
Sore itu di ulang tahun moments yang paling bahagia dirasakan Endra sepanjang hidupnya. Pesta kecil tapi begitu terasa kehangatannya. Berkumpul bersama saling bercengkrama tanpa alunan musik dan dansa seperti pada umumnya orang berpesta, sangat terasa sekali kekeluargaannya. Dimana tiap orang bisa saling mengenal dan lebih dekat mengambil bagian bercerita dan bercanda.
Seorang Endra Saguna yang biasanya menghadiri pesta berkelas dan mewah menjadi Raja di tiap pertemuan. Hari ini ia sebagai Tuan rumah dan meng-rajakan tamunya berdiri dan tersenyum ramah menyambut uluran tangan orang - orang mengucap selamat padanya.
Tak banyak tamu yang diundang Ibu Erly melalui Dami untuk merayakan hari sepesial putranya. Bukan seperti pesta tapi terlebih pada acara syukuran. Semua itu ide Pingka, ia hanya ingin doa yang terbaik dan tulus untuk pria yang dua kali membuatnya jatuh cinta itu.
"Terimakasih sayang, aku belum pernah mendapati acara seperti ini." ucap Endra tulus .
"Bagaimana, apa tersentuh dengan pesta berkelas ? Atau... Sederhana seperti ini?" Pingka duduk di samping Endra sambil membawa piring berisi buah.
"Tentu yang seperti ini, aku merasakan sebagai manusia sangat bersyukur. Bisa berbagi pada orang lain ketimbang pesta besar hanya adu penampilan dan gengsi."
Pria ini sempat berpikir, bagaimana jika ia tidak pulang ke rumah tadi ? Mungkin kejutan seperti ini tidak ia dapatkan. Endra mulai bermanja-manja pada Pingka setelah tamu pulang semua.
Seperti tidak pernah bosannya, ia menempel terus pada Pingka. Asal pria lain mendekatinya saja, Endra sudah siaga satu.
"Apa kalian tidak melihat aku berada disini ? Dengan perasaan terkoyak menyaksikan kalian bermanja ria. Apa kalian tidak memikirkan jiwa kesepian ku? Meronta mendesak ku mencari tambatan hati." Ujar Dokter Reno dengan kesalnya serta gaya kalimat yang berlebihan.
"Itu deritamu, bukan deritaku." Seru Dimas yang tengah berbaring di pangkuan istrinya.
Endra tak menjawab sibuk menatap wajah Pingka tanpa berkedip.
"Tenang Dokter, kita satu komunitas." Sambung Dami sambil menyesap kopi hitamnya. Dokter Reno mendengus kesal melihat Dami.
"Dam."
"Iya, Pak." Dami mendekat.
"Kamu buat janji pada pihak studio foto terbaik di Kota ini, buat janji untuk mengadakan pre-wedding untukku dan Pingka besok." Titah Endra mengambil kopi bagian dirinya,
"Baik, Pak." Balas Dami kembali duduk .
"Secepat ini ?" Pingka menegakkan duduknya.
__ADS_1
"Tentu, aku takut kamu diambil orang. Maklumlah ada jiwa kesepian disini, bisa saja dia mengibarkan bendera perang padaku." Sindir Endra pada Dokter Reno.
Pingka terkekeh, rupanya pria di sebelahnya ini merasa terancam pada Dokter Reno. Tapi yang disindir hanya memasang wajah cueknya.
...----------------...
Semangat pagi membangunkan Endra lebih cepat dari sebelumnya. Usai membersihkan diri, ia langung meraih kunci mobil untuk menjemput calon istrinya .
"En, mau kemana kamu sepagi ini ?" Dimas turun dari tangga .
Mereka semua menginap di rumah Endra terkecuali Pingka memilih pulang ke Apartemennya.
"Mau menjemput Pingka."
"En, boleh aku minta tolong belikan kue di toko Pingka?" Salsa juga ikut turun dari tangga.
"Tentu, aku hanya sebentar tunggu disini." Endra tersenyum.
Salsa senang tak sabar rasanya mencicipi kue buatan Pingka. Dimas memperhatikan wajah istrinya berbeda dari biasanya, berbinar manja karena Endra mengabulkan keinginannya.
"Pingka boleh aku makan dari piring mu?" Seru Salsa.
Semua orang menatap aneh pada Salsa.
"Tapi, Sa. Ini bekas ku." Pingka merasa heran.
