
Tanpa terasa tiga bulan sudah pendekatan Endra pada wanita pujaan hatinya. Tiap hari ada saja yang ia lakukan untuk mendekati Pingka. Keadaan perusahaan cabang sudah kembali normal sebentar lagi ia akan pindah kembali ke perusahaan induk, target Endra sebelum kepulangannya ke sana ia sudah memboyong Pingka sebagai istrinya.
Tiga bulan berlalu belum ada tanda - tanda wanita itu menunjukan jika membalas perasaannya, hal ini sangat membuat Endra dirundung keresahan.
Seperti biasa tiap akhir bulan Pingka mengajak karyawannya berlibur, kali ini ia memilih danau tempatnya melepas penat, Pingka ingin sekali memancing di sana. Duduk didepan tenda dan membakar ikan di pinggir Danau. Sederhana sekali rencana untuk memanjakan dirinya. Sore hari kemarin Pingka sudah meninggalkan apartemennya.
...----------------...
Endra beberapa kali mengetuk pintu tapi tak ada yang membukanya dari dalam.
"Buka saja, Pak. Mungkin, istrinya sedang pergi." Ucap tetangga yang kebetulan juga ingin masuk disebelahnya.
"I-iya, Bu. Saya buka sendiri." Endra terkejut dan terbata.
Pria itu mengambil ponsel dari saku celananya untuk menelpon Pingka. Tapi sudah beberapa kali tidak dijawab. "Kemana anak itu?" Endra memijat pelipisnya. Tak ingin membuang waktu lama. Ia bergegas turun ke bawah karena Dami sudah mengunggu nya.
Endra mencoba kembali menelpon tapi hasilnya tetap sama. Kecewa itu pasti dirasakannya, biasanya setiap pagi ritual pertama Endra adalah mengganggu mantan istrinya terlebih dulu. Tapi kegiatan rutin itu hari ini terlewati begitu saja.
"Ada apa, Pak ? Sepertinya Bapak gelisah." Dami langsung bertanya karena melihat gelagat gelisah Endra sejak tadi.
"Pingka tidak pulang dari kemarin !" Endra mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa tidak di hubungi Pak Fajar? dia pasti tahu keberadaan Adiknya." Dami memberi solusi.
"Kamu benar, kenapa tidak terpikir olehku ?" Endra tersenyum senang.
Dua bulan lalu hubungan Fajar dan Endra kembali membaik, ia dapat melihat kesungguhan mantan suami Adiknya itu dalam berusaha mendapatkan cinta Pingka kembali.
"Hallo"
"Pingka hilang !" Kata Endra.
"Dia tidak hilang, Adikku berlibur. Akan aku kirim lokasinya dan Vidio sedang apa dia saat ini."
Endra memutuskan telpon, ia diam sejenak.
Tunggu kejutan dariku sayang.
Pria ini tersenyum tipis.
Setelah mendapatkan Videonya, Endra mengetuk- ngetuk jarinya di kaca mobil. Ia berfikir akan membalas Pingka.
"Dam, antar saya susul dia, batalkan jadwal saya dua hari ke depan dan persiapkan segala keperluan untuk pergi ke sana. Beraninya dia pergi tanpa saya." Suara baritone itu terdengar kecewa. Mereka memutar arah kembali ke Apartemen karena perlengkapannya ada di sana.
__ADS_1
...----------------...
Di pinggiran kota, satu jam perjalanan menuju sebuah danau besar di Pedesaan wisata tempat orang - orang melepas penat. Pingka duduk menggunakan kaca mata hitam dan topi lebar dengan lincahnya memainkan pancing di sana. Kali ini ia berangkat di temani Arif dan beberapa karyawannya, karena Ferdi sangat sibuk jadi tidak ikut saat ini. Mereka memilih mendirikan tenda di pinggir danau.
Saking menikmati tarikan ikan yang mematuk umpan di dalam air sana, tanpa terasa hari sudah menggelap. Mega - mega senja sudah memperlihat dirinya di atas sana.
"Pingka ayo kembali ke tenda." Ajak Arif menarik pancingnya.
"Ayo, jangan lupa ikannya dibersihkan. Aku ingin membakarnya nanti malam, pasti enak." Pingka begitu antusias.
"Baiklah." Arif membawa seluruh peralatan.
Usai membersihkan ikan, teman - teman yang lain mulai membuatkan tempat membakar. Ada pula yang kembali ke penginapan tak jauh dari sana untuk memasak nasi. Mereka sengaja menyewa satu kamar untuk mandi dan memasak nasi. Bisa saja mereka membeli makanan di sana, tapi Pingka memang ingin merasakan benar - benar berpetualang.
Kenangan itulah nanti yang diingatnya ketika usia sudah berlanjut, bahkan impian kecil Pingka ingin menghabiskan masa tuanya. Di sebuah Desa yang bisa membuatnya nyaman dan tenang.
Mereka mengistirahatkan tubuh di dalam tenda masing - masing, di sana tenda Pingka paling besar muat dua orang karena ia terbiasa menggunakan yang besar.
...----------------...
Delapan jam tertidur Pingka mulai menggeliat manja sesekali menguap kecil tapi belum berniat membuka matanya .
