
Waktu sudah menunjukkan jam 3 sore, angin semakin berhembus kencang. Dokter Reno memutuskan untuk membawa Vina pulang. Mereka pulang dengan hati yang bahagia setelah melewati beberapa waktu di tempat itu. Dokter tampan itu mencoba menaruh harapan pada hubungan mereka yang masih baru, dia memang seorang pria yang selalu serius jika menyangkut urusan hati.
Ditengah perjalanan, ponsel Dokter Reno berdering.
"Halo." Jawabnya melalui bluetooth handsfree
"Reno bisa kamu datang ? Endra demam."
"Baiklah, aku akan ke sana." Balas Dokter Reno menaruh earphone nya kembali setelah panggilan terputus.
Vina mengalihkan pandangannya pada Dokter Reno. "Siapa yang menelpon mu?"
"Pingka."
"Siapa dia?" Vina penasaran.
"Dia istri Endra, katanya macan itu sedang demam. Nanti aku perkenalkan kamu di sana, sepertinya mereka berkumpul. Jangan diambil hati jika nanti ada perkataan atau sikap mereka yang berlebihan mereka hanya bercanda." Jelas Dokter Reno.
Dia tak mau jika kekasihnya tersinggung karena tingkah teman-temannya. Baru merasakan jatuh cinta tiba-tiba ditinggalkan begitu saja tidak lucu pikir Dokter Reno. Dalam diam pun, ia mempelajari sifat kekasihnya itu. Inginnya Vina tak berbeda jauh dari Pingka dan Salsa yang mudah berbaur pada orang lain. Jadi kemana saja mereka pergi pasti menyenangkan.
Vina mengangguk, dia memang belum mengenal teman-teman Dokter Reno. Hanya Endra yang ia tahu, itu pun hanya melihat di televisi belum pernah bertemu langsung. Kapan lagi bisa bertemu dan berkenalan dengan orang-orang hebat seperti mereka pikir Vina. Beberapa saat kemudian mobil Dokter Reno memasuki halaman rumah Endra.
Vina dibuat takjub dengan kemegahan hunian Endra Saguna. Inikah ? Kediaman CEO ternama itu. Tiap sisi dan bentuk rumah itu tak luput dari pandangannya.
"Ayo masuk." Ajak Dokter Reno lalu menggenggam tangan kekasihnya.
Vina mengangguk mengekor pria itu. Rasa penasarannya semakin menjadi. Luar rumahnya saja sudah indah begitu, apa lagi di dalamnya ?
"Selamat malam semuanya." Sapa Dokter Reno.
"Selamat malam."
Vina hanya diam dan tersenyum. Ia masih mengagumi isi rumah bak istana itu. Di sana ternyata sudah ada Dimas dan juga Salsa yang datang menjenguk Endra.
"Kalian disini ?" Kata Dokter Reno sambil melangkah.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat. Hei istri siapa yang kamu bawa?" Goda Dimas.
Vina tersenyum malu, Dokter Reno menarik tangan Vina untuk bergabung di ruang keluarga .
"Kenalkan, dia Vina yang aku ceritakan tempo hari." Reno dengan bangga memperkenalkan sang kekasih.
Mereka berkenalan satu-persatu, Vina senang ternyata teman kekasihnya adalah orang-orang ramah.
"Dimana macan jantan itu?" Tanya Dokter Reno mencari keberadaan Endra.
"Di kamar tamu, Nak. Ayo Bibi antar !" Jawab Ibu Erly.
Reno membawa Vina ikut bersamanya. Terlihat pria garang itu terkulai lemas di kasur. Walau dalam keadaan sakit dan pucat, tapi tak mengurangi ketampanannya. Vina sampai tak berkedip melihatnya, belum lagi terperangah dengan besarnya kamar tamu yang dua kali lipat dari kamarnya.
Ya Tuhan Aslinya sangat tampan.
Vina mengalihkan pandangan karena pintu kamar mandi terbuka.
"Kamu sudah sampai?" Suara Pingka begitu lembut menyejukkan hati.
Vina kagum dengan kecantikan Pingka.
"Sejak kapan dia sakit?" Dokter Reno duduk di tepi kasur.
