Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Cuti berakhir


__ADS_3

Hingar-bingar kendaraan kembali memekakkan telinga, walau earphone menempel di telinga wanita ini masih saja tetap terdengar klakson kendaraan dimana-mana.


Kesedihan pasti ada terasa saat berpisah bersama teman dan keluarga. Pingka sudah kembali ke Kota demi pekerjaan yang menuntutnya. Pingka tiba di rumah  belakang, dia bercengkrama melepas rindu pada Bi Weni dan yang lainnya.


"Ehm..." Endra berdiri tegak di hadapan wanita yang mengusik hati dan pikiran selama dua minggu terakhir.


"Endra..." Sapa Pingka kaku masih belum terbiasa menyebut nama laki - laki itu.


"Bagaimana cuti mu, apa menyenangkan?" Endra bertanya sambil duduk di kursi bambu.


Bi Weni dan dua temannya pamit meninggalkan teras rumah.


"Ya, lumayan kerinduanku pada keluarga dan teman-temanku terbayarkan." Jawab Pingka tersenyum tipis.


Endra mengangguk


"Istirahatlah kamu pasti lelah habis perjalanan jauh." Ucapnya berlalu melangkah pergi.


Wajah Pingka berbinar senang dapat pengertian dari Endra. Laki - laki itu masuk dengan rasa sama senangnya setelah bertatap muka pada wanita yang menaruh racun rindu padanya.


...----------------...


Pingka bangun sangat pagi. Semangat untuk bekerja membara dalam dadanya. Langkah tegas serta penuh percaya diri, dia memasuki gedung yang menaunginya dua tahun ini.


Segenap tenaga dan pikirannya dia berikan pada yang namanya pekerjaan. Hubungan yang awal mula baik pada atasannya jadi panas setelah perjodohan dan kembali lagi membaik setelah memutuskan untuk berteman. Sungguh, menyimpan cerita tersendiri di kantor itu. Pingka menjalani tugasnya sebagai sekretaris dengan baik.


"Selamat pagi Pingka apa kabarmu?" Sandi menghampiri meja Pingka.


"Selamat pagi Pak Sandi, kabarku baik. Bagaimana Pak Sandi sendiri?" Jawab Pingka memberikan senyum sangat tipis.


"Kabarku baik, silahkan lanjutkan pekerjaanmu." Sandi meninggalkan meja Pingka.


Wanita itu meneruskan pekerjaannya, penuh konsentrasi dia menyelesaikan semuanya. Interkom di atas meja menyambungkan suara dari dalam ruangan CEO memerintahkan membuat kopi. Pingka dengan senang hati pergi ke pantri membuat kopi hitam untuk Endra. Tidak sampai lima menit kopi sudah selesai dibuat.


"Masuk." Titah pria sangar itu.


"Ini kopinya, Pak."Pingka meletakkan di atas meja kerja Endra.


"Hm, terimakasih." Ucap Endra tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di mejanya.


"Permisi."

__ADS_1


Endra menghembuskan nafas kasar membuang kegugupannya. Tanpa lama langsung mencicipi kopi yang baru saja ditaruh. Matanya membulat sempurna kerinduan pada kopi hitam buatan Pingka seakan terbayarkan. Namun, rasa senang menghinggapinya buyar begitu saja ketika ponselnya berdering karena sang kekasih menelponnya.


Pingka bekerja dengan perasaan senang menjalar di setiap sudut hatinya. Usai menyelesaikan pekerjaannya, Pingka memilih ikut makan siang bersama Rangga dan Ravita, mereka berbincang banyak di sana. Usai makan siang mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Pingka memang tipe wanita bertanggung jawab pada pekerjaannya.


...----------------...


Malam dengan cuaca sedikit gelap dan berangin, menandakan akan turun hujan. Pingka makan malam bersama para asisten rumah tangga. Dia juga sudah mengutarakan maksudnya untuk pindah kembali ketempat kos nya. Tak lupa juga berterimakasih pada mereka yang telah menerimanya dengan baik, terutama pada Bi Weni yang rela berbagi kamar dan tempat tidur yang sempit. Walau kadang Pingka mengalah tidur di lantai berlapiskan  karpet. Miris memang wanita bersuamikan seorang pebisnis sukses tapi tak menerima apa pun dari suaminya.


Bi Weni sebenarnya sedih tapi demi Pingka, dia rela berpisah pada wanita yang telah dianggap sebagai putrinya. Pingka dan yang lainnya menyelesaikan makan malam mereka. Bi Weni berada di rumah utama membersihkan meja bekas makan Endra.


"Panggilkan Pingka." Titah Endra lalu duduk di sofa depan televisi.


"Iya, Tuan."


Beberapa menit kemudian Pingka masuk kedalam hunian mewah itu. "Kamu memanggilku ?"


"Iya duduklah, ceritakan kegiatanmu saat cuti kemarin." Endra menyandarkan tubuhnya di sofa.


Pingka bercerita sangat antusias dengan wajah ceria, Endra hanya tersenyum tipis. Namun, tiba-tiba matanya terfokus pada bingkai foto  milik kekasihnya di atas meja, dekat tempat Pingka duduk. Wajah lali-laki itu berubah datar kembali.


Pingka dapat melihat perubahan raut di wajah Endra. Dia menyusuri tatapan mata pria itu, mata Pingka berubah sendu lalu tersenyum getir.


