
Di kediaman Fajar orang-orang sibuk hilir mudik menyiapkan pernikahan Si macan Jantan. Begitulah Dokter Reno menyebutnya yang tak lain adalah Endra Saguna.
Sebenarnya, Endra ingin pernikahan dilaksanakan di rumahnya. Tapi Fajar menolak. Ia ingin dirinya sendiri yang mengurus berbagai macam untuk persiapan pernikahan hari ini, untuk resepsinya. Biarlah bagian Endra dan keluarganya.
Dikamar, Pingka menatap sendu bingkai foto di atas nakas. Ada kesedihan yang mendalam di hatinya, tanpa orang lain tahu kedalamannya. Telaga bening yang sudah menampung banyaknya air itu mulai merembes keluar, di hari kebahagiannya rasa kehilangan dulu menyapanya lagi.
Pingka mengusap pelan foto kedua mendiang Ayah dan Ibunya. Bahunya bergetar terisak pilu memeluk menatap penuh rindu wajah belum keriput di curi kamera waktu itu.
"Sabar Jingga, Ayah dan Ibu pasti bahagia di sana." Mayang mengusap pelan punggung wanita itu.
"Hanya satu inginku saat ini, mereka hadir disini menyaksikan pernikahanku walau aku tak melihat, tapi biarkan aku merasakan kehadiran mereka sekali saja." Lirih Pingka masih bercucuran air mata.
Rania memeluk tubuh lemah itu, memberikan kekuatan dan ketenangan seperti beberapa tahun lalu. Salsa mengusap pelan sudut matanya, ia juga merasakan apa yang dirasakan Pingka saat ini.
"Tenangkan dirimu, nanti jika ada kesempatan ajaklah Endra mengunjungi Paman dan Bibi." Salsa sudah bisa menguasai dirinya.
Pingka mengangguk lalu meletakkan foto itu kembali, penata rias dipanggil lagi untuk merapikan riasan yang hampir luntur karena tersapu air matanya.
Satu jam lagi sumpah pernikahan akan dilaksanakan, dikamar tamu Endra sudah merasakan panas dingin. Ada kegugupan luar biasa dirasakannya sampai berulang kali ke kamar mandi.
Pria ini merasakan jika hari ini ia benar-benar akan menikah, berbeda pada pernikahan pertamanya yang terpaksa tidak merasakan apa-apa selain perasaan dongkol.
"Kamu kenapa? Belum juga mengucap sumpah pernikahan, sudah lemas tak berdaya begitu. Bagaimana mempersiapkan nanti malam?" Ejek Dokter Reno.
"Aku gugup." Endra tak bisa duduk hanya berdiri mondar - mandir tak jelas.
"Kenapa kamu gugup, bukannya ini yang kamu tunggu ?" Seru Dimas.
"Entahlah aku hanya takut melakukan kesalahan." Jawab Endra menenggak botol air mineral.
"Semua orang menikah akan merasakan gugup tapi, tak separah diri mu." Tambah Sandi.
Endra menatap kesal. "Kalian tahu, wanita yang akan kunikahi bukan wanita lembek dan lemah. Dia ada pahit-pahitnya, salah sedikit. Selamat tinggal."
Dimas, Sandi dan Dokter Reno terkekeh. Ada juga yang ditakuti macan jantan ini rupanya begitu pikir mereka.
"Kamu takut jika Pingka membatalkan pernikahan ini." Dokter Reno masih tertawa.
"Sangat takut, karena tidak ada Pingka yang kedua. Hanya satu ! Dia seorang ! Kamu tidak tahu butuh waktu lama menaklukan macan betinaku itu." Endra ikut tersenyum.
__ADS_1
"Jika kamu belum siap, ada aku yang menggantikan mu. Menikahi macan betina itu." Dokter Reno merapikan jas dan dasinya.
Endra menatap tajam pada Dokter Reno. "Silahkan saja jika kamu ingin berakhir di dalam peti mati esok hari." Ujarnya tersenyum tipis.
Dokter Reno terkekeh. "Kamu pikir aku mau menjual jiwaku padamu."
"Cih menyebalkan." Endra duduk di tepi kasur.
Dami datang mengetuk Pintu kamar yang ditempati Endra. Memberitahu jika semua sudah siap.
"Ayo turun." Sandi merapikan dasi Endra.
"Sebentar." Ujar Dokter Reno.
"Kenapa?" Endra menghentikan langkahnya.
"Buang air kecil sana, jangan sampai kamu kencing di celana karena saking gugupnya."
"Kamu benar, sejak tadi aku ingin ke kamar mandi." Endra melenggang pergi.
"Gayamu saja galak, berhadapan dengan hal seperti ini kamu mirip anak kecil yang demam panggung." Cibir Dimas.