"Tapi aku mau." Wajah Salsa sudah berubah sedih.
"Iya, ayo kita makan berdua." Pingka bertukar duduk dengan Dimas.
"Kamu kenapa, sayang?" Dimas juga ikut bingung.
Salsa tak menjawab hanya tersenyum pada suaminya. Dokter Reno menarik pergelangan istri Dimas itu setelah beberapa menit lalu mengambil peralatan medisnya yang tidak pernah ketinggalan. Dokter tampan itu sudah melihat beberapa hari ini gelagat tak biasa dari istri sahabatnya.
__ADS_1
"Eehh, kenapa menyentuh istriku." Mata Dimas hampir melotot.
Dokter Reno tersenyum. "Dugaan sementara, istrimu tengah hamil ingin tahu lebih tepatnya bawa dia ke dokter kandungan." Ujarnya usai melakukan pemeriksaan. "Detak jantung dan denyut nadi nya lebih meningkat dari pada umumnya, dan juga beberapa hari ini, Salsa gampang lelah." lanjut dokter Reno lagi.
Wajah Dimas berubah cerah karena bahagia. Dia mengangguk tanda mengiyakan perkataan Dokter Reno. Salsa tak menanggapi ucapan Dokter Reno karena tak ingin memberikan harapan palsu untuk suaminya.
Selesai sarapan mereka berencana untuk jalan - jalan di Kota itu. Fajar dan Endra memutuskan pernikahan Pingka dan dirinya dilaksanakan di Kota itu. Karena sesuai kemauan Endra ketika ia pulang ke kota P Pingka sudah resmi menjadi istrinya.
Menempuh perjalanan selama 1 jam akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Dokter Reno berapa kali menggerutu karena ingin bersantai malah diajak menyaksikan sesi foto yang dilaksanakan Endra dan Pingka. Walau kesannya terburu-buru, tapi semua di atur Endra sedemikian rupa agar pernikahannya dan Pingka berjalan dengan lancar.
Karena merasa bosan dan tak ingin kalah dari calon pengantin, Dokter Reno meminta salah satu orang di sana memfoto dirinya. Sambil mengomel tak jelas, ia mengganti pakaiannya karena merasa gerah. Dokter tampan itu memilih bersantai di luar ruangan, sepertinya berfoto adalah salah satu hobinya. Sekali lagi ia meminta seseorang mengambil fotonya
Menghabiskan waktu beberapa jam, akhirnya Endra puas dengan hasil fotonya. Pengambilan gambar mungkin tak sulit tapi pria ini yang mempersulit semua orang. Karena tak ingin Pingka menggunakan pakaian terbuka. Tapi bukan Pingka nama nya kalau tidak bisa memaksa.
Satu persatu Endra melihat hasil dari pemotretan hari ini, wajahnya sumringah walau pun Pingka sedikit kesal dengan tema yang diinginkan Endra. Tapi hasilnya bagus menurutnya. Dokter Reno menghampiri Endra dan Pingka dengan wajah bosannya.
"Kenapa wajahmu begitu?" Endra memicingkan matanya.
"Bosan, ayo kita ke toko roti Pingka, aku ingin mencicipi roti buatannya pasti enak." Dokter Reno menarik tangan Pingka meninggalkan Endra yang sedang bicara pada Dami.
"Eh, kemana mereka?" Endra tak mendapati Pingka dan dokter Reno di sana.
"Mereka di sana, Pak." Dami menunjuk dengan wajahnya.
Mata Endra melotot melihat dengan santainya Dokter Reno melangkah menarik tangan Pingka. Pria itu berjalan cepat sebelum Dokter itu membuatnya menggila.
"Lepaskan tanganmu!" Suara Endra menghentikan langkah Dokter Reno dan Pingka.
"Oh, kamu rupanya." Balas Dokter Reno santai.
Endra menarik Pingka ke sisinya. "Sayang, kenapa kamu mau ditarik olehnya." Ucapnya menyentuh wajah Pingka.
"Dia tidak berbahaya, ayo kembali ke toko ! Aku lelah." Ucap Pingka dengan manja.
__ADS_1
Endra mengangguk lalu melangkah ditengah - tengah, terlintas ide jahil di kepala Dokter itu. Ia merangkul tangan kiri Endra seperti yang dilakukan Pingka pada tangan kanan pria itu. Endra tersentak lalu menarik tangannya dengan wajah kesal. Dokter Reno terbahak, senang rasanya membuat Endra marah.