
Hari ini karyawan kantor pulang cepat karena mempersiapkan diri untuk hadir di acara ulang tahun kantor. Pingka memutuskan untuk bertemu Ibu mertuanya karena sudah beberapa hari tak bertemu. Wanita itu memesan taksi karena tak mungkin naik bus ke perumahan elit yang jauh dari halte bus. Pingka menikmati pemandangan kota dari dalam taksi sampai pada mereka melewati jalanan yang agak sepi.
Mata Pingka menangkap sosok wanita yang dipaksa keluar dari mobil. "Berhenti, Pak !" Pintanya. Pingka keluar mendekati wanita itu yang sudah pucat dan gemetar ketakutan. "Lepaskan dia !" Serunya dingin.
Dua lelaki bertubuh gempal itu mengalihkan perhatiannya. "Wah, tambah satu mangsa kita." Ucapnya terbahak senang.
"Kakak Ipar... " lirih Melan terisak dengan tangan yang masih dicengkeram penjahat Itu.
"Tenanglah." Ujar Pingka dengan sorot mata menghangat.
"Mereka berbahaya, Kak ! Panggil bantuan." Melan meronta berusaha melepaskan tangannya.
Laki - laki satunya melangkah menghampiri Pingka. "Cukup adil jika kamu ikut dengan suka rela, bahkan kamu lebih cantik." Ucapnya ingin menarik tangan Pingka.
"AAHH." Tubuh preman itu sudah terpental jauh dan pelipisnya mengeluarkan darah. "KAU !" Hardiknya ingin berdiri. Tapi kalah cepat Pingka tak memberi jeda sedikit pun untuk dirinya bangun.
Pingka kembali menyerang. Melihat temannya terkapar, laki - laki satunya melepaskan tangan Melan dan menyerang Pingka. Wanita itu terpental dan sudut bibirnya mengeluarkan darah sedikit. Pingka mengusap bibirnya yang pecah kemudian berdiri.
"Kakak..." Lirih Melan iba. Air matanya mengalir deras. Kini ia menyadari siapa sosok kakak iparnya. Perlakuan jahatnya selama ini bisa saja Pingka balas dengan mengabaikan kejadian ini. Dan membiarkannya menjadi korban. Namun, sayangnya Kakak iparnya sangat perduli.
Pingka balas menyerang tanpa ampun, sampai laki - laki itu akhirnya juga terkapar. Dia mencari sesuatu dalam di mobil Melan dan menemukan tali lalu mengikat kedua laki - laki itu. Tak lupa Pingka menelpon pihak yang berwajib. Setelah menunggu lama sampailah pihak keamanan di TKP.
"Terimakasih, Nona."
"Pak, boleh saya memberikan masukkan."
"Silahkan"Jawab salah satunya .
Melan masih menatap tak percaya wanita super di depannya itu.
"Tolong dirikan satu pos keamanan disini karena daerah rawan." Ucap Pingka tanpa ragu.
Melan membuka mulutnya tak percaya ide dari kakak ipar yang tak disukainya itu.
"Terimakasih Nona masukan yang bagus demi keamanan masyarakat kami akan pikirkan." Ucap dua orang keamanan itu.
...----------------...
Pingka dan Melan meninggalkan tempat itu dengan menaiki mobil yang sama. Atas paksaan Melan akhirnya Pingka menyetujuinya ikut mobil itu untuk pulang ke rumah.
Sampai di sana mereka disambut dengan pertanyaan Ibu Erly dan Endra yang sudah tiba terlebih dulu.
"Pingka kamu kenapa, Nak?" Ibu Erly menatap cemas. Tangannya menyentuh susut bibir menantunya yang pecah.
"Tidak apa - apa, Bu." Pingka tersenyum tipis.
"Kakak ipar, maaf atas sikap bodohku selama ini." Melan duduk di hadapan Pingka.
"Lupakan saja, semua orang perlu proses." Jawab Pingka merasa tak enak hati.
"Terimakasih sudah menyelamatkanku." Ucap Melan tulus.
Ibu Erly dan Endra dibuat semakin bingung.
"Jelaskan apa yang terjadi ?" Pinta Ibu Erly tak sabar.
Melan menceritakan semua tanpa terlewatkan. Dalam hati Endra sangat senang melihat hubungan Pingka dan Melan membaik.
__ADS_1
"Terimakasih, Nak." Ucap Ibu Erly terharu.
