
Kesepian, itu lah malam ini, Pingka menempati rumah belakang seorang diri. Selama satu minggu sudah, Ibu mertuanya juga tidak pernah datang lagi. Tiga orang pegawai rumah Endra mendapat cuti libur ke kampung secara bersamaan.
Pingka Bersandar pada sebuah kursi rotan, angin menghembus perlahan membelai kulit dan rambutnya di sana. Kerinduan pada sebuah kampung halaman mengusik jiwanya malam ini. Ketika malam hari tidur dengan nyanyian jangkrik malam dan suara kodok, dihangatkan lampu tembok dipertengahan malam dan rumah diramaikan anak-anak yang ikut menonton televisi. Tanpa terasa titik demi titik air mata Pingka membasahi bajunya.
Aku tersesat dan terdampar di tempat yang begitu mengerikan. Bisakah ?Aku membangun istana kecil disini dengan kata yaitu kebahagian ?
Pingka menutup mata menarik nafas begitu dalam lalu menghembuskan nya perlahan, meringankan sesak yang mulai menyerangnya. Cukup lama wanita itu menikmati sepinya lalu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
"Tunggu !"
Pingka berbalik. "Ada apa, Pak ?" Tanyanya sedikit serak.
Dia menangis ?
"Aku lapar di sana tidak ada makanan, aku tidak suka makanan luar jika malam hari. aku sibuk tidak sempat memasak."
"Lalu ?" Tanya Pingka pendek.
"Masak untukku sebentar." Endra menjawab dengan sedikit gugup. Ini pertama kalinya ia gugup di hadapan seorang wanita. Apalagi wanita itu masuk dalam daftar orang yang di bencinya.
"Yakin ? Anda tidak jijik !" Pingka kembali meyakinkan
Karena semenjak kepulangan Ibu Erly, Pingka menepati janjinya untuk tidak masuk ke rumah utama atau menampakan dirinya didepan Endra. Meskipun di kantor sebisanya ia menghindar.
"Aku mengawasi mu memasaknya !" Ucap Endra tak mau kalah.
Pingka menutup kembali pintu dan melangkah mendahului Endra.
Wangi...
Endra tersenyum tipis lalu terkejut sendiri
Apa yang kulakukan ? Hentikan Endra Melisa menantimu
Laki-laki itu mengekor sampai di dapur. Dia langsung duduk di kursi makan, matanya dengan jeli memperhatikan istrinya menyiapkan bahan untuk membuat nasi goreng, masakan praktis menurut Pingka.
Pingka memasak dalam diam tanpa bersuara, hanya suara sendok beradu dengan wajan saat mengaduk nasi. wanita itu memindahkan nasi gorengnya kedalam piring lalu menyiapkan air minumnya.
"Makanlah." Ucap Pingka lalu berpaling meninggalkan dapur.
"Tunggu ! Kamu tidak makan?" Tanya Endra tiba tiba
__ADS_1
Pingka terkejut lalu berbalik dan tersenyum manis. "Saya sudah makan."
Senyum ini? Dia tersenyum ?
Endra tak berkedip sampai Pingka sudah tak terlihat. "Dimana dia ?" Gumamnya melihat segala arah. Lalu menikmati nasi goreng buatan wanita yang dibencinya itu.
Di rumah belakang Pingka senyum - senyum sendiri mendapat perhatian kecil dari Endra.
Bangun Pingka ini mimpi indah sesaat jangan terbang dulu, bisa saja dia dihinggapi setan baik hati hingga dia ramah padamu
...----------------...
Siluet pagi sudah nampak di ufuk timur, suara merdu ayam jantan berkokok indah di pagi hari. Membuat penghuni bumi menggeliat manja mulai mengatur aktivitas pagi ini. Hingar-bingarnya kendaraan dan suara klakson yang bersahutan menandakan padatnya jalan kota ketika penggunanya dilanda kesibukan. Pingka melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke kantor hari ini.
Ravita datang lebih awal. "Kamu baik-baik saja ?" Tanyanya teringat kejadian satu minggu lalu.
"Aku kenapa ? Aku baik baik saja, Vit." Pingka tersenyum.
Ravita tak berkedip melihat senyum manis melengkung indah dibibir Pingka. "Normal !" Gumam gadis itu menyentuh kening Pingka.
"Aku ?" Pingka menunjuk dirinya kebingungan.
