Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Cuti


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Setelah kejadian itu, Dinda mulai merubah sikapnya menjadi lebih baik. Rasa iri dan dengki memicunya melakukan hal rendah seperti itu sangat disesalinya. Sekarang dirinya mulai belajar berteman pada Pingka dan menerima kenyataan jika, dia dan Rangga tak bisa kembali seperti dulu. Dia juga harus menerima jika Rangga memilih Ravita untuk jadi kekasihnya saat ini.


Seluruh karyawan bekerja seperti biasanya. Kejadian waktu itu hanya lewat begitu saja termasuk Pingka sudah melupakannya. Dia bekerja dengan penuh konsentrasi, mengingat hari ini terakhir bekerja sebelum cuti, dia ingin menyelesaikan semuanya.


"Pingka sudah selesai semua ?" Sandi berdiri di depan meja.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Pingka menutup berkas di hadapannya.


"Pingka, ayolah ! Jangan menjaga jarak denganku mari berteman seperti kamu dan Dimas." Sandi tersenyum dengan nada ramah.


"Baiklah, asal kamu tidak malu berteman denganku, ingat kalian disini berbeda denganku." Pingka sedikit menerawang pada kejadian satu bulan lalu saat Endra menghinanya.


Sandi terkekeh. "Lupakan ! Cuti kamu akan kemana?"


"Aku pulang ke kampung."Jawab Pingka dengan nada riang.


"Dua minggu ?" Sandi bertanya dengan sedikit tak percaya.


"Ya dua minggu, aku ingin melihat perkembangan di sana." Pingka menatap jauh.


Baiklah aku akan melihat, apa ada rindu dari Endra untukmu ?


Sandi melanjutkan langkahnya untuk masuk keruangan CEO itu. Hari ini Pingka pulang lebih cepat dari biasanya karena ada janji dengan Dimas sebelum pulang ke kampung.


...----------------...


Pingka duduk manis menunggu Dimas disalah satu kursi dan meja di dalam cafe sambil memeriksa akun miliknya mengusir kejenuhan menunggu.


"Pingka, maaf membuatmu menunggu." Dimas menarik salah satu kursi.


"Tidak apa - apa, Pak Dimas." Pingka menampilkan senyum tipisnya.


"Kita pesan makanan dulu." Kata Dimas memanggil salah satu waiters.


"Apa yang ingin kamu ceritakan ?" Pingka membuka obrolan.


"Tidak ada. Maaf membohongimu, aku hanya ingin melihatmu sebelum kamu cuti." Dimas tersenyum.


"Pak Dimas belajarlah membuka hatimu untuk orang lain, semakin lama kamu menutup dirimu. Maka kamu semakin terluka karena mengharapkan sesuatu yang tidak pasti." Pingka mencoba memberi pandangan.


"Kamu benar, tapi semua perlu  proses. Tidak sama seperti aku jatuh cinta padamu." Dimas menatap sendu.


"Maaf, itu lah kesalahan terbesarku tidak bisa membalas perasaanmu, maafkan aku." Kata Pingka dengan nada rendah menatap dua bola mata pria di depannya ini.

__ADS_1


"Hei jangan meminta maaf, semua yang kamu katakan. Aku mengerti dengan baik." Dimas menyentuh tangan Pingka.


"Terimakasih sudah mengerti keadaanku, andai status ini belum ada padaku. Mungkin, aku belajar menerimamu."


"Cukup terima aku jadi temanmu, maka aku akan bahagia. Jangan menciptakan jarak antara kita karena aku juga bersahabat pada suamimu, Endra."


"Kamu tahu semuanya?" Pingka bertanya tak percaya.


Sebelum Dimas menjawab waiters datang mengantar makanan. "Ayo makan dulu nanti aku ceritakan." Ujarnya mempersilahkan Pingka memakan makanannya.


Mereka menikmati makanan dengan diam tanpa kata, setelah menghabiskan makanan Dimas melanjutkan ceritanya kembali.


"Aku bersahabat dengan Endra sejak masih SMA. Kami saling terbuka satu sama lain, dia mengatakan akan dijodohkan. Tapi dia merahasiakan wanita dan pernikahan kalian, melihat sikapnya yang memusuhi mu. Aku yakin kamu wanita itu." Kata Dimas mengakhiri ceritanya.


Pingka tersenyum getir mendengar cerita Dimas. Usai berbincang  panjang lebar mereka berpisah di depan kafe. Pingka tak langsung pulang ke rumah, ia mampir dulu di salah satu pusat perbelanjaan di Kota itu, hari ini dia akan membeli oleh - oleh untuk Bibinya di kampung.


...----------------...