"Kamu merindukannya?"


"Aku ingin memberitahumu jika besok aku akan kem—"


"Siapa yang menelpon mu?" Tanya Endra dengan nada datarnya.


"Pak Dimas. Mungkin, dia menanyakan keberadaan ku."


Berulang kali deringan ponsel itu berdering. Tapi tidak dijawab Pingka, sangat tidak sopan rasanya saat berdua bersama Endra menjawab telpon pria lain.


Ponsel itu kembali berdering tapi bukan milik Pingka melainkan milik suaminya. Endra melihat dengan berbinar saat membaca nama penelpon. Tanpa permisi dia langsung naik ke anak tangga menuju kamarnya sambil menjawab telpon kekasihnya.


Pingka melihat punggung pria itu menjauh meninggalkannya seorang diri diruang tengah, ia berharap pria itu berpaling melihat kearahnya. Tapi tidak, Endra masuk ke kamarnya tanpa ingat ada Pingka di sana pintu kamar tertutup rapat dari dalam.


Sakit rasanya melihat pemandangan seperti itu, Pingka memutuskan kembali ke rumah belakang dan berniat menelpon balik Dimas karena lima kali panggilan tak terjawab.


Pingka duduk di pendopo berbincang dengan Dimas lewat telpon, sesekali bercanda membuat wanita itu tertawa.


...----------------...

__ADS_1


Endra selesai menerima telpon dari Melisa, ingat kembali pada Pingka di bawah. Dia turun untuk menemuinya. Tapi Endra tak mendapatinya di sana. Dia memutuskan untuk menyusul Pingka kebelakang, dari jarak dekat Endra dapat mendengar dan melihat tawa dan rona senang di wajah istrinya.


Hati Endra tidak rela jika ada orang lain yang mampu membuat Pingka tertawa, mengingat wanita ini jarang tersenyum bahkan tertawa lepas.


"Wah, se-senang itu rupanya kamu bicara pada orang di ponselmu ?!" Seru Endra dengan wajah kesal dan datar.


Pingka terkejut setelah telpon terputus. Endra bersuara tepat dibelakangnya. "Pak Dimas menelpon dia menanyakan kabarku"


Endra marah saat mendengar nama Dimas. "Rupanya kamu murahan juga ! Bukan hanya Sandi tapi Dimas juga kamu dekati. Memang kamu berbeda, sangat berbeda ! Dengan kekasihku Melisa." Kata pria itu dengan nada datar dan sinis.


Pingka mengangkat pandangannya tepat pada mata Endra, hatinya begitu sakit setelah kalimat itu diucapkan pria dihadapan nya ini. Di otak cantiknya terputar kembali saat Endra meninggalkan nya diruang tengah beberapa menit lalu.


"Terimakasih atas kata - katanya, sungguh sangat berkesan di hati saya."


Pingka meninggalkan Endra yang mematung, dia begitu terluka saat ini. Rasa cinta yang mulai mekar menguncup perlahan. Kembali pada kenyataannya pria itu masih belum bisa menerimanya.


Pingka keluar dari rumah kecil dengan menarik koper, semua barang - barang miliknya sudah diturunkan di tempat kosnya saat kembali dari kampung.


"Terimakasih sudah menampung saya selama ini dan surat pengunduran diri saya akan sampai di meja Bapak besok pagi." Pingka meninggalkan Endra yang termenung ditempatnya berdiri.


Endra tersadar saat Pingka sudah keluar dari pagar samping.


Apa yang aku lakukan ?


"Pingka, tunggu !"


Bus berhenti di halte tepat di depan Pingka, dia mendengarkan namanya dipanggil seseorang sambil berlari. Tapi dia bersikap tuli. Pingka masuk kedalam bus dan menyandarkan tubuhnya di kursi tanpa menghiraukan namanya diteriaki dari luar sana.


...----------------...


Di ranjang itu lah Pingka melepaskan lelahnya, emosi masih membuncah di dadanya. Darah yang panas masih mengalir di setiap tendon di tubuhnya. Diliriknya jam masih menunjukkan jam delapan malam, Pingka memutuskan untuk pergi ke suatu tempat dimana dia bisa melepaskan segala rasa yang mengganjal di hatinya, sesak itu lah yang dirasakannya saat ini, seberapa pun inginnya untuk menangis tapi air mata itu enggan untuk membasahi pipinya.


Ternyata luka bercampur emosi tak menghasilkan air mata. Pingka sampai di ruangan khusus tempat orang berlatih ilmu bela diri, disinilah dia meluapkan segala amarahnya tongkat dan peralatan di sana jadi sasaran emosinya.


...----------------...


Pria yang sudah terlanjur mengeluarkan kalimat hina itu  termenung di dalam kamarnya, sampai detik ini masih belum bisa ia fahami hatinya kenapa?


Disisi lain dia kesal jika ada yang mendekati Pingka. Tapi juga dia tidak menginginkan wanita itu menjadi istrinya. Di sisi lainnya kepulangan kekasihnya sudah mendekati harinya wanita impiannya yang akan menghabiskan waktu bersamanya, wanita yang di idamkan jadi istrinya.


Endra mencoba menelpon nomor Pingka tapi tidak ada jawaban dari wanita itu .

__ADS_1


*****


Terimakasih sudah Membaca beri dukungannya pada Author, kasih 👍⭐❤ dan Vote juga 😉 terimakasih


__ADS_2