"Ceritakan siapa mereka, kenapa bisa ada di sana ?" Tanya Ravita penasaran
"Kejam !" Ucap Ravita lalu duduk dimeja kerjanya.
Ravita memang belum sempat menanyakan kejadian minggu lalu, dia berfikir masih tidak ingin mengungkap luka lama temannya itu.
...----------------...
Pingka dan Ravita bekerja seperti biasa, tapi wanita itu merasa ada yang kurang pagi ini. Dia belum melihat bosnya itu melewati ruangannya.
Apa dia tidak datang kekantor ?
Pingka menggelengkan kepalanya agar pikirannya tentang Endra hilang.
"Kamu kenapa ?" Ravita menoleh ke samping karena Pingka berulang kali menggelengkan kepalanya.
"Ah, tidak apa - apa hanya sedikit pusing" Pingka berbohong. Ia malu jika mengakui terpikirkan Endra yang belum tiba di kantor.
"Perlu aku carikan obat." Ravita menghampiri meja Pingka. Tak puas jika hanya bicara dari mejanya.
__ADS_1
"Tidak perlu, Vit ! Nanti sembuh sendiri."
Ravita mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya.
Ayolah Pingka, berhenti memikirkannya jangan terpengaruh hanya karena dia sedikit memberimu perhatian
Pingka menarik nafas lalu mengambil sebotol air putih dan meminumnya. Merasa sedikit tenang ia melanjutkan lagi pekerjaannya
...----------------...
Laki - laki yang masih tidur ini tidak mendengarkan suara alarm atau kokok ayam miliknya didekat rumah belakang. Masih berbalut selimut dia tertidur nyenyak. Suara Ponselnya yang lupa di cilent memekakkan telinganya. Endra meraih ponsel itu dengan mata masih terpejam lalu menjawab telpon, rupanya sang kekasih dilanda rindu menelponnya.
Endra hanya mampu menampung kerinduan karena pekerjaannya sangat banyak hingga tak memberinya kesempatan untuk mengunjungi sang kekasih di belahan dunia sana. Hampir satu bulan sudah, dia dan Melisa terpisah hanya bertatap muka dari ponsel. Kadang dia mengumpat sendiri karena tidak memiliki waktu untuk menemui kekasihnya
Hampir tiga puluh menit menelpon sambil bicara di kamar mandi. Dia bersiap untuk pergi ke kantor, kaki Endra terayun melangkah menuju meja makan, berharap ada sarapan yang menantinya. Tapi sayang, meja itu kosong hanya ada piring bekasnya semalam.
Ada apa denganku ? Berharap dia memasak untukku. Bodoh kamu Endra dia bisa besar kepala karena ini
Laki-laki itu pergi ke kantor tanpa sarapan hari ini. Wajah datar itu berlalu begitu saja saat sebagian karyawan menyapanya, Sandi yang telah lebih dulu datang menunggu Endra di kursi yang biasa dipakai Pingka saat masih jadi sekretaris.
"Apa jadwalku hari ini?" Tanya Endra duduk di kursinya.
Sandi menyebutkan satu persatu jadwalnya hari ini, seharian Endra akan bekerja di luar kantor. Ada perasaan tak rela dalam hatinya meninggalkan kantor seharian hari ini. Endra menjadi gelisah sendiri.
Sandi melihat gelagat yang berbeda dari biasanya pada Endra.
Dia kenapa uring- uringan ? Kaya suami yang dicampakkan istri !
"Carikan aku sarapan, di rumah asisten libur semua." Titah Endra menyandarkan tubuhnya di sofa
"Apa istri Pak Endra tidak memasak?" Goda Sandi tersenyum
"Dia bukan istriku !" Endra menatap tajam pada Sandi. Entah kenapa hatinya menolak mengatakan itu.
"Bukannya kalian tinggal serumah ?" Sandi bertanya lagi.
"Tidak, kami tinggal terpisah dia di rumah belakang bersama asisten rumah tangga" Jawab Endra sekaligus mengejutkan Sandi.
"Aku akan memesan makanan untukmu, sebagai teman aku mengingatkanmu. Jika memang tidak menganggapnya istri bertemanlah padanya."
"Tidak akan pernah." Endra keras dengan pendiriannya.
__ADS_1
"Semoga saja kesadaran mu datang saat belum terlambat, karena menyesal juga tidak berguna saat itu nanti. Bahkan kata maaf pun belum tentu bisa mengembalikannya." Ucap Sandi penuh kenangan.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Sandi ?