"Sejak pagi tadi, panasnya turun sebentar setelah itu naik lagi. Dibawa ke rumah sakit dia menolak." Jelas Pingka duduk di sebelah kanan Endra di atas kasur.
Dokter Reno mengeluarkan alat medisnya. Ibu Erly meninggalkan mereka dan meminta Bi Weni membuatkan minuman untuk tamu mereka.
"Hei kamu yang sedang tumbang ! Bangunlah, jika kamu tewas maka istri cantikmu ini akan jatuh di pelukanku" Kata Dokter Reno selesai memeriksa. Walau kekasih ada disisinya tak menghalangi dokter Reno menggoda Endra.
"Kamu punya nyawa berapa?" Endra membuka matanya. Pria itu tidak tidur hanya malas membuka mata. Ia akan bangun jika istrinya selesai mandi.
"Hanya satu dan tidak akan aku serahkan untukmu." Balas Dokter Reno terkekeh.
"Anak siapa yang kamu culik ini? Lalu wanita yang kemarin di apartemen mu siapa?" Ujar Endra.
__ADS_1
Sial ! dalam keadaan begini saja masih bisa memprovokasi orang
Dokter Reno berdiri lalu memperkenalkan Vina pada Endra dan Pingka. "Dia hanya bercanda, aku tidak pernah membawa wanita di apartemenku." Dokter Reno takut jika Vina salah faham.
Vina tersenyum. "Aku percaya"
"Jangan ditanggapi suamiku hanya bercanda." Pingka meyakini lagi.
Vina membalas dengan senyuman. Dokter Reno menjelaskan kondisi Endra bahwa dia hanya demam biasa dan hanya kelelahan. Dokter Reno juga meminta Dami menebus obat yang telah ia resep.
"Sayang jangan jauh-jauh." Endra kembali manja. Ia memeluk pinggang istrinya posesif.
Mata Vina membulat sempurna, iri itu pasti dengan kelembutan Endra pada Pingka, jaga pandanganmu Vina Dokter tampan di sisimu tak kalah lembut dan tampannya
Merasa cukup baikan Endra meminta Pingka membawanya keruang keluarga bergabung dengan yang lain. Walau hanya berbaring dipangkuan Pingka tapi ia tetap melayani perbincangan teman-temannya dan mereka mengerti jika Endra tak bisa lama duduk dan tidak mau ditinggal di kamar sendirian.
Vina menatap tak percaya seorang Endra Saguna di kenal arogan dan dingin begitu manjanya berbaring di pangkuan istrinya.
"Istirahat saja, kami juga akan pulang." Ujar Dimas.
"Tidak masalah. Aku hanya ingin berbincang dengan kalian. Yang sakit tubuhku bukan mulutku." Balas Endra datar. Sakit saja kata-katanya masih menyebalkan.
Endra mulai risih karena Vina terus memperhatikan dirinya dan Pingka. Ia sengaja menggenggam tangan istrinya dan menempelkan punggung tangannya dibibir. Agar wanita itu tahu, jika ia sangat mencintai Pingka dan sebagai wanita berstatus kekasih orang. Vina harus bisa menjaga pandangannya, begitulah arti bahasa tubuh Endra.
Hei pria bodoh lihat kekasihmu itu ! matanya sedari tadi memperhatikan kami
Endra memejamkan matanya kesal.
"Gugu kamu kenapa, sayang?" Tanya Pingka lembut.
"Aku ngantuk, kalian lanjutkan. Aku hanya tidur di pangkuan istriku saja." ucap Endra membalik wajahnya menghadap perut rata sang istrinya.
"Bilang saja kalau kamu tidak bisa tidur sendiri, ayo kita pulang biarkan dia istirahat." Ucap Salsa.
"Kamu benar sayang. Melan, Sandi. Kami pulang dulu." Ujar Dimas berpamitan.
__ADS_1
Di ikuti juga oleh Dokter Reno dan Vina. Melan dan Sandi mengantarkan mereka sampai di depan pintu. Endra dan Pingka tidur dikamar tamu sementara, Sandi dan Melan tidur di kamar yang lain bersama Syila . Mereka memilih menginap di rumah Endra.