Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Kebersamaan


__ADS_3

Mentari pagi memberikan cahayanya melalui celah tirai rumah megah dan mewah ini, kicau burung pagi merdu terdengar di sepasang telinga penghuninya.


Pingka bergegas bangun dan membersihkan diri tak ingin dilewatinya begitu saja kesempatan menjadi istri yang baik. Pingka menghampiri Bi Weni yang sudah berada di dapur.


"Nak Pingka biar Bibi saja, duduklah di meja makan sebentar lagi selesai." Kata Bi Weni tak enak hati.


"Tak apa, Bi. Biar cepat selesai. Aku bantu ya biar ku buatkan kopinya untuk Pak Endra." Pingka tersenyum lembut.


Bi Weni mengangguk menyetujui, tiga puluh menit kemudian semua sudah tersaji di atas meja. Pingka kembali ke atas menyiapkan dirinya untuk pergi ke kantor. Tak lupa dia membawa sepiring nasi goreng untuk sarapan di kamarnya. Dirinya masih enggan untuk makan bersama Endra sebelum  pria itu sendiri menyetujuinya.


"Pingka dimana?" Endra sambil menyendok nasi goreng ke dalam piring.


"Nak Pingka sarapan dikamar." Jawab Bi Weni pamit ke rumah belakang.


Endra menghabiskan sarapannya lalu duduk sebentar menghabiskan kopi hitamnya. Terselip senyum dibibir tipisnya menatap gelas yang sudah kosong.


"Selamat pagi." Ucap Pingka melewati Endra membawa piring kosongnya.


"Pagi, besok tidak perlu sarapan di kamar temani aku sarapan di meja ini."


"Baiklah." Jawab Pingka sambil mengambil piring bekas makan Endra.


...----------------...


Hari ini jadwal kunjungan Endra dan Dimas ke lokasi pembangunan hotel baru. Dimas memasuki halaman kantor, hari ini dia harus menguatkan hatinya untuk bertemu Pingka dan Endra mengingat percakapan mereka tadi malam.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Pingka berdiri .


"Selamat pagi." Dimas memposisikan dirinya sebagai rekan bisnis Endra.


"Silahkan masuk saja, Pak Endra ada di dalam." Pingka mempersilahkan.


Dimas melangkah menuju pintu ruangan Endra dan berbalik kembali melihat Pingka yang masih berdiri menatap kosong ke depannya.


Maafkan aku Pingka ini demi kebahagiaanmu dan hatiku.


Dimas mengetuk pintu lalu masuk ke dalam


Pingka yang melihat punggung pria itu dan berkata dalam hati.


Maafkan aku Pak Dimas, ini yang terbaik untuk kamu dan aku, untuk menjaga statusku sebagai istri agar tak menjadi rendahan dimata suamiku

__ADS_1


Pingka melanjutkan pekerjaannya kembali, walau sempat terjeda dengan kedatangan Dimas. Pingka memilih bergabung dengan Rangga dan Ravita saat makan siang di kantin.


"Kapan kalian meresmikan hubungan ini?" Tanya Pingka setelah menyelesaikan makannya.


"Masih lama perlu proses mendapatkan restu dari calon Ayah mertua." Jawab Rangga dengan kekehannya.


"Berusahalah lebih keras lagi." Kata Pingka sambil melihat jam mungil ditangannya.


"Dan kamu sendiri?" Pertanyaan Ravita membuat Pingka menjadi gugup.


"Aku bahagia dengan kehidupanku saat ini." Balas Pingka kaku.


"Jangan terlalu lama sendiri, karena sendiri itu sunyi." Ledek Rangga.


Aku tak mungkin memberitahukan kalian jika aku sudah menikah


Pingka tersenyum tipis


"Ayo kita kembali bekerja lagi." Ia mengalihkan pembicaraan.


...----------------...


Endra memasuki pintu rumah utama dengan wajah lelahnya setelah dari lokasi pembangunan. Dapur yang mengarah langsung keruang utama membuat Endra dapat melihat Pingka yang sedang menggunakan Apron saat menata makanan.


"Kamu sudah pulang?" Pingka tersenyum sambil menuang air putih di gelas.


"Ya perjalanannya cukup jauh." Endra mendudukkan tubuhnya diruang tengah.


"Minumlah, istirahat sebentar kemudian mandi makan malam sudah siap." Pingka meletakkan air putih di atas meja.


"Terimakasih." Endra meraih gelas air itu dan meminumnya sampai habis.


Pingka kembali ke dapur dengan perasaan senang dapat memberikan perhatian pada Endra. Dua puluh menit kemudian Endra turun menggunakan pakaian santainya dengan rambut sedikit masih basah memberikan kesan seksi dimata kaum hawa.


