
Satu bulan sudah Dokter Reno mulai ceria lagi. Sikap usilnya juga kembali seperti biasa, ia belajar menerima pilihan mantan kekasihnya. Bukankah ? Manusia berhak memilih selagi ada pilihan. Itulah yang diyakini Dokter tampan itu, jika dulu Endra tumbang patah hati karena ditinggal Pingka, maka Dokter Reno kebalikannya, pria ini semakin menggila bekerja walau bukan jam prakteknya. Ia masih betah berada di rumah sakit.
...----------------...
Kediaman Endra...
Endra baru pulang dari perjalanan bisnisnya tadi malam, hari ini ia berniat tidak pergi ke kantor, pria itu ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Biasanya ia selalu di temani Pingka kemana saja tiap perjalanan bisnisnya. Tapi kali ini istrinya itu menolak untuk ikut. Karena beralasan tubuhnya cepat lelah dan sering mengantuk akhir-akhir ini. Endra menyetujui bagaimana pun kesehatan istrinya adalah yang utama.
Pingka merasa perutnya lapar saat bangun tidur. Dengan perlahan ia menggeser tangan Endra yang memeluknya. Usai ke kamar mandi wanita ini turun dari kamarnya langsung ke dapur membantu Bi Weni membuat sarapan.
"Selesai."
"Biar Bibi yang menyajikannya." Seru Bi Weni tersenyum.
"Terimakasih, Bi. Aku akan bangunkan Endra lebih dulu."
Bi Weni mengangguk, Pingka menaiki anak tangga dengan santai. Tiba-tiba terlintas di benaknya ingin makan bubur ayam. Pingka menggeser gorden membiarkan cahaya masuk ke kamar mereka.
"Sayang, ayo bangun ! Sarapan dulu kamu sudah melewatkan makan malam mu tadi malam."
Endra hanya menggeliat lalu menarik tubuh Pingka ke dalam pelukannya
"Sebentar lagi."
"Sepuluh menit lagi."
Endra hanya mengangguk, perut Pingka semakin lapar keinginan untuk makan bubur ayam semakin menjadi. Ia menggerakkan tubuh suaminya lagi.
"Sayang, aku mau makan bubur ayam." Rengek Pingka.
"Sepuluh menit lagi kita cari bubur ayamnya."
Pingka diam. Membiarkan Endra memeluk tubuhnya dengan erat. Semangkuk bubur ayam sudah terbayang di mata Pingka, rasa khas buburnya semakin menggodanya untuk menikmati.
Aku pergi sendiri saja.
Pingka perlahan bangun dan mengambil dompetnya. Ia bergegas turun lalu menemui Bi Weni.
"Bi, jika Endra bangun suruh dia sarapan, aku pergi dulu."
Pingka melangkah keluar mengemudikan mobil sendiri. Dalam pikirannya saat ini hanya bubur ayam dan yang ia tahu hanya dekat apartemen Dokter Reno bubur ayam yang enak. Karena pria itu pernah membawakan untuknya saat dirawat dulu.
Mobil Pingka berhenti di depan apartemen Dokter Reno. Ia langsung menghampiri tenda penjual bubur ayam, dengan sabar wanita itu menunggu pesanannya.
"Pingka" Sapa Dokter Reno. Pria itu langsung duduk di samping istri sahabatnya ini.
"Reno, kamu disini? Tidak bekerja?" Cerca Pingka.
Dokter Reno terkekeh. "Aku libur ini, mau sarapan ? Endra kemana?" Balas bertanya
"Tidur di rumah !" Wajah Pingka berubah kesal.
"Mungkin, dia lelah habis dari luar Kota."
Wajah Pingka berbinar melihat semangkok bubur ayam pesanannya datang. Dokter Reno tersenyum melihat wanita itu senang.
Dimana aku mencari Pingka kedua?
Dokter Reno juga menerima pesanannya semangkuk bubur ayam.
...----------------...
Di rumah, Endra sudah bangun mencari keberadaan istrinya. Ia membuka pintu kamar mandi, ruang ganti tapi tidak menemukan istrinya. Ia bergegas turun lalu mencari ke taman belakang namun tetap tidak ada.
