
Cuaca pagi nampak begitu mendung dan gelap. Dingin, itu yang dirasakan tiap orang tak terkecuali pada anak perempuan yang tengah menangis di dekapan ayahnya. Suara tangis anak perempuan di dalam kamar itu sangat memilukan hati.
Perjuangan selama satu tahun belakangan ini sangat berat untuk Hendri merawat buah hatinya tanpa sosok seorang Ibu. Sering kali putri kecilnya menanyakan keberadaan Ibunya walau masih cadel dalam bicara, tapi sangat jelas anak berusia tiga tahun itu merindukan Ibunya.
Hendri tak mampu bersuara hanya bisa mengusap lembut pundak putrinya yang masih sesegukkan, hatinya teriris melihat kondisi putrinya yang sering diam dan tak ceria seperti balita pada umumnya.
Beberapa kali orang tua Rania mengajak cucunya itu untuk tinggal bersama mereka, tapi hasilnya tetap sama. Mora nama anak itu tetap bertanya dimana Ibunya dan tak banyak bicara.
Hendri sangat dipusingkan dengan masalah yang dihadapinya saat ini, belum lagi desakan orang tuanya untuk menikah lagi mencari ibu pengganti untuk Mora.
Hendri menatap luar jendela dengan mata fokus pada butiran hujan yang jatuh membasahi bumi, pikirannya menerawang jauh entah kemana. Banyak yang harus dipertimbangkannya sebelum mengambil keputusan dalam hidupnya.
Tujuan utamanya adalah demi putri kecilnya, hatinya sakit saat Mora bertanya kenapa orang lain memiliki Ibu ? Sedangkan dirinya hanya memiliki Ayah. Wajar anak itu bertanya karena Rania meninggalkannya saat ia berusia dua tahun.
Semakin hari akal pikirnya mulai tumbuh, jika jawaban Ayahnya tak memuaskan. Maka Mora akan menangis, hal ini membuat Hendri tak berkutik. Ia sudah menjalani perannya sebagai Ayah dan juga Ibu yang baik untuk putrinya. Tapi tetap seorang Ibu yang dibutuhkan Mora.
Hendri menghembuskan nafas perlahan sebelum membaringkan putrinya di atas kasur. Saking lamanya menangis, Mora lelah dan akhirnya tertidur.
Pria itu menatap iba pada putrinya, banyak kebahagiaan yang terampas secara paksa dari Mora. Karena kesalahan Rania yang dibutakan oleh obsesinya. Karena peristiwa penusukan Pingka kala itu kini, ia harus mendekam di jeruji besi.
Andai waktu itu, ia tak melakukan hal bodoh. Mungkin cinta Hendri sudah ia dapatkan tanpa paksaan. Tapi semua hanya tinggal kata andai karena Hendri kembali menutup pintu hatinya, sesudah beberapa hari Rania menyerang Pingka.
Jika bertanya apakah masih ada cinta untuk Pingka? Tentu ada. Ia belum melupakan cinta pertamanya sejak di bangku SMA itu, sampai saat ini apa yang disukai dan tidak disukai Pingka, ia masih hafal dan kebiasaan baik dan buruknya. Hendri juga masih mengetahuinya.
Selama jarang bertemu tak membuat rasa cinta itu hilang begitu saja. Tapi ia tak mau egois, dalam hati kecilnya, Hendri ingin melihat Pingka bahagia walau tak bersamanya. Tapi jika Tuhan memberinya kesempatan kedua maka, ia tak akan mengulangi kesalahan kedua kalinya, hubungan yang indah akan terjadi jika dilandasi kepercayaan yang kuat.
...----------------...
Sepasang calon pengantin dan bersama yang lainnya sedang menikmati waktu makan siang disalah satu cafe di depan sebuah toko roti.
Mereka tengah berbincang rencana pernikahan yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Endra sudah seperti anak kecil merengek pada Ibunya untuk meminta Pingka tinggal bersamanya sampai hari pernikahan.
Pingka menolak keras atas keinginan pria itu. Karena ia masih memiliki keluarga yang harus ia hargai. Endra mengalah dan juga harus bersabar.
"Jangan marah, ketika kita sudah tinggal bersama nanti. Maka jangan pernah bosan melihatku setiap hari."
