Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Permohonan Maaf Rania


__ADS_3

Di dalam ruangan berpagar besi seorang wanita duduk termenung disudut dinding. Wajahnya sendu menatap kosong sambil memegang lebaran foto anak perempuannya. Dia Rania sedang dihukum rindu pada buah hatinya. Semenjak perceraiannya dengan Hendri dan masuk Bui, ia tak pernah bertemu dengan putrinya lagi.


"Ibu Rania, ada keluarga mengunjungi anda." Kata petugas wanita.


"Ayah, Ibu." Mata Rania berbinar.


Ia keluar mengekor petugas itu, sampai di luar Rania dikejutkan dengan kehadiran Pingka. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya bersimpuh di kaki Pingka. "Maafkan aku Pingka, maafkan aku." Rania menunduk dengan mata berkaca-kaca


Ia tak mampu melihat wajah sahabat yang telah dikhianatinya itu dan hal paling menjijikan adalah dia berniat membunuhnya.


"Tinggalkan kami berdua." Titah Pingka tanpa melihat orang disekitarnya.


"Tapi Jibi, aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri, sayang." Endra tidak mau.


"Tenanglah tidak akan terjadi apa-apa." Pingka masih tidak melihat pada yang lainnya. Matanya fokus pada bahu wanita bergetar di hadapannya.


Fajar menyentuh pundak Endra sambil mengangguk, dengan berat hati pria itu meninggalkan Pingka di dalam.


"Pingka ... Aku minta maaf atas semua kesalahanku padamu, aku terlalu iri. Egois dan dengki padamu. Aku menghancurkan persahabatan kita yang sudah terikat sejak kecil, aku dengan tega memfitnah mu hanya untuk mendapatkan Hendri. Sekeras apa pun aku berusaha. Tetap cintanya hanya untukmu, aku buta dan tuli tak melihat dan mendengar kesakitan mu. Maafkan aku Pingka." Rania sesegukkan masih bersimpuh di depan Pingka.


"Apa kamu menyesal sudah melakukan ini semua padaku ? Apa kamu tahu jika persahabatan yang terjalin antara kita bukan hanya pertemanan ? Tapi kamu juga kakak perempuan untukku. Kamu yang memeluk dan menenangkan ku saat kehilangan kedua orang tuaku. Apa kamu lupa ? Kamu yang mengancam ku setiap hari agar aku mau makan dan minum biar terus bernafas di tengah rasa kehilanganku dan kamu sendiri berada di depanku saat aku dikucilkan orang lain. Apa semua itu kamu lupakan?" Pingka juga mulai terisak. Menumpahkan segala kerinduan dan emosinya pada Rania.


"Sangat... Aku sangat menyesal, selama setahun aku mengumpulkan keberanian untuk menghadapi mu dan meminta maaf sampai waktunya tiba seperti hari ini." Jawab Rania semakin menangis.


Bayangan kebersamaannya dengan Pingka membuat dirinya semakin terjatuh dalam penyesalan.

__ADS_1


"Rania .... Berjanjilah satu hal padaku setelah hari ini, kembalilah jadi Rania dewasa dan penyayang seperti dulu. Jujur, aku merindukan Rania yang dulu. Bukan Rania saat ini." Pingka menyentuh pundak Rania agar berdiri sejajar dengannya.


Kini mereka sama -  sama berdiri. Rania menegakkan kepalanya. "Aku berjanji, demi putriku. Aku berjanji." Rania menatap manik mata Pingka.


Tidak ada kebohongan di sana didapati Pingka. "Demi putrimu Mora, aku sendiri yang menjamin kebebasan mu." Ucapnya tersenyum dalam tangisnya.


Rania mematung sejenak. Haru dan bahagia, tak percaya membaur dalam rasa di hatinya. "Kamu yakin?" Tanya nya ragu.


"Ya, aku tak ingin Mora membenciku karena aku memenjarakan Ibunya." Ucap Pingka menyeka air matanya.


"Bukan kamu yang akan dibencinya. Tapi aku, dia akan malu jika tahu memiliki Ibu jahat dan egois sepertiku." Rania kembali terisak.


"Bayarlah kesepiannya selama kamu tinggalkan dengan kasih sayangmu." Pingka menyemangati Rania.


"Terimakasih Pingka, terimakasih... Ini perbedaan kita. Kenapa orang lain lebih menyukaimu dari pada aku, karena hatimu ini." Rania tersenyum.


Rania masuk kembali dan berkemas setelah semua selesai, ia keluar dari sana bersama Pingka. Semua mata tertuju pada mereka terlebih Endra langsung menghampiri Pingka dan memeluknya.


"Kamu tidak apa-apa, sayang?" Tanya Endra cemas sekali.


"Aku baik-baik saja." Pingka tersenyum.


Rania mendekat pada Fajar dan yang lainnya untuk minta maaf. Seperti biasa Endra selalu memasang wajah datarnya bila bersama orang lain yang tak dekat dengannya.


Pingka mengambil Mora dari gendongan Hendri. "Mora, kemarin tanya Ibu dimana ? Nah, ini Ibumu sayang. Selama ini Ibumu tinggal di tempat Bibi, maaf buat Mora sedih." Pingka bicara lembut. Hal ini membuat hati Hendri menghangat.

__ADS_1


Rania menitikkan air matanya lagi melihat ketulusan Pingka pada putrinya. "Mora, sayang... Ini Ibu." Rania membuka tangannya.


Mora langsung menjatuhkan tubuhnya di pelukan Rania, wanita ini melampiaskan rasa rindunya pada Mora dengan memberikan banyak ciuman kasih sayang.


"Sudah selesai, ayo pulang kamu perlu istirahat sayang." Endra menarik tangan Pingka dalam genggamannya.


Pingka mengangguk begitu juga Fajar dan Ferdi mereka lebih dulu keluar sementara Arif kembali bertugas. Endra dan Pingka melangkah keluar dari sana. Rania juga menggendong putrinya mengikuti Hendri.


Di parkiran Hendri mendekati mobil Endra setelah Rania dan putrinya masuk kedalam mobil miliknya.


"Pingka " Panggil Hendri.


Pingka menoleh dan tidak jadi masuk, begitu juga Endra menutup kembali pintu mobil.


"Ada apa?" Pingka berdiri di hadapan Hendri.


"Bukankah ? Kamu pernah mengatakan jika jarum jam berputar dari kanan ke kiri bukan dari kiri ke  kanan? Lalu... Kenapa kamu menerima mantan suamimu kembali?" Hendri tersenyum sinis.


"Kamu tahu bedanya dirimu dan mantan suamiku ? " Pingka melipat kedua tangannya bersandar pada mobil.


Endra mendengar pertanyaan Hendri menjadi emosi, ia takut jika Pingka berubah pikiran. "Apa maksudmu bertanya seperti itu ?!"


Hendri hanya tersenyum. "Kami tidak berbeda, sama dapat gelar mantan." Ucapnya Melirik Endra


"Kamu benar, tapi perbedaannya. Endra Saguna memperjuangkan ku dan diantara kami tidak ada masalah yang nyata. Hanya masalah hati yang terlambat menyadari dan kamu... Kesalahanmu sangat fatal menghamili wanita lain selagi kamu berstatus kekasihku. Ah tidak ! Tunangan ku lebih tepatnya, kamu sudah mengikatku sebelum aku melanjutkan pendidikan ke kota. Tapi karena rasa percayamu hanya seujung kuku padaku dengan bermodal beberapa lembar foto, kamu menyakitiku tanpa penjelasan dan dengan bangganya menyodorkan kartu undangan pernikahan padaku. Apa kamu berpikir rasa sakit ku seperti apa? Itu, kenapa aku mengatakan jika jarum berputar dari kanan ke kiri, bukan dari kiri ke kanan untukmu, andai waktu itu kamu mempercayaiku, mencari kebenaran tentangku. Tidak mungkin kamu menghabiskan malam bersama Rania karena mabuk dan satu lagi cerita kita sudah selesai jangan di ungkit lagi." Tegas Pingka panjang lebar.

__ADS_1


Endra terkejut satu fakta yang baru ia ketahui jika Pingka dan Hendri bukan hanya pernah menjadi sepasang kekasih, tapi juga sudah bertunangan. Terlepas dari itu semua, ia tersenyum puas dan juga terharu ada kalimat yang dipetiknya dalam kata-kata Pingka dan itu juga berlaku untuknya. Jangan menghakimi sesuatu yang tak jelas kebenarannya.


Hendri diam membisu kata-kata Pingka seperti cambuk untuknya, memang benar jika dulu ia mencari kebenarannya. Mungkin saat ini ia hidup bersama Pingka dan anak-anak mereka. Tapi dibalik itu semua, jodoh tidak ada yang tahu pada siapa dan dengan cara seperti apa Tuhan menunjukkan baik buruknya.


__ADS_2