__ADS_1
"Bi, dimana istriku?" Tanya Endra memasuki dapur.
"Tadi Nak Pingka keluar. Dia berpesan Tuan sarapan saja lebih dulu."
"Kemana?" Endra duduk di kursi meja makan.
"Tidak tahu, Tuan. Nak Pingka membawa mobil sendiri."
"Apa ?! Ya Tuhan kemana istriku itu. Sering sekali dia membuatku senam jantung?" Endra menghirup kopinya sebentar lalu beranjak naik ke kamar.
Pria itu meraih ponselnya lalu menelpon istrinya, Namun sayangnya deringan ponsel terdengar di sisi bantal.
"Sayang kamu dimana?" Endra mulai gelisah.
Masih menerawang kemana perginya Pingka, ponsel Endra bergetar. Matanya melotot sempurna setelah melihat foto istrinya bersama seorang pria dikenalnya makan bersama di sana. Endra menjadi kelabakan melihat tulisan dibawah foto itu
'Memanjakan cintanya Dokter tampan.'
"Kenapa kamu bersama pria aneh itu, sayang?" Endra menaiki tangga mengambil kunci mobil dan dompetnya.
Cukup lama hingga Endra tiba di depan gedung apartemen Dokter Reno. Ia berjalan kaki mendatangi tenda yang ada istrinya , semua mata melihat pada kedatangan Endra. Siapa yang tak mengenal pria itu.
Para wanita tak membuang kesempatan mencari perhatiannya. Bagaimana tidak, Endra begitu tampan hari ini hanya menggunakan pakaian rumahan dan kaca mata hitam serta tangannya memegang ponsel dan kunci mobil, atasan berwarna hitam itu sangat cocok dengan warna kulitnya. Meleleh itu yang dirasakan para hawa disekitar sana.
Endra mencari sosok yang dirindukannya beberapa menit yang lalu. Matanya tertuju pada dua orang yang duduk di meja tengah. Ia perlahan menghampiri meja itu dan berdiri di belakang dua orang yang tak menyadari kehadirannya.
"Kamu menikmati sarapan mu, sayang?"
Suara Endra mengejutkan Pingka . Tidak pada Reno, karena ia tahu pria itu pasti datang menemui istrinya.
"Kamu disini?" Pingka mendongakkan kepala keatas.
Kecupan Endra mendarat di kening Pingka, sontak hal itu membungkam mulut para wanita yang tengah berbisik sejak kedatangannya.
Para wanita di sana menjadi gemas melihat Endra manja pada wanita di sampingnya itu.
"Kamu mau bubur?"
"Apa enak?" Endra balas bertanya. Ia tak menyukai bubur. Tapi jika istrinya yang membuatnya pasti dimakannya.
"Kamu tidak berniat meminjam dapur orang disini, 'kan?" Dokter Reno menatap tajam.
"Maunya begitu dan aku butuh panci baru. Jadi, kamu mau membelinya ? Nanti istriku yang memasaknya." Ucap Endra tersenyum.
"Aku tidak mau terlibat kekonyolan mu, cukup waktu di rumah sakit dulu. Aku harus merubah segalanya sampai berbelanja untukmu." Ujar Dokter Reno kesal.
Endra terkekeh senang sudah membalas Dokter Reno. "Sayang suapi aku." Pingka menyuapi Endra dengan lembut. "Enak, tapi ini mangkuk siapa saja sayang ? Kalian makan bersama siapa saja?" Tanya Endra. Matanya terfokus pada mangkok yang ada empat di atas meja.
"Aku dan Reno saja. Kami menghabiskan dua mangkok masing-masing." Jawab Pingka menunjukkan mangkok kedua miliknya yang masih berisi bubur.
Istriku kenapa ? Akhir - akhir ini makannya banyak. Seperti tidak pernah kenyang ?
Endra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dokter Reno hanya tersenyum melihat raut aneh di wajah sahabatnya itu.
"Selesai, ayo pulang."
"Kamu bayar empat mangkuk bubur itu." Titah Endra.
Dokter Reno mengangguk. Endra dan Pingka keluar terlebih dulu. Tak lama Dokter tampan itu menyusul mereka.
"Kalian pulang?"
"Iya."
"Tapi aku merindukan cintaku." Goda Dokter Reno.
__ADS_1
"Dia cintaku ?" Ucap Endra dengan kesal.
Dokter Reno terkekeh. Ia melangkah ke sisi Pingka. "Ayo cintanya Dokter tampan, kita pulang." Ia menggenggam tangan Pingka.
Endra melotot melihat tangan Dokter Reno. "Lepaskan tangan istriku !" Menarik Pingka ke dalam pelukannya.
Dokter Reno terbahak senang. "Pulang sana, aku ingin melanjutkan mimpiku yang tertunda tadi."
"Kamu mengusirku?" Endra bertambah kesal.
"Iya, tapi tidak dengan Pingka. Yuk ! Naik ke unit kita." Dokter Reno merangkul pundak Pingka.
Sementara wanita yang diperebutkan itu sedang fokus pada penjual buah. Pingka menurunkan tangan Dokter Reno dari pundaknya, lalu melangkah pelan menuju penjual buah. Endra dan Dokter Reno terdiam sejenak lalu mengikuti langkah Pingka dengan mata mereka.
"Buah lagi?"
Pingka kembali dengan menenteng dua buah kresek berisi buah. "Ayo kita buat salad." Wajahnya berbinar senang.
Dokter Reno tersenyum. Ia salah satunya penyuka salad. Wajah Endra seketika masam karena ia tidak menyukai salad.
Pingka mengajak dua pria tampan itu belanja di supermarket terdekat. Semua sudah lengkap, mereka memilih unit apartemen Dokter Reno tempat membuatnya.
"Aaa, sayang." Pingka mencoba membujuk Endra yang menutup rapat bibirnya.
Endra terus menggeleng menolak, sementara Dokter Reno sedang menikmati salad nya. Kacau juga pikirnya, isi perutnya hari ini. Dua mangkok bubur ayam ditambah salad. Jadi apa mereka di dalam sana?
Dokter Reno sejak tadi sudah memperhatikan Pingka. Tapi ia hanya diam saja ingin melihat penderitaan temannya ini terlebih dulu. Dokter itu tersenyum manis melihat wajah Endra seperti ketakutan.
"Sayang maaf tadi tidak mengantarmu untuk makan bubur ayam, kamu boleh meminta apa pun padaku. Tapi tidak dengan yang ini ya." Endra menunjuk mangkok ditangan Pingka.
Wanita itu senang dan mengangguk.
"Kalau begitu, ayo nanti siang kita ke rumah ibu. Aku ingin buah kelapa yang di belakang rumah, sepertinya enak jika dibuat es." Ucap Pingka.
Tubuh Endra segera melemas. "Aku tidak bisa memanjat, sayang."
Ia trauma memanjat pohon karena pernah jatuh dan pingsan.
"Tenang saja aku yang memanjatnya."
"Apa ?!"
Dokter Reno dan Endra terkejut. Pingka mengangguk dan tersenyum.
"Tidak ! Aku tidak mau kamu memanjat pohon nanti kamu jatuh." Ucap Endra tegas
Pingka diam sejenak, lalu tersenyum. Ia mengambil ponsel Endra dan menekan nomor seseorang di sana.
"Halo."
"Ini aku, apa kamu sayang sama aku?" Pingka berubah manja dan menggemaskan.
Mata Endra dan Dokter Reno tak berkedip melihat sisi lain Pingka.
"Tentu aku sayang padamu, cepat katakan apa mau mu ?"
"Aku ingin buah kelapa di rumah mertuaku. Tapi tidak ada yang bisa mengambil nya untukku." Adu Pingka
"Suamimu kemana ? Suruh dia saja mengambilnya untukmu."
"Suamiku itu seperti kura-kura tidak bisa memanjat pohon." Ucap Pingka cemberut
Mata Endra melotot pipinya memerah malu dan kesal, sementara Dokter Reno terkekeh senang.
"Tunggu aku di sana saat jam makan siang. Nanti aku menelpon mu, sekarang aku bekerja dulu jaga dirimu baik-baik."
__ADS_1