"Tidak Jibi, aku tidak pernah bosan sampai kapan pun." Endra menarik tangan Pingka kedalam genggamannya.
"Semoga saja." Balas Pingka tersenyum.
"Bagaimana Kak Salsa ? Apa hasil pemeriksaan Dokter tadi pagi ?" Melan mengalihkan pembicaraan. Pusing juga pikirnya melihat sikap kekanakan Kakaknya.
Salsa tersenyum lalu menyodorkan amplop putih di atas meja. "Hasilnya positif." Jawabnya tersenyum.
"Selamat, Sa !" Ucap Pingka senang.
"Selamat, Kak ! Syila akan punya teman." Sambung Melan.
"Selamat, Dim. Akhirnya ada juga teman satu profesi menjadi ayah." Sandi menyeruput minuman di gelasnya. Dimas tersenyum mengangguk.
"Selamat Dimas, ternyata kamu pria tulen cairan mu bisa menghasilkan anak." Endra tersenyum tipis. Pingka menyikut suaminya itu . "Kenapa sayang ?" Tanyanya tersenyum manis.
"Adakah ucapan selamat yang lebih bagus dari itu lagi?"
"Aku bercanda, sayang." Endra mencium punggung tangan Pingka.
Dimas terkekeh. "Aku dan Sandi sudah terbukti sekarang giliran mu, apa cairan mu bisa menghasilkan anak?"
__ADS_1
Endra tertawa. "Jangan meragukan ku."
"Selamat kawan, jaga istri dan calon bayimu. Sudah tahu, 'kan ? Aturan tiga bulan pertama kehamilan?" Dokter Reno menepuk pundak Dimas.
"Iya, Dokter kandungan sudah menjelaskannya."
"Kendalikan dirimu karena aura seorang istri saat hamil sangat terlihat cantik dan seksi." Dokter Reno tersenyum menggoda.
"Dari mana kamu tahu? Apa kamu pernah menghamili seseorang?" Endra bertanya dengan raut wajah menyelidik.
"Ish ! Kamu pikir aku serendah itu?" Dokter Reno mulai kesal.
"Siapa tahu saja kamu khilaf."
"Model begini juga aku masih suci tanpa noda." Dokter Reno kehabisan kata-kata.
Endra dan yang lainnya terkekeh, wajah Dokter Reno terlihat merona karena malu. Yang telah mengakui jika dirinya belum pernah dekat pada siapa pun.
"Pingka."
Suara pria tak asing menghentikan tawa mereka.
"Hendri." Pingka dan Salsa sama - sama terkejut.
Hendri berdiri dengan menggendong seorang anak perempuan yang begitu cantik. "Maaf menyita waktu kalian." Ujarnya tersenyum ramah.
"Untuk apa kamu kemari ?" Endra memasang wajah tak bersahabat. Jiwa posesifnya serta merta keluar. Tangannya mulai melingkar manja di pinggang Pingka.
Hendri tersenyum melihatnya. "Aku hanya ingin berbicara pada Pingka berdua saja." Ucapnya menatap bola mata Pingka. Ada rindu dan cinta yang masih tersimpan di sana.
"Jika ingin bicara, disini saja !" Endra mulai merasakan risih.
"Dia, Mora ?" Pingka menatap lekat pada anak perempuan itu.
"Ya, dia putriku." Hendri tersenyum hangat.
Tangan Pingka terulur membelai pipi mulus Mora, ada getaran yang tak biasa dalam hatinya. Kesedihan terpancar dari netra gadis pedalaman ini.
"Sayang, jangan membuatku menggila." Bisik Endra merasa cemburu.
"Biarkan aku bicara padanya sebentar" Pingka melihat pada Endra dengan penuh harap.
Pria itu mendengus kesal dalam hatinya tidak rela jika Pingka berbicara berdua pada mantannya.
"Pingka, selesaikan urusanmu yang belum selesai dengannya. Agar tak menjadi masalah kemudian hari." Sandi menengahi.
"Sandi benar, En. Ijinkan Pingka bicara padanya sebentar dan kamu masih bisa mengawasinya dari sini." Sambung Dimas.
"Tidak perlu takut ada putrinya bersamanya." Dokter Reno juga mendukung usul Sandi dan Dimas.
Salsa mengangguk menyakini Endra. Sementara Melan hanya diam karena memang ia tak mengenal Hendri.
