Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Tak ingin melihat mu


__ADS_3

Mentari pagi memberikan cahayanya pada sisi gelap di bumi, mampukah cahayanya menembus, menyibak tirai gelap pada hati gadis cantik di atas dipan kayu ini? Seutas harapan kian nyata dinantinya. Tapi tidak ada harapan tersimpan di sana, kembali layar hati itu tertutup tirai hitam berselimut sedih.


Suara ayam jantan milik Tuan rumah sudah berkokok pertanda hari sudah pagi. Warna baru, hari baru, dimulai di rumah ini. Rumah tempat tinggal para asisten rumah tangga.


Pingka bangun pagi sekali, para pelayan di sana mengira dia adalah putri Bi Weni. Usai membersihkan diri, dia memakan sarapan yang dibawa oleh Bi Weni.


"Dimana jalan samping, Bi ? Maaf tidak bisa membantu Bibi." Pingka bersuara sambil membereskan meja makan .


"Di sana, Nak. Kamu juga bisa memanggil taksi online atau jalan kaki menuju halte bus, tidak apa-apa kamu fokuslah bekerja" Ujar Bi Weni mengarahkan jalan.


Pingka mengangguk dan pamit pergi kekantor.


...----------------...


Tiga puluh menit kemudian Endra dan Sandi juga tiba di kantor.


Pingka berdiri  lalu membungkuk. "Selamat pagi, Pak." Ucapnya menyapa.


Tapi tidak pernah dibalas oleh Endra sama sekali, Gadis itu mengetuk pintu ruangan Endra setelah beberapa menit berlalu.


"Masuk ?"


"Saya akan membacakan jadwal Bapak." Ujar Pingka sopan memegang iPad di tangannya.


"Tidak perlu ! Berkemaslah, hari ini kamu saya turunkan jadi karyawan biasa. Saya akan menggantikan mu dengan sekretaris baru." Ucap Endra dingin tanpa mengalihkan pandangan.


"Salah saya apa, Pak ?"  Pingka  bertanya dengan keputusan tiba-tiba itu.


"Anggap saja hadiah pernikahan ! Saya tidak butuh sekretaris tidak berpendidikan, dan saya tidak suka mendengar suara serta melihat wajah kamu mengawali hari saya bekerja." Balas Endra menatap penuh kebencian.


Pingka menunduk dan berusaha menahan air mata yang sudah menganak sungai. "Baiklah, saya terima keputusan Bapak permisi !" Wanita itu meninggalkan ruangan Endra. Ia mengemas peralatan nya dan pergi keruangan Sandi. "Saya ditempatkan dimana?" Tanya Pingka datar


"Di Bagian pemasaran, maaf... Saya tidak bisa membantumu Pingka." Ujar Sandi menyesal


"Terimakasih, Pak. Anda sudah melakukan yang terbaik permisi." Pingka meninggalkan ruangan Sandi.


Sandi melihat punggung gadis itu lekat sampai menghilang didalam lift.


Biarkan penyesalan menghukum nya Pingka, bukan salah mu dan bukan mau mu menciptakan suasana seperti ini. Kalian hanya mengikuti perintah. Tapi dia tak menyadarinya dan kamu lah yang menanggung kesalahan ini.


Pingka turun kelantai tempat nya bekerja, di sana ada Ravita yang menatapnya heran. Begitu juga dengan karyawan yang lain nya.

__ADS_1


"Kamu dipindahkan ke sini ?" Ravita bertanya lalu menyentuh pundak Pingka


"Iya." Gadis itu mengangguk dan menaruh barangnya di atas meja.


"Selamat bergabung Pingka." ucap Rangga yang satu ruangan dengan nya .


Pingka menoleh "Terimakasih, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Ia Membalas dengan nada datar.


Ravita enggan bertanya karena dia takut menyinggung perasaan teman nya itu. Pingka mulai bekerja dan sekretaris pengganti nya adalah Sandi yang merangkap jadi asisten.


"Sudah dibuang rupa nya sekretaris bos kita." Dinda tersenyum sinis.


"Berhenti mengurus urusan orang lain." Rangga membalas perkataan Dinda. Tak terima Gadis itu kembali keruangan nya dengan kesal.


Pingka sudah menyelesaikan pekerjaan mereka dan melihat layar ponselnya, tidak ada telpon atau pesan, dia memasukan kembali ponselnya.


"Ayo makan siang." Ajak Ravita sambil merapikan mejanya.


"Ayo." Pingka meraih tas nya .


"Tunggu, aku ikut ! Ingin  makan siang digandeng bidadari - bidadari cantik." Rangga terburu- buru merapikan meja.


Ravita hanya geleng - geleng kepalanya. Pingka menatap kosong di depan nya, masih teringat dengan pernikahan yang baru saja dilaksanakan hari kemarin. Pernikahan yang sangat terpaksa itu hari ini dapat hadiah tanpa diduga dari suami sekaligus atasannya itu.


Pingka mengangguk, mereka akhirnya sampai di kafe depan kantor, Rangga memesankan makanan untuk mereka. Lagi, Pingka hanya melamun.


"Apa ada masalah?" Ravita menaruh ponsel dimeja.


"Tidak ada, Vit. Aku hanya mengantuk." Pingka memaksakan senyum. Sambil menunggu makanan mereka sambil bercerita.


"Pingka, apa rambut mu asli?" Rangga meneliti rambut Pingka.


"Tidak, ini Wig, rambut asliku panjang." Pingka menjawab lalu melipat kedua tangannya.


"Wah, aku kira rambut pendek mu ini asli " Ungkap Ravita dengan ekspresi kaget.


"Kamu tidak bisa membedakan yang asli dan palsu ?" Rangga tersenyum meremehkan


"Tidak begitu, hanya saja. Aku memang tidak memperhatikan nya."


Makanan mereka datang tidak sampai satu jam makanan itu habis tanpa tersisa.

__ADS_1


Pingka, Ravita dan Rangga kembali ke kantor. Sampai di depan ruangan, Rangga begitu penasaran tiba - tiba menarik rambut Pingka. Secepat kilat tangan nya diplintir oleh wanita itu, rambut panjang Pingka tergerai indah dan bertepatan dengan, Endra, Sandi dan Dimas masuk ke kantor setelah makan siang bersama. Mata mereka terkesima tanpa berkedip melihat ciptaan Tuhan yang satu ini.


"AAA !!" Jerit Rangga kesakitan.


"Jangan pernah menyentuh ku seujung kuku pun, tanpa ijin dari ku !" Ucap Pingka menatap tajam dan dingin pada Rangga.


"Ma—maafkan aku  Pingka, janji tidak aku ulangi lagi, lepaskan tangan ku. Sakit."  Rangga terbata dan meringis kesakitan.


Pingka melepaskan tangan Rangga dan mengambil karet rambut di sakunya, lalu mengikat rambut tebal dan hitam nya menjadi satu. Nampak sekali leher jenjangnya yang putih bersih.


"Wah, indah nya." Dimas tanpa berkedip menatap kagum.


Endra menatap dingin pada Pingka


"Ikut keruangan saya." Titahnya meninggalkan tempat itu.


Dimas dan Sandi juga baru sadar dari kekaguman nya lalu mengekor Endra. Laki-laki arogan ini duduk di kursi kebesarannya dengan tatapan tajam dan dingin, sementara Dimas dan Sandi duduk di sofa.


Dimas memperhatikan raut wajah Endra yang terlihat begitu kesal. "Kenapa dengan wajahmu ? Terlihat sangat kesal sekali." Tanya nya sambil menyeruput kopi buatan Sandi.


Endra tidak menjawab dan juga tidak menoleh pada Dimas. Terdengar suara  pintu diketuk dari luar. "Masuk !" Titahnya pendek.


Pingka masuk dengan perlahan. "Permisi" Ucapnya melangkah berdiri di depan meja Endra.


Dimas tak berkedip saat Pingka masuk kedalam ruangan, wajahnya yang cantik membuat laki-laki itu terpesona, Pingka tambah cantik setelah tidak menggunakan wig. Dari sudut matanya, Endra mengawasi sikap Dimas.


"Kamu ingin menjadi jagoan ?! Kamu ingin membuat kekacauan di kantor saya ! Apa ini merupakan sikap protes mu? Karena diturunkan jadi karyawan biasa. Hah !" Suara Endra sedikit meninggi.


"Maaf, Pak. Bukan begitu maksudnya, saya hanya membela diri saat dia menarik wig saya." Pingka menjawab tanpa memandang lawan bicaranya


"Lihat saya jika berbicara ! Saya tidak mau jika hal ini terjadi lagi, kamu hampir saja melukai karyawan saya. Tempatkan dimana dirimu seharusnya ! Kenapa kamu bekerja menggunakan wig ? Ah, atau kamu menyembunyikan rambutmu yang kotor itu dibalik wig  !" Endra  melihat dingin dan sinis pada rambut panjang diikat satu itu.


Pingka mengangkat kepala membalas tatapan Endra. "Baik, Pak. Saya akan menempatkan diri saya dimana seharusnya, karena saya cukup tahu diri !" 


Mata ini lagi


"Keluar ! Saya muak melihat wajah mu yang sok polos itu !" Endra membuang wajah nya.


"Permisi !" Pingka keluar dari sana  dengan rasa sakit dan malu yang mencengkram kuat di hati nya, Endra memarahi nya dihadapan tamu dan asistennya.


...----------------...

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca jangan lupa dukungannya terimakasih 🥰


__ADS_2