Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Hampa


__ADS_3

Suara detak jarum jam terdengar nyaring ditengah kesunyian malam, dingin begitu mencekam ditambah tetesan hujan membasahi bumi, Alam seakan merasakan kesedihan insan yang terbaring lemah di atas ranjang putih itu.


Semoga dengan derasnya hujan mampu mendinginkan ke-piluan hatinya yang terluka, menghapus duka dan kesedihannya, begitulah kira-kira arti tatapan pria yang masih setia berjaga disisi ranjang.


Sudah hampir empat jam setelah penusukkan itu, tapi Pingka masih menutup matanya rapat-rapat. Dimas tak berniat untuk membangunkannya walau suara monitor di sampingnya seakan menghantui, bisa saja bunyi itu berhenti saat ini.


Dimas merasa perutnya lapar, ingin meninggalkan Pingka tapi takut. Terpaksa Dimas minta tolong pada asistennya yang masih sibuk di luar.


...----------------...


Menunggu hampir empat puluh menit makanan datang dibawa Asistennya. Dimas segera menyambar kantong plastik makanan karena memang sangat lapar.


"Bagaimana, sudah dapat petunjuk?" Tanya Dimas sambil membuka kotak makanannya.


"Belum, Pak. Kita butuh rekaman Cctv di depan pos kantor Pak Endra." Jawab Asisten yang bernama Adi.


"Baiklah nanti aku hubungi Sandi, perintahkan orang-orang mu untuk istirahat." Titah Dimas lalu melanjutkan makannya.


Sayup - sayup terdengar suara orang berbicara semakin lama semakin jelas, Pingka perlahan membuka matanya dan melihat tiap sudut ruangan.


Pingka tersenyum paksa.


"Berakhir disini rupanya." Gumamnya pelan.


Dimas begitu peka langsung melihat keatas ranjang. "Kamu bangun, syukurlah ! Sebentar aku panggilkan Dokter." Laki-laki itu memencet tombol di pojokan kepala Pingka.


Wanita itu tersenyum.


"Terimakasih sudah menolongku." Ucapnya tulus.


Dimas membalas senyum.


"Jangan banyak bicara, kamu masih lemah." Ujarnya sambil meninggikan ranjang sebelah kepala.


Dokter Reno masuk bersama perawat dengan tersenyum. Karisma Dokter itu begitu memikat para kaum hawa. Di tambah senyumnya yang manis.


"Kita bertemu lagi, Nona ! Baiklah saya periksa dulu ya." Ucap Dokter Reno.


Pingka mengangguk dan menuruti tiap rangkaian pemeriksaan. Dokter Reno menjelaskan semua hasil pemeriksaan, usai itu meninggalkan ruangan Pingka.


"Kamu makan dulu."

__ADS_1


"Nanti saja Pak Dimas, aku belum lapar."


"Baiklah jika perlu sesuatu katakan padaku." Dimas tersenyum.


Pingka mengangguk pelan, matanya menatap kosong keatas langit-langit kamar. Pikirannya kosong dan hampa. Dimas memperhatikan raut wajah pucat wanita itu dari atas sofa, tanpa terasa waktu sudah menunjuk pukul sepuluh malam.


Pintu ruangan terbuka munculah pria jangkung dengan raut wajah cemas dan nafas tersengal karena berlari kecil di lorong rumah sakit. Mata Pingka beralih melihat orang yang baru datang itu kemudian senyum tipis terukir di bibirnya.


"Jingga, maaf Kakak terlambat, bagaimana keadaanmu ? Kenapa ini bisa terjadi?" Fajar mencerca pertanyaan sambil mencium pucuk kepala Adiknya.


"Bawa aku pulang... Aku tidak ingin lebih lama lagi disini." Kata Pingka dengan suara lemah dan bergetar.


"Iya, kita pulang. Kakak akan mencari pelakunya." Fajar menguatkan.


Dimas berdiri dari sofa lalu mendekat ke ranjang Pingka. "Maaf, aku tidak sempat melindungi Pingka. Aku juga bodoh tak mencurigai mobil yang mengikuti kami." Ucapnya menatap lekat pada Pingka.


"Terimakasih sudah menolongnya, namaku Fajar."


"Dimas."


"Kakak, aku haus, aww..." Pingka meringis karena ingin duduk.


"Jangan bergerak." Fajar mengambil air dan sedotan.


"Dimana dia ? Kenapa tidak disini?"


Tanya Fajar heran karena Dimas yang menunggu Pingka dan Dokter Reno yang menghubunginya.


Dimas memilih diam tanpa ingin menjawabnya karena masih ada Pingka yang bisa menjelaskan.


