Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Kelahiran si kembar


__ADS_3

Dua Bulan Kemudian....


Jadwal Endra sesuai dengan rencananya, ia mulai bekerja dari rumah semenjak dua minggu lalu. Meski pun Pingka sudah melarangnya cuti, tapi Endra tetap pada keputusannya. Sore itu Endra dan Pingka duduk di halaman rumah mereka bersama Syila, balita itu mulai pintar dan cepat mengerti. Keluarga Endra tengah berkumpul di rumahnya .


"Aaah." Ringis Pingka memegang bulatan perutnya bagian bawah.


"Kenapa sayang?" Endra meletakkan Syila di kursi.


"Sa—sakit." Lirih Pingka. Ia Menarik nafas lalu menghembuskan nafas perlahan melalui mulutnya.


"A-apa yang sakit?" Endra tiba-tiba panik dan gemetar.


"Kontraksi."


"Kita ke rumah sakit !" Ucap Endra cemas menuntun istrinya berdiri dan masuk ke dalam rumah sambil menggendong Syila. "Ibu, Melan ! Kemarilah, Istriku mau melahirkan. Ayo ke rumah sakit !" Teriaknya lagi.


"Ayo Kak siap-siap !" Melan memberikan Syila pada pengasuhnya.


Endra masuk ke kamar mengambil tas perlengkapan, lalu memasukkannya kedalam mobil. Di sana sudah ada Melan yang mendampingi Pingka.


"Sayang kita ke rumah sakit." Endra mengecup singkat kening istrinya.


Ia mengemudi dengan tenang walau dirinya sendiri cemas dan takut. Di perjalanan Endra juga tidak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan istri dan bayi kembarnya.


Dari gerbang rumah sakit nampak Dokter Reno dan Arin sudah menunggu dengan brankar dan beberapa perawat, karena Ibu Erly mengabari mereka seiring keberangkatan Pingka ke rumah sakit. Endra memapah istrinya untuk naik ke atas brankar.


"Jangan cemas aku baik-baik saja." Pingka menenangkan suaminya yang gelisah.


"Pasti sakit sekali rasanya." Balas Endra dengan mata nya merah dan berkaca-kaca.


"Aku menikmati nya, karena rasa sakit ini di nantikan tiap wanita."


Endra mengangguk sambil mengusap pelan pinggul Pingka. Detik, menit dilewati mereka berdua saling menguatkan dan menyemangati sampai pada akhirnya waktunya melahirkan tiba.


"Pembukaan Lengkap sayang,  mulai mengejan sesuai instruksi dariku. Agar kamu tidak cepat lelah kamu melahirkan dua bayi." Ucap Arin setelah ketubannya pecah.


Perjuangan Pingka dimulai sampai pada akhirnya bayi pertama terlahir ke dunia selang berapa menit kemudian bayi kedua juga terlahir dengan selamat dan lengkap.


"Selamat Pingka, Endra. Bayi kalian laki-laki dan perempuan." Ucap Arin ikut senang.


Pingka mengangguk dan tersenyum, dia tak mampu berkata-kata saking bahagia bercampur lelah. Hanya hatinya yang berucap syukur dan berterimakasih pada Sang pemberi kehidupan.

__ADS_1


Endra menitikkan air mata harunya mendengar tangisan bayi suci baru saja lahir itu, dirinya mendekat pada perawat yang membersihkan tubuh bayinya. Endra tersenyum, tangannya gemetar menyentuh pipi mulus kedua bayinya. Dia masih serasa bermimpi sudah menjadi Ayah.


"Sayang apa semua baik-baik saja?" Tanya Endra mendekat ke sisi Pingka kembali.


Pingka mengangguk. "Aku baik-baik saja, bagaimana dengan bayi kita?"


"Semua baik-baik saja, terimakasih atas semuanya. Aku tidak bisa menyebutkannya satu persatu, aku juga tidak bisa menuangkannya dalam sebuah tulisan. Karena itu tak akan cukup untuk menggambarkan kebahagiaanku sayang, aku sangat bahagia." Endra membenamkan ciuman kasih sayangnya di kening Pingka.


Perawat membawa kedua bayi Endra keluar, karena akan dibawa keruang bayi untuk diperiksa lebih lanjut. Di luar ruangan keluarga Endra terharu melihat sosok mungil di gendong oleh perawat.


"Satu anggota keluarga Ibu Pingka silahkan ikut kami." Ucap Perawat


"Biarkan saya yang ambil alih perawatan bayi kembarnya Ibu Pingka setelah hari ini."


"Baiklah, sekarang Dokter Melan ikut kami nanti dibicarakan lagi sama Dokter anak yang bertugas hari ini."


