Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Sebatas Kagum


__ADS_3

Lima hari terbaring di rumah sakit dan makan makanan lembek di nikmati Endra dengan penuh semangat, rangkaian mimpi indah sudah tersusun rapi dibenaknya. Untuk kebahagiaan rumah tangga yang sebentar lagi akan dimulainya. Sebisa mungkin ia akan menata kembali dinding rumah tangganya yang hampir terkoyak.


Endra sangat menikmati kebersamaannya dengan Pingka. Beberapa kali Dokter Reno menggoda akan mengajak Pingka makan bersama di cafe tak jauh dari rumah sakit. Berulang kali juga Endra mengancam akan mencabut infusnya dan mengirim Dokter Reno ke pelosok Desa untuk bertani.


Pria ini tak ingin Pingka menjauhinya, walau hanya sekedar keluar mencari angin. Rasa rindu yang menggunung seperti tak pernah berkurang sedikit pun walau tiap hari bertatap muka dan tetap saja rasa rindu itu ada.


"Sayang, hari ini aku tidak mau lagi makan bubur. Rasanya perutku tidak pernah kenyang." Kata Endra sambil mengecek e -mail masuk dari iPad nya.


"Baiklah, nanti makan nasi sedikit lembek. Akan aku minta pada pihak rumah sakit." Balas Pingka sambil merapikan pakaian dalam kopernya.


"Setelah dari rumah sakit kita pulang ke rumah Ibu lebih dulu, sepertinya akan menginap di sana, Ibu masih merindukanmu."


"Terserah saja, aku juga bermaksud tinggal beberapa hari di Kota ini sebelum pulang, ada yang perlu kucari untuk hadiah pernikahan Kak Fajar." Pingka menjawab sambil berkemas.


"Kita cari bersama. Bukankah ? Aku juga akan ikut nanti pulang ke Desa."  Endra melepaskan iPad lalu melihat kearah Pingka yang melipat baju ke dalam koper.


"Iya, apa perutmu masih sakit?" Pingka membalas tatapan Endra


Dada Endra berdebar-debar jantungnya berdetak lebih cepat


Kenapa setiap dia membalas tatapanku, perasaanku berdebar dan gugup ?


"I—iya masih, tapi sedikit." Endra terbata menjawab.


"Istirahatlah biar cepat pulih dan kamu bisa pulang. Apa kamu tidak bosan sudah beberapa hari disini?" Ujar Pingka sambil melangkah mendekat


"Tidak !"


"Apa ?! Kenapa bisa begitu?" Pingka menjadi bingung.


"Karena dengan begini kamu akan selalu di dekatku." Endra tersenyum manis dengan tatapan nakal.


Pingka menghentikan langkahnya, mengamati wajah pria yang sedang tersenyum padanya. "Jadi, kamu mempermainkan ku?" Tanyanya menatap tajam dengan melangkah pelan. "Sebenarnya kamu sudah sembuh tapi pura-pura masih sakit"


"Tidak, aku benar masih sakit. Lihat bibir ku masih pucat." Endra memasang wajah manja.


Pingka maju selangkah dan mendekatkan wajahnya pada Endra, lalu melihat pada bibir yang baru saja di katakan pucat. Tubuh Endra menjadi kaku,  perasaannya tiba-tiba gugup baru pertama kali wajahnya sedekat itu pada Pingka. Perlahan jari - jari lentik itu menyusuri tiap lekukan wajah dan bibir pria ini. Melihat dengan seksama tiap sudut mata, hidung, pipi dan bibirnya.


Wajah yang disentuh lembut dengan tatapan penuh cinta dari mata si pemilik tangan, membuat nafas Endra melambat bercampur berdebar, kulit wajahnya yang putih bersih itu tiba - tiba merah. Seluruh aliran darahnya mengalir dengan cepat ke tiap tendon dan urat dalam tubuhnya. Mata Endra terfokus pada bibir ranum Pingka yang sangat menggoda di matanya.


"Istirahatlah !"


