Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Manis nya penantian


__ADS_3

Pingka mengantri sama seperti yang lainnya walau ia berstatus istri pemilik rumah sakit itu, Ibu Erly meminta menantunya masuk terlebih dulu tapi Pingka menolak karena ingin merasakan menunggu dengan debaran yang membuat jantung berdetak lebih cepat sebelum nama di panggil kedalam ruangan Dokter.


Semua calon Ibu merasakan hal seperti itu saat pertama kali bertemu Dokter kandungan. Hanya satu yang ingin mereka dengarkan yaitu, ucapan selamat dari Dokter dan kabar baik jika semuanya sehat.


Pingka didampingi Ibu Erly karena Endra ada rapat penting. Laki-laki itu akan menyusul setelah urusan kantornya selesai. Dami senantiasa sabar di kursi tunggu menemani Pingka dan Ibu Erly. Ia sengaja ditugaskan Endra untuk mengantar istrinya.


"Bagaimana?" Suara Dokter Reno memecahkan lamunan mereka bertiga.


"Belum, Ren. Satu orang lagi."


Dokter Reno mengangguk. "Jangan tegang, didalam sana Dokternya wanita. Dokter baru." Dokter tampan itu duduk di samping Pingka.


Banyak orang berbisik mengira Pingka adalah istri Dokter Reno.


"Ibu Pingka" Panggil asisten dokter.


Istri Endra ini berdiri ditemani Ibu Erly, dokter Reno juga mengekor di belakang.


Mata Pingka membulat melihat sosok dokter yang duduk di kursinya.


"Arin."


"Pingka." Dokter Arin berhamburan memeluk sahabatnya itu.


Dia adalah Arin teman satu kos Pingka saat kuliah, suka dan duka mereka lewati bersama selama bertahun-tahun.


"Apa kabarmu?" Arin melepaskan pelukannya.


"Aku baik, perkenalkan ini Ibu mertuaku." Ucap Pingka.


Arin dan ibu Erly berkenalan sementara Dokter Reno hanya tersenyum dibelakang.


"Dia suamimu?" Arin menunjuk Dokter Reno dengan sorot matanya.


"Bukan, dia direktur rumah sakit ini sahabat suamiku. Kalian belum kenal?"


"Ha-hai saya Reno." Laki-laki kocak ini terbata mengulur tangannya.


"Arin. Senang berkenalan dengan anda. Maaf, sewaktu awal masuk saya belum menyapa karena kemarin bertemu dengan wakil anda." Dokter cantik itu membalas uluran tangan Dokter Reno.


Usai perkenalan mereka. Kembali ke tujuan awal, Pingka memberitahukan tentang keluhan dan jadwal tamu bulanannya. Sementara dari jauh, Endra berlari agar cepat sampai keruang dokter. Nafasnya tersengal hingga menarik perhatian orang-orang di sana.


"Apa sudah selesai?"


"Belum, Pak. Baru saja Ibu masuk bersama Nyonya besar dan Dokter Reno." Jawab Dami.


"Manusia langka itu ikut kedalam?" Tanya Endra dengan nada kesal.


"Iya, Pak."


"Kamu kembalilah ke kantor"


"Baik, Pak. Permisi." Ucap Dami senang.


Endra membuka pintu perlahan, nampak Pingka sedang duduk di kursi berbincang dengan Dokter Arin. Semua mata mengarah pada Endra yang membuka pintu. Tampak wajahnya penuh keringat.


"Apa aku terlambat?" Tanya Endra sambil melangkah masuk.


"Belum sayang." Jawab Pingka lalu mengeluarkan tissue menyeka keringat suaminya.


Kini Endra menggantikan posisi Ibu Erly yang duduk disisi Pingka. Sesaat kemudian ia ingat ada makhluk lain di sana. "Kamu kenapa masuk?" Endra memicingkan matanya.

__ADS_1


"Mendampingi istrimu apalagi." Jawab Dokter Reno santai.


"Sayang, kenalkan dia temanku Arin. Dokter kandungan yang menangani ku." Ucap Pingka.


Endra mengulurkan tangan dan begitu juga sebaliknya Arin membalas dengan ramah.


"Senang berkenalan dengan anda Pak Endra." Ucap Arin. Dokter cantik itu memeriksa Pingka secara menyeluruh sebelum USG melihat janinnya. "Baiklah, ayo Pingka  kita ke sana." Arin menunjuk ranjang. "Kita USG ya biar tahu keadaan janinnya"


"Iya "


Arin tersenyum senang melihat layar disisi brankar ."Janinnya sehat, Selamat Pingka kamu langsung memiliki dua orang bayi."


"Benarkah?" Tanya Endra senang . Matanya berkaca-kaca melihat calon bayinya yang baru sebesar biji kacang. Lagi dan lagi ia tak mampu bicara karena tertimpa rasa bahagianya.


"Iya Pak Endra. Lihatlah dua kehidupan di sana. Tunggu agak besarsedikit kita bisa dengar detak jantungnya." Arin juga ikut berkaca-kaca.


"Terimakasih Tuhan."


"Selamat untuk kalian berdua cicilan mu langsung dua." Dokter Reno ikut bahagia memeluk calon Ayah itu


"Ini kebahagian luar biasa yang kudapatkan." Endra menyambut pelukan Dokter Reno.


Arin kembali menjelaskan perihal kehamilan, Pingka dan Endra mengangguk faham atas penjelasan Arin. Sebagai suami ia harus tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya.


"Datanglah ke rumah nanti." Ucap Pingka sebelum berpamitan.


"Tentu, jaga dirimu dan calon keponakanku." Arin memeluk Pingka.