Endra menyendok makanan ke dalam piringnya seperti biasa, dia sudah terbiasa makan masakan Pingka tanpa bertanya dia sudah hafal rasanya.


"Kenapa kamu duduk disitu?" Endra menghentikan suapannya saat melihat Pingka duduk di seberang meja bukan duduk bersebalahan dengannya.


"Tidak apa-apa aku ingin disini makanlah." Balas Pingka tersenyum.


Karena dari sinilah aku bisa melihat wajahmu

__ADS_1


Setelah makan malam dua insan ini memasuki kamar masing-masing. Istirahat sejenak melepaskan lelah, Pingka merasa kesepian lalu memutuskan untuk ke rumah belakang .


"Bi Weni mau kemana?" Tanya Pingka dari depan pintu kamar.


"Mau belanja, Nak."


"Kalau begitu, ayo aku temani." Kata Pingka bersemangat.


"Jangan, Nak ! Biar Bibi saja." Jawab Bi Weni cepat. Ia tidak ingin Endra marah karena istrinya ikut belanja kebutuhan dapur. Bi Weni berpikir hubungan kedua majikannya itu sudah membaik dan saling menerima.


"Ayolah, Bi. Tak masalah, aku juga ingin membeli sesuatu."


"Baiklah, ijin dulu pada Tuan Endra." Kata Bi Weni.


Pingka tersenyum lalu kembali ke rumah utama. Merasa siap Dia mengetuk pintu kamar Endra.


"Ada apa." Jawab Endra setelah pintu kamar terbuka.


"Aku dan Bi Weni akan pergi berbelanja sebentar." Pingka menundukkan kepalanya. Dia menahan debaran di dadanya saat berdiri tak jauh dari Endra, aroma parfum pria itu begitu wangi tercium dengan posisi sedekat itu.


"Aku saja yang mengantar kalian, tunggu dibawah." Ucap Endra kemudian menutup kembali kamarnya. Beberapa menit kemudian Endra turun lalu menghampiri Pingka dan Bi Weni. "Bi, mana daftar belanjaannya berikan pada Pingka. Bibi istirahat saja biar kami yang pergi belanja." Endra berdiri sejajar dengan Pingka.


"Baik, Tuan." Jawab Bi Weni senang. Dia memberikan daftar belanja dan uang bulanan yang diberikan Endra untuk belanja dapur pada Pingka.


Endra dan Pingka berangkat, pertama kalinya mereka berangkat menggunakan satu mobil tanpa paksaan, mereka berdua bersamaan menahan kegugupan dalam dirinya masing-masing.


Setelah tiga puluh menit sampailah mereka ke tempat pusat perbelanjaan. Pingka mengambil barang sesuai dengan daftar yang diberikan Bi Weni. Endra hanya mengekor dari belakang dengan tersenyum tipis, matanya selalu memperhatikan wajah Pingka yang polos tanpa make up dengan rambut digulung kebelakang tidak mengurangi kecantikannya. Bahkan dia lebih cantik saat menggunakan pakaian rumahan.


Merasa lengkap, Pingka berputar kembali mencari keperluannya sendiri tak lama dia sudah selesai berbelanja. Pingka membayar belanjaan rumah dengan uang yang diberikan Bi Weni. Kasir menatap heran pada barang belanjaan pribadi Pingka.


"Anda cantik sekali nona, saya tak menyangka jika anda menggunakan produk standar, apa lagi jika anda benar-benar melakukan perawatan  pasti lebih cantik lagi, sekarang saja anda sangat cantik bahkan lebih cantik dari model terkenal, Melisa." Puji Kasir panjang lebar.


"Jangan berlebihan memuji saya, apa yang ada pada saya tetap tak sebanding dengannya. Dia jauh lebih baik di atas saya." Balas Pingka tersenyum tipis. Ia tak ingin Endra tersinggung karena ucapan kasir itu.


Endra menjadi salah tingkah saat kekasihnya dibandingkan dengan istrinya. "Sudah selesai ?" Tanyanya mengambil alih kantong plastik belanjaan.


Pingka mengangguk, mereka memutuskan kembali pulang. Mereka berdua hanyut dalam pikiran masing-masing. Setelah menyusun barang belanjaan, Pingka memutuskan untuk tidur lebih cepat karena merasa lelah. Sementara Endra melanjutkan pekerjaannya di ruang kerjanya. Pingka menatap kosong langit-langit kamar entah apa yang difikirkan wanita itu.


...----------------...


Terimakasih sudah membaca beri Author dukungan seperti 👍⭐❤ dan Vote nya juga terimakasih🥰

__ADS_1


__ADS_2