"Ibu jangan berterimakasih. Aku akan menolong siapa pun saat butuh bantuan di depanku." Pingka tersenyum
Kedua anakku berhutang nyawa padamu
Ibu Erly menarik Pingka kedalam pelukannya. Tangis wanita paruh baya itu pecah diruang tengah. Pingka, Melan dan Endra saling pandang karena bingung. Ibu Erly semakin dibuat bersalah mengingat perlakuan anak-anaknya. Gadis pedalaman yang tengah di peluknya itu sebagai perantara pertolongan dari Tuhan untuk anak-anaknya
"Istirahatlah, obati luka kalian."
"Ayo, Kak ! kita ke kamarku." Melan menarik tangan Pingka.
"Melan, bisa minta tolong katakan pada Ibu, jangan memperkenalkanku pada publik nanti malam. Biarkan mereka mengenalku sebagai sekretaris Kakakmu saja." Kata Pingka menatap datar ke depan.
Rasa bersalah Melan semakin muncul, dia mengingat bagaimana perlakuannya dan Endra pada Pingka. Melan terisak kembali dan berlutut meminta maaf. "Maafkan aku... Kak, maafkan aku." Ucapnya sembari menangis.
"Melan, sudahlah. Semua akan membaik bila waktunya tiba. Tolong katakan pada Ibu untuk tidak mengenakkan ku pada orang lain sebagai istri Kakakmu, ada perasaan lain yang harus dijaga dibelahan bumi yang lain." Ucap Pingka lembut.
Tanpa disadari dua wanita ini jika Endra menguping pembicaraan mereka sejak tadi.
Kenapa aku merasa bersalah padanya?
Laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar Adiknya.
"Iya Kak, sekarang Kakak tidur dulu nanti malam kita sama - sama ke Resort." Melan menatap manik mata Kakak iparnya.
Pingka mengangguk lalu menidurkan tubuhnya di ranjang empuk milik adik iparnya. Melan berusaha menepati janjinya pada Pingka untuk membujuk Ibunya. Memang malam ini Ibu Erly berniat mengumumkan pernikahan Endra dan Pingka, hal itu juga membuat Endra gelisah karena takut menyakiti hati Melisa. Dengan pengertian dari Melan akhirnya Ibu Erly setuju.
...----------------...
Semua orang sudah berkumpul di Resort termasuk Endra dan keluarganya. Dimas juga menampakkan batang hidungnya di sana. Endra memberikan sambutannya didepan seluruh karyawan dan tamu undangannya, dia sangat tampan dengan gayanya yang cool.
"Baik Pak Dimas." Jawab Pingka sedikit canggung.
Mereka saling berbincang untuk menepis jarak yang sedikit tercipta. Tak lama Sandi juga ikut bergabung. Hampir dua jam pestanya baru berakhir. Tamu undangan sudah pulang satu - persatu termasuk Ibu Erly dan Melan. Di sana hanya tersisa para karyawan kantor dan Endra, Dimas serta Sandi.
Pingka memperhatikan bahasa tubuh Ravita dan Rangga dari jauh. Sejak kapan dua insan itu menjadi sedekat itu ? Terukir senyum tipis dibibir merahnya. Sementara Dinda merasa geram melihat Rangga yang menggenggam tangan Ravita berjalan di tepi kolam renang
"Kamu haus, aku ambilkan minum." Rangga melepaskan tautan tangan mereka
Ravita mengangguk lalu melangkah pelan sambil melihat sekelilingnya, tiba - tiba dia tak mampu menahan tubuhnya sendiri.
"RAVITA !"
Teriak Rangga dan Pingka bersamaan langsung berlari dan bercebur membantu Ravita yang timbul tenggelam. Gadis itu terjatuh ke dalam kolam yang lumayan dalam untuk orang yang tak bisa berenang sepertinya.
"PINGKA !"
Dimas dan Sandi juga berteriak bersamaan saat melihat Pingka bercebur di kolam.
Endra mendengar nama Pingka langsung mendekat ke tepi kolam. Dinda tersenyum puas setelah dengan sengaja menabrak Ravita dengan tubuhnya. Pingka berenang ke tepi membawa Ravita bersama Rangga. Dia agak kesulitan karena memakai dress panjang.
"KAMU ! " Teriak Rangga pada Dinda.
"Urus Ravita antar dia pulang !" Ucap Pingka dengan dingin.
"Iya, terimakasih Pingka." Rangga menggendong Ravita yang masih ketakutan.
