Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Manja bikin iri


__ADS_3

Di sebelah timur matahari telah mengeluarkan cahayanya secara perlahan, memberi penerangan untuk bumi yang selesai melalui gelapnya malam.


Sungguh Maha karya sempurna siang diterangi matahari, lalu malam diterangi bulan dan bintang bertaburan.


Lalu dimana sisi gelap dunia sebenarnya ?


Ada sisi gelap yang lain, ketika kita berada di ruang yang sempit hanya seorang diri tak ada cahaya yang mampu menembusnya. Dan di dunia yang berbeda hanya mirip helaian benang sebagai pemisah dengan dunia yang kita pijak saat ini.


Rasa sakit yang dialami tiap orang anggaplah sebagai penggugur dosa seperti dikatakan banyak orang begitulah yang dirasakan Endra saat ini. Sudah tiga hari dirawat di rumah sakit dengan Pingka selalu disisinya membuat Endra bersemangat untuk kembali sehat.


Semenjak sakit pria itu berubah mirip anak kecil yang selalu manja dan ingin menempel pada Ibunya tapi yang ini berbeda, ia selalu ingin menempel pada Pingka.


Endra mulai merasakan sakitnya berkurang dan tiap hari sudah bisa makan bubur tapi harus buatan Pingka. Sampai Dokter Reno menggerutu tak jelas karena ikut sibuk menyiapkan dapur khusus untuk Pingka di kamar tempat Endra dirawat, karena ruangan itu jarang dipakai keluarga Saguna jadi peralatan dapurnya tidak lengkap.


"Kamu Sultannya lalu aku bisa berbuat apa?" Wajah Dokter Reno begitu kesal sambil menenteng rice cooker baru untuk memasak bubur.


"Hanya kamu yang ada disini, tidak mungkin aku menyuruh Pingka berbelanja. Aku tidak mengijinkannya kemana-mana." Kata Endra menyandarkan kepala di bantal lalu kedua tangannya tak lepas memegang tangan Pingka.


"Pemandangan menyakitkan mata !" Ucap Dokter Reno meninggalkan ruangan itu


Endra terkekeh senang sudah membuat Dokter itu kesal. Pingka melepaskan tangannya dari genggaman Endra. "Mau kemana?" pria itu menarik kembali tangan Pingka.


"Aku membuatkan mu bubur, sebentar lagi makan siang."


"Jangan lama-lama, aku tidak bisa jauh darimu." Endra memasang wajah manjanya.


"Iya sekarang kamu tidur dulu." Balas Pingka lembut.


Endra mengangguk patuh siapa lagi yang bisa mengatur pria sangar itu selain Pingka dan Ibunya.


Selesai membuat bubur, Pingka menelpon Salsa untuk datang. Ia merasa kesepian sendiri di sana dan Salsa setuju untuk datang.


...----------------...


Menunggu empat puluh lima menit. Salsa datang ke rumah Sakit, ia bersama Pingka bercerita panjang lebar sambil bercanda.


Endra bangun dari tidurnya mendengar suara Pingka, siapa pikirnya yang berani masuk kedalam ruangannya dan berbicara pada istrinya. Pria itu menoleh ke sofa matanya mengarah pada lawan bicara Pingka.


"Sayang..." Panggilnya lemah. Entah sejak kapan ia merubah panggilannya untuk gadis pedalaman itu.


Pingka langsung berdiri lalu mendekat ke brankar Endra. "Kamu perlu sesuatu ?" Tanyanya lembut.


"Siapa temanmu bicara?" Bukan menjawab Endra malah bertanya.


"Salsa."

__ADS_1


"Aku haus." Endra berusaha duduk.


Pingka membantunya duduk sebelum mengambil air minumnya. Salsa memperhatikan dari tempatnya duduk, pemandangan yang manis menurutnya. Sudut bibirnya bergerak tersenyum tipis.


"Kamu makan siang dulu." Pingka berdiri mengambil bubur


Endra menggeleng melihat bubur di dalam mangkuk. "Aku bosan bubur, sayang." Rengek nya manja.


"Kamu belum boleh makan nasi, tunggu sakit mu sembuh dulu baru boleh makan nasi itu juga harus lembek." Tegas Pingka.


"Iya Nyonya." Jawab Endra patuh. Seperti anak dimarah ibunya, ia tidak berani melihat wajah serius Pingka.


Salsa yang duduk di sofa sebisa mungkin menahan tawanya. Pingka tersenyum lembut lalu menyuapi bubur ke mulut Endra. Suap demi suap masuk sempurna ke perutnya.


...----------------...


Selesai membersihkan tubuh Endra, Pingka juga membersihkan dirinya di kamar mandi. Ibu Erly dan Melan tiba di rumah sakit mengantarkan makanan untuk Pingka sekaligus menginap di sana. Dimas, Salsa, Sandi dan Dokter Reno juga sudah ada di dalam ruangan. Pingka terkejut semua orang sudah di sana.


