
Endra mencoba memejamkan matanya sejenak di kamar pribadinya, tapi matanya seakan menolak untuk menutup. Pikiran Endra masih tertuju pada Pingka dan Dimas.
Apa aku sudah lelah membencinya? atau... Aku mencoba berteman dengannya.
Endra seperti mendapat angin segar, entah dari mana semangatnya kembali terkumpul. Dia segera duduk dan bekerja kembali. Tidak pakai lama Sandi menemui Pingka dan memintanya kembali menjadi sekretaris.
Gadis manis itu masih bergeming dari tempat duduknya berusaha mencerna apa yang baru disampaikan Sandi.
Kenapa dia memintaku jadi sekretaris lagi ? Apa yang di rencanakan nya ?
Pingka mengetuk - ngetuk meja dengan kuku panjangnya.
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Aku hanya memikirkan, kenapa Pak Endra meminta aku kembali menjadi sekretarisnya ?" Pingka mengalihkan pandangannya pada Ravita.
"Mungkin, dia memang membutuhkan tenaga mu." Ravita menjawab sambil tersenyum.
Pingka mengangguk lalu berkemas.
"Baiklah ayo pulang." Ajaknya menarik tas.
...----------------...
Pingka melepas penat dan lelah di rumah belakang tempat kediaman Asisten rumah tangga Endra. Sejenak, ia merebahkan tubuhnya di dipan kayu yang hanya muat dua orang bertubuh kecil. "Bibi, Kak Fajar. Aku merindukan kalian." Gumamnya memejamkan mata.
Tubuh Pingka yang lelah dan lengket seharian karena bekerja mencari sesuap nasi, kembali segar setelah diguyur air hangat. Wajah cantik alami itu sangat segar dan manis menggunakan pakaian rumahan dan rambut di kuncir kebelakang. Pingka menggunakan dapur kecil yang ada di dalam rumah itu untuk memasak, tangannya begitu cekatan mengeluarkan bahan - bahan yang dibeli sepulang kerja.
Pingka mengupas dan menyiapkan bumbu dengan cepat. "Enak tinggal di kos lebih santai." Ujarnya sambil mengaduk sayuran di wajan. Saat tengah fokus memasak, pintu rumah itu diketuk dari luar. "Sebentar." Teriak Pingka mematikan kompor lalu melangkah kearah depan. Wanita itu terburu - buru membuka pintu dengan wajah senang . "Bi Weni, aku merindukanmu." Ucapnya sambil menarik daun pintu.
"Apa kamu se-rindu itu padanya?" Endra mengejutkan Pingka berdiri tegap didepan pintu.
" Ma-maaf, saya mengira Bi Weni yang datang."
"Tidak masalah." Endra melangkah masuk melewati Pingka. Ini pertama kalinya laki-laki itu masuk ke dalam hunian para asisten rumahnya. Netra nya melirik segala arah tiap sudut ruangan itu. Ada rasa yang tak dapat ia jabarkan saat melihat pintu kamar kecil tertutup rapat tak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu ?" Pingka berdiri dibelakang Endra.
Laki-laki itu tersentak lalu menghela nafas menguasai rasa terkejutnya. "Aku lapar, ada makanan?" Endra duduk di kursi meja makan.
" Iya, sebentar semuanya akan masak." Pingka kembali menghidupkan kompor.
Dari meja makan, Endra memperhatikan gerak lincah Pingka di dapur. Terukir senyum tipis di bibirnya. Dia membayangkan jika Pingka berada di dapur rumah utama mungkin terlihat hidup di dapurnya. Seksi itu lah yang tertangkap dipikirannya saat melihat Pingka menggunakan apron dan baju santai di rumahnya.
"Sudah siap !"
Endra terkejut segera mengambil piring dan mengambil makanan yang sudah tersaji. Suap demi suap telah masuk ke dalam mulutnya. Hingga, baru menyadari jika Pingka tidak ada di sana.
Kemana dia ?
Endra melihat kesana-kemari lalu melanjutkan makannya. Ada yang kurang menurutnya saat wanita berstatus istri yang tak diinginkannya itu tidak bersamanya saat makan.
Di pendopo luar. Pingka telah menyelesaikan makannya. Sengaja ia makan di sana karena tidak mau merusak selera makan laki- laki yang dianggapnya suami itu.
"Kenapa kamu makan di luar?" Endra berdiri di samping Pingka duduk. Suaranya mengejutkan wanita itu.
Ada perasaan yang tak biasa dalam hati Endra mendengar jawaban Pingka, dia mencoba mencari ketenangan dengan wanita ini.
"Boleh kita berteman?" Ujarnya mengulurkan tangannya.