__ADS_1
Pingka berdiri dengan tatapan mata yang tajam. Auranya begitu terasa sehingga membuat orang - orang di sana merasakannya. Dimas, Sandi dan Endra hanya melihat tak berani bertanya saat melihat kilatan marah dimata Pingka.
Dia melangkah pelan menuju tempat Dinda berdiri, ketakutan segera merasuki tubuh Dinda. Dia mundur perlahan dan melangkah ingin berlari. Tapi tangan Pingka sangat sigap menarik rambut panjangnya lalu melemparkannya ke kolam. Semua mata terbelalak melihatnya.
"Pingka hentikan." Ujar Dimas ingin menenangkan.
Pingka sudah seperti tuli menghiraukan namanya dipanggil Dimas dan Sandi. Wajah penuh amarah itu duduk di tepi kolam menekan pucuk kepala Dinda kedalam air lalu ditariknya kembali untuk memberinya kesempatan agar bernafas. Dilakukannya itu berulang - ulang sampai Dinda memohon ampun.
"Bagaimana rasanya ketika kamu hampir saja menghadapi kematian ?" Pingka masih duduk dipinggir kolam dengan badan yang masih basah setelah menarik tangan Dinda membantunya naik kepinggir kolam renang.
"Ampun, aku berjanji tidak mengganggu kalian lagi." Dinda meringkuk kedinginan disertai tubuh gemetar ketakutan.
Pingka berdiri di pinggir kolam dengan wajah yang masih belum bersahabat, sorot mata yang tajam dan galak membuat orang merinding melihatnya termasuk Dimas , Sandi dan Endra.
"Pingka sudahlah maafkan dia." Dimas melangkah perlahan mendekati wanita itu.
Mendengar namanya disebut Pingka menoleh ke asal suara lalu sorot matanya melunak. "Pak Dimas, ma-maaf aku membuat kekacauan." Ujarnya terbata.
Dimas melepaskan jasnya lalu menutupi tubuh Pingka yang yang basah. "Ayo aku antar pulang." Laki-laki itu merangkul pundak Pingka dengan lembut
Endra merasa tidak suka atas perhatian Dimas pada Pingka. "Tunggu ! Dia karyawan ku. Biarkan aku yang mengantarnya pulang" Ia menarik tangan Pingka di sisinya.
Dimas mendengus kesal. "Hati - hati dijalan." Dengan hati dongkol dia mengatakan itu.
Pingka menjadi tak enak pada Dimas.
"Maaf Pak Dimas, besok saya kembalikan jasnya."
" Kembalikan sekarang pakai jas ku saja." Endra melepaskan jasnya lalu memberikan pada Pingka.
Hati Pingka menghangat tak sedingin kulitnya yang mulai mengering, dilepasnya jas Dimas dari tubuhnya lalu memberikannya. "Terimakasih." Ucapnya tersenyum.
"Sandi, kamu urus wanita itu dan kalian silahkan pulang, acara sudah selesai. Satu lagi kejadian ini tutup rapat - rapat." Endra menarik tangan Pingka untuk mengikuti ke mobil miliknya.
"Maaf membuat pestanya terkesan tidak baik." Pingka memecahkan kecanggungan.
"Dia pantas menerima itu." Endra menjawab dengan mata fokus kedepannya.
Pingka kembali diam lalu ponselnya berdering di dalam tas.
" Halo." Jawabnya setelah mendapatkan ponselnya.
"Bagaimana keadaanmu ?"
"Aku baik - baik saja." Jawab Pingka dengan mata yang lurus ke depan.
"Kamu yakin?"
"Ya, jangan mengkhawatirkan ku, semuanya baik - baik saja." Pingka meyakinkan. Endra memasang telinga begitu tajam. Tapi sayangnya suara orang di dalam telpon tak terdengar sama sekali. "Pulang dan istirahatlah, maaf tidak bisa pulang bersama Pak Dimas." Sambung Pingka lagi.
Endra langsung melihat kearah Pingka saat nama Dimas terucap dari mulut wanita itu. Setelah cukup lama berbincang Pingka menutup telponnya.
"Apa dia sering menelpon mu?" Endra bertanya tapi tak melihat kearah Pingka.
"Ya, setiap hari."
Endra merasa kesal saat tahu ada orang lain sedekat itu pada Pingka.
__ADS_1
Kenapa aku merasa kesal saat ada orang lain yang lebih memperhatikannya ? Dan apa ini dadaku berdebar dan berdegup kencang saat bersamanya