Melan setuju lalu mengikuti perawat membawa bayi Endra dan Pingka. Ibu Erly masih setia menunggu di kursi tunggu di depan ruang bersalin menunggu Pingka keluar.


"Bibi, apa Pingka sudah melahirkan?" Tanya Dokter Reno. Dirinya baru datang dari ruangannya.


"Sudah, Ren. Bayinya laki-laki dan perempuan sedang di ruang bayi bersama Melan." Jawab ibu Erly.


"Baiklah sekarang Bibi menunggu Pingka diruang inapnya saja ya, biar bisa istirahat sebentar lagi mereka akan keluar."


"Pingka semua sudah selesai, bayimu yang laki-laki beratnya 1,9 kg dan yang perempuan beratnya 2,00 kg. Mereka akan mendapatkan perawatan khusus sampai berat badannya normal." Jelas Arin.


"Jadi mereka harus dirawat disini?"


"Selama kamu masih perawatan mereka juga akan menjalani perawatan, karena untuk bayi dengan berat badan dibawah normal mereka harus mendapatkan perawatan yang baik. Dari suhu ruangan, kebersihan tempat dan sebagainya sampai semuanya normal. Melan juga tahu itu." Jelas Arin lagi.


"Kalau begitu, setelah Pingka pulih maka bayiku akan dirawat di rumah saja." Seru Endra.


"Tidak masalah. Sebelumnya kalian diskusikan dulu pada Melan, kalau dari aku sendiri setuju saja." Ucap Arin.


Endra mengangguk lalu mengalihkan pandangannya pada istrinya. "Jangan sedih semoga dalam satu minggu berat badan mereka normal." Ucap Endra.


"Baiklah kita pindah keruang inap ya."


Endra memberikan ruang untuk perawat mendorong brankar istrinya, sementara dia pergi keruang bayi ingin melihat buah hatinya.


"Bagaimana?" Tanya Endra setelah sampai diruang bayi.

__ADS_1


"Semua baik. Mereka juga sehat, tapi perlu dirawat dulu. Karena berat badannya kurang sedikit. Jangan khawatir, aku sendiri yang merawatnya nanti." Jawab Melan.


Endra tersenyum melihat wajah kedua bayinya. "Apa Pingka bisa melihat bayinya ? Tadi dia hanya melihat sebentar." Bicara sambil mencium pipi putranya lalu bergantian pada putrinya.


"Boleh Kak, Tapi yang perempuan saja. Ayo kita bawa ke sana hati-hati." Ucap Melan saat Endra meletakkan kedalam ranjang bayi.


Pingka tersenyum menyambut kedatangan bayinya, tak lupa Arin juga mengajari cara memberi asi pada bayi kembarnya.


"Wah, bayiku cantik." Seru Dokter Reno tiba-tiba dari belakang.


"Kamu lihat dia sangat mirip padaku." Ucap Endra bangga.


"Tidak, dia sama sekali tidak mirip denganmu. Tapi dia lebih mirip denganku" Balas Dokter Reno.


"Itu hanya perasaanmu saja." Balas Endra kesal.


Dokter Reno menggendong bayi perempuan itu. "Ayo istriku, kita pulang."


"Hei, itu bayiku. Kembalikan ke ranjangnya !" Titah Endra.


Dokter Reno tertawa lalu meletakkan bayi itu kembali. Mereka beralih duduk di sofa membiarkan Pingka istirahat. Ibu Erly dan Melan kembali ke rumah Endra karena Syila sama pengasuhnya tinggal di sana.


Arin kembali bertugas sebelumnya ia meminta perawat untuk menjaga bayi laki-laki Endra di ruangan Pingka. Begitu juga dokter Reno kembali bekerja.


...----------------...


Endra membawa nampan makanan duduk di tepi kasur. "Sayang kamu makan dulu."


Pingka mengambil alih piring nasinya.


"Sini biar aku makan sendiri."


Endra menggeleng. "Aku saja kamu pasti masih lelah."


"Lelah dan rasa sakit ku sudah terbayarkan." Balas Pingka tersenyum


"Mereka sangat lucu." Endra berdiri di samping ranjang bayinya. Di sana hanya ada bayi perempuan karena bayi laki-lakinya dibawa keruangan bayi.


"Sekarang kamu istirahatlah besok siang jika memungkinkan kita pulang ke rumah biar kalian dirawat di rumah saja." Ucap Endra.


"Baiklah kamu juga istirahat sudah malam, nanti jika bayinya nangis bangunkan aku. ASI-nya sudah banyak sekarang." Balas Pingka.

__ADS_1


Endra mengangguk, sedikit pun dirinya tidak merasa mengantuk,  ia masih betah menatap wajah mungil putranya. 


__ADS_2