
Satu minggu tanpa terasa Endra dan Pingka berada di Negara X. Dokter Reno pulang terlebih dulu. Hanya Dami yang tersisa menemani mereka.
Hari ini Pingka ingin pergi ke pantai, selama di sana mereka belum menginjakan kaki di pantai yang elok itu. Tanpa alas kaki Pingka dan Endra menyusuri bibir pantai dengan saling menautkan jemari. Merasakan semilir angin senja membelai tubuh mereka. Deburan ombak menyentuh kaki keduanya hingga menyapu bersih pasir yang menempel.
Semakin jauh berjalan mereka semakin tak menyadari jika di sana orang mulai menyepi. Hari ini Endra hanya ditemani Dami tanpa pengawalan yang ketat karena, letak pantai tak jauh dari hotel tempat mereka menginap.
Pingka menggunakan celana jeans pendek di atas lutut dengan baju kaos kebesaran menutupi sampai pahanya. Rambutnya yang panjang dikuncir kebelakang. Walau melalui debat yang panjang karena Endra tak menyukai kulit istrinya terlihat siapa pun, tapi Pingka berhasil memakai pakaian sesuai keinginannya.
"Sayang kita terlalu jauh berjalan, Hampir senja. Ayo ! Kita kembali ke hotel." Endra menghentikan langkahnya.
Pingka melihat ke sekelilingnya
"Ayo." Ucapnya memutar tumit untuk kembali.
Mereka berbalik arah masih berjalan santai karena hari belum gelap sekali, masih ada sedikit cahaya menerangi. Sambil bercerita dan bercanda tanpa mereka sadari jika pergerakkan mereka sudah diawasi oleh orang lain.
Langkah mereka terhenti saat ada enam orang pria bertubuh besar menghadang mereka. Pingka dan Endra terkepung sementara Dami melangkah lebih dahulu ingin menyiapkan mobil.Tidak tahu kejadian di belakangnya.
"Sayang, jangan takut ada aku." Endra menarik tangan Pingka ke belakangnya.
"Serahkan wanita itu !" Titah Pria bertopeng yang paling depan setengah berteriak.
"Seujung kuku saja kalian menyentuh istriku, maka aku pastikan kalian terkubur di pantai ini." Balas Endra dingin.
Bukannya takut mereka malah melangkah lebih dekat. Endra masih menggenggam tangan istrinya dengan erat dan dalam hatinya berpikir. Siapa mereka? ingin membawa istrinya.
"Mundur atau aku akan menyakiti kalian !" Gertak Endra.
Mereka semakin tertawa membuat Endra sangat emosi. Berbeda dengan Pingka, ia sangat tenang dan diam tanpa menunjukkan takut. Dari kejauhan seorang wanita mengawasi mereka dengan tersenyum sinis. Sayang, pergerakannya Pingka bisa melihatnya. Para pria bertopeng itu semakin mendekat, salah satunya berusaha menarik tangan Pingka dengan keras. Endra lebih cepat menendang pria itu sehingga tak sempat menyentuh kulit istrinya.
"Sayang, bila ada celah kamu lari ! Temui Dami." Endra berbisik.
Pingka hanya diam sambil memperhatikan pergerakkan enam pria itu.
"Tuan, kami tak berniat menyakitimu, kami hanya ingin wanita itu." Salah satu dari mereka mengingat perintah Bosnya.
"Kurang ajar ! Apa kalian bodoh ?! Aku dengan suka rela menyerahkan istriku." Bentak Endra emosi.
"Baiklah jika itu mau anda, dengan terpaksa kami harus menyakiti anda untuk membawa wanita itu !" Ucap Pria lainnya.
__ADS_1
Mereka bersamaan menyerang Endra. Dengan tangkas pria itu melawan tiga orang yang berusaha mengalihkan perhatiannya. Sementara tiga lainnya bersiap menarik Pingka dan membawanya.
Satu persatu mereka jatuh ketanah mendapat pukulan dari Endra. Namun, mereka masih berdiri lagi. Ia juga tidak bisa melihat pada istrinya. Karena tiga orang itu menyerangnya tanpa jeda, agar ia tak punya kesempatan mendekati istrinya.
Di luar dugaan. Wanita yang ingin diseret ternyata sudah menjatuhkan dua teman mereka. Pingka menendang satunya lagi hingga jatuh tersungkur. Endra sampai terbuat kagum tak menyangka jika istri sangat pandai membela diri.
Saat Endra lengah tiba-tiba salah satu dari mereka ingin menusuknya dengan pisau, Pingka bergerak cepat menendang lengan yang memegang pisau sehingga pisau itu hanya menggores lengan Endra sedikit.
"Jangan cemas hanya tergores." Endra melihat lengan kanannya.
Pingka yang melihat darah mengalir dari lengan Endra menjadi tak terkendali, sorot matanya tajam dan dingin, mirip saat ia menceburkan Dinda di kolam. Ia kembali ingin menyerang, tapi Endra lebih dulu memukul pria yang melukainya. Hingga, satu persatu mereka sudah tersungkur di depan Endra.
