
Kediaman Endra
Sepulang kerja wajah Endra seperti tak bersemangat dan banyak diam. Ia menghabiskan waktu di ruang kerja menjawab seadanya jika Pingka bertanya. Hampir satu jam di dalam ruangan itu, ia memilih keluar dari sana. Endra melepas penat berbaring di ujung sofa di ruang keluarga. Matanya melihat ke layar televisi, tapi pikirannya entah kemana ? Beberapa kali Pingka memanggilnya tapi tidak didengar olehnya.
"Gugu kamu kenapa?" Pingka menyentuh lembut pundak suaminya.
Endra tersentak lalu duduk dan bersandar di sofa. "Ayo makan, aku lapar." Ucapnya menarik tangan Istrinya.
Pingka mengangguk, enggan bertanya lagi. Mungkin Endra lelah pikirnya, dengan telaten ia mengambil makanan untuk Endra tanpa bersuara.
"Kamu kenapa?" Endra lagi yang bertanya. Melihat Pingka hanya diam dan menatapnya terus.
"Aku ingin meminta bantuan mu mencari Apartemen untuk Arif. Dia pindah tugas di kota ini." Jawab Pingka langsung pada intinya.
"Nanti Dami yang akan mencarinya" Balas Endra seadanya.
Pingka merasakan jika Endra dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tidak ingin berpikir jauh, Pingka juga mengambil makanannya. Mereka makan dalam diam tanpa bersuara tidak seperti biasanya saling bercanda dan bercerita.
Endra menyelesaikan makan malamnya lalu meninggalkan meja makan tanpa menunggu Pingka seperti biasa. Ada rasa tak nyaman dirasakan Pingka. Ingin bertanya tapi Endra sepertinya tidak ingin banyak bicara.
Selesai membereskan meja makan, Pingka mengganti bajunya lalu meraih tas dan kunci mobil, ia berpapasan dengan Endra di pintu kamar.
"Sayang kamu mau kemana?"
"Jalan-jalan." Jawab Pingka singkat.
Ia langsung melangkah keluar dan menuruni anak tangga menghiraukan Endra yang menatapnya. Ia merasa ingin membalas atas sikap suami yang mendiaminya.
Endra mengepalkan tangannya kecewa pada dirinya sendiri.
Bodoh kamu Endra ! Dia butuh dirimu dan teman bicara setelah seharian kamu tinggal bekerja
Endra meraih dompet dan ponselnya berlari mengejar Pingka. Di garasi mobil, Pingka tersenyum melihat bayangan suaminya dari kaca.
Endra memeluk tubuh Pingka dari belakang saat ingin membuka pintu mobil. "Sayang tunggu ! Aku ikut." Ia mendaratkan ciuman di leher istrinya.
"Jika kamu sibuk, tidak masalah ! Aku bisa pergi sendiri." Balas Pingka dengan wajah datarnya.
Endra memutar tubuh istrinya.
"Maaf, maafkan aku. Ayo ! Kemana saja kamu mau aku akan mengantarmu." Tuturnya menangkup wajah Pingka dengan kedua telapak tangannya.
Pingka hanya tersenyum tipis, lalu mengekor Endra yang membuka pintu untuknya. Sambil mengemudi Endra sesekali melirik pada Pingka yang menatap lurus ke depannya.
__ADS_1
Apa kamu lupa Tuan? Jika dirimu harus terbuka dan menceritakan permasalahan yang sedang kamu hadapi pada istrimu dan sebalik juga begitu.
"Jibi kita kemana?"
"Supermarket."
Sebenarnya sejak tadi Pingka memang ingin pergi berbelanja karena pelengkapan dapur sudah habis. Bukan karena marah atau kecewa berlebihan pada Endra. Tapi lebih baik belanja malam ini pikirnya jadi besok pagi hanya ke pasar berbelanja sayur.
Pingka sengaja tidak merepotkan Bi Weni dalam hal berbelanja. Ia ingin turun langsung memilih sayur dan yang lainnya sendiri. Endra mengikuti istrinya sambil mendorong troli, merasa cukup semua Endra membayar ke kasir seperti biasa pria ini akan jadi magnet pada wanita yang berhadapan dengannya.
"Puas melihat wajah saya !" Sorot mata Endra tajam dan dingin terlebih lagi suaranya sangat datar.
"Ma—maaf, Pak. Saya akan menghitung belanjaannya." Kasir itu takut bercampur malu.
