Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Signal Cinta Dokter Reno


__ADS_3

Setelah makan siang waktu itu, Dokter Reno semakin dekat pada Arin. Hampir tiap hari Arin menghadapi sikap aneh Dokter Reno. Walau begitu, ia senang direcoki Dokter tampan itu. Sedikit demi sedikit mereka berdua sudah bisa melupakan sepasang pengkhianat yang mempermainkan mereka.


Arin tengah fokus membaca data pasien yang akan melakukan operasi hari ini, ia dikejutkan dengan sosok pria yang bersandar di dinding tersenyum manis padanya.


"Selamat pagi." Dokter Reno melangkah mendekat.


"Selamat pagi Dokter Reno." Jawab Arin tersenyum.


"Apa jadwal mu padat ?" Dokter Reno duduk disalah satu kursi depan meja.


"Ada operasi tiga orang."


"Semangat ! Ini minumlah" Dokter Reno meletakkan minuman botol itu di atas meja.


"Terimakasih."


"Aku keluar dulu, selamat bekerja calon istri." Dokter Reno meninggalkan ruangan Arin.


Dokter cantik itu berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak lebih cepat. Sebenarnya ia terbiasa dengan perilaku Dokter Reno. Tapi entahlah mendengar kalimat aneh dari mulut pria itu membuatnya berdebar-debar.


Siapa yang mengira Dokter Reno telah menjauh dan meninggalkan ruangan Arin, saat ini ia sedang menikmati rona merah di wajah Arin disela pintu. Dokter Reno mengintip sambil tersenyum.


"Menggemaskan." Ujarnya bergumam pelan.


Perawat dan dokter yang berpapasan dengannya hanya tersenyum dan menggeleng kepala melihat tingkah direktur rumah sakit yang kocak itu. Jarang-jarang pikir mereka ada manusia seperti Dokter Reno.


Ia melangkah dengan riang kedalam ruangannya sambil tersenyum dan bahagia.


"Kenapa Kakak tersenyum begitu?"


"Melan ! Kamu mengejutkan kakak saja."


"Kakak dari mana?"


"Habis menemui calon Kakak ipar mu." Jawab Dokter Reno tersenyum.


"Terserah Kakak saja, malam ini makan malam di tempat Kak Dimas mereka menghubungi Kakak tapi tidak bisa."

__ADS_1


"Siap, Kakak pasti datang bersama calon kakak ipar mu." Balas Dokter Reno.


"Baiklah, aku keluar dulu sebentar lagi Kak Arin operasi. Aku harus menunggu di ruang anak." Balas Melan meninggalkan ruangan Dokter Reno.


Pria itu mengangguk dengan senyum selalu mengembang. Sangat berbeda saat dulu. Ia kalah dengan gombalan Vina. Tapi sekarang ia yang sering menggombal pada Arin dan Dokter cantik itu hanya tersenyum manis menanggapinya, Itulah yang membuat Dokter Reno bersemangat mengganggunya.


...----------------...


Kediaman Dimas...


Endra dan yang lain nya sudah datang di kediaman Dimas, sambil menunggu yang lainnya tiba mereka berbincang sejenak.


"Bagaimana kandungan mu ? Empat bulan tapi sudah terlihat. Apa sudah berasa cegukan disini." Salsa mengusap perut Pingka.


"Iya ada. Aku merasa kasihan saat mereka kadang cegukan di dalam sini."


Para pria hanya mendengarkan perbincangan istri-istri mereka sambil tersenyum dan menatap penuh cinta.


"Sebentar lagi kamu akan merasakan sikut dan tendangan mereka." Ujar Salsa antusias.


"Benarkah?"


"Bulan depan."


"Baiklah kita akan ke sana bersama-sama. Pernikahan mereka diadakan dimana?" Tanya Salsa.


"Dikampung , aku juga merindukan kampung."


Salsa mengangguk mengiyakan. Tak lama datanglah tamu terhormat yang mereka tunggu.


"Kalian menungguku?" Dokter Reno tersenyum menyebalkan.


"Kenapa kamu lama sekali ! Bayiku sudah kelaparan saat ini." Gerutu Endra.


Dokter Reno duduk di sofa sebelah Pingka di ikuti Arin disisinya.


"Bagaimana kabar bayi kembar kita?" Tanya dokter Reno .

__ADS_1


"Hei itu bayiku ! Sekarang kamu menikahlah dengan Arin. Buat anak kembar tiga atau empat." Balas Endra kesal.


Dokter Reno terbahak. "Kamu pikir dia kucing, bisa memiliki anak sampai lima. Bagaimana calon istri, kamu mau menikah denganku?" Dokter Reno berpindah posisi menghadap Arin. Dokter cantik itu hanya tersenyum dan salah tingkah.


"Kenapa kamu tidak romantis sekali melamarnya ?! Arin jangan mau menikahinya kalau melamar mu seperti ini. Jika tidak dalam keadaan hamil sudah kupatahkan batang lehermu!" Kata Pingka menggebu.


Hormon ibu hamil itu sedang bermain. Matanya galak menatap Dokter Reno sampai pria itu gelagapan.


"Pingka dukunglah aku, jangan marah lagi ya kasian bayi kita kalau Ibunya marah-marah." Dokter Reno mencoba merayu.


"Berhenti menyebutnya bayimu !" Seru Endra


Dokter Reno tak menggubrisnya. "Jangan marah lagi ya... Dukunglah aku dengan sahabatmu itu."


Endra dan Dimas tersenyum senang melihat Dokter Reno. Siapa lagi yang bisa menindas nya selain Pingka.


Salsa datang memberitahu mereka jika makan malam sudah siap. Makan malam mereka selalu berwarna dengan pertengkaran Kecil Dokter Reno dan Endra. Serta keusilan dokter Reno pada Dimas dan para istri mereka tak ketinggalan perhatian lebihnya pada Arin.


Dokter Reno sudah memberikan sinyal cinta nya pada Arin. Usai makan malam mereka berbincang secara terpisah. Para suami mengobrol di ruang tengah, lalu para istri mengobrol di balkon kamar Salsa.


"Arin bagaimana tanggapan mu pada Dokter Reno?" Tanya Pingka.


Arin hanya diam merasa malu.


"Jangan malu, Kak ! Kita saling terbuka itulah yang kami jalani selama ini." Sambung Melan.


"Dia baik, lucu  perhatian dan pengertian." Jawab Arin tersenyum .


"Apa kamu bisa melihat cara dia memperlakukanmu? Dia menyukaimu Arin." Ucap Salsa.


"Entahlah aku tidak mengerti. Aku hanya takut jika sikap nya itu juga sama terhadap wanita lain." Balas Arin.


"Tidak, dia hanya seperti itu dengan orang dekat dengannya saja dan memiliki tempat di hatinya." Tutur Pingka.


"Arin ! Jika dia benar menyukaimu, Cobalah buka hati mu juga untuknya. Beberapa bulan ini, aku melihat dia selalu menempeli mu." Ucap Salsa.


"Kalian benar, Melan juga tahu apa yang tiap hari dilakukannya di rumah sakit." Arin tersenyum.

__ADS_1


Akhir nya mereka larut dalam perbincangan tentang pasangan masing-masing. Tanpa mereka tahu jika para pria menguping di balik pintu.


__ADS_2