"Pingka. Kamu makan malam dulu, Nak. Setelah itu istirahatlah ! Kamu pasti lelah seharian menunggu Endra sendirian." Kata Ibu Erly membuka kotak makanan.


"Iya, Bu."


Pingka mengambil piring lalu mengambil makanan. Ia bermaksud duduk di sofa untuk makan.


"Duduk disini." Seru Endra menepuk kasur di sampingnya .


"Kamu yang kesini atau aku yang ke sana." Tegas Endra. Gadis pedalaman itu menjadi kesal lalu berdiri dan duduk di atas kasur. "Aku tidak bisa jauh darimu."  Endra berubah manja lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Pingka. Gadis Pedalaman ini sudah terbiasa menghadapi tingkah Endra beberapa hari ini.


"Jangan berlebihan, Tuan." Cibir Dokter Reno.


Endra tersenyum mengejek. "Siapa yang berlebihan." Ucapnya meraih rambut panjang Pingka dan menciumnya.


"Endra jangan menganggu Pingka makan, Nak."


Endra acuh tak menanggapi perkataan Ibunya, ia masih saja menarik rambut Pingka dan mencium harumnya. "Apa yang kamu makan?" tanyanya melihat kedalam piring.


"Aku makan Nasi, sayur dan ikan. Kenapa ?"


"Aku mau ikannya."


"Baiklah sebentar akan aku ambilkan." Pingka ingin turun dari kasur.


"Tidak mau yang baru, aku mau yang di dalam piring mu."


"Baiklah." Pingka lalu mengambil daging ikan menggunakan sendok lalu menyuapinya.

__ADS_1


"Tidak mau pakai sendok, suapi aku dengan tanganmu." Endra memasang wajah menggemaskan.


"Tapi tanganku belum dicuci."


"Tidak apa - apa, ayo suapi aku !" Titah pria arogan itu lagi seraya membuka mulutnya. Pingka mengalah dan menyuapi daging ikan menggunakan tangannya. Endra menerima suapan dari Pingka lalu menahan tangan yang menyuapinya itu. "Terimakasih." Ucapnya tersenyum .


Pingka merona malu bercampur bahagia. Ibu Erly senang melihat hubungan Pingka dan Endra membaik, begitu juga Melan selalu mengambil momen kebersamaan Kakaknya dan gadis pedalaman itu.


"Kamu iri?" Sandi melihat ke atas  brankar.


Dokter Reno mengangguk. "Sangat iri. Ayo suapi aku juga." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Endra dan Pingka.


Ide jahil terlintas dibenak Sandi.


"Buka mulutmu."


"Ahh ! Kamu ingin mulutku melepuh !" Pekik dokter Reno terkejut bercampur kesal


Sandi tertawa begitu juga dengan yang lainnya. Dokter Reno membalas perbuatan Sandi dengan menyuapinya juga.


Endra menahan tawanya, karena perutnya masih sakit jika bergerak banyak. Pingka baru saja menyelesaikan makannya lalu ikut bergabung dengan yang lainnya.


"Boleh aku makan kue nya ?" Endra bertanya mengarah ke Dokter Reno.


"Boleh ambil yang lembut saja dan jangan terlalu panas." Ujar Dokter Reno sambil mengusap bibirnya. "Apa bibirku melepuh?" Tanyanya lagi.


"Tidak" Sahut Dimas.


"Kamu tahu, bibir ini aset berhargaku. Di sinilah letak pesonaku, semua orang akan terhipnotis dengan senyum manis yang kumiliki. Hanya Pingka saja yang tidak tergoda. Padahal, aku sudah memasang  senyum terbaik saat pertama kali bertemu dengannya." Kata Dokter Reno panjang lebar


Tanpa sadar singa yang terbaring lemah itu sudah memasang wajah sangarnya dan sorot mata yang siap akan mencabik lawannya.


"Kamu menggoda istriku?" Suara Baritone itu membuat bulu kuduk Dokter Reno berdiri.


"Bu-bukan seperti itu, ini sudah lama bukan masa sekarang. Waktu itu juga aku tidak tahu dia istrimu." Dokter Reno kelabakan.


Pria ini mengerikan sekali, aku lupa jika dia tidak selemah kemarin. Aku harus mengibarkan bendera putih padanya.


Dimas dan Sandi menahan tawanya melihat kepanikan di wajah Dokter Reno. Sementara Salsa dan Pingka asyik bercengkrama di atas kasur rendah di sana, tanpa menghiraukan aura dingin mencekam di ruangan itu.


"Lupakan saja aku hanya bercanda." Dokter Reno tersenyum manis.


"Hm." Sahut Endra santai sambil memakan kuenya .


Lihatlah wajahnya tadi seakan ingin menerkam ku, sekarang dengan santainya memakan kue yang aku beli ! Inginku suntik mati saja dia jika punya dua nyawa

__ADS_1


Batin Dokter Reno angkat bicara


__ADS_2