
Satu minggu kemudian...
Pria tampan ini kembali beraktivitas seperti biasanya. Emosinya semakin menjadi bahkan para karyawan selalu jadi sasarannya, walau kesalahan kecil tapi mereka mendapatkan amarah yang begitu besar dari Bosnya.
Endra menghabiskan waktu dengan bekerja dan bekerja, hampir seluruh waktunya dihabiskan di kantor dan di ruang kerja.
Semakin hari bayangan wajah Pingka selalu mengusiknya, beberapa kali pesan dan telponnya diabaikan begitu saja oleh wanita itu. Hal ini membuat Endra semakin stres dan yakin jika dirinya sudah jatuh cinta pada Pingka.
Kerap kali makan siang dan sarapan dilewatinya begitu saja. Entahlah, tidak ada masakan yang cocok di lidahnya selain masakan Ibunya dan Pingka. Sering kali Melan berkunjung ke kantor mengantar makanan, tapi tak pernah disentuh pria itu dengan alasan tak berselera. Padahal, dulu ia sangat mengagumi masakan Ibunya. Ia hanya makan makanan yang dibuatnya sendiri di rumahnya apa bila malam hari.
Sebisa mungkin ia meniru resep masakan Pingka yang dimintanya dari Bi Weni. Ibu Erly sakit hati melihat keadaan putranya yang menyedihkan, sedikit pun raut wajah Endra tak menampilkan jika ia sedang menderita penyakit cinta. Apa kata dunia seorang pebisnis muda itu lemah karena cinta ? Maka sebab itu ia berusaha sekuat hati menutupinya.
Sandi berniat mengajak teman-teman mereka berkumpul malam ini menghibur Endra, ia pun turut sedih melihat teman sekaligus Bosnya itu lebih banyak diam dan dingin dari pada sebelumnya, wajahnya juga tak pernah menampilkan senyumannya lagi. Keramahannya pada para Klien dulu telah menghilang, setiap orang ingin bertemu dengannya harus menelan salivanya berkali-kali. Apa lagi, datang membawa masalah untuknya. Maka harus siap menerima segala bentuk amarahnya.
Sandi bergegas keruangan CEO setelah mendapatkan panggilan dari interkom. "Bapak memanggilkan saya?" Tanyanya sopan
"Hm , ajari aku membuat kopi sama persis yang dibuat Pingka." Kata Endra tanpa mengalihkan pandangannya pada dokumen yang ia pegang. Mata Sandi terbelalak tak percaya bagaimana bisa pria ini meminta diajarkan membuat kopi dengan rasa yang sama. Apa dia sudah gila ? Hati Sandi bertanya - tanya sekaligus mengumpatnya. "Jika ada yang ingin disampaikan jangan disimpan didalam hati." Endra mengalihkan pandangan dengan sorot yang tajam pada Sandi.
"A-ayo, Pak ! Kita ke pantri tapi maaf jika rasanya sedikit berbeda karena buatan tangan orang berbeda-beda rasanya." Sandi terbata.
Ya Tuhan aku tak pernah se-gugup ini berhadapan dengan makhluk ini
Sandi membuka pintu lalu di ikuti Endra, mereka bersama ke pantri dan membuat kopi sesuai takaran yang sering dibuat Pingka. Melihat keberadaan Endra di sana, para karyawan wanita hampir saja berteriak histeris. Terpesona melihat Bosnya dengan cool mengaduk kopi di dalam gelas menggunakan tangan kanannya lalu tangan kiri diselipkan di dalam kantong celana, tapi mereka hanya memuja dalam hati saja melihat wajah CEO itu tak pernah bersahabat.
Endra kembali ke dalam ruangannya bersama Sandi lalu pria itu mencicipi kopi buatannya sendiri. "Tidak buruk, walau tak sempurna seperti buatan mu, sayang." Gumamnya tersenyum tipis .
__ADS_1
Sandi yang baru menghirup kopinya tersembur begitu saja dari mulutnya, kalimat Endra yang baru di dengarnya membuat kopi itu malu masuk ke tenggorokan Sandi.
