
Satu tahun kemudian...
Rerumputan bergoyang ditiup angin di atas perbukitan sudut Kota, menjadi pemandangan indah dimata wanita cantik yang menikmati sunrise dari dalam tenda kemahnya. Senyum merekah indah di bibirnya ketika menghirup udara pagi yang segar murni tanpa polusi. Wajah segar berseri menggambarkan hatinya sedang baik-baik saja.
Melepas penat dan lelah berbaur pada alam bebas sudah menjadi hobinya sejak dulu. Jika kebanyakan orang menghabiskan waktu berlibur dengan tujuan luar Kota dan luar Negeri maka wanita ini akan memilih perbukitan, danau atau tempat yang cocok untuknya berkemah dan memancing.
Di sanalah letak kedamaian itu menurutnya. Aroma murni dari pepohonan sekitar perbukitan sudah menjadi candu baginya. Cuaca yang tidak terik dan juga tidak mendung memang cocok untuk mendirikan tenda perkemahan .
"Kamu menikmati perkemahan kali ini ?" Tanya pria di sebelah tendanya.
"Tentu ! Karena aku pencinta alam bebas, disinilah... Orang tak mendengar keluh kesah ku." Jawab Wanita itu sambil menunggu munculnya mentari pagi.
"Hampir saja aku lupa kamu adalah gadis rimba."
"Kamu pikir aku tarzan !" Wajah kesal Pingka menghiasi paginya.
"Ampun, Nona. Jangan memasang wajah kesal begitu, karena matahari akan malu menampakkan dirinya." Ujar Ferdi terkekeh.
__ADS_1
Merekalah yang berkemah di sini, Pingka dan Ferdi serta beberapa karyawannya dan Fajar. Setahun lamanya Pingka menata hidup dan karirnya. Impian sejak kecil telah terkabul yaitu memiliki toko roti yang besar. Pingka merintis usahanya dari nol hingga menjadi toko roti besar dan terkenal.
Ia juga memiliki beberapa karyawan yang membantunya di toko. Sebulan sekali, Pingka mengajak mereka berlibur dengan berkemah dan memancing. Pingka dan Fajar pindah ke Kota, pria itu juga sudah berhenti dari perkebunan sawit lalu memutuskan membuka usahanya sendiri.
Fajar membuka bengkel mobil yang cukup besar dan banyak pelanggannya. Ia sengaja merekrut karyawan dari kampungnya karena mereka banyak berbakat tapi tak tersalurkan dengan benar.
Selain memberikan mereka pekerjaan, Fajar juga menyiapkan tempat tinggal untuk mereka di belakang bangunan bengkelnya. Ada kepuasan dan rasa bahagia yang tak ternilai dirasakan Pingka dan Fajar.
...----------------...
Di tempat lain cuaca cukup tak bersahabat walau tak deras tapi hujan itu begitu awet. Memaksa sebagian karyawan kantor Saguna Group menahan diri untuk pulang ke rumahnya .
Tatapan garang dan tajam. Wajah datar dan kasar serta tegas jadi ciri khas CEO ini. Banyak karyawan harus berhati-hati bila menghadap membawa kesalahan. Seperti kepala bagian keuangan yang menggelapkan dana perusahaan, ia menumpasnya sampai ke akar-akarnya. Memperbaiki keadaan itulah ia pindah ke perusahaan cabangnya.
"Bagaimana, apa mobil saya sudah bisa diambil hari ini?" Tanya CEO itu yang sedang fokus pada layar laptopnya. Wajah serius dengan kaca mata putih bertengger di hidungnya tak mengurangi kadar ketampanannya.
"Sudah, Pak. Nanti sepulang dari sini kita mampir mengambil mobil Bapak, biar sopir kantor membawa mobil yang kita pakai nanti." Jawab seorang Asisten yang bernama Dami.
__ADS_1
CEO baru dan asisten baru. Karena asisten lama beralih profesi sebagai suami dan juga penerus perusahaan cabang dari Saguna Group.
"Baiklah saya nyaman menggunakan mobil itu." Balas CEO itu yang tak lain adalah Endra Saguna.
Hujan berhenti para karyawan berhamburan keluar menuju halte bus. Kilas balik Pemandangan pada satu tahun yang lalu, dimana seorang wanita sabar menunggu di halte bus dengan earphone di kedua telinganya. Serta raut wajah mendamaikan jika melihatnya. Bagai bayang nyata yang susah dihapus. Lalu dengan sendirinya rasa rindu kembali datang masuk kedalam hati dan jiwa pria itu
Endra tersenyum tipis dibalik tirai kaca jendela ruangannya, matanya terfokus pada halte bus yang tak jauh dari kantornya. Pikirannya melayang pada sebuah kenangan satu tahun silam. Bola mata tajam itu nampak memerah dan berkaca. Sesak menyeruak dalam dadanya, ketika ingat tatapan penuh benci meninggalkannya kala itu.
Berbagai cara ia lakukan untuk mencari wanita yang masih menggenggam baik hatinya sampai saat ini. Menghilang begitu saja tanpa arahnya, entah bahagia atau tidak dirinya pun tidak tahu.
Endra terhanyut dalam khayalan hingga seulas senyum kembali terukir di bibirnya.
Apa kabar kamu di sana? Adakah kamu menyimpan rindu untukku ? Seperti aku yang selalu mengharapkan mu kembali dalam pelukku.
"Anda tersenyum, Tuan." Dami tanpa sengaja bertanya karena melihat lengkungan tipis di bibir pria itu.
"Kamu salah lihat." Endra menjawab datar
__ADS_1
Dami tersenyum menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Endra meraih ponselnya lalu menatap foto bayi perempuan yang terlihat belum genap satu tahun. Entahlah, dengan hanya melihat foto bayi yang menggemaskan itu. Ia mendapatkan ketenangannya kembali.
"Ayo kita pulang saya merindukan Baby Syila, besok saja kita ambil mobilnya." Kata Endra selesai merapikan mejanya.