"Baiklah jangan lama hanya tiga puluh menit." Ucap Endra tanpa menoleh pada Pingka dan Hendri.
...----------------...
Dimeja ini Pingka dan Hendri duduk. Ada sedikit canggung antara mereka berdua. Tangan Pingka masih mengelus lembut rambut Mora. Dalam hatinya merasa tidak tega dan sedikit menyesal karena memenjarakan Rania. Namun, mengingat kejahatan yang pernah dilakukan sahabatnya itu. Tidak mudah untuk Pingka melupakannya begitu saja.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu bicarakan ?"
"Sebelumnya aku minta maaf mengganggumu sebentar." Hendri mulai membicarakan maksud tujuannya. Sambil melihat pada putrinya. Pingka juga ikut melihat pada Mora dan tersenyum.
Dari jauh Endra menyaksikan Pingka tersenyum menjadi gelisah.
Apa dia menggunakan putrinya untuk merebut Jibi ku ?
Sorot mata Endra begitu tajam, sementara yang lain memberikan penenangan padanya.
"Apa dia tumbuh dengan baik?" Pingka bertanya tanpa melihat Hendri.
"Ya, dia tumbuh dengan baik tapi kurang kasih sayang dari seorang Ibu." Hendri menatap dalam pada Pingka.
"Maksudmu?" Pingka mengalihkan padangan pada Hendri.
Hendri bicara serius dan penuh harap dengan sorot mata begitu hangat pada wanita di hadapannya ini. Pingka terkejut sekaligus kesal, tapi kembali melihat wajah Mora. Wanita ini kembali melembut dan tersenyum pada anak kecil itu.
Endra semakin gelisah karena reaksi Pingka berubah-rubah. "Kenapa kalian ikut memberikan peluang pada pria itu, lihatlah ! Dia menatap Pingka ku seperti itu. Ada cinta dimatanya untuk istriku." Endra menjadi kesal.
"Sabar tenangkan hatimu." Dimas menenangkan Endra.
Hendri sangat memohon berulang kali, ia menyatukan kedua tangannya. Pingka terlihat ragu, matanya menatap lekat pada Mora.
"Demi putriku." Hendri menyatukan kedua tangannya lagi.
Pingka menjadi serba salah. Endra yang sudah tak sabaran langsung menghampiri Pingka dan Hendri.
"Waktu kalian habis." Endra meraih tangan Pingka dan menjauh dari sana.
Hendri hanya diam melihat punggung Pingka meninggalkan meja tempatnya duduk. Sementara Pingka jadi tak banyak bicara seperti sebelumnya, wajahnya sendu dengan tatapan kosong.
Hendri menghampiri meja tempat Pingka duduk bersama yang lainnya. Sebelum berpamitan.
"Pingka jaga dirimu, aku akan terus datang padamu sampai kamu mengabulkan permohonan ku." Kata Hendri masih betah melihat wajah Pingka yang terlihat kebingungan.
"Apa maksudmu? Waktumu sudah habis." Endra berdiri dari tempat duduknya menatap tajam pada Hendri.
"Bukan urusanmu ! Ini hanya antara aku dan Pingka." Hendri membalas tatapan Endra tak kalah tajamnya.
"Hentikan, Hendri pulanglah bawa putrimu." Salsa menengahi.
"Iya, Sa. Maaf tidak bisa hadir di pernikahanmu, waktu itu Mora sakit." Jelas Hendri membelai punggung putrinya yang tertidur.
Salsa mengangguk dan tersenyum.
Pingka mengangkat kepalanya lalu melihat wajah polos Mora.
"Pingka aku pulang, makanan di piring mu ada kacang Almond nya jangan dimakan. Kamu alergi." Hendri melangkah pergi dari sana.
Pingka beralih melihat piring di hadapannya dan tersenyum tipis.
"Kamu alergi kacang?" Dokter Reno bertanya.
Pingka mengangguk lalu menggeser piringnya menukar dengan milik Endra, karena ia tahu pria itu tidak memiliki alergi.
Endra mengepalkan tangannya geram, sebagai calon suami ia tak tahu. Apa yang boleh dimakan dan tidak oleh Pingka.
__ADS_1
Sial pria itu lebih tahu tentang Jibi ku.