
Mata Pingka membulat saat merasakan benda tajam menusuk kulitnya, tatapannya berubah sayu dan buram melihat pada dua pria di hadapannya tersenyum puas. Tubuh Pingka ambruk di tanah setelah pisau lipat ditarik dari dada kirinya.
"PINGKA."
Mendengar nama Pingka dipanggil dua pria bertopeng itu segera pergi dari sana. Seorang laki-laki berlari dengan cepat dan merengkuh tubuh Pingka. Dia adalah Dimas mengangkat tubuh Pingka dari atas pasir dengan segala kepanikannya saat melihat darah segar mengalir dari dada wanita itu.
Pingka bisa melihat wajah panik Dimas walau pandangannya buram dan menggelap. Dimas melihat dua pria yang berlari memasuki mobil hitam yang tak jauh dari mereka .
"Pingka ayo bangun ! Buka matamu." Kata Dimas dengan suara dan tubuh gemetar. Pingka tak mampu menjawab, pasokan oksigennya mulai berkurang. " Pingka, aku mohon buka mata mu. Ayo buka matamu, bertahanlah kita ke rumah sakit." Dimas menepuk pelan pipi Pingka. Ia segera menggendong tubuh lemah itu masuk ke dalam taksi yang ditumpangi Pingka.
Dimas membawa mobil dengan kecepatan penuh tanpa peduli makian orang disekelilingnya, darah yang semakin keluar membuatnya ketakutan. Dia tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi terfokus pada jalanan agar sampai di rumah sakit.
...----------------...
Kilas Balik....
Dimas pergi ke kantor Endra untuk memenuhi janji mereka yang akan pergi ke lokasi proyek, di depan ruangan CEO. Ia membuka pintu perlahan karena Dimas yakin Pingka pasti ada di dalam. Sebab, dia melewati meja sekretaris itu kosong. Dimas tak sengaja mendengar percakapan Pingka dan Endra. Darah Dimas mendidih setelah mengetahui semuanya, dia mengurungkan niat untuk bertemu lalu kembali kebawah.
Di dalam mobil Dimas berusaha meredam amarahnya sampai asistennya dibuat bingung olehnya. Merasa tenang Dimas kembali keluar dari mobil menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Tak lama tiba taksi di depan kantor, Dimas menghampirinya dan bertanya. Sopir taksi itu mengatakan jika taksinya dipesan oleh Pingka.
Dimas mengadakan kesepakatan sampai pada akhirnya sopir itu setuju diantar ke kantornya oleh asistennya dan taksinya di sewa Dimas.
Kilas Balik Selesai...
...----------------...
Pria ini bolak balik di depan ruang IGD dengan segala kecemasan nya, tanpa henti dia memaki dirinya karena tak mencurigai mobil hitam yang mengikuti mereka. Dimas melihat baju dan kedua telapak tangannya masih melekat darah Pingka.
Pintu ruangan terbuka.
"Keluarga Nona Pingka." Panggil perawat.
"Saya keluarganya, bagaimana keadaan nya ?" Tanya Dimas dengan mata berkaca-kaca.
"Pasien cukup banyak kehilangan darah Pak, bersiaplah karena bank darah kami hanya sedikit menyimpan golongan A-"
"Baiklah saya akan usahakan mencari golongan darah yang sama."
__ADS_1
Ya Tuhan cukupkanlah stock darah di rumah sakit ini
Dimas masih berpikir mencari pendonor, ia teringat dengan taksi yang disewa nya. Pria itu segera menghubungi asistennya untuk mengantar mobil dan mengembalikan taksi itu. Lalu memerintahkan pada asistennya untuk membuat pengumuman di kantor nya mencari pendonor darah A-. Dimas masih berdiri bolak balik di depan pintu IGD dengan kegelisahan semakin mengungkungnya.
"Keluarga Nona Pingka."
"Saya keluarganya, bagaimana keadaan Pingka?" Tanya Dimas menghampiri perawat cantik itu.
"Silahkan masuk, Dokter akan bicara pada anda."
Dimas mengangguk lalu masuk kedalam. Matanya menangkap sosok tak asing yang duduk di balik meja memakai jas kedokteran.
"Reno."
" Dimas, ayo silahkan duduk lama tak bertemu, apa dia istrimu?" Canda Dokter Reno.
"Dia mantan istri Endra mereka baru bercerai hari ini, bagaimana keadaan nya? " Tanya Dimas dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Dia cukup banyak kehilangan darah, lukanya tidak terlalu dalam. Sepertinya pisau yang digunakan menusuk nya tidak panjang. Jadi, tidak sampai kedalam dan luka sobek di permukaan kulit nya hanya perlu empat jahitan" Jelas Dokter Reno.
"Syukurlah, tapi tadi perawat meminta ku untuk menyiapkan darah." Balas Dimas.
"Belum, aku tidak tahu dimana keluarganya." Dimas menatap sendu wanita yang terbaring lemah di ranjang IGD itu.
"Kalau begitu biar aku yang menghubungi keluarganya, aku masih menyimpan nomor Kakak laki-lakinya." Kata Dokter Reno dengan senyum manisnya.
"Kamu mengenalnya?"
" Ya, ini kali keduanya dia jadi pasienku."
Dimas menghampiri Pingka yang masih belum sadar. Ia menatap setiap sudut wajah wanita yang terbaring dengan bibir pucat seperti kapas ini. "Reno aku titipkan padamu dulu Pingka, aku akan pergi sebentar." Ucapnya dengan raut wajah memerah menahan air mata.
Dokter Reno mengangguk.
"Baiklah, sebentar lagi dia akan dipindahkan keruang inap dan kakak nya juga akan datang."
...----------------...
Dimas memencet bel, beberapa menit kemudian pintu dibuka oleh ibu Erly sendiri. Matanya terfokus pada darah di baju Dimas yang sudah mengering.
__ADS_1
"Dimas kamu berdarah, Nak. Ada apa? Ayo masuk katakan yang mana sakit atau terluka !" Pekik Ibu Erly bertanya dengan wajah penuh kecemasan.
Dimas menyentuh punggung tangan ibu Erly dan berkata. "Bibi aku baik-baik saja, ini bukan darahku tapi darah Pingka. Dia ditusuk orang."
Bibi Erly terhuyung karena kaget, sudut matanya langsung mengeluarkan butiran bening dan membasahi pipinya. "Ba—bagaimana keadaannya, dimana Endra?" Tanyanya terbata dan suara bergetar.
Dimas menatap heran pada ibu Erly.
"Jadi Bibi belum tahu? Endra sudah menceraikan Pingka tadi pagi. Di mana dia aku tidak tahu, Bi." Jawabnya jujur
Ibu Erly luruh di lantai, tangisnya pecah di depan pintu. Melan yang baru tiba dari luar mendapati ibu nya menangis histeris di lantai.
"Apa yang terjadi?" Tanya Melan memeluk ibunya untuk memberikan sentuhan yang menenangkan.
"Dimana kamar Pingka? Aku kesini untuk mengambil barang-barangnya." Dimas menjelaskan tujuannya.
"Kakak ipar tidak tinggal di sini, dia tinggal bersama Kak Endra." Jawab Melan masih dalam kebingungan. Dimas pergi langsung menuju ke rumah Endra
...----------------...
Tanpa permisi Dimas langsung menerobos masuk dan ke kamar Endra, tapi ia tak mendapati barang Pingka di sana. Dimas membuka kamar yang lain di lihatnya barang Pingka tersusun rapi di sana, Ia tersenyum masam.
"Ternyata Endra memang tak ingin kamu menjadi istrinya." Dimas membereskan barang-barang Pingka tanpa menjawab pertanyaan Bi Weni.
Sementara di kediaman Erly Saguna , Setelah merasa tenang Ibu Erly menceritakan semuanya pada Melan kini giliran gadis itu yang menangis.
"Ayo, Bu ! Kita ke rumah sakit menemui kakak ipar." Ajak Melan masih terisak.
Ibu Erly menggeleng lemah.
"Ibu tidak punya keberanian menemui Pingka, Ibu malu ! Ini salah Ibu, jika tidak memaksa mereka menikah, Pingka mungkin tidak mengalami ketidak adilan ini." Ibu Erly terisak kembali.
...----------------...
Pingka dipindahkan keruang inap, matanya masih betah terpejam. Mungkin ia hanya ingin tidur sebentar melepas segala lelah selama ini. Biarkan dia terpejam sesaat, berikan ruang dan waktu untuk mencari ketenangan jiwanya.
Dimas menatap sedih pada wanita yang sudah memporak - porandakan isi hati nya itu, wanita yang berhasil membuatnya menangis ketakutan. Wanita yang mengubahnya jadi pembalap seketika dan wanita yang membuat nafas dan jantungnya berhenti saat tubuh wanita itu ambruk di tanah.
"Istirahatlah cari ketenangan dalam mimpi mu." Gumam Dimas mengusap punggung tangan Pingka.
__ADS_1
Ia juga sudah meminta pada Asistennya untuk mencari pelaku penusukkan pada Pingka melalu CCTV tiap lampu merah yang dilewati mereka. Dimas yakin mobil itu sudah mengikuti mereka sejak keluar dari halaman kantor Endra.