Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Air Mata Endra


__ADS_3

Dinginnya lantai rumah sakit tak Endra rasakan, meski suara tangisnya terdengar tipis dari luar ruangan. Ia tak peduli. Rasa takut dan sesal menggerogoti tiap sudut hatinya.


Rentetan sikap buruknya satu - persatu mencuat kepermukaan seolah memberitahukan bahwa pria ini tak pantas untuk wanita itu.


Tangisan Endra semakin menjadi bayangan wajah Pingka menghabiskan nafas terakhir begitu nyata di atas ranjang ruangan itu. Tak dapat ia bayangkan bagaimana perasaan Dimas dan Fajar saat menghadapi itu semua. Apa yang harus dikatakannya pada Ibu dan Adiknya? Jika dia sudah kehilangan permata murni tak tersentuh dari desa pedalaman.


Hampir satu jam pria itu duduk meratapi sesal dan kebodohannya. Tanpa ia sadari jika wajahnya saat ini sudah kacau dengan kelopak mata yang membengkak dan kantong mata yang menghitam. Semenjak dapat kabar ini sedetik pun Endra tak tertidur.


Dokter Reno selesai visit pasien, Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melewati ruangan yang ditempati Pingka. Dokter Reno memasang telinganya dengan benar lalu membuka pintu ruangan.


"Endra !" Pekik Dokter Reno terkejut melihat penampilan yang acak -acakan dan wajah kusut dari seorang CEO arogan.


Bagaimana bisa pria kasar ini duduk menyedihkan bersandar di pojokan dinding dengan sesegukkan. Begitu pikir Dokter tampan itu.


"Aku terlambat..." Lirih Endra mengusap air mata yang membanjiri wajahnya.


"Ya, kamu terlambat. Pingka sudah pergi." Balas Dokter Reno. Endra kembali menangis kewibawaannya sebagai seorang pimpinan jatuh begitu saja dihadapan Dokter Reno.


"Kamu mencampakkan wanita sebaik dia. Aku sudah tahu semuanya, Dimas menceritakannya." Dokter Reno ikut duduk di lantai.


"Tunjukkan dimana dia dikebumikan." Ujar Endra dengan tatapan kosongnya.


"Maksudmu?" Dokter Reno merasa bingung arah pembicaraan Endra. Pria itu tak menjawab, Dokter Reno pun ikut diam berusaha mencerna apa diucapkan pria yang menyedihkan di sampingnya. "Siapa yang dikubur?" Dokter Reno balik bertanya.


"Pingka, dia pergi untuk selamanya, meninggalkan pria bodoh ini." Endra menjawab dengan suara parau.


Satu pukulan mendarat di pipi Endra walau tak kuat tapi cukup meninggalkan rasa pedas. Dokter Reno kini mengerti apa yang dibicarakan oleh sahabatnya ini. Rupanya laki-laki kacau itu tertinggal informasi. Dan itu membuat Dokter Reno mengeram kesal.


"Kamu gila ! Aku bersusah payah menyelamatkannya dari masa kritis dan kamu mendoakan dia meninggal ?!" Tutur Dokter Reno dengan wajah kesal.


Endra mengusap wajahnya lalu duduk dengan benar menghadap Dokter Reno. "Ja-jadi dia masih hidup !" Endra melihat wajah Dokter Reno berharap tidak ada kebohongan di sana.


"Iya, siapa yang mengatakannya meninggal ?! Tanyakan dulu kebenarannya baru kamu menangis !" balas Dokter Reno masih kesal.


"Katakan dimana dia ! Cepat, jika tidak, maka hari ini hari terakhirmu bekerja disini." Endra mengguncang tubuh Dokter Reno.


"Selalu saja begitu, baiklah akan aku ceritakan tapi cuci wajahmu dulu. Mari ke ruanganku ! Apa kamu tidak malu dengan tampilan jelek begitu ?" balas Dokter Reno berdiri. Endra mengekor dibelakang Dokter tampan itu menuju ke ruangannya. Dokter Reno menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. "Apa kamu sudah berganti profesi, jadi bodyguard ku? Melangkahlah di sampingku." Dokter tampan itu tersenyum sarkasme


"Aku malu wajahku pasti jelek sekarang." Jawab Endra masih bersuara parau.

__ADS_1


"Cih, bilang saja kepercayaan dirimu hilang berdiri di samping pria tampan seperti ku" Dokter Reno menyombongkan diri. Endra tersenyum tipis lalu duduk di sofa dalam ruangan Dokter Reno. "Minumlah." Dokter pemilik senyum menawan ini memberikan sebotol air mineral.


Endra mengambil dan segera meminumnya. "Ceritakan apa yang terjadi." Titahnya lalu menyandarkan tubuh di sofa.


...----------------...


Kilas Balik....