"Kakak, kami sudah berpisah sebelum kejadian ini." Jawab Pingka lemah. Kembali dadanya bergemuruh tanpa terasa dia kembali mengeluarkan air matanya.


Fajar mematung sejenak lalu berkata. "Baguslah, setidaknya kamu tidak terluka lebih lama lagi bersamanya." Tangannya mengepal menahan emosi.


Dimas dapat merasakan jika saat ini Fajar benar-benar marah. Pria pedalaman ini mengambil sisir lalu menyisir bagian rambut Pingka.


"Istirahatlah biarkan ini jadi urusan kakak." Ucapnya sambil mengembalikan ranjang ke posisi semula


...----------------...


Endra mempersiapkan lokasi untuk acara melamar kekasihnya Melisa, dengan hati dongkol Sandi tetap membantunya. Bagaimana pun, ia tak punya hak mengatur hidup orang lain.

__ADS_1


Endra selesai mempersiapkan segalanya tapi ada sedikit berbeda disini, perasaannya tak sebahagia yang ia pikirkan. Selesai bersiap Endra bergegas menuju apartemen sang kekasih dengan membawa bunga kesukaan Melisa. Ia melangkah dengan penuh percaya diri.


Setelah sampai di depan Apartemen, Endra memasukan code pintu berniat memberi kejutan pada gadisnya. Pria tampan ini dengan senyum mengembang di bibirnya membuka pintu Apartemen.


"Sayang... ak—"


Senyum itu pudar seketika, kaki Endra terhenti dan tubuhnya mematung dengan raut wajah yang merah padam. Menyaksikan wanita yang akan dilamarnya kini sedang bercumbu mesra di ruang tamu. "Inikah ? Yang kamu lakukan di belakangku ?!"


"Endra ! Sayang .... I-ini tidak seperti yang kamu lihat." Melisa terbata bercampur panik. Ia terkejut bercampur takut.


"Lanjutkanlah ! Tapi tidak disini. Pergi dari apartemen ini, kuberi kamu fasilitas tapi kamu nikmati dengan selingkuhan mu !" Kata Endra sedikit meninggikan suaranya.


"Ma-maafkan aku sayang, aku salah. Aku berjanji tidak mengulanginya lagi." Melisa memohon sambil menangis.


"Ini yang kamu sebut pekerjaan ?! Baiklah ini mau mu ! Hubungan kita berakhir disini tinggalkan Apartemenku, dan kamu ! Bawa kekasihmu ini keluar dari sini sebelum kesabaran ku habis" Kata Endra panjang lebar.


"Aku minta maaf, En. Aku salah... Kita jangan putus... kumohon..." Melisa semakin menangis berusaha memohon.


"KELUAR !!!" Teriak  Endra mengepalkan tangannya menahan sekuat tenaganya agar tidak melampiaskan emosinya pada Melisa.


Pria yang menyaksikan pertengkaran Endra dan Melisa hanya diam menunggu sambil berdiri, cintanya terlalu besar pada Melisa sampai mau menunggu urusan wanita itu selesai bersama Endra.


"Ayo kita pulang ke rumahku." Ajak Pria itu dengan lembut. Melisa hanya pasrah menurut dan mengemas barang-barangnya.


Endra duduk disalah satu kursi sofa, mengusap wajahnya kasar. Kenapa lebih sakit melihat Pingka menanda tangani surat perpisahan itu ? Ketimbang kejadian hari ini. Ada apa dengan hatinya ? Sejak tadi merasa sedih tapi bukan ini penyebabnya.


"Apa selanjutnya rencana mu?" Tanya Sandi memecahkan kesunyian mereka berdua.


"Pulang  ke Indonesia, jual apartemen ini." Endra menyandarkan tubuhnya di sofa menghela nafas panjang.


"Baiklah, pulang sekarang atau besok pagi ?" Sandi bertanya kembali.


"Besok pagi, ayo kita kembali ke hotel." Endra berdiri dari tempatnya duduk dan keluar.


Sandi mengekor keluar dari sana.


Endra melangkah dengan pikiran yang kosong dan bingung. Kenapa dia tak merasakan sakit hati ? Setelah melihat yang terjadi tapi dia malah merasa ngilu saat Pingka menanda tangani surat perpisahan mereka.


"Bagaimana kabar Pingka?" Tanya Endra sambil bersandar di kursi. Matanya melihat ke arah luar jendela mobil.


"Aku tidak tahu. Mungkin, dia sedang dalam perjalan pulang ke kampung halamannya. Dia begitu hancur saat keluar dari ruangan mu." Kata Sandi sambil fokus mengemudi.

__ADS_1


Endra segera menegakkan tubuhnya


"Maksudmu?"


__ADS_2