
Masih Kilas Balik ...
Tiga hari sebelum rencana pernikahan Melisa dan Endra. Di kediaman Saguna, Melisa tersenyum bahagia sebentar lagi pernikahannya dengan Endra akan terlaksana.
"Sayang... Sebentar lagi kita akan menjadi bertiga dan hidup bahagia, tidak sia-sia aku pulang dari Jepang. Semua rencana ku berjalan mulus, Robby ! Aku dan anakku tak butuh pria sepertimu." Melisa mengusap bulatan perutnya.
...----------------...
Di tengah keheningan tercipta ponsel Endra bergetar di saku celananya. Pria itu mengambil ponselnya lalu membuka pesan yang baru masuk.
Mata Endra terbelalak setelah melihat vidio dari Adiknya Melan. Tubuhnya bergetar hebat dan menitikkan air mata antara amarah, bahagia dan sedih. Marah karena Melisa membohonginya sampai menyebabkan Pingka meninggalkannya.
Bahagia karena ia tak perlu bertanggung jawab atas kehamilan Melisa. Sedih karena ketukan palu dua hari lagi itu tandanya ia akan resmi berpisah.
Dimas, Sandi dan Reno hanya diam menyaksikan kehancuran hati Endra, mereka turut sedih dengan apa yang terjadi.
"Tenangkan dirimu." Dokter Reno memberikan sebotol air mineral.
Endra menenggak air itu hingga habis setengahnya. Menit berikutnya ia sudah mulai tenang setelah meluapkan emosinya dengan menangis. Endra meruntuhkan kewibawaannya dengan menumpahkan air mata di hadapan teman-temannya. Kadang kala seseorang perlu menangis untuk mengurangi sesak di dada, berharap dengan begitu bisa mendapat rasa ketenangan.
Ketika mata menangis maka tangan dengan setia menghapus air mata itu, begitu juga dengan tangan. Jika ia tergores maka mata akan menangisinya.
"Kita harus membalik permainan ini." Seru Dokter Reno. Raut wajah Dokter tampan itu sudah berubah serius.
"Aku setuju, kita akan main di atas permainannya." Tambah Sandi.
"Aku akan kumpulkan buktinya dan menyeret pria bernama Robby itu kesini, kita lakukan dengan rapi agar Melisa tak curiga."
Endra, Dimas dan Sandi serta Dokter Reno mulai mengumpulkan buktinya sampai pada hari pernikahan Endra dan Melisa gagal dengan sendirinya.
Kilas Balik Selesai...
...----------------...
"Bayi yang kamu lihat kemarin itu, bayinya Melan dan Sandi. Mereka sudah menikah, beberapa bulan setelah perpisahan kita." Jelas Endra. Pingka hanya menanggapinya dengan anggukan tanpa ada keinginan untuk membalas perbincangan pria itu. "Aku sudah mencari mu di Desa tapi tidak menemukanmu, kemana kamu saat itu?" Sambung Endra lagi
"Sembunyi di gua hantu."
Endra terperangah matanya melotot tak percaya bisa-bisanya wanita ini hanya membalas seadanya, ia berfikir akan lebih baik mengalah hari ini membiarkan Pingka tenang sejenak.
Endra sudah menceritakan semua pada Pingka tapi tetap saja ia harus berjuang membuat wanita itu jatuh cinta lagi padanya. Melihat reaksi Pingka hanya biasa-biasa saja Endra semakin bersemangat mendapatkan cinta mantan istrinya itu.
...----------------...
Pagi hari seperti biasa seluruh penduduk bumi akan melakukan aktivitas seperti biasanya sesuai profesi masing - masing. Begitu juga dengan Pingka dan Endra, mereka kembali mengurus pekerjaannya. Pingka penuh konsentrasi membuat adonan kue tanpa disadarinya sesosok pria tampan memperhatikannya dengan penuh cinta.
Pingka menuangkan adonan kue ke dalam loyang dan siap dipanggang. Sembari menunggu, ia membuat teh hangat untuknya karena sedari pagi belum sarapan. Mata Pingka tertuju pada pria yang tengah bersandar di daun pintu dengan melipat kedua tangan di atas dadanya.
__ADS_1
"Selamat pagi, sayang." Endra melangkah masuk ke dapur toko dan meraih gelas teh Pingka lalu meminumnya.
"Kamu, untuk apa lagi kesini ? Jangan memanggilku dengan sebutan itu ! Sakit kuping ku mendengarnya. Di antara kita tidak ada urusan lagi dan juga teh ku, kenapa meminumnya ?!"
Endra terkekeh mendengar jawaban ketus dari Pingka. "Baiklah aku akan mengganti panggilanku untukmu. Bagaimana kalau, istriku ?" Ucapnya tersenyum.
"Jangan aneh -aneh, aku bukan istrimu !" Ketus Pingka sambil mengecek kuenya.
"Kalau begitu aku akan menikahi mu lagi." Endra menghabiskan teh di gelas Pingka.
"Apa kamu kurang kerjaan? Sampai pagi - pagi merecoki tokoku?" Pingka memindahkan kuenya yang sudah matang pada tempatnya.
"Pekerjaanku banyak tapi ada pekerjaan yang lebih penting dari itu, rotimu wangi boleh aku bawa ke kantor ? Sebagai ganti jika aku merindukanmu." Ucap Endra tersenyum.