Dimas berlari kecil di lorong rumah sakit agar cepat sampai di ruangan Pingka. Fajar sedang menyuapi adiknya lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka.


"Maaf merepotkan mu." Ucap Fajar melihat Dimas masuk dengan sedikit lelah.


"Tidak apa-apa teruskan saja menyuapi Pingka, setelah itu baru kita melihat rekaman ini." Dimas merebahkan tubuhnya di sofa.


Fajar mengangguk dengan terus menyuapi bubur pada Pingka. Setelah selesai ia duduk disisi Dimas. "Ayo kita lihat."


Dimas menghidupkan laptopnya lalu memasang flashdisk yang dibawanya. Sebelum mobil Dimas datang, ternyata mobil hitam sudah berada di sana hanya bagian depannya yang terlihat lalu tak lama taksi pesanan Pingka juga datang.


"Ternyata mereka memang menunggu Jingga pulang bekerja. Cukup, aku mencurigai mobil itu. Ternyata penjahat kelas rendahan, aku akan catat platnya mereka tidak tahu cara jadi penjahat sesungguhnya." Ujar Fajar mengambil ponselnya.


"Lalu... Bagaimana rencana mu selanjutnya?" Dimas sedikit ragu saat Fajar menghentikan memutar Cctv sampai habis.


"Aku percaya padamu." Dimas berusaha menghilangkan keraguannya. Sebenarnya dia meragukan Fajar yang hanya pria berasal dari kampung bekerja diperkebunan sawit. Bagaimana ia bisa mengakses pelaku penusukkan itu ?


"Lacak plat yang aku kirim empat puluh menit dari sekarang, kalau kamu tidak berhasil Mayang Kakakmu yang cantik itu untu ku." Fajar menyeringai licik.


"Kakak gila, selalu saja memaksa."


Fajar terkekeh melihat foto wanita yang bernama Mayang di ponselnya setelah telpon terputus. Dimas menatap tak percaya siapa sebenarnya Fajar ? Semudah itu mengancam seseorang. Saat berbincang-bincang ponsel Fajar berdering lagi. Ia permisi pada Dimas untuk menjawab telpon.


"Halo." Jawab Fajar memasang wajah serius.


"Plat itu masih terdaftar di kota tempat kakak berada sekarang, sepertinya mereka menyewa, coba saja kakak datangi tempat rentalan mobil biar aku beri tahu lokasinya. Bagaimana kondisi Pingka?"


"Baiklah terimakasih kerja keras mu. Jingga, Lumayan membaik" Ujar Fajar sembari melirik adiknya.


...----------------...


Fajar meminta tolong pada Dimas menunggu Pingka di rumah sakit dan pria itu setuju. Hampir dua jam Fajar berangkat belum juga kembali.

__ADS_1


"Apa mungkin dia tersesat di kota ini ? Sudah dua jam belum kembali." Gumam Dimas pelan.


"Aku tidak tersesat."


Dimas terkejut lalu berdiri


"Ada hasilnya?" Ia Langsung bertanya.


"Pelakunya berasal dari kota kami, sekarang juga aku dan Pingka akan kembali. Dia akan dirawat di rumah sakit sana." Fajar langsung keluar menemui dokter Reno.


Dimas mematung sejenak masih belum bisa percaya secepat itu Fajar mendapat informasi, siapa yang membantunya ? Dan siapa Fajar ? Begitu pertanyaan di benak Dimas. Usai mengurus semuanya Fajar berkemas dan menyiapkan Pingka.


"Kamu siap kita pulang ?" Fajar menyentuh pundak Pingka.


"Aku siap, Kak !"


"Aku ikut sampai ke kampung kalian untuk mengantar Pingka. Ucap Dimas tiba-tiba.


"Kamu yakin?" Fajar memastikan jika laki-laki di hadapannya ini tidak bercanda.


Dimas mengangguk mereka bertiga meninggalkan rumah sakit setelah keperluan Dimas diantar oleh asistennya.


Kilas Balik Selesai....


...----------------...


Dokter Reno mengakhiri ceritanya. Endra termenung mendengar cerita sahabatnya itu. Ya, di saat seperti ini. Dimas berperan banyak dalam mengurus Pingka. Sementara dirinya dengan tega mencampakkannya dengan sia-sia. Endra sadar kesalahan terbesarnya adalah tidak mengembalikan Pingka dengan benar.


"Apa kalian sudah resmi berpisah?"


Endra tersadar dari lamunannya lalu menatap wajah Dokter Reno


Surat itu ?


Pria itu keluar dari ruangan Dokter Reno tanpa menjawab .


"Dasar pria gila !" Gerutu Dokter Reno .


Endra tergesa-gesa menuju ke parkiran lalu masuk ke mobil dan melajunya dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2