Sejenak Pingka terpaku. Ia melihat uluran tangan Endra. Perlahan-lahan Pingka mengangkat wajahnya lalu memberanikan diri menatap wajah laki-laki tampan di hadapan ini. Ia tak serta merta setuju. Namun, berusaha menggali keseriusan di netra tajam Endra. Sayangnya, Pingka tak melihat celah main-main di sana. "Boleh ! Jika Bapak tidak malu." Jawabnya dengan mengabaikan tangan Endra.
Kembali hati laki-laki itu rasa diremas saat Pingka mengatakan kalimatnya dan mengabaikan tangannya. Muncul rasa kecewa dalam hati Endra. Dia kembali menyelipkan tangannya kedalam saku celana. "Apa Sandi sudah menyampaikan jika besok kamu akan kembali jadi sekretaris ku ?" Endra duduk disalah satu kursi.
"Ya, besok saya mulai bekerja jadi sekretaris anda." Pingka ikut duduk di kursinya.
Angin malam sepoi lembut meniup pepohonan di sekitar tempat itu. Dalam hati Endra merasa senang karena Pingka tak menolak jadi sekretarisnya kembali. Sebenarnya Endra juga tak memahami situasi hatinya saat ini, dia tak suka jika Pingka dekat dengan orang lain. Di sisi lain, dia juga tidak ingin Pingka menjadi istrinya karena mengingat asal - usul Pingka Gadis Pedalaman.
"Kamu memiliki hubungan khusus pada Dimas?" Tiba - tiba Endra ingin tahu. Hal ini lah yang mengusiknya sejak tadi.
Pingka menatap lekat wajah Endra dibawah remang lampu pendopo. "Tidak, kami hanya berteman." Ia menjawab seadanya. Pingka bukanlah wanita bodoh yang tak tahu perilaku Dimas padanya.
__ADS_1
"Tapi dia menyukaimu." Endra langsung pada intinya. Di dalam saku celananya tanpa sadar tangannya terkepal. Tak rela karena lidahnya mengucap kata-kata itu.
"Itu hak dia, setiap orang punya hak untuk mencintai dan dicintai. Semua sudah ada porsinya masing- masing." Jawab Pingka. Tatapannya terlempar jauh dan membiarkan angin malam menampar wajahnya.
Endra menarik nafas lalu mengutarakan pertanyaan kembali . "Apa kamu juga menyukainya ?"
"Itulah kesalahanku, belum bisa jatuh cinta pada pria baik seperti dia." Pingka menyandarkan tubuhnya di kursi dengan bahasa yang sedikit berbeda.
Angin malam membelai tiap helai rambut Pingka yang sedikit berantakan dari sanggulnya. Endra menatap tiap inci wajah Pingka dari tempat duduknya. Kagum, itulah saat ini yang dirasakannya.
Cantik...
Sudut Bibir Endra terangkat.
"Kenapa Bapak menanyakan itu ?" Pingka melemparkan pandangan pada Endra. Bola mata indahnya bak permata bersinar di tengah kegelapan.
"Tidak ada maksud apa pun, apa kamu mencintai seseorang ? Sebagai sahabat Dimas, aku tidak tega padanya jika perasaannya bertepuk sebelah tangan." Endra berusaha menguasai dirinya dari rasa gugup. Manik mata Pingka memakunya sejenak.
"Iya." Wanita itu menghela nafas lalu berkata. "Aku menyukai dan mencintai orang lain. Aku juga tidak memahami sejak kapan aku mulai mencintainya, tapi semoga saja suatu hari nanti perasaan ini bisa berubah dan cintaku jatuh pada orang yang tepat dan Pak Dimas tahu tentang itu."
Endra terkejut tak menyangka jika Dimas tahu sedalam itu pada Pingka. "Pasti dia terluka." Ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya juga di kursi.
"Itu lah resiko yang harus diambil saat kita memilih mencintai, karena tak selamanya perasaan itu juga terbalas." Pingka menatap hangat pada Endra. Seulas senyum ia berikan pada laki-laki yang tak berkedip menatapnya ini.
Dada Endra berdebar saat mata mereka bertemu, sama halnya Pingka juga merasakan debaran itu.
"Besok siang kita makan di rumah ibu, dia pasti senang kamu berkunjung ke sana." Endra berdiri ingin meninggalkan tempat itu.
Pingka mengangguk dan tersenyum manis, sekali lagi Endra terkesima. Dia segera masuk ke dalam rumah utama dengan perasaan yang sulit ditebak. Pingka masih betah duduk di sana seorang diri, dia mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya lalu menghubungi seseorang.
Dari atas balkon, Endra memperhatikan Pingka yang tersenyum dan tertawa lepas.
Sial ! Siapa yang membuatnya sampai tertawa lepas begitu
Endra menutup gorden dengan kesal lalu beralih menatap foto kekasihnya.
__ADS_1
"Kenapa, aku merasa jika kamu tidak merindukanku ? Dan juga menjauh dariku." Ia bergumam lalu meletakkan bingkai foto itu di atas nakas.