa.


"Itu tandanya mereka merespon mu."


Endra gemas lalu memeluk bulatan perut istrinya. "Aku ke kantor dulu, kamu hati-hati di rumah. Aku harus mengurangi pekerjaanku dari sekarang. Karena dua bulan lagi aku ambil cuti untuk menemanimu di rumah." Ucap Endra.


Pingka mengangguk lalu mengantarkan suaminya sampai depan pintu.


Sementara itu, Dokter Reno juga menggarap pekerjaannya karena ia juga akan ambil cuti beberapa hari untuk acara lamarannya, dua bulan yang lalu setelah pernikahan Ferdy dia menyampaikan niat baiknya pada Arin. Bahwa dirinya berniat menikahi dokter cantik itu tanpa menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Kedekatan mereka selama tujuh bulan ini cukup membuat mereka mengenal satu sama lain.


Arin menyetujuinya setelah mengetahui perasaan Dokter Reno sesungguhnya, begitu juga Dokter tampan itu sangat yakin atas keputusannya karena sudah mendapatkan jawaban dari Arin.


...----------------...


Rumah keluarga Arin...


Di sinilah keluarga Saguna mengantar Dokter Reno melamar Arin, mereka disambut baik oleh keluarga Arin

__ADS_1


"Ayah, perkenalkan ini keluarga Dokter Reno." Arin memperkenalkan pada orang tuanya.


Endra dan yang lainnya saling berjabat tangan memperkenalkan diri.


"Pak, kedatangan kami kesini pasti sedikit banyaknya Bapak sudah tahu, tujuan kami untuk melamar putri Bapak yaitu Arin !" Endra membuka pembicaraan.


Ayah Arin mengangguk. "Apa kamu sudah mengenal putri saya dengan baik?" Melemparkan pertanyaan pada Dokter Reno.


Dokter Reno menegakkan duduknya. "Iya, Pak. Tujuh bulan saya sudah mengenal Arin dari hal terbesar sampai terkecil."


"Dari hal apa saja ?"


"Semuanya, Pak. Bahkan saya tahu ukuran pakaian dalamnya." Balas Dokter Reno semangat.


"Apa ?! Jadi kamu sudah mengintip putri saya?" Nada ayah Arin meninggi.


"Bu—bukan seperti itu, Pak. Maksud saya jangan ragu lagi. Saya sangat mengenalnya bahkan kegagalan Arin sebelumnya, apapun pada diri dan hidupnya. Saya akan terima dengan segenap hati. Begitu juga keluarganya akan menjadi keluarga saya juga. Anggota keluarga dari istri saya nanti, maka akan menjadi bagian dari hidup saya yang baru, karena bagian hidup saya yang lama sudah kembali kepada Sang Pencipta." Balas Dokter Reno serius.


Ayah Arin memandang takjub sungguh berbeda, bahkan tunangan Arin sebelumnya hanya ingin putrinya saja tidak pada keluarganya. Maka dari itu pergerakkan Arin sangat dibatasinya. "Kapan rencana kalian menikah?" Tanya ayah Arin.


"Jika Tuhan dan Bapak merestui bulan depan saya siap." Jawab Dokter Reno.


Tapi tersirat keraguan di wajah Ayah Arin. Mata Endra melotot bagaimana Dokter Reno menyanggupi dalam waktu sebulan.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Pak. Saya yang menjaminnya pernikahan mereka akan di adakan bulan depan. Bapak dan ibu cukup jaga kesehatan, selebihnya biar keluarga kami mengurusnya, ini pernikahan terakhir dari ketiga anak saya." Ibu Erly memutuskan keraguan Ayah Arin.


Ayah Arin tersenyum. "Baiklah saya setuju terimakasih kalian sudah mau menerima keluarga sederhana seperti kami."


Dokter Reno bernafas lega lalu merangkul pundak Endra dan Sandi. Selesai membicarakan lamaran dilanjutkan makan malam bersama.


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Endra.


"Lega, aku bahagia. Tapi juga merasa sedih saat hari penting ku tidak ada orang tua atau Kakakku yang mendampingi." Jawab Reno sendu.


"Kami keluargamu jangan mencari yang lain." Balas Endra.


"Kamu benar, setidaknya aku bersyukur memiliki keluarga Saguna yang selalu mendukungku dari nol."


"Kami juga bersyukur memiliki saudara sepertimu walau kadang menyebalkan." Ucap Endra pelan diakhir kalimatnya.


Dokter Reno terkekeh. "En, setelah aku menikah carikan rumah di komplek mu."


"Kenapa ?"


"Biar selalu bisa mengunjungi si kembar nanti." Jawab dokter Reno.


"Tidak, jangan di komplek ku ! Di komplek Dimas saja." Balas Endra cepat. Dia yakin pria itu akan merecokinya setelah kelahiran anaknya nanti.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mau aku bisa meminta tolong pada istrimu." Dokter Reno melenggang masuk.


Endra menjadi kesal sendiri bergumam-gumam tidak jelas sebelum menyusul masuk. Akan jadi apa kesehariannya jika bertetangga dengan Dokter Reno.


__ADS_2