
🌷Selamat Membaca 🌷
Weekend...
Pingka telah bersiap mengajak Baby Rafa untuk jalan-jalan bersama Ferdi. Hari ini cuaca cukup bagus untuk menghabiskan waktu di luar rumah, mereka akan pergi ke tempat wisata di Kota itu. Mereka hanya bertiga karena karyawan Pingka sedang bekerja. Fajar dan Mayang tidak bisa ikut hari ini karena mereka akan menghadiri acara pernikahan.
Pingka dan Ferdi sudah melaju menuju salah satu tempat wisata, segala keperluan baby Rafa sudah dipersiapkan Pingka. Bayi itu nampak menggemaskan. Selain gemuk, ia juga mudah tersenyum pada semua orang.
"Pingka. Apa Kak Fajar sudah cerita padamu tentang hari kemarin?" Tanya Ferdi dengan tatapan ke depan sambil fokus mengemudi.
"Sudah, biarkan saja. Aku tidak ada urusan lagi dengannya. Dia sudah memiliki anak dan istri."
"Baguslah setidaknya kamu masih waras tidak menghabiskan waktu meratapi kehancuran pernikahanmu."
"Kamu pikir aku selemah itu, tulang lehermu pun. Bisa aku patahkan jika aku mau." Balas Pingka dingin.
Ferdi terkekeh, Pingka yang dikenalnya sejak lahir ini sangat berubah banyak. Wanita yang selalu ramah serta tersenyum kini lebih datar.
Mobil Pingka berhenti di tempat tujuannya. Baby Rafa dimasukan ke dalam stroller lalu Ferdi membawa semua perlengkapannya di tas milik Rafa. Sementara Pingka dengan anggunnya mendorong stroller.
Mereka mengelilingi tempat itu dengan sambil berbincang tanpa terasa baby Rafa pulas tertidur. Ferdi selalu melemparkan candaan berharap Pingka membalasnya seperti dulu, tapi seberapa pun usaha pria itu. Pingka tetaplah sama hanya merespon pendek tiap perbincangan mereka.
Karena merasa lelah. Ferdi dan Pingka memilih istirahat dibawah pohon yang rindang dan sejuk, Pingka membuka kotak makanan yang dibawa dari rumah lalu menikmati makanannya, sementara Ferdi pamit ke toilet terdekat.
Pingka asyik menyuapi makanannya sambil melihat sekitarnya. Sesekali ia menyeka keringat dari kening baby Rafa. Tanpa ia sadari tak jauh darinya ada sepasang mata yang mengawasinya.
Manik mata Pingka tertuju pada pria yang sedang menggendong bayi perempuan yang pulas tertidur dalam pelukannya. Mata mereka bertemu. Tidak ada debaran di dada Pingka, ia melihatnya seperti orang asing yang tak pernah dikenalnya.
Tapi tidak dengan pria itu. Ia menatapnya penuh rindu. Sekuat hati ia memendam kerinduannya pada wanita cantik di seberangnya. Laki-laki itu terdiam, iris matanya merah dan berkaca-kaca. Pemandangan ini sangat menyakitkan. Harusnya, yang duduk di samping Pingka adalah dirinya. Lalu bayi laki-laki yang mendapatkan perhatian penuh itu adalah bayi mereka.
"Kamu pantas menjadi ibunya. Jadi, Ferdi suamimu." Gumam laki-laki itu.
Dia adalah Endra, yang sejak tadi mengawasi Pingka. Ia sudah melihat jika wanita yang ia rindukan itu duduk di bawah pohon bersama seorang pria. Kecewa itu yang dirasakannya, mungkin saatnya harus melepas Pingka dari hatinya. Endra harus menerima kenyataan jika pencariannya berakhir kecewa karena gadis pedalaman itu sudah dimiliki orang lain. Endra yang sejak tadi larut dalam lamunannya terkejut melihat Pingka sudah berdiri dan ingin melangkah pergi.
__ADS_1
"Pingka."
Merasa namanya dipanggil. Pingka menoleh ke asal suara begitu juga dengan Ferdi, ia terkejut secepat itu Endra bertemu dengan Pingka.
"Kamu memanggilku ?" Pingka menunjuk dadanya sendiri. Seolah memastikan jika pendengarannya tidak salah ada yang menyebutkan namanya.
"Apa kabarmu?" Tanya Endra lembut.
Ada cinta dan rindu yang besar di matanya untuk gadis itu. Tatapannya hangat masih sama seperti dulu.
"Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja." Jawab Pingka dingin.
Tidak ada ekspresi rindu atau cinta di matanya. Pingka melihat bayi cantik yang masih tidur di gendongan Endra.
Ini putrinya bersama wanita itu
"Dia putramu?" Endra memberanikan diri bertanya.
"Ya, dia putraku. Maaf sepertinya kami harus pulang. Putraku sudah lelah." Balas Pingka lalu mendorong stroller.
"Ada apa, Nak?" Ibu Erly melihat raut wajah sedih Endra.
"Tidak apa-apa, Bu." Endra melangkah ke tempat mereka istirahat.
"Kak makanlah dulu sini baby Syila." Melan mengambil bayi itu dari gendongan Kakaknya. Endra hanya mendiami makanannya tanpa berniat memakannya.
"Ceritakan pada Ibu, ada apa? Besok pagi Ibu dan Melan pulang"
"Aku hanya lelah, Bu. Setelah ini ayo kita pulang kasian Syila kelamaan di luar."
...----------------...
Malam menjemput senja semua orang sudah kembali dari padatnya aktivitas siang, begitu juga Endra sejak tadi siang tak banyak bicara.
__ADS_1
Pikirannya melayang pada pertemuan pertama setelah satu tahun berpisah. Semua banyak berubah, sikap dingin dan datar yang dimiliki Pingka membuatnya merasa bersalah. Jika saja kejadian waktu itu tidak terjadi maka sekarang ia akan hidup bahagia bersama Pingka.
Wanita itu sekarang sangat jauh berbeda, mungkin kecantikannya memang sama seperti dulu bahkan saat ini semakin manis. Dewasa dan seksi, jika dulu ia selalu berpenampilan tertutup maka sekarang Pingka lebih berani.
Tak dipungkiri Endra merasa sakit hati malam ini, tak menyangka jika wanita yang pernah menjadi istrinya itu kini telah bersuami dan memiliki seorang putra.
Hati jantungnya serasa dihujam ribuan jarum saat memikirkan Pingka menghabiskan waktu bersama pria yang telah jadi suaminya, betapa beruntungnya laki-laki itu mendapatkan Pingka gadis pedalaman yang tak terjamah oleh siapa pun. Ibu Erly masuk kedalam kamar putranya karena beberapa kali di ketuk tak ada sahutan.
"Kamu kenapa, Nak?" Tanya ibu Erly. Ia bisa merasakan kesedihan dan keputus asaan putranya.
Endra merebahkan kepala di pangkuan Ibunya. Mencari ketenangan di pangkuan sang Ibu.
"Ibu aku bertemu dengannya tadi."
"Siapa?"
"Pingka." Endra kembali duduk
"Lalu, kenapa kamu bersedih jika sudah bertemu?" Ibu Erly mengusap lembut pundak Endra.
"Dia sudah menikah dan memiliki putra yang tampan." Endra tertunduk sedih. Bahunya terguncang, Ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya lagi.
Ibu Erly terkejut bercampur sedih.
"Relakan dia, Nak."
"Ibu... Seharusnya dia menjadi Ibu dari anak-anakku, jika bukan karena wanita itu ! Aku pasti sudah bahagia bersama Pingka." Endra meraih bingkai foto di atas nakasnya.
Tangisnya semakin pecah. Ketukan palu saat itu tak membuatnya menangis, tapi hari ini. Pertemuan yang tak disangka dan di tambah lagi dengan kehadiran laki-laki lain serta seorang bayi di sisi Pingka. Memporak porandakan dinding pertahan Endra Saguna. Andai di sidang perceraiannya dulu bisa melakukan mediasi. Sayangnya kesempatan itu tidak ada.
"Nak. Mungkin, kalian memang hanya berjodoh sebentar saja. Sudahlah, jalani hidupmu yang sekarang dengan baik." Ibu Erly menepuk-nepuk pundak pria dewasa yang dilanda kesedihan ini. Ia pun berusaha berlapang dada menerima kehidupan Pingka yang baru.
Endra terdiam lalu mengusap jejak air mata di pipinya. Benar yang dikatakan Ibunya. Dia harus merelakan Pingka bahagia. Seperti wanita itu yang pernah merelakannya disaat ia masih mencintai Melisa dulu. Endra jadi terpikir pada dokter Reno andai pria itu ada disini mungkin ia cukup terhibur .
__ADS_1
Aku jadi merindukan Dokter jelek itu dalam kondisi seperti ini .