Tak lama Endra sudah keluar digandeng Dimas, Sandi dan Dokter Reno. Mereka begitu tampan sampai menarik perhatian kaum hawa yang masih lajang di sana. Terlebih Endra yang memang tampan dari lahirnya sangat memanjakan mata kaum emak-emak yang memiliki jiwa halu sangat tinggi.
"Sampai kapan mulutmu terbuka?" Bisik Pingka sudah duduk disisi Endra.
"Ma-maaf sayang kamu sangat cantik." Endra terbata dan malu.
"Kita mulai."
Dari segala sudut tamu yang hadir, mereka hening mendengarkan sumpah pernikahan yang terucap dari bibir pengantin laki-laki. Ibu Erly dan Bibi Halimah saling bergandengan tangan menyaksikan semua itu.
Pingka resmi menjadi istri Endra Saguna untuk kedua kalinya. Selesai mengucapkan sumpah pernikahan pria ini tertunduk lega. Bahagia yang dirasakannya sampai membuatnya menitikkan air mata .
"Pasangkan cincinnya pada istrimu."
Endra meraih tangan Pingka dan memasangkan cincin pernikahan di jari manisnya begitu juga sebaliknya.
"Jangan pernah melepaskan cincin ini apapun yang terjadi sampai maut memisahkan kita." Endra mengecup kening Pingka penuh cinta.
__ADS_1
Selesai pemasangan cincin mereka berdua menanda tangani dokumen pernikahan, agar bisa mendapatkan buku nikah.
Sepasang pengantin ini melakukan rangkaian minta doa restu pada keluarga satu persatu. Seluruh tamu yang hadir dipersilahkan menikmati sajian yang sudah disiapkan.
Fajar menghampiri Pingka dan Endra.
"Jingga, Endra. Selamat atas pernikahan untuk kedua kalinya dengan orang yang sama pula. Kakak berharap ini pernikahan terakhir tidak ada lagi pernikahan ketiga, jika kamu terluka lagi. Maka Kakak akan hancur bersamamu." Fajar mengusap sudut matanya yang berair.
Pria ini begitu terharu dan bahagia atas pernikahan Adik kesayangannya itu, walau terlahir dari rahim berbeda namun darah mereka tak bisa dipungkiri sangatlah kental.
"Aku akan menggantikan mu menjaganya, tanggung jawabmu berpindah padaku. Jika aku sampai menyakitinya lagi, maka kamu berhak menghakimiku dengan caramu." Endra menggenggam lembut tangan Pingka dan melihat pada Fajar.
"Kakak terimakasih selalu menjadi orang terdepan dalam hidupku. Mungkin, aku sepenuhnya tanggung jawab suamiku dan mencintainya sangat banyak serta aku juga akan mendapat cinta dan kasih sayang yang banyak pula darinya. Tapi tetap Kakak adalah cinta pertamaku selain Ayah dan akan tetap seperti itu." Pingka memeluk tubuhnya Fajar penuh haru.
Ibu Erly dan Bibi Halimah juga mengambil bagian mereka ikut memberi selamat dan memberi petuah pada sepasang pengantin itu.
Sandi dan Melan menghampiri mereka. "Selamat Kak jangan mengulangi kesalahan yang sama." Melan memeluk Endra dan Pingka bergantian.
Dimas dan Salsa juga bergabung .
"Selamat Pingka bahagia selalu, ayo cepat bekerja keras biar menyusulku." Goda Salsa.
Pingka tersenyum malu. "Terimakasih, Sa." Ucapnya membalas pelukan Salsa.
"Apa kamu perlu refrensi dariku?" Bisik Dimas di kuping pengantin pria.
"Tidak perlu aku bisa sendiri." Balas Endra .
"Hei kamu belum pengalaman." Goda Dimas lagi.
"Walau tak berpengalaman tapi aku sudah menonton di laptopku." Balas Endra juga berbisik tapi sayangnya masih terdengar.
Pingka mengerti arah pembicaraan langsung melihat tajam pada Endra
"Jadi kamu sering nonton film seperti itu? Dengan siapa kamu mempraktekannya selama ini?" Nada suaranya pelan namun mengancam.
"Jangan salah faham sayang, aku menontonnya baru beberapa hari ini dan akan aku praktekkan bersamamu, janji akan ku hapus." Ucap Endra polos dan mengundang tawa teman-temannya.
Pingka merona malu ternyata pria ini putus urat malu pikirnya. Saling bercanda tanpa terasa tamu hampir semua pulang.
__ADS_1
"Istirahatlah, nanti malam resepsi kalian." Fajar menghampiri Endra dan Pingka.
Keduanya mengangguk lalu naik ke lantai atas. Tapi disini, seperti ada yang lupa jika mereka sudah menikah. Endra bukannya mengikuti Pingka, ia bahkan melenggang masuk ke kamar tamu. Hal ini membuat semua orang tertawa belum sehari menjadi suami sudah membuat Endra pikun.