Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Hari terakhir


__ADS_3

Dimas dan Sandi datang lagi mengunjungi Endra di rumah sakit, mereka membahas tentang proyek. Endra hanya menyimak tanpa banyak bicara matanya selalu mengawasi Pingka yang mulai mengantuk dan sesekali menguap.


Dimas mengerti dengan kondisi hati Endra lalu menyudahi pembahasan mereka dan mengajak Sandi pulang bersama. Mereka sudah meninggalkan ruangan Endra.


"Tidurlah." Pingka mengatur bantal Endra.


Endra mengangguk lalu menarik tangan Pingka ke genggamannya.


"Sayang, kenapa kamu kemarin mengatakan jika kita sebentar lagi akan berpisah resmi?" Tanyanya menatap lekat dua bola mata Pingka.


"Bukannya kita memang akan berpisah ? Bahkan berkas perpisahan sudah masuk?"


"Itu tidak terjadi, berkasnya sudah aku cabut, surat yang kamu tanda tangani sudah aku bakar, tidak ada perpisahan di antara kita ! Dengarkan aku sayang. Aku ! Endra Saguna sangat mencintaimu istriku Pingka Jingga Biru." Ucap Endra panjang lebar.


Pingka tersenyum tipis. "Apa kamu meyakini hatimu ?"


"Sangat yakin, tidak ada persenan yang bisa mengukur banyaknya perasaanku padamu. Apa kamu mau kita mengulang semuanya lagi ?" Tanya Endra penuh harap.


"Berikan aku waktu."


Endra mengangguk walau dalam hatinya kecewa karena tak langsung mendapatkan jawaban. "Baiklah, saat keluar dari rumah sakit, aku sudah mendapatkan jawabannya, ayo tidur." pria itu menepuk bantal di sisinya. Pingka mendekat lalu berbaring sedikit menjauhi tubuh Endra.


"Genggam tanganku." Pinta Laki-laki itu manja.


Jika kamu meragukan ku akan kuyakinkan lagi dirimu, jika perasaanmu sudah berubah maka akan kubuat kamu jatuh cinta lagi padaku, mimpikan suamimu ini. Jibi.


...----------------...


Satu minggu lamanya. Endra Saguna di rawat, hari ini ia diperbolehkan pulang dan sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.

__ADS_1


Sambil menunggu infusnya dilepas Endra selalu mengajak Pingka berbincang. Perasaan nyaman dan tenang dirasakan wanita itu ketika didekat pria itu.


Dengan dibantu Bi Weni, Pingka berkemas segala barang yang dibawa ke rumah sakit. Hari ini, Sandi tidak menjemput karena menghadiri rapat penting.


Pingka berniat akan mengantar Endra sampai ke rumah Ibunya lalu menginap satu atau dua malam di sana, sebelum pulang ke kampung membantu Fajar.


"Kamu pulang ke kampung bersamaku saja nanti, tiga hari sebelum pernikahan Fajar." Kata Endra mengancing kemejanya.


"Terserah padamu." Pingka duduk di tepi kasur.


"Ibu juga akan ikut, lama tidak bertemu Ibu Halimah." Seru Ibu Erly yang duduk di sofa.


"Benarkah?"


Ibu Erly mengangguk dan tersenyum. Mereka berbincang cukup lama sampai Dokter Reno datang melepas infus di tangan Endra. Pria ini duduk di tepi kasur lalu meminta Pingka juga duduk bersamanya. Hari ini Endra meminta jawaban langsung dari Pingka


"Sayang... Aku minta maaf selama ini tidak memperlakukanmu dengan baik, terimakasih juga kamu sudah datang untukku dan merawatku selama sakit. Apa kamu mau kita mengulang kembali dari awal lagi pernikahan kita?" Endra bicara dengan wajah serius lalu menatap manik mata Pingka begitu dalam.


Ibu Erly, Dokter Reno dan Bi Weni saksi atas jawaban Pingka nantinya. Mereka menunggu jawaban dari Pingka dengan perasaan berdebar-debar.