Pingka menatap pria yang menjengkelkan untuknya itu. "Hm." Jawabnya langsung memotong roti dan memasukinya kedalam kotak roti. Endra tersenyum senang memperhatikan wajah cantik itu menyiapkan roti untuknya. "Ini, jangan menggangguku lagi !" Pingka memberikan kotak rotinya lalu berbalik ingin mencuci peralatannya. Tanpa diduga Endra memeluknya dari belakang dan mengunci pergerakkan nya, jika tidak begitu bisa saja wanita itu berbalik memukulnya.
"Apa yang kamu lakukan ?!" Pekik Pingka meronta.
"Aku hanya ingin memelukmu sebelum bekerja, terimakasih sayang rotinya. Akan aku makan sampai habis." Endra berbisik di kuping Pingka.
"Iya - iya, Lepaskan aku !"
Endra mencium pipi kanan Pingka. "Jangan pernah menghapusnya atau aku akan melakukan lebih banyak lagi." Tegasnya serius.
"Selalu saja begitu, sana pergi ke kantor dan jangan kembali lagi kesini !"
Pingka duduk menjongkok di lantai dengan air mata meleleh di pipinya, dari sekian lama. Hari ini pertama kalinya Pingka menumpahkan air mata untuk pria lagi.
Kenapa kamu datang lagi setelah meluluh lantakkan hatiku
Ia mengusap air matanya.
Pingka menyelesaikan pekerjaannya, Roti yang baru matang semua sudah siap dipajang bersama roti yang lain. Tak lupa ia meminta koki menyiapkan bahan untuk makan siang. Ia sengaja menjatah makan siang dan malam untuk karyawannya.
...----------------...
Dami hampir tak percaya dengan penglihatannya sendiri, pria datar dan dingin di hadapannya itu semenjak pagi selalu tersenyum tanpa henti. Kadang ia bersenandung kecil di sela pekerjaannya.
Di saat fokus bekerja, ponsel Endra bergetar tanda panggilan Vidio yang masuk.
"Wah, sudah betah rupanya kamu di sana." Wajah Dokter Reno memenuhi gendang layar ponsel.
Ternyata di sana tidak hanya Dokter itu saja, ada Dimas dan Sandi juga disana.
"Tentu aku betah, kalian tahu aku bertemu dengan siapa disini?" Endra tersenyum lebar.
"Bagaimana kami tahu ? Kamu saja belum bercerita." Wajah dokter Reno berubah kesal .
__ADS_1
"Baiklah akan kuberi tahu, aku bertemu dengan Pingka. Mereka menetap di Kota ini." Kata Endra senang.
"Bagaimana reaksinya setelah bertemu denganmu ?" Dimas penasaran.
Berbeda dengan Sandi, ia sudah tahu terlebih dulu karena Ibu Erly menceritakan padanya.
"Dia sekarang jauh berbeda, sepertinya aku harus berjuang keras mendapatkannya kembali." Raut wajah Endra berubah sendu.
"Kalau begitu, aku harus terbang ke sana membantumu." Ide konyol Dokter Reno keluar.
"Jangan ! Nanti kamu malah mengacau." Endra cepat menolak
Dokter Reno terkekeh. "Kenapa, kamu takut dia berpaling padaku? Aku jadi tidak sabar bertemu dengannya."
"Awas saja kalau kamu macam-macam." Ancam Endra.
Dokter Reno tertawa senang sudah membuat Endra kesal. Dimas mengambil alih Ponsel dokter Reno.
"En, bulan depan aku akan menikah. Jika bisa kamu ajak Pingka. Salsa pasti senang, dia sangat merindukan Pingka."
"Baiklah, akan aku atur jadwal dan tentang Pingka, aku tidak berjanji." Balas Endra.
"Kalau begitu aku matikan dulu waktunya visit." Ucap Dokter Reno
Hari ini Endra merasa begitu bahagia, ia pun sudah menyiapkan rangkaian ide untuk selalu bertemu Pingka.
...----------------...
Fajar sudah mendengar dari Ferdi jika Pingka sudah bertemu dengan Endra. Sebenarnya, ia keberatan jika Endra mendekati Pingka kembali tapi karena Mayang yang memberikannya pengertian akhirnya Fajar hanya pasrah.
"Jingga." Panggil Fajar setelah telpon tersambung.
"Iya kak, kenapa ?"
"Jingga, datanglah ke rumah, kita makan siang bersama. Kakak merindukanmu sudah beberapa hari kamu tidak pulang." Fajar menyampaikan rasa rindunya pada Adik kesayangannya itu.
"Baiklah Kak sekarang aku pulang tunggu aku di sana."
"Hati-hati." Fajar mematikan telpon.
Menempuh perjalanan selama empat puluh menit, Pingka sampai di rumah Fajar. Pingka langsung bermanja-manja pada Bibi Halimah.
"Kenapa jarang pulang, sayang?" Bibi Halimah membelai rambut panjang Pingka.
"Aku sibuk Bi di toko. Sebagai gantinya aku menginap disini malam ini"
Bibi Halimah mengangguk, Fajar dan Mayang ikut bergabung di sana tak lupa Pingka juga menceritakan pertemuannya pada Endra.
__ADS_1