Dengan dibantu Bi Weni. Pingka berkemas, selain menyiapkan barang keperluannya. Dia juga mengemasi barang - barang lain. Setelah kembali dari cuti Pingka berniat kembali ke rumah kos nya yang masih rutin dibayar walau selama dua bulan tak pernah ditempatinya.


Percuma menyandang status suami dan istri jika tidak serumah. Masalah Ibu Erly. Pingka tak terlalu pusing karena Ibu mertuanya itu pasti menelponnya jika ingin bertemu.


"Kenapa barangnya dikemas semua, Nak?" Bi Weni bertanya.


"Iya Bi... Setelah selesai cuti. Aku berniat kembali ke kos."


Makanan semua sudah tersaji di atas meja, Bi Weni mengetuk ruang kerja majikannya itu untuk mempersilahkan makan.


"Pingka sudah kembali ?" Endra bertanya sambil menuruni anak tangga.


"Sudah, Tuan. Dia sedang berkemas."


"Berkemas?" Endra menghentikan langkahnya.


"Iya, besok pagi Nak Pingka pulang ke kampung." Jawab Bi Weni lalu permisi ke belakang.


Endra makan seorang diri dengan terburu - buru, selesai makan laki-laki itu langsung pergi ke rumah belakang.


"Pak Endra." Seru Bi Weni.


Pingka dan yang lain berhenti menyuap makanan saat Endra datang.


"Lanjutkan makan kalian, saya hanya ingin bertemu Pingka." Ujar Endra mempersilahkan.


Para asisten rumahnya mengangguk lalu melanjutkan makan mereka.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Pingka sedikit berbisik.


"Makanlah dulu, aku hanya ingin mengobrol denganmu." Endra tersenyum.


Pingka melanjutkan makan karena sedikit terburu - buru tanpa disadarinya ada butiran nasi yang berukuran kecil di sudut bibirnya.


Endra terkekeh. "Rupanya kamu masih kecil, makan saja sampai balepotan seperti ini." Tangan laki-laki arogan itu tergerak mengusap sudut bibir Pingka. Endra terfokus pada bibir ranum itu hingga lama ditatapnya.


"Te-terimakasih."


Endra tersentak dari fantasi liarnya, dada laki-laki ini berdegup kencang sama juga dengan yang dirasakan Pingka. Bi Weni mengajak dua temannya meninggalkan pendopo agar memberi ruang untuk kedua majikannya itu.


"Maaf aku refleks tadi." Endra berusaha menetralkan dirinya.


"Tidak apa- apa." Pingka malu bercampur senang.


Bolehkah aku berharap? Jika perlakuannya terus seperti ini maka aku akan sulit mengubur rasa ini.


"Kata Bi Weni, kamu akan pulang kampung?"


"Iya, aku merindukan Bibi dan Kak  Fajar serta teman - temanku di sana." Jawab Pingka lembut.


"Termasuk dia?"


"Siapa?" Pingka balas bertanya tak mengerti arah pembicaraan Endra.


"Mantan kekasihmu?!"


"Tidak ! Dia bukan siapa-siapaku. Untuk apa aku merindukannya?!" Balas Pingka sedikit kesal. Berbeda dengan laki - laki di depan nya ini wajahnya begitu sumringah. "Kenapa menanyakan itu?" Tanyanya kembali.


"Tidak apa - apa, jam berapa kamu berangkat?"


"Jam delapan pagi, aku mampir ke rumah Ibu dulu berpamitan." Pingka tersenyum tipis melihat Endra salah tingkah.


"Baiklah besok aku yang mengantarmu ke rumah Ibu." Endra berdiri meninggalkan tempat itu.


...----------------...


Pingka merasa senang karena Endra menawarkan diri untuk mengantarnya. "Apa dia mulai menerima pernikahan ini?" Gumamnya pelan.


Wanita itu merasa senang atas perubahan Endra dalam beberapa minggu ini. Sikap lembut dan tatapan hangatnya membuat Pingka merasa nyaman. Hampir saja dia lupa diri jika pria yang selalu lembut akhir - akhir ini adalah milik orang lain.


Hatinya yang bahagia kembali menciut. Sekali lagi Pingka butuh kepastian hatinya. Apa sebenarnya dibalik sikap suaminya yang mulai berubah?


Wajah muram itu kembali terlihat di wajah cantiknya, kehidupan dan masa depan apa yang dihadapinya saat ini ? Malam semakin larut, Pingka memutuskan untuk tidur agar tidak terlambat ke bandara.

__ADS_1


Dibalik tirai di atas sana Endra mengamati gerak - gerik Pingka.


Kenapa aku merasa kesepian Ditinggal Melisa saja aku tak seberat ini.


__ADS_2