Dami segera berlari melihat kejadian yang menimpa Endra dan Pingka
"Tinggalkan tempat ini, Pak ! Maaf saya terlambat, pengawal ada di belakang kita. Saya sudah meminta mereka untuk datang sebelum kembali kesini." Ujarnya merasa bersalah.
Endra mengangguk lalu menarik tangan istrinya menjauhi tempat itu. Tiba-tiba Pingka menghentikan langkahnya. Ia melihat sosok wanita yang berdiri dengan wajah menegang di balik pohon. Pingka meninggalkan Endra dan yang lainnya.
Melihat Pingka berlari kearahnya. Wanita itu ingin pergi dari sana. Tapi ia kalah cepat, rambutnya sudah berada digenggaman Pingka.
"Lepaskan !" Wanita itu meronta.
Suara teriakan wanita itu mengalihkan perhatian Endra dan Dami, para pengawal sudah melumpuhkan enam orang pria yang menyerang mereka.
"MELISA !" Endra terkejut.
Pingka melemparkan tubuh Melisa di dekat para pria yang sudah diikat menjadi satu.
"Apa ini ulah mu?" Pingka baru bersuara dengan datar dan dingin.
Melisa mengangkat wajahnya dan berdiri lalu tersenyum mengejek.
"Kamu sudah merebut Endra dariku." Ucapnya menatap tajam pada Pingka.
"Jadi, kamu ingin melenyapkan ku untuk mendapatkan Endra kembali ? Ambil ! Jika kamu bisa." Pingka menggenggam rambut wanita itu dengan kuat lalu mendorongnya.
"Endra, aku masih mencintaimu. Maafkan aku sudah pernah menyakitimu. Beri aku kesempatan kedua." Melisa menatap penuh harap dengan intonasi mengiba.
"Bisakah ? Kamu bermimpi dalam keadaan tertidur. Supaya jika kamu bangun maka tidak mengigau jadinya" Balas Endra.
__ADS_1
"Semua gara -gara kamu !" Melisa berdiri ingin mencakar wajah Pingka.
Pingka menepis tangan Melisa lalu mendorongnya hingga kembali jatuh ke tanah. Istri Endra itu menaruh tangannya di leher Melisa.
"Pilih lawan mu dulu sebelum bertindak ! Kamu salah memilih lawan !" Bisik Pingka tersenyum. Jari -jarinya mulai mencekik leher jenjang wanita itu sampai terbatuk karena oksigennya mulai berkurang.
"Sayang hentikan, aku tidak mau tangan berharga mu menyentuhnya." Endra khawatir jika istrinya lepas kendali.
Pingka melepaskan tangannya dan membiarkan Melisa menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia menyentuh pinggang Endra lalu menarik sabuk dari pinggang suaminya. Melisa ingin lari melihat gelagat Pingka yang menakutkan. Sebelum ia berdiri Pingka sudah menghempaskan sabuk itu ke tubuh Melisa.
"Itu karena kamu beraninya menyentuhku !"
Melisa Meringis kesakitan dan menangis. Pingka kembali memukul dengan sabuk itu lagi.
"Sayang, hentikan ! Ini hukuman cukup untuknya." Endra menenangkan istrinya .
"Kamu membelanya?" Wajah Pingka tak bersahabat
"Ti—tidak sayang, aku hanya tidak mau kamu terlibat kekerasan." Cicit Endra.
"Ini peringatan dariku. Jangan pernah mengusik seorang Pingka ! Kau faham wanita terhormat." Pingka membuang sabuk ke sembarang arah.
Endra meraih tubuh istrinya dan memeluknya erat. "Dam ! Kamu urus masalah ini dan laporkan pada pihak yang berwajib."
Melisah merangkak memeluk kaki Endra. "Jangan lakukan itu, En ! Aku minta maaf... Aku cemburu saat melihat berita pernikahanmu. Jangan melaporkanku, ini yang terakhir. Aku akan menjauhi kalian." Mohon nya dengan isak tangis yang pilu.
"Tidak semudah itu !" Endra meninggalkan pantai.
Endra menyesali keputusannya tahun lalu. Kenapa hanya memulangkan Melisa saja ke Jepang ? Harusnya ia juga menutup akses agar wanita itu tak bisa kemana-mana dalam jangka waktu yang lama. Jika hal itu sudah dilakukannya sejak dulu tak mungkin kejadian tadi ada hari ini.
Endra mengajak Pingka mandi bersama dan berendam, raut wajah istrinya mulai melunak dan hangat lagi. Endra bernafas lega karena Pingka tak sedingin tadi, ia baru percaya jika macan betinanya memang buas.
"Sayang, ayo sini ! Aku obati lukamu." Pingka mencoba mengompres sudut bibir Endra yang lebam dan juga tangannya yang tergores.
"Luka ini tak seberapa jika dibandingkan dengan kehilanganmu di depan mataku. Kalau saja mereka berhasil membawamu tadi. Apa kamu terluka, sayang?"
"Aku baik-baik saja, ayo istirahat ! Sambil menunggu makanan datang."
Endra mengangguk menunggu tiga puluh menit, makan malam di antar ke kamar mereka. Usai menyantap sajian itu mereka berdua memutuskan untuk tidur lebih cepat.
__ADS_1