Kenapa seperti ada yang memperhatikanku
Pingka membuka matanya perlahan. Samar - samar nampak wajah seseorang yang dikenalnya berada di sisinya. Sekali lagi Pingka mengerjabkan matanya dan memperjelas penglihatannya, kali ini sangat jelas seorang pria bertopang dagu posisi tengkurap di sisinya sedang memandangnya dengan senyuman yang menawan.
"Selamat pagi, sayang." Sapa Endra masih betah pada posisinya.
"Kenapa kamu ada disini?" Pingka menarik selimut sampai di lehernya.
"Menyusul mu, kamu jahat pergi kesini tidak mengajakku." Kata Endra dengan wajah manjanya.
"Sejak kapan kamu disini?" Pingka menggeser tubuhnya, tapi Endra tak mau kalah, ia malah menarik tubuh Pingka dalam pelukannya.
"Sejak tadi malam saat kamu tertidur." Endra mengeratkan pelukannya.
"Lepaskan ! Aku susah bernafas." Pingka berusaha melepaskan pelukan Endra.
"Biarkan dulu seperti ini aku merindukanmu." Endra menaruh wajahnya di ceruk leher Pingka.
"Jangan seperti ini bisa menyebabkan kesalahpahaman nanti." Pingka merasa risih.
"Tidak perlu takut mereka semua sudah pergi ke danau dan aku kesini atas ijin Kakakmu serta polisi jelek itu." Endra masih menghirup aroma tubuh Pingka yang mulai menjadi candu untuknya.
__ADS_1
"Ke danau? Sudah lama aku tidak berenang." Pingka langsung duduk dan keluar dari tenda .
Endra berdecak kesal ditinggal sendiri di dalam kemah, setelah bergumam-gumam tidak jelas akhirnya pria itu menyusul ke pinggir danau.
"Sayang, kamu yakin berenang disini?" Endra meragu.
"Yakin ! Jangan memanggilku begitu. Risih kupingku mendengarnya." Pingka melepas sandalnya.
"Kalau begitu akan aku panggil Jibi ku."
Tubuh Pingka membeku sejenak lalu menatap kedepannya dengan pikiran kosong. Ingatannya kembali tentang pria berusia dua belas tahun yang nyaris tenggelam di dasar sungai karena tidak bisa berenang seketika muncul, pria itu sering memanggilnya Jibi.
"Aku ingin berenang." Pingka bisa menguasai dirinya atas perasaan bergejolaknya.
Endra mengangguk lalu tersenyum. Sepertinya, ia punya senjata baru meluluhkan hati Pingka.
...----------------...
Usai mandi mereka membersihkan tubuh di kamar yang telah disewa. Hari ini Endra membeli makanan dari luar untuk mereka.
Selesai makan mereka melanjutkan memancing. Arif sengaja mengajak temannya yang lain sedikit menjauh dari Endra dan Pingka, ia sengaja memberi ruang untuk pria itu agar bisa menghabiskan waktu bersama Pingka.
"Kenapa kamu bisa memanggilku, Jibi ?" Pingka ingin tahu langsung dari Endra.
"Itu panggilan pria berusia 12 tahun yang kamu selamatkan dari maut saat itu, dia menyukai namamu karena bingung ingin memanggilmu dengan nama yang mana. Akhirnya anak laki - laki itu membuat panggilan khusus dirinya padamu. Jibi yang artinya Jingga Biru karena bocah laki - laki itu menyukai warna Jingga dan Biru sejak itu aku terbiasa memanggilmu Jibi, maafkan aku yang telah melupakan wajahmu karena terakhir kita bertemu saat aku dan keluarga berkunjung ke Desa." Endra membuka cerita lama.
"Kamu mengingat semuanya." Pingka tersenyum.
"Aku mengingatnya dan maafkan keterlambatan ku mengetahui jika Pingka Jingga Biru yang pernah jadi istriku itu adalah, orang yang sama dengan Pingka Jingga Biru jadi dewi penyelamatku. Maaf atas kebodohan ku." Endra tersenyum pahit mengingat kebodohannya.
"Semua sudah berlalu untuk apa mengingatnya lagi." Pingka memasang topinya karena hari mulai panas.
"Sampai di kota belajarlah berenang agar kamu bisa menolong dirimu sendiri ! Bukankah ? Itu pesan yang kamu ucapkan di terakhir pertemuan kita?" Endra melihat pada Pingka.
"Apa aku pernah berkata seperti itu? Aku sudah lupa." Pingka melemparkan kembali pancingannya ke tengah danau.
"Kenapa kamu tidak memberitahu aku jika kamu orang yang sama?" Endra membalas dengan pertanyaan.
"Aku bukan tipe orang yang mengharuskan orang lain mengingatku." Pingka berhasil mendapatkan satu ekor ikan
Endra kembali melihat pada Pingka. Lalu menghembuskan nafasnya.
"Aku minta maaf atas semuanya yang sudah terjadi. Maukah? kamu membuka lembaran baru bersamaku. Menikahlah denganku sekali lagi Jibi. Semua ini murni karena aku mencintaimu bukan karena faktor lain." Endra mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
Pingka masih diam tapi tetap menyimak perkataan Endra. Sebenarnya ia sudah berdebar sejak tadi, tapi ia berusaha mengatasi dengan mengalihkan perhatiannya pada pancingan.
Pingka masih berpikir. Haruskah ia menerima Endra kembali ?