Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Harus mendapatkannya


__ADS_3

Gemercik hujan masih membasahi bumi sejak semalam, pantulan air hujan mengenai kaca jendela membuatnya buram karena basah.


Tak ada celah untuk bisa melihat keluar, selain menyeka air yang bercucuran membasahi kaca itu.


Begitu juga pada sebuah perasaan yang tak tentu arah, pikiran dan hati yang tak tenang setelah pertemuan kemarin, Endra harus mampu menenangkan goncangan hatinya yang sedang risau. Ia banyak termenung, ada kesedihan yang mendalam pada dirinya. Sepertinya pria ini harus berjuang keras untuk menghapus nama Pingka dan cerita tentang mereka di hatinya.


...----------------...


Dami bisa merasakan perubahan pada Bosnya sejak dua hari lalu, bekerja seperti hilang semangat banyak menyendiri.


"Aku harus membalik keadaan ini." Dami bicara sendiri dan tersenyum penuh arti saat memandang pintu ruangan CEO. Ia mengetuk pintu ruangan beberapa kali.


"Masuk." Seru Endra dari dalam sana.


Dami masuk dan berdiri di depan meja, nampak Endra sedang memandangi layar laptop yang ada foto kebersamaannya dan Pingka  satu tahun lalu.


"Saya ada kabar baik untuk Bapak." Ucap Dami tersenyum.


"Katakan !" Titah Endra tanpa mengalihkan pandangannya. Dami menyodorkan amplop coklat di atas meja dengan senyum yang masih mengembang. "Apa ini ? Kenapa kamu senyum terus dari tadi?"


"Pak, bukalah ! Itu tentang Nona Pingka Jingga Biru. Selama ini ia masih sendiri dan bayi laki-laki yang selalu bersamanya bukan putranya, tapi itu anak Pak Fajar dan Ibu Mayang. Lalu... Pak Ferdi bukan suami Nona Pingka. Dia adalah tangan kanan Pak Fajar mereka tak punya hubungan apa - apa selama ini, jadi... Anda bisa mendapatkan Nona Pingka kembali." jelas Dami panjang lebar.


Endra terdiam masih belum bisa percaya apa yang baru didengarnya, tanpa menjawab ia langsung membuka amplop tentang informasi dan lain-lainnya milik Pingka.


Endra tersenyum mengalahkan cerahnya mentari, wajahnya berbinar penuh kebahagiaan. Ia dapat merasakan terpaan angin kehidupan yang baru menghampirinya.


"Terimakasih kamu sudah membantuku, Dam !"


"Sama-sama, Pak. Sekarang waktunya berjuang ! Semangat !" Ucap Dami tak kalah semangat.


Senyum Endra terhenti . "Kenapa kamu lebih bersemangat ?" Manik matanya menyelidik.


"Sa—saya hanya ikut bahagia, Pak." Dami terbata dan tersenyum kaku.


Kenapa juga kamu lebih bersemangat Dam ? Seperti mengejar jodoh saja.


"Baiklah, aku harus mendapatkannya. Jauhi dia dari pria-pria yang ingin mencari perhatiannya, katakan jika Pingka milik Endra Saguna."


"Baik, Pak."


Itu artinya aku akan menempatkan orang untuk mengawasi Nona Pingka

__ADS_1


"Makan siang kita ke tokonya, perjuangan cintaku akan dimulai hari ini." Endra tersenyum penuh keyakinan.


Dami menatap heran jika Endra mengejar Pingka kembali, lalu apa kabar pada Melisa? Dan hubungan yang bagaimana dijalani Endra nantinya ? Malas untuk ikut memikirkannya Dami hanya mengangguk lalu ijin kembali ke ruangannya.


Apa yang jadi miliknya akan tetap jadi miliknya itu lah pedoman Endra, tak akan dilepaskannya lagi wanita pujaan hatinya seperti sebelumnya.


...----------------...


Istirahat siang semua karyawan yang mendapatkan shift pagi sampai siang menikmati makan siang mereka di taman belakang toko roti. Sementara yang dapat shift siang sampai sore bertugas melayani pembeli.


Pingka hari ini membawa baby Rafa lagi karena Mayang sibuk di puskesmas. Ia sedang memakan makanannya sambil mencandai bayi laki-laki itu.


"Nona ada seseorang yang mencari anda." Seorang karyawan wanita yang baru bekerja masuk kedalam.


"Baiklah." Pingka meletakkan piringnya di atas meja. Ia keluar dari dalam ruangan khusus dirinya. Matanya melihat pada sosok laki - laki yang membelakangi toko. Tubuh Pingka mematung sejenak untuk apa pria itu datang ke tokonya ? "Anda mencari saya?"


Pria itu berbalik dan tersenyum.


"Kamu tidak menyuruh tamu mu masuk?" Endra memasang wajah penuh kebahagiaan.


"Ada yang bisa saya bantu?"


Endra menatap dalam pada manik mata Pingka. "Aku hanya ingin berbincang denganmu." Laki-laki ini melenggang masuk duduk di sofa ruang tamu.


"Saya tidak memiliki banyak waktu ! Bayi saya sendirian di dalam." Pingka berdiri melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya dingin dari beberapa hari sebelumnya.


"Kenapa kamu cantik sekali, wajahmu kesal saja sangat menggemaskan." Endra tersenyum manis.


"Jika kesini hanya untuk membual ! Anda tahu pintu keluarnya, 'kan ? Silahkan tinggal tempat ini !"Pingka menunjuk pintu dengan wajahnya.


Endra bergeming. "Aku belum makan siang, kamu ada makanan?" Ia bertanya lalu berdiri masuk ke dalam kamar pribadi Pingka.


"STOP DI SITU ! Jangan melewati batasan anda !" Suara Pingka meninggi.


"Galak sekali, aku kesini hanya ingin berkenalan dengan putramu. Hai jagoan ! Kamu tampan sekali tapi tak bisa mengalahkan pesonaku." Endra mendekat pada bayi yang tengkurap di atas kasur bersama pengasuhnya.


Pingka langsung mengambil Rafa dan menggendongnya. "Keluar sebelum kesabaran saya habis !"


Endra hanya diam lalu merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu. "Aku ingin tidur sebentar... Tubuhku lelah selama setahun aku tidak tidur dengan benar."


Pingka masih berdiri di sisi kasur sambil menggendong baby Rafa dan meminta pada pengasuhnya menyiapkan tas bayi laki-laki itu.  Karena sebentar lagi Pingka akan mengantarkannya pulang. Hatinya sedikit ter-cubit melihat wajah lelah Endra yang mulai tertidur .

__ADS_1


Tubuhnya sedikit kurus seperti tak terawat, apa sebenarnya yang terjadi dalam rumah tangga Endra ? Sampai pria ini seperti habis melakukan perjalanan jauh. Tampak sekali nyenyak nya saat tidur. Hati  Pingka merasa teriris melihat kondisi pria yang pernah jadi suaminya itu.


Pingka meminta koki dapur memasak makanan baru untuk Endra, karena dia akan mengantar baby Rafa pulang terlebih dulu . Sekejamnya Pingka masih punya hati nurani tak membiarkan orang kelaparan walau hatinya membenci orang itu.


...----------------...


Hampir satu jam Endra tertidur di sana, ia membuka matanya perlahan lalu duduk di atas kasur. Hatinya begitu senang ternyata dirinya masih tertidur di kamar pribadinya Pingka.


Baru hari ini Endra merasakan memang benar-benar tidur, sedetik pun ia tak akan membiarkan  kenyamanannya ini menghilang begitu saja.


"Dimana dia?" Endra keluar dari kamar menemui pegawai di sana.


"Siapa, Pak?"


"Istri saya."


"Sedang mengantar baby Rafa ke rumah Pak Fajar" Jawab Pegawai wanita. "Jadi, Bapak suami Nona Pingka?" Tanya pegawai wanita itu lagi.


"Lupakan aku hanya bercanda."


"Pak, tadi Nona Pingka meminta koki memasak untuk Bapak silahkan dimakan."


Endra merasa senang saat Pingka masih memperhatikan dirinya.


"Baiklah."


Pingka kembali ke toko roti lalu melihat mobil hitam yang sejak tadi terparkir belum juga pergi.


Dia masih disini ? Bagaimana jika istrinya tahu ? Aku akan dalam masalah


Pingka bergegas masuk dan mendapati Endra yang baru saja selesai makan.


"Jika anda selesai, silahkan tinggalkan tempat ini. Saya tidak mau dalam masalah ! Anak dan istri anda pasti menunggu di rumah." kata Pingka masih dengan nada yang sama


Tidak hanya nada bicaramu yang dingin, sorot matamu juga tidak seperti dulu lagi. Aku merindukan sikap hangat mu dan mata penuh cinta untukku


Endra berdiri lalu mendekat pada Pingka.


"Aku akan datang tiap hari." Pria itu melangkah keluar dan meninggalkan toko roti milik Pingka.


Endra merasa bahagia bercampur kecewa meninggalkan toko roti. Selama setahun waktu telah banyak merubah Pingka. Luar dari dugaannya. Mungkin pikirnya dulu Pingka akan bersikap hangat lagi setelah lama tak bertemu.

__ADS_1


__ADS_2