Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Resepsi


__ADS_3

Malam ini di salah satu hotel cabang milik Saguna Group diramaikan para tamu undangan baik dalam kota mau pun luar kota. Di sana tak hanya tamu undangan para wartawan juga ada sengaja di undang oleh pihak Endra.


Sesuai