Mata Endra melotot sempurna, tubuhnya yang menegang dan gugup tadi seketika lemas dan loyo.


Jadi, dia tidak mencium ku ?


Endra mematung sejenak memperhatikan wajah Pingka yang nampak biasa - biasa saja setelah menyentuh di tiap bagian wajahnya . Pria itu mengangguk lemah lalu berbaring dan menarik selimut dari ujung kaki sampai ke kepala.


Pingka merapatkan bibirnya menahan tawa.

__ADS_1


Kamu pikir, aku tidak bisa membalasmu karena sering membuatku salah tingkah


...----------------...


Dimas dan Salsa mengunjungi Endra kembali ke rumah sakit, mereka semakin dekat setiap harinya.Terlihat dari Salsa yang selalu manja dan Dimas selalu memberikan perhatian lebih pada wanita itu.


"Bagaimana kondisimu?" Dimas meletakan buah di atas meja.


"Lumayan membaik. Mungkin, satu atau dua hari lagi diperbolehkan pulang." Jawab Endra.


Pingka dan Salsa langsung melepas rindu dan berbincang di sudut sofa. Tanpa perduli dengan dua laki-laki yang menatap ke arah mereka.


"Sandi dimana?" Dimas duduk di pinggir kasur.


"Masih di perjalanan, ia akan membawa berkas proyek kita yang baru."


"Tenanglah semuanya berjalan dengan lancar." Dimas kembali memperhatikan kedua wanita yang sedang berbincang di sofa.


Endra mengikuti arah mata Dimas ada perasaan tak nyaman di hatinya saat ada pria lain yang melihat Pingka nya.


"Kamu sangat dekat dengan wanita itu." Kata Endra datar.


"Dia punya nama." Balas Dimas juga datar. Merasa tak suka saat Endra tidak menyebut nama Salsa secara langsung.


"Kamu masih menyukai istriku?" Endra bertanya dengan perasaan cemas. Ia takut atas jawaban Dimas.


"Aku baru menyadari ternyata perasaanku itu hanya sementara, karena aku tidak mudah jatuh cinta. Itu artinya... Aku hanya kagum pada Pingka saat pertama kali bertemu dan rasa itu aku salah artikan sebagai suka dan cinta selama ini."


"Tidak perlu bersaing, dari awal kamu sudah jadi pemenangnya. Karena dia sudah mencintaimu sejak lama, saat kalian baru menikah. Pingka belajar mencintai dan menerimamu sebagai suaminya walau dia kamu tolak dengan kasar."


Endra terdiam sejenak. Terkejut ? itu pasti. Ia bahkan tidak tahu jika istrinya sudah mencintainya jauh sebelum dirinya menyadari perasaannya. Bahkan dengan teganya, ia mengatakan pada Pingka jika tidak bisa menerimanya sebagai istri saat itu. Hati Endra merasa di iris sembilu menatap lekat Pingka yang sedang tersenyum ceria bersama temannya di sofa.


"Kenapa, kamu terkejut ?" Dimas tersenyum penuh kemenangan. "Dan baru menyadari kebodohanmu?" Ia marasa puas telah membalas rasa sakit hati Pingka. "Jangan menyesalinya. Itu percuma, jika memang kamu mencintai dia, perbaiki segalanya cabut berkas perpisahan kalian di pengadilan." Sambung Dimas lagi.


Endra mengangguk dengan raut wajah sedih. "Aku sudah mencabutnya dan surat yang ditanda tangani Pingka waktu itu belum aku tanda tangani. Surat itu juga sudah aku musnahkan ! Dia tetap istriku." Ada getaran di pita suaranya menandakan hatinya sedang bergejolak antara bahagia dan sedih.


Bahagia, tahu jika Pingka juga mencintainya. Sedih, karena ia sudah menolak istri pilihan Ibunya. Dua pria itu larut dalam perbincangan tentang hati mereka, jarang-jarang ada pembahasan dengan tema urusan hati.