"Kenapa ekspresi mu begitu?" Endra menatap datar pada Sandi .
"Kopinya panas" Sandi beralasan sambil tersenyum pepsodent.
Benar dia sudah gila !
Sandi menghubungi Dimas dan Reno untuk bertemu di rumah Endra. Tak lupa ia juga menyampaikan kegilaan Endra yang meminta Sandi mengumpulkan barang-barang yang dipakai Pingka sewaktu masih bekerja.
Sandi merasa kesal sendiri, kenapa cinta merubah orang sampai over dosis begitu ? Mengingat dirinya tak segila Endra ketika ditinggal almarhumah istrinya.
...----------------...
Bi Weni mendapat perintah untuk memasak lebih banyak karena Endra memberitahukan jika teman-temannya akan datang.
Saat makan malam pikirnya, pria itu bergegas ke dapur dengan menggunakan apron pink yang sering dipakai Pingka. Ia mulai memasak makan malamnya sendiri walau Bi Weni memasak banyak, tapi Endra tak berniat memakannya.
Belum selesai acara memasaknya, tibalah tiga pria dengan sambil bercanda menenteng beberapa botol anggur dan camilan.
Mata Sandi menangkap sesuatu yang tidak biasa di dapur, sesaat kemudian mereka semua terfokus pada pria yang tengah memasak dengan penuh percaya dirinya. Tawa Dokter Reno menggema di ruang makan hingga mengejutkan Endra .
"Kalian sejak kapan disini?" Endra jadi salah tingkah.
"Kami yang harus bertanya padamu. Kenapa kamu terjun langsung ke dapur ? Dan menggunakan apron dengan warna menyakitkan mataku. Apa seantusias ini kamu menyambut kami?" Dokter Reno menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Tidak juga, ayo kita makan semua sudah matang." Endra melepaskan apron nya lalu meletakkan hati-hati.
Mereka makan malam sambil melemparkan candaan dan ejekan, ada sedikit senyum di bibir Endra.
Dimas meneliti tiap barang yang ada di sana lalu memperhatikan kamar yang bertuliskan 'Dilarang masuk' menempel dengan jelas di pintu kamar itu.
Jadi benar dia menyimpan barang-barang yang dipakai Pingka
"Semua barang-barang yang dipakai Pingka sudah dikumpulkan termasuk meja dan kursi di dalam ruangan Ravita." Ujar Sandi sambil menenggak anggurnya.
"Hm, besok kamu kirim kesini, aku akan menyimpannya diruang itu." Tunjuk Endra dengan wajahnya.
Dokter Reno terkejut tanpa sadar mulutnya terbuka sedikit. "Jadi, benar kamu mengumpulkan barang-barang itu?" Endra mengangguk lalu menyandarkan tubuh di sofa.
"Kenapa tidak sekalian kamu bangun Museum nya ? Dan tulis di atasnya 'Barang Gadis Pedalaman' " Dokter Reno tersenyum mengejek.
Endra menegakkan tubuhnya.
"Kamu benar kenapa aku tidak terpikirkan, San—"
"Tidak ! Aku tidak mau direpotkan dengan hal konyol, menurutku lebih baik kamu simpan di sini saja. Jadi, tiap waktu kamu bisa melihatnya" Balas Sandi cepat.
Dokter Reno dan Dimas terkekeh melihat raut panik di wajah Sandi. Endra nampak berfikir lalu mengangguk dengan mata berbinar.
"Baiklah ide bagus ! Aku juga tidak ingin barang-barang itu dilihat atau disentuh orang lain." Endra kembali bersandar di sofa.
__ADS_1
Sandi mengusap dadanya lega hampir saja ia terjebak dengan ide gila Dokter Reno. Empat pria ini menghabiskan waktu berkaraoke hingga larut malam sampai mereka tergeletak disembarang tempat karena mabuk. Endra bukanlah peminum handal tapi kadang bisa ia lakukan jika memang dirinya sedang kalut.