Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Satu Hari Bersama Reno


__ADS_3

Bekerja selama dua minggu tak membuat Endra lupa untuk pergi bulan madu. Mereka akan pergi ke Negara X dan menghabiskan waktu di sana selama dua Minggu. Selesai bersiap, Endra dan Pingka menunggu Dami menjemput.


Baru menuruni anak tangga kedua dari lantai atas, Endra dibuat kesal karena sesosok pria dengan percaya dirinya duduk di ruang keluarga. Di sampingnya terlihat satu buah koper besar berwarna hitam.


"Mau kemana kamu ? Membawa koper sepagi ini." Endra melangkah menuju sofa sebelahnya.


"Bulan madu."


"Bersama siapa ? Bukannya, kamu belum menikah?" Endra tiba-tiba polos.


"Bersama kalian !"


"Apa ?! Tidak, jangan ikut kami. Naik penerbangan lain." Tolak Endra.


"Terlambat, aku sudah membeli tiket penerbangan dengan tanggal dan jam yang sama denganmu." Dokter tampan itu tersenyum penuh kemenangan.


Endra melotot dengan wajah kesalnya.


Bulan madu seperti ingin kunjungan keluarga saja


"Sampai di sana jangan menggangguku, cari hotel yang berbeda." Endra menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Tenang, aku akan bertetangga dengan Dami." Dokter Reno melihat kearah Dami yang baru masuk.


"Itu sama saja kamu satu hotel denganku !" Balas Endra setengah  berteriak.


Dokter Reno tak menggubris ucapan pria itu, ia berdiri lalu menggeret kopernya berpamitan pada Ibu Erly. Walau dongkol tapi Endra tetap saja mengekor Dami dan Reno.


"Kenapa wajahmu di tekuk begitu?" Pingka mengamati wajah suaminya.


"Dia akan mengganggu kita, sayang." Keluh Endra.


"Mungkin, dia punya tujuan lain di sana. Semakin banyak orang maka akan ramai."


Endra menoleh pada Pingka.


Apa kamu tidak tahu? Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu. Jika ada manusia aneh itu dia pasti mengganggu .


"Jadi berangkat?" Pingka meniup bulu mata Endra yang tak berkedip.

__ADS_1


Pria itu terkejut. "I—iya sayang jangan menggodaku." Ucapnya terbata karena berdebar.


...----------------...


Setelah terbang berapa jam lamanya mereka mendarat di Kota X dan menuju ke hotel yang sudah mereka pesan. Merasa lelah mereka langsung memutuskan untuk beristirahat dan makan malam di kamar, begitu juga Dami dan Dokter Reno.


Usai mengistirahatkan tubuhnya. Endra dan yang lainnya bersiap mengatur rencana untuk pergi kemana saja menghabiskan waktu libur.


"Apa rencana mu hari ini ?" Endra bertanya pada Dokter Reno.


"Aku akan pergi ke suatu tempat."


Wajah Dokter tampan itu sendu dan serius, keceriaan yang tiap hari terpancar sedikit pudar hari ini.


Endra mengetuk jarinya di atas meja tampak berfikir. Ia merasa ada yang terlewati olehnya, beberapa detik kemudian. Endra menghentikan ketukan tangannya. "Kami akan ikut bersamamu." Ujarnya.


Pria itu teringat hari ini adalah kunjungan Dokter itu dengan seseorang yang amat disayanginya. Seorang wanita yang membuatnya tegar dan bermimpi menjadi seorang Dokter.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri kalian lanjutkan saja rencana yang sudah kalian susun." Balas dokter Reno.


"Jibi, kita ikut Reno hari ini, apa kamu keberatan?" Endra menyentuh punggung tangan Pingka.


"Kita akan menemaninya mengunjungi seseorang hari ini."


"Ayo kalau begitu kita bersiap." ucap Pingka semangat.


"Dam, siapkan mobil ! Pakai sopir disini saja. Kita bawa dua mobil untukmu dan Reno. Sebelumnya kita singgah ke pusat perbelanjaan sebentar." Titah Endra.


"Baik, Pak."


Mereka singgah disalah satu Mall kota itu, menghabiskan waktu dua jam untuk berbelanja makanan dan yang lainnya.


Empat puluh lima menit kemudian mereka tiba di tempat tujuan. Di depan gundukan tanah yang kering dan di batu nama yang bertuliskan Eliza. Dokter Reno tercenung sesaat.