Tanpa mereka sadari, ada pria mengendap masuk lalu duduk di sofa mengambil posisi tengah-tengah dengan kedua tangannya merangkul pundak dua wanita cantik itu.


Mereka juga berbincang sambil bercanda. Tanpa memperdulikan Endra dan Dimas.


Sandi sudah datang tapi masih berdiri di depan pintu masuk. Ingin menyaksikan pertunjukkan selanjutnya. Mata Endra dan Dimas  tiba-tiba menangkap makhluk tampan yang duduk di sofa dengan mesranya merangkul pundak Pingka dan Salsa.


"RENO."


Teriak Dimas dan Endra bersamaan dengan tatapan membunuh.


Dokter Reno terkejut dan juga kalang kabut mendengar suara Dimas dan Endra yang meneriakinya.

__ADS_1


"Syutt, jangan ribut ini rumah sakit. Kalian membuat kupingku menangis mendengar suara jelek kalian itu." Ucap Dokter Reno santai.


"Jauhkan tanganmu dari istriku."


"Jauhkan juga tanganmu dari Salsa."


Dokter Reno tersenyum mengejek dan belum berniat menurunkan tangannya dari pundak Pingka dan Salsa. "Siapa kalian ? Dengan beraninya memerintah ku." Tanyanya dengan raut wajah menyebalkan.


"Aku suaminya."


"Aku kekasihnya."


Endra dan Dimas menjawab bersamaan. Pingka dan Salsa terkejut lalu saling memandang penuh arti dengan pernyataan Dimas.


"Kalian mengenal pria-pria itu? Benar mereka Suami dan kekasih kalian?" Dokter Reno bertanya dengan wajah mengejek.


Pingka dan Salsa tersenyum .


"Dia teman masa kecilku" Jawab Salsa tersenyum. Dimas merasa kesal sementara Dokter Reno terkekeh geli


"Dan kamu kenal dengan pria yang berwajah sangar itu ? lihatlah ketampanan saja dibawa rata -rata." Ujar Dokter Reno mengarah pada Endra


"Di—dia bukan siapa-siapaku. Sebentar lagi kami akan resmi berpisah." Jawab Pingka pelan dan tersenyum tipis.


Tatapan Endra melunak. Perasaannya rasa diremas mendengar jawaban istrinya, ia tak menyangka jika Pingka masih merasa perpisahan itu berlanjut. Dokter Reno diam sejenak merasakan suasana sedikit canggung.


"Ehm ! Kalau begitu Sandi. Siapa menurutmu yang akan aku dekati Pingka atau Salsa?" Dokter Reno mengalihkan perhatian semua orang.


Merasa namanya disebut Sandi terkejut lalu segera mendekat kepada Dimas dan Endra.


"Te—terserah kau saja." Ucap Sandi panik.


Reno sialan ! Pasti dua pria ini mengeroyokku.


Benar saja mata Endra yang sudah melunak tadi kembali tajam begitu juga Dimas. Sandi menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Kalau begitu biarkan Salsa untuk Dimas saja karena mereka baru membangun hubungan ! Dan Pingka. aku menuggu jandamu." Ucap dokter Reno mengedipkan matanya.


"Keluar !!" Desis Endra geram


"Jangan mendesis seperti ular, aku kesini menghiburmu. Lihatlah urat-uratmu kencang semua. Apa kamu tidak menyadari aku baik padamu?" Dokter Reno tertawa puas lalu meninggalkan ruangan Endra.


Pasti giliranku


Sandi merasakan hawa dingin bercampur panas.


"Kamu membuang waktu berhargaku bersama Pingka !" Ucap Endra dengan wajah kesal.


"Maaf aku hanya ingin menyaksikan pertunjukan selanjut nya." Balas Sandi tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Dimas hanya menggeleng kepalanya lalu tersenyum tipis. Tiga pria itu mulai membahas proyek kerja sama mereka yang sedang berlangsung. Tak lupa menjadikan Sandi objek pelampiasan kesal mereka.


__ADS_2