
Kehamilan yang memasuki usia 3 bulan membuat tubuh Salsa sedikit berisi, wanita ini begitu cantik di kehamilan pertamanya yang membuat Dimas gemas sekaligus pusing. Pria itu tengah berusaha membujuk istrinya yang sedang merajuk.
"Sayang, baiklah aku akan memakai dasi yang kamu pilihkan, mana dasi nya?" Dimas membelai lembut pipi istrinya.
Salsa sumringah lalu mengeluarkan dasi berwarna pink menyala dari bawah bantal, mata Dimas terbelalak bagaimana bisa ia menggunakan dasi dengan warna secerah mentari itu ?
Tak ingin berdebat, ia meminta istrinya untuk memasang dasinya.
"Aku berangkat, jaga dirimu." Dimas mencium kening Salsa.
"Hati-hati, sayang."
Dimas tersenyum lalu melambaikan tangannya. Di dalam mobil, mata Adi asistennya melotot dan menahan tawa. Dimas memasang wajah datarnya lalu mengeluarkan dasi warna abu-abu dari dalam saku celananya.
"Jalan !"
Adi mengangguk. "Baik Pak, ke kantor dulu atau ke kantor Saguna?" Liriknya dari kaca depan.
"Langsung ke kantor Endra."
Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata, alunan musik ballad mengisi kesunyian di dalam mobil mewah milik Dimas. Pria itu tersenyum tipis mengingat kemauan istrinya yang aneh-aneh. Sungguh unik pikirnya wanita mengalami perubahan saat hamil dan kemauan yang beragam disertai mood seperti bunglon. Karena sudah beberapa kali membuat istrinya menangis dan marah, Dimas harus lebih pintar dalam menuruti kemauan Salsa.
Tanpa terasa mobil Dimas memasuki halaman kantor pusat Saguna Group, bersamaan itu pula mobil Endra tiba di sana. Dimas masih belum keluar dari mobilnya, ia melepas dasi berwarna pink dari lehernya lalu memasang dasi yang sudah disiapkannya.
"Kenapa kamu lama sekali?" Endra berdiri di depan pintu masuk.
"Aku mengganti dasi." jawab Dimas melangkah bersama.
"Kenapa?"
"Salsa memintaku memakai dasi berwarna Pink, jika tidak dituruti maka ia mengancamku akan pergi dari rumah, itu lebih mengerikan dari pada aku disuruh tidur di luar." Kata Dimas .
Endra terbahak. "Ternyata kau pria menyedihkan."
"Tunggu saja giliran mu." Ucap Dimas kesal.
"Aku tidak sabar menunggu hari itu." Endra masih tertawa.
Semoga saja calon anakmu itu nanti mengerjaimu habis-habisan
Dimas tersenyum tipis berdoa dalam hati.
Hari ini jadwal pertemuan Dimas dan Endra dengan klien asing. Mereka melaksanakan pertemuan itu di kantor milik Endra. Menunggu selama 30 menit orang itu tiba di sana seperti biasa perusahaan mana pun pasti ingin bekerja sama dengan Saguna Group. Dami dan Adi mempersiapkan berkas kerja sama yang telah di sepakati.
"Pak Dimas, Ibu Salsa menelpon via Vidio." Adi menyerahkan ponsel milik Dimas.
Dimas kelabakan lalu melepas dasi yang sedang dipakainya dan menggantikan dengan warna Pink. Tiga kali berdering barulah Dimas menjawab telpon Salsa. Disudut sofa. Endra, Dami dan Adi tertawa senang melihat penderitaan Dimas.
"Halo sayang." Dimas tersenyum manis.
__ADS_1
"Kamu sudah makan siang? kamu tambah tampan memakai dasi warna itu."
"Sekarang ingin makan siang, kamu juga makan yang banyak jangan sampai anak kita kelaparan." Balas Dimas perhatian.
"Baiklah, aku tutup telponnya cepat pulang aku merindukanmu."
Jadi dia hanya ingin memujiku
Dimas melepaskan kembali dasinya dengan wajah frustasi. Entah apa lagi hari esok yang dilakukan Salsa untuknya. Endra di pojok sana tertawa senang atas apa yang dirasakan Dimas.
"Puas mentertawakan ku?"
"Ayo kita makan siang ! Dam, atur makan siang di cafe depan." Titah Endra masih belum berhenti tertawa.
"Baik, Pak. Sambil jalan saya atur." Dami meraih ponselnya meminta seseorang memesan tempat untuk mereka.
...----------------...
Pingka selesai makan siang, duduk di depan televisi sambil berpikir mencari cara mengatasi kejenuhannya. Masih larut dalam pikirannya tiba-tiba ponselnya berdering .
"Halo." Jawabnya cepat.
"Jingga apa kabarmu?" Suara Fajar di seberang sana.
"Baik, Kak. Bagaimana di sana?" Tanya Pingka bersandar di dinding sofa.
"Semua baik. Jingga ! Kakak ada kabar baik untukmu. Arif akan dipindah tugaskan di kota P. Dia belum mendapatkan tempat tinggal, bisa kamu carikan Apartemen untuknya. Arif tidak mau tinggal di rumah Dinas."
"Jaga kesehatanmu, Kakak tutup telponnya."