"Kak aku datang. Apa kabar ? Aku kesini bersama Endra dan istrinya. Namanya Pingka cantik, 'kan ? Ini Dami asisten Endra." Kata Dokter Reno menaruh bunga di sisi kanan dan kiri batu nama itu.


"Ish, masih sempatnya memuji istriku." Gerutu Endra. Dami dan Pingka juga ikut menyapa dan memperkenalkan diri.


"Kak, El ! Aku merindukanmu... bahagia di sana bersama ayah dan ibu. Jangan memikirkan ku ! Aku bisa menjaga diri disini." Dokter Reno mengusapkan sudut matanya.

__ADS_1


Pria dewasa ini ternyata bisa mengeluarkan air mata. Mana Dokter tampan yang selalu tersenyum ? Hari ini sosok itu hilang begitu saja, Dokter Reno menjelma menjadi anak laki-laki belasan tahun berkeluh kesah. Merengek di atas pusara Eliza meluapkan segala kerinduannya.


Tidak hanya wanita yang bisa menangis tapi pria juga bisa menangis. Bila tiba saatnya harus mengeluarkan air mata.


Endra menepuk pundak Dokter Reno menandakan jika ia tak sendiri. Dibalik cerianya selama ini, ada duka yang mendalam dalam hatinya.


Usai dari sana mereka menuju panti asuhan yang tak jauh area pemakaman. Dokter Reno menghembuskan nafasnya sebelum melangkah masuk ke dalam pagar panti itu.


Di sinilah Dokter Reno dan Eliza dibesarkan. Mereka anak yatim piatu semenjak berusia 7 dan 10 tahun.  Eliza yang pesakitan sejak kecil membuat dokter Reno bermimpi menjadi Dokter Sp.PD (Interna ) untuk menyembuhkan Kakaknya.


Di kota itu juga mereka ditemukan oleh pengusaha kaya, sahabat Ayah mereka yang tak lain adalah Rama Saguna. Ayah dari Endra.


Ia menjemput Dokter Reno dan Eliza agar ikut bersamanya ke Kota P. Tapi karena kondisi Eliza yang sudah parah, Pak Rama meneruskan pengobatan Eliza di Negara itu saja dan Dokter Reno ikut bersamanya ke kota P atas paksaan Eliza.


Tiap bulan Dokter Reno bersama keluarga Endra mengunjungi Eliza di Negara X. Sampai pada saatnya Dokter Reno lulus SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi lalu pindah kembali ke negara X. Sebelum ia lulus kedokteran, Eliza lebih dulu meninggal. Dokter Reno sempat frustasi tapi dukungan keluarga Saguna membuatnya kembali bersemangat dan memilih menjadi Dokter Umum.


Dokter Reno bersama yang lainnya membagikan makanan dan pakaian yang mereka beli, para anak-anak di sana menerima dengan suka cita dan rasa bahagia. Pemandangan seperti ini membuat Pingka terharu sampai menitikkan air mata. Nasibnya dan Dokter Reno hampir sama, bedanya. Ia masih memiliki Kakak dan Bibi yang selalu mendukungnya.


Seorang anak laki-laki berusia  6 tahun menghampiri Pingka lalu dengan lembut mengusap air mata di pipinya.


"Jangan menangis. Aku ada untukmu, ceritakan ! Apa beban di hatimu ? Sampai membuatmu menangis." Anak laki-laki itu tersenyum.


Pingka meraih tubuh mungil itu dalam pelukannya. Anak laki- laki dewasa sebelum usianya. "Bibi tidak punya beban. Ini air mata haru bukan kesedihan, terimakasih sudah memberikan dirimu tempat Bibi bercerita." Pingka tersenyum.


Anak itu tersenyum. "Semoga nanti jika aku dewasa memiliki istri secantik Bibi." Ucapnya menyentuh pipi Pingka dengan lembut.


"Semoga saja."


Endra gemas bercampur cemburu.


"Dasar bocah ! Tahu saja yang cantik dengan tidak." Sungutnya tak terima.


...----------------...


Satu hari menghabiskan waktu di sana, mereka berpamitan meninggalkan panti asuhan..Endra melirik wajah istrinya yang termenung.


"Sayang kamu kenapa ?" Tanyanya meraih tangan istrinya.


"Tidak apa-apa, aku senang hari ini." Pingka tersenyum.

__ADS_1


Memang benar, perjalanan seperti inilah yang ia suka mengetahui banyak hal. Tidak hanya menghabiskan waktu untuk memadu kasih di dalam kamar lalu berbelanja barang-barang mahal.


__ADS_2