Selesai membayar Endra memeluk pinggang istrinya posesif menandakan jika wanita disampingnya dan dirinya sendiri ada kepemilikannya, Endra cemburu karena para pria di sana curi-curi pandang pada istrinya.
"Apa perlu sekali lagi aku mengumumkan jika aku sudah memiliki istri agar mata-mata jelek itu tidak menatapku seperti tadi." Gumam Endra.
"Tidak perlu, mereka hanya mengagumi ketampanan mu."
"Tapi ketampanan ku hanya kamu yang boleh melihatnya, lihatlah para pria itu melihatmu seperti orang kelaparan." Kesal Endra.
"Biarkan saja mereka punya mata, haknya untuk melihat."
"Kalau begitu besok aku akan memakai mantel dan masker jika keluar rumah."
"Jangan, nanti kamu kepanasan seharusnya tadi aku mengosongkan tempat ini terlebih dulu."
Pingka tak menjawab mereka terus melangkah menuju tempat parkiran. Pikirnya mungkin suaminya ada kurang-kurangnya. Sampai di parkiran Endra memasukan barang di dalam mobil lalu melaju menempuh jalan yang mulai diguyur hujan.
"Sayang, bagaimana ada kabar dari Dami?" Pingka mengalihkan pandangan pada pria di sisinya.
"Sebentar." Balas Endra menepikan mobilnya menelpon Dami.
"Halo, Pak."
"Bagaimana sudah dapat Apartemennya?" Tanya Endra langsung pada intinya.
"Sudah, Pak. Tiga puluh menit dari rumah Bapak."
"Baiklah, kirim alamatnya kami akan ke sana." Titah Endra lalu memutuskan telpon.
Pingka tersenyum. "Terimakasih."
__ADS_1
"Apa pun untukmu sayang, kita akan ke sana." Endra mengecup pucuk kepala Pingka.
Endra kembali menjalankan mobil menuju Apartemen setelah mendapatkan alamat dari Dami, pria itu sedikit lega Pingka tidak marah padanya setelah mendiamkannya beberapa saat tadi di rumah.
"Sayang maaf, aku tidak bermaksud mendiami mu tadi, dalam pekerjaan ada sedikit masalah." Endra menarik tangan Pingka dan mencium punggung tangannya.
"Tidak masalah, jika kamu ingin berbagi aku akan mendengarkannya tapi jika ingin disimpan sendiri itu hak mu."
"Tidak sayang aku akan menceritakannya padamu, proyekku dan Sandi di kota A terkendala ada sedikit masalah, sepertinya aku akan pergi ke sana selama beberapa hari." Tutur Endra.
"Baiklah, lebih cepat bergerak maka akan cepat selesai. Semua karyawan yang ada di sana bergantung padamu."
"Tapi aku ingin membawamu, apa kamu mau?" Endra menoleh sebentar pada Pingka.
Pingka tampak berpikir. "Apa aku harus ikut?"
"Harus, sebelum kamu hamil aku bebas membawamu kemana saja." Endra tersenyum.
Lihatlah jiwa nakal pria itu melanglang buana sampai tersenyum sendiri. Tanpa terasa mereka sampai di lokasi, mereka berdua turun dan melihat sendiri ke dalam Apartemen sangat cocok di huni seorang pria yang masih sendiri.
Merasa cukup mereka kembali ke rumah, Pingka menyusun barang belanjaan dibantu oleh Bi Weni dan menyerahkan beberapa uang untuk pergi ke pasar esok pagi. Karena Pingka akan ikut Endra keluar kota .
"Sayang aku bekerja sebentar ada sedikit pekerjaan." Endra menghidupkan laptop dan duduk di sofa.
"Aku temani jika bisa, aku akan membantumu." Tawar Pingka.
"Dengan senang hati." Endra tersenyum.
Dia senang niatnya disambut baik Pingka, Endra sengaja membawa pekerjaannya di dalam kamar mereka, karena ingin istrinya tidak tidur terlebih dulu. Ada maksud terselubung rupanya.
...----------------...
Satu jam menemani Endra bekerja, akhirnya selesai juga mereka bisa beristirahat.
Endra meraih istrinya di pelukannya.
"Sayang, Dimas sedang pusing menuruti kemauan istrinya, apa jika nanti kamu hamil juga akan seperti itu?"
"Bawaan orang hamil beda-beda, sayang."
"Jibi ayo kita nyicil lagi. Sepertinya malam ini jadwal membuat rambut bayi."
Pria itu beraksi tanpa menunggu jawaban istrinya tangan yang sudah tidak bisa di kondisikan merayap kemana-mana.
__ADS_1