Dokter Reno tersenyum tipis cepat berbaur pikirnya. "Jangan cemas dokter Arin, aku akan menjaga calon anakku itu."


"Hei, itu anakku bukan anakmu." Endra tak terima.


"Bikin sendiri !" Endra menarik tangan Pingka untuk keluar.


Arin terkekeh lucu juga pikirnya Dokter Reno. Ibu Erly berpamitan pada Arin karena Endra dan Pingka sudah keluar terlebih dulu.


Di rumah Endra, teman-teman mereka sudah berkumpul termasuk Fajar dan keluarganya. Mereka belum meninggalkan kota P karena belum tahu kondisi Pingka. Endra memberitahukan hasil pemeriksaan Pingka pada mereka semua  dengan antusias.


...----------------...


Dua bulan kemudian...


Hampir tiap pagi Pingka selalu mual dan muntah, makanan yang dimakannya hanya numpang lewat setelah itu keluar lagi. Endra sangat cemas melihat kondisi Pingka yang susah makan. Belum lagi dua janin di rahimnya perlu asupan gizi. Pernikahan Arif pun Pingka tak kuat untuk hadir.


"Sayang kamu mau makan apa?" Tanya Endra. Dia calon ayah yang siaga tanpa takut atas permintaan istrinya yang aneh-aneh, karena masuknya makanan sedikit saja ke perut istrinya. Ia sudah bersyukur luar biasa.


"Nanti aku masak sendiri saja."


"Tapi jangan sampai lelah." Endra mengecup kening istrinya.


"Kamu berangkatlah aku tidak apa-apa." Pingka mengantarkan suaminya setelah sarapan.


"Jika ada ingin kamu makan, hubungi aku jangan pergi sendiri." Endra mengusap lembut perut Pingka yang mulai terlihat membuncit.


Usia kandungannya baru Tiga bulan tapi perutnya mulai terlihat karena dua nyawa yang menempatinya. Pingka mengangguk, lalu masuk kedalam. Ia memilih bahan makanan yang sesuai seleranya karena hanya itu yang dimakannya tanpa dimuntahkan.


...----------------...


Jam terus berputar tanpa terasa sudah mulai sore, ponsel Endra bergetar di atas meja dilihatnya dari Pingka.


"Halo Sayang." Jawab Endra.

__ADS_1


"Kamu sudah Pulang?"


"Belum sekarang lagi bersiap untuk pulang, ada apa ?" Tanya Endra.


"Aku ingin manisan mangga"


"Baiklah, ada lagi?" Tanya Endra antusias.


"Tidak ada".


"Iya sayang tunggu aku." Balas Endra mematikan telpon. Ia melirik pada Dami yang duduk di sofa. "Dam ayo kita pulang."


"Baik, Pak."


"Kita mampir membeli manisan mangga" Ucap Endra.


"Iya, saya tahu dimana manisan mangga yang enak"


Endra Mengangguk lalu melangkah keluar dari ruangannya. Mobil Endra melaju menuju kedai penjual manisa mangga. Wajahnya tiba-tiba masam melihat buah mangga masih nampak segar didalam toples.


"Apa kabar kalian anak-anak ayah makan buah seperti ini ?" Gumam Endra pelan.


"Istrinya hamil, Pak?"


"Iya, Bu. Tadi pesan ini sebelum saya pulang kerja."


"Selamat, Pak ! Semoga sehat sampai lahiran, sudah berapa bulan, Pak?" Tanya Ibu penjual sambil membungkus pesanan Endra


"Terimakasih doanya, Bu. Kehamilan istri saya baru tiga bulan." Endra tersenyum.


"Sebentar lagi normal, Pak." Ucap Ibu penjual memberikan bungkusan asinan mangga.


Endra memberikan uang lebih pada penjual walau di tolak si pedagang tapi pria ini tetap memaksa.


...----------------...


Pingka berbinar melihat manisan mangga yang dibawa Endra setelah sampai di rumah.


"Ini pesanan mu, Jibi" Endra meletakkan di atas meja.


"Simpan saja disitu, ini minumlah kamu bersihkan tubuhmu dulu." Pingka memberikan segelas air putih pada suaminya.


Di pendopo belakang ibu hamil ini menikmati manisan mangga nya, tak lama Endra juga menyusul di sana.


"Apa tidak asam?"


Pingka menggeleng. "Kamu mau?" Menyodorkan garpu.


"Tidak sayang, sini aku ingin memelukmu seharian tidak melihatmu aku merindukanmu."


Endra menarik tubuh Pingka agar bersandar di dadanya. Hari ini ia makan siang bersama Kliennya. Pingka menurut saja karena dada bidang suaminya adalah sandaran yang menenangkannya.


"Sayang, apa kamu kuat membawa dua bayi kita yang semakin  membesar di rahim mu." Tanya Endra dengan tangan sambil mengusap perut istrinya.


"Aku kuat, jangan cemas Tuhan sudah mengatur segalanya. Wanita lemah sekali pun, akan diberikan kekuatan oleh Tuhan ketika saat hamil."


"Aku hanya cemas kamu tak mampu berdiri." Endra terkekeh


"Aku mampu, kami sebagai wanita sudah di salurkan kekuatan khusus untuk membawa bayi kami kemana-mana. Bukankah ? Hal ini sangat indah. Anugerah Tuhan yang sempurna. Bayangkan saja ada nyawa di dalam tubuh manusia yang bernyawa juga." Pingka tersenyum.


"Kamu benar sayang, terimakasih  memberikanku kebahagiaan selama ini." Endra mengecup penuh cinta pucuk kepala istrinya.

__ADS_1


__ADS_2