
Selamat Membaca
Jangan lupa tap jempolnya 👍
Dalam gedung itu suasana semakin tegang walau vidio asli sudah ditemukan tapi Dion tetap tidak percaya. Pria itu masih memaki Endra. Beberapa bodyguard yang diberi perintah beberapa menit lalu dengan cepat melaksanakan tugas mereka.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun di lemparkan begitu saja di hadapan Endra. Wajahnya meringis kesakitan, ia berusaha berdiri dengan kedua tangan diikat kebelakang lalu bersimpuh didepan Endra.
"Maafkan saya, Pak. Ini semua salah saya dan saya berjanji akan bertanggung jawab atas perbuatan saya."
Endra tersenyum. "Jadi, saya memelihara penjahat di kantor saya sendiri. Sungguh lucu ! Dengan bodohnya saya percaya jika kamu sudah menghapus Vidio itu. Sebenarnya saya bermaksud baik agar wanita itu tidak malu dengan tingkahnya yang menggoda saya !!" Ucapnya penuh amarah
"Maafkan saya, Pak."
"Ada apa ini?" Dion bersuara dari tempatnya duduk.
"Sekarang kamu jelaskan pada pria itu kejadian sesungguhnya ! Ah, aku menyesal harusnya ini aku tuntaskan sejak awal."
"Sebenarnya vidio itu asli, vidio yang anda lihat selama ini hanya potongannya saja. Nona Nesa mengajak saya bekerja sama. Dia menjanjikan saya mendapatkan imbalan dua kali lipat jika dia berhasil menjadi istri Pak Endra." Ucap pria itu. Dia adalah penjaga ruang pengawas Cctv di kantor Endra.
"JANGAN MENGARANG CERITA !" Teriak Dion.
"Saya akan bersaksi dan menceritakannya." Pria itu mengangkat wajahnya. Dengan suara bergetar takut, ia mulai menceritakan awal mula kekacauan itu.
...----------------...
Kilas Balik...
Nesa merasa malu atas penolakan Endra padanya, ia tak hanya mendapat malu tapi juga berhenti dari pekerjaannya. Setelah berkemas ia melangkah menuju ruang pengawas Cctv
"Permisi, Pak" Nesa berdiri didepan pintu.
"Ada yang bisa di bantu, Nona?" Tanya pengawas ruangan itu sopan.
"Kamu pasti sudah melihat kejadian di ruang CEO ? Aku ingin kamu bekerja sama denganku." Nesa melangkah masuk.
"Maksud, Nona?"
"Aku akan membayar mu dua kali lipat, aku akan menikah dengan Endra. Pekerjaanmu hanya sederhana." Nesa meyakinkan dengan raut wajahnya.
Entah setan mana membisik pria itu mengangguk mengingat gajinya saja sudah besar di kantor itu apalagi dua kali lipat. "Baiklah apa yang harus saya lakukan?"
"Kamu awasi Cctv di ruangannya apapun yang terjadi nanti kamu harus menutup mata dan telingamu bila sudah selesai ada bagian yang kamu potong, nanti aku menemui mu jika sudah siap. Sebarkan vidio nya digrup kantor." Titah Nesa.
Akan aku buat kamu menginginkanku
Nesa tersenyum senang.
Setelah Endra pulang dari hotel, Vidio kejadian beberapa saat lalu sudah tersebar. Dua orang polisi menunggunya di rumah. Benar saja Nesa melaporkannya ke pihak yang berwajib. Endra terpaksa ikut ke kantor dan menjelaskan duduk perkaranya, Nesa mengeluarkan bukti vidio itu tapi pengacara Endra meminta dilakukan pemeriksaan terhadap Nesa, hasilnya menunjukkan jika tidak terjadi tindakan kekerasan yang mengarah pada pelecehan.
Sebagai orang yang berkuasa Endra bisa lepas dari tuduhan itu, tapi Nesa tak tinggal diam. Ia meminta seseorang menerbitkan artikel tentang masalah itu lagi, Rama Saguna membaca artikel yang menyangkut putranya langsung terkena serangan jantung dan jatuh sakit. Tapi baru beberapa jam artikel itu keluar Sandi sudah menghentikannya.
Mereka juga mencari tahu siapa yang menyebarkan vidio itu ? Tapi tak bisa mereka ditemukan. Merasa dirinya aman Endra melupakan kejadian yang baru menimpanya karena harus fokus pada kesehatan sang ayah
Kilas Balik selesai...
...----------------...
__ADS_1
Hal itulah yang membuat Dion dendam. Ia berfikir Kakaknya sebagai korban dengan bukti vidio yang ada di tangan Nesa. Bahkan pria itu pernah membalas Endra dengan cara ingin melecehkan Melan. Tapi aksinya gagal karena pengawal Melan dengan cepat mengetahuinya sehingga dia dituntut Endra masuk penjara.
"Bagaimana kamu percaya?" Endra menatap tajam pada Dion.
Pria itu tersenyum palsu. "Bagaimana kalian bisa mendapatkan Vidio ini?"
"Itu berasal dari apartemen Kakakmu, aku menyuruh orang menyusup ke sana."
"Benar, Pak. Saat itu saya menyalin vidio itu di tempat lain dengan bermaksud untuk berjaga-jaga jika Nona Nesa mengkhianati saya. Namun, dia tahu jika saya memiliki vidio lengkapnya. Dia memaksa untuk mengambilnya dengan mengancam saya." Jelas pria itu lagi.
Tubuh Dion gemetar. Ia selalu membela Kakaknya selama ini bahkan, hampir melakukan hal paling menjijikan di masa lalu dan sekarang ia juga akan mengulangi kesalahan yang sama demi Kakaknya.
Akibat dari permainannya ingin menghancurkan Endra, malah menjebak dirinya sendiri dalam cinta terlarang, Dion jatuh dalam pesona Pingka.
Dion hanya tertunduk malu dan sedih. Semua orang hening termaksud Endra, Ia sangat menikmati wajah kekalahan dari Dion.
"Sayang." Endra menyambut kedatangan istri tercintanya.
"Bagaimana?" Pingka duduk di pangkuan Endra.
Dion mengangkat kepalanya menatap tak suka pada Endra yang membelai wajah istri kesayangannya.
"Tunjukan Vidio itu pada istriku !" Titah Endra.
Pengawal mengangguk lalu memutar kembali vidio itu sampai selesai. Pingka menontonnya hingga selesai disertai raut wajah berubah-ubah.
"Usaha yang bagus."
"Kamu bilang bagus ! Hal menjijikan seperti itu?" Endra menatap tak percaya.
Pingka tersenyum manis. "Itu resiko menjadi pria tampan dan mapan." Ujarnya berbisik manja di telinga Endra.
Pingka melangkah mendekati Dion.
"Lepaskan ikatannya !" Ia melirik pada pengawal di sisi Dion. "Jadi, ini maksudmu mendekatiku?" Tanya nya berdiri dengan anggun.
"Maafkan aku." Lirih Dion. Matanya menatap sendu.
"Jelaskan !" Pingka mengambil kursi yang tak jauh darinya.
"Aku sengaja ingin mendekatimu dengan bermaksud membalas suamimu, jika kamu tahu masalah ini maka kamu akan meninggalkan dia. Endra akan hancur dengan sendirinya kehilanganmu dan itu akan mempengaruhi perusahaannya. Pada akhirnya perusahaan raksasa itu akan ikut terkubur bersama pemiliknya hingga kekuasaan tidak lagi bisa membantunya. Tapi semakin aku mendekatimu, aku semakin menyukaimu. Kamu berbeda Pingka itu yang membuatku jatuh cinta padamu." Ungkap Dion.
Endra mengepalkan tangannya cemburu, bisa-bisanya pria itu mengungkapkan cinta pada istrinya di depan matanya sendiri.
"Sekarang kamu sudah tahu kebenarannya, berhentilah menyimpan dendam. Satu pesanku untukmu jangan mengambil keputusan sebelum tahu kebenarannya. Jangan terlalu percaya pada penglihatan karena itu bisa saja salah. Tapi cari ada apa dibalik sesuatu yang terlihat dari mata kita, begitu juga pendengaran bisa saja salah karena angin akan membawa suara lebih nyaring ketika angin itu menerpa kita." Ucap Pingka lembut.
Dion terkesima. Pemikirannya salah selama ini, Pingka bukan orang yang mudah di pengaruhi.
"Maafkan aku." Dion tertunduk.
"Masalah perasaanmu. Aku menghargainya, itu adalah hak mu untuk jatuh cinta pada siapa pun. Tapi jika kamu berkeinginan mendapatkan apa yang telah menjadi milik orang lain maka itu salah besar. Sama saja kamu menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Kamu tahu? sifat asli seseorang akan terlihat ketika ia sedang sendiri."
Dion semakin sadar dari kebodohannya. Ia mencerna tiap kata-kata Pingka
Pintu terbuka. Semua mata mengarah pada dua orang yang baru datang dan terkejut.
"Kakak." Dion berdiri.
__ADS_1
Nesa terisak menghampiri Dion dan memeluknya erat
"Ada apa ini, Dam?" Endra dibuat bingung.
"Tenang, Pak ! Ini yang saya katakan kemarin. Nona Nesa sebenarnya tidak gila. Dia hanya stres ringan karena malu, dia sengaja bersembunyi di sana agar orang-orang tetap mengira dia gila."
Endra terdiam, begitu juga Dion menatap tak percaya. Sorot matanya seakan mengatakan jika itu tidak benar.
Nesa mengangguk dan menangis.
"Maaf... Maafkan Kakak ..." Ia menjatuhkan dirinya di hadapan Dion.
"Kakak sudah membuatku sebagai penjahat !" Suara Dion bergetar.
Marah, kecewa dan malu bercampur jadi satu dalam hatinya
"Kakak malu Dion, maafkan Kakak." Nesa semakin menunduk.
Pingka memeluk suaminya melihat adegan haru Kakak - beradik itu, dalam hatinya tak tega pada Dion menjadi korban keegoisan Kakaknya.
"Aku kecewa pada Kakak ! Setelah ini kita hidup masing-masing." Dion mengibaskan tangan Nesa dari kakinya.
Iris mata Dion berkaca-kaca menahan sesak di dadanya, ia melangkah menghampiri Endra dan Pingka. "Aku minta maaf atas kesalahpahaman ini, sampaikan maafku pada adikmu. Aku menyerah jika kamu ingin melaporkanku, maka aku terima." Ujarnya pasrah menundukkan kepalanya.
"Aku tidak melaporkanmu, pergilah sebelum aku berubah pikiran." Balas Endra tak ingin melihat wajah Dion. Sebenarnya ia juga tak tega pada Dion yang dipermainkan Kakaknya sendiri.
"Dion ! Hiduplah dengan benar." Pingka tersenyum.
Dion membalas dengan senyuman tipis, ia meninggalkan gedung itu tanpa melihat pada Nesa yang masih menunduk menangis.
"Kenapa kamu lakukan ini, Endra ? Kalau saja kamu mau menerimaku waktu itu, tak mungkin ada kejadian seperti ini." Nesa mengangkat wajahnya.
"Dasar wanita tidak tahu malu !" Umpat Endra.
"Apa karena wanita murahan itu?" Nesa menunjuk pada Pingka.
"JAGA MULUTMU ! Dia istriku bukan wanita sepertimu !" Teriak Endra.
Hati Nesa memanas. Matanya menatap tajam dan melangkah cepat ingin menghampiri Pingka serta tangannya terangkat di udara.
Tangan Endra mendarat di wajah Nesa terlebih dulu. Semua orang terdiam baru hari ini Endra memukul seorang wanita. Sebelum tangan wanita itu menyentuh kulit istrinya. Endra lebih dulu bertindak.
"Seret dia ke penjara ! Tuntut balik wanita ini !"
"JANGAN LAKUKAN ITU, EN. LEPASKAN AKU ! LEPASKAN !" Teriak Nesa menangis
Dami mengangguk tak lama Arif juga tiba di sana. Pembalasan Endra sempurna, Nesa dan petugas pengawas Cctv itu dibawa ke kantor keamanan dengan berbagai macam tuntutan.
Endra tak menggubrisnya. Ia menarik Pingka duduk di pangkuannya setelah semua orang keluar.
"Sayang, inilah alasannya aku tidak ingin sekretaris wanita. Kamu adalah sekretaris kedua setelah dia, Jika Ibu tak memaksaku menerimamu waktu itu. Mungkin, aku tidak pernah bertemu denganmu. Maafkan aku... Karena trauma masa laluku. Membuat aku kehilanganmu sebagai sekretaris ku, selain keterpaksaan memiliki sekretaris wanita, aku juga tidak terima Ibu menjodohkan ku dengan seorang sekretaris. Itu hal yang paling aku sesali. Aku kehilangan seorang istri. Tapi aku baru menyadari tidak semua wanita itu sama, contohnya kamu tak pernah menggoda aku. Maafkan kesalahanku dimasa lalu." Endra menjatuhkan kepalanya di pundak Pingka.
"Tidak usah mengingat masa lalu, tapi rancanglah hari indah esok hari." Balas Pingka. Endra tersenyum matanya menatap nakal pada bibir ranum istrinya. "Aku tidak mau dicium." Sergah Pingka .
"Sekali saja ya, aku ingin itu." Endra menunjuk bibir Pingka.
"Aku mau pulang." Pingka berdiri dari pangkuan Endra.
__ADS_1
Pria itu tak sempat menarik tangan istrinya karena Pingka sudah berlari .