"Aku ber—"


"Endra"


Semua mata tertuju pada arah suara. Seseorang wanita yang tidak disangka kedatangannya. Ia berdiri dengan membawa koper besar di tangannya. Keheningan semakin terasa di dalam sana. Perasaan tak nyaman hinggap di hati Pingka, ia merasakan akan ada sesuatu yang terjadi.


Ia melihat wanita itu dari atas sampai bawah, ada yang berbeda di sana. Endra menatap dingin wajah wanita itu tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Pingka.


"Untuk apa kamu datang kemari ?!" Suara Endra terdengar datar.

__ADS_1


"Endra, maafkan semua kesalahanku, ini bukan mau aku untuk datang menemui mu tapi..."


Pingka berdiri dari posisi duduknya lalu menarik tangannya dari genggaman Endra. Tubuhnya gemetar dan gugup. Sepertinya ia sudah mendapatkan jawabannya. Tapi ingin sekali lagi meyakini dirinya semoga saja pemikirannya salah.


"Tapi apa ?! Katakan dengan jelas. Kamu sudah tahu kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi." Kata Endra dengan nada sedikit tinggi.


Melisa tersenyum dan berkata. "Ini kemauan bayi dalam kandunganku, aku hamil anakmu."


"APA ?!"


Pingka terhuyung. Endra sigap menangkap tubuhnya, dada Pingka menyesak. Pernyataan yang baru saja ia dengar menggores luka yang lebih dalam dari sebelumnya. Tatapannya tiba-tiba kosong, butiran bening dari bola matanya mulai membentuk telaga air yang kapan saja siap tumpah.


Dugaannya benar wanita itu tengah hamil, Pingka bisa melihat bentuk tubuhnya. Dunianya yang sedang berputar tiba-tiba kusut tak tentu arah, harapan yang sudah tertanam kuat pada pernikahan ini kembali terhempas begitu saja. Sekali lagi ia harus menerima pahitnya sebuah kenyataan. Air mata yang siap tumpah itu berusaha ditahannya sekuat tenaga, dadanya bergemuruh dan sesak semakin mencekik lehernya untuk meminta nya berhenti bernafas. Dan di detik berikutnya Pingka merasakan tubuhnya semakin lemas.


Kenangan, kebersamaan Endra dan Melisa satu persatu muncul di kepala Pingka. Tangannya yang semula lemas itu mengepal kuat menahan emosi. Kenapa ini harus terjadi setelah penantiannya?


"Sa—sayang jangan dengarkan dia. Ini semua bohong." Endra gelagapan menenangkan Pingka yang sudah berubah raut wajahnya.


"Ulangi sekali lagi !" Ucap Ibu Erly datar.


"Aku hamil anak Endra dan usia kandunganku sudah empat bulan." Melisa memperjelasnya. Ibu Erly duduk lemas di sofa sementara Dokter Reno segera menenangkan ibu Erly yang shock.


"KAMU BERBOHONG !" Teriak Endra.


"Tidak, En ! Dia memang bayimu, apa kamu lupa ? Kita menghabiskan malam bersama sebelum aku pergi ke Jepang?" Ucap Melisa


"Kita memang tidur bersama tapi aku tidak melakukan apa pun !" Endra berusaha mengingat.


"Kamu pasti lupa. Mungkin, kamu tidak mencintaiku lagi. Tapi apa kamu tega bayi ini lahir tanpa ayahnya?!" Melisa mulai menangis.

__ADS_1


Hati Pingka ngilu dan sakit menyaksikan ini di depan matanya. Ia berusaha mengembalikan kesadarannya yang sempat menghilang karena keterkejutannya. Pingka tak menyangka jika mimpi indahnya kemarin berakhir hari ini.


"Pak Endra, sepertinya tugas saya sudah selesai di sini ! Saya akan kembali pulang."


__ADS_2