Merasa jenuh Pingka berniat membuat kue untuk Endra sepulang kerja. Suaminya itu entah sejak kapan jadi penyuka kue bahkan malam saat bekerja ia pasti meminta kue untuk camilannya.
...----------------...
Matahari menyapa seisi dunia, seperti biasa para penghuninya disuguhkan dengan segudang aktivitas yang padat. Mengeluh tentu tidak karena itu adalah tuntutan untuk kesejahteraan hidup ke depannya.
Dimas bangun lebih awal hari ini menyiapkan susu Ibu hamil untuk istri tercinta. "Sayang, ayo bangun susunya sudah aku siapkan." Ucapnya mengecup lembut kening istrinya.
Salsa menggeliat manja dan bangun perlahan. Menatap penuh cinta pada sang suami yang sudah rapi. "Sayang jangan pakai jas itu, aku tidak suka warnanya."
Dimas tersenyum lalu mengelus puncak kepala istrinya. "Aku akan memakai jas yang kamu pilih."
Salsa mengangguk senang, lalu beranjak keruang ganti memilih jas dengan warna yang diinginkannya. Setelah menemukan yang cocok ia keluar dengan menenteng satu jas yang berwarna hijau muda.
"Pakailah."
Dimas meraih jasnya. "Mandilah kita sarapan bersama."
Salsa menurut lalu masuk ke kamar mandi, tidak menunggu lama Dimas melesat keluar memberikan jas yang ada di tubuhnya pada Adi. Untuk menyimpannya di mobil. Dimas berdiri di depan cermin memasang jas yang dipilihkan Salsa untuknya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sangat tampan memakai jas itu." Puji Salsa
"Benarkah? Kamu juga seksi sayang." Dimas melangkah mendekat pada Salsa.
Salsa tersenyum dan gugup karena Dimas tersenyum nakal langsung ******* bibir manis yang menggodanya.
"Ayo kita sarapan, anak kita pasti lapar." Dimas mengusap sudut bibir istrinya.
Salsa merapikan pakaiannya yang hampir berantakan karena ulah suaminya.
...----------------...
Usai sarapan Dimas dan Adi langsung berangkat menuju kantor, ditengah perjalan Dimas menganti jasnya dengan warna semula. "Semoga ini cepat berlalu dan normal." Ujarnya tersenyum.
Tak habis pikir masih di dalam kandungan saja anaknya sudah bermain dengannya, apa lagi nanti setelah lahir. Tanpa sadar Dimas terkekeh hingga membuat Adi merinding ngeri.
"Bapak kenapa?" Adi melirik dari kaca.
"Hanya gemas pada istriku, apa tiap wanita hamil akan seperti itu?" Dimas kembali tersenyum.
"Iya, Pak. Dulu Kakak perempuan saya juga begitu. Bahkan, saya disuruh tiap hari memasak untuknya karena dia hanya makan masakan saya." Cerita Adi tersenyum.
"Sampai berapa lama akan seperti itu?" Tanya Dimas serius.
"Biasanya sampai tiga atau empat bulan. Seiring waktu bertambahnya usia kandungan maka perilaku aneh seperti itu akan hilang sendirinya."
"Kamu seperti suami yang berpengalaman saja." Ejek Dimas.
Adi tersenyum, sorot matanya berubah sendu. "Karena saya yang mendampinginya dari kehamilan pertama sampai melahirkan, saya sering menemani Kakak kontrol dan menuruti kemauannya. Saya jarang masuk kekantor dan dipecat saat di kantor lama." Adi menghembus nafas perlahan.
Hatinya teriris menyaksikan sendiri ke hancuran Kakaknya yang ditinggal suami menikah lagi diawal kehamilan, sedikit pun tak disesalinya waktu yang telah merenggut kebebasannya sebagai pria lajang. Karena hanya mereka berdua yang masih tersisa setelah sebuah bencana besar melanda Desanya kala itu, seluruh keluarga dinyatakan sebagai korban meninggal.
"Dimana suaminya?" Dimas penasaran.
"Menikah lagi di awal kehamilan Kakak saya."
Dimas merasa geram masih ada pria seperti itu. "Lalu dimana Kakakmu?"
Adi menarik nafas berat.
"Di rumah sakit jiwa."
"Apa ? Lalu anaknya ?" Dimas semakin penasaran. Dia memang belum tahu kehidupan asistennya karena Adi menutupnya rapat selama ini.
"Saya yang mengasuhnya, dia tipe wanita tertutup semua masalah akan disimpannya sendiri. Mungkin, beban di hatinya sudah melebihi batasnya. Tiga bulan setelah melahirkan ia bersikap aneh dan sering mencubit bayinya, amarahnya begitu tinggi jika melihat wajah putranya. Maka dari itu dengan pertimbangan yang matang saya memutuskan membawanya ke sana agar dapat pengobatan yang baik."
Dimas mengangguk menyentuh pundak Adi. "Bersabarlah semoga dia cepat sembuh dan putranya bisa mendapat kasih sayangnya. Berapa usia keponakanmu?" Ujarnya simpati.
"Satu tahun, dia tinggal bersama asisten rumah jika saya bekerja." Balas Adi.
__ADS_1
Saling bercerita tanpa terasa mobil Dimas sudah memasuki halaman kantornya. Adi pun merasa lega setelah menceritakan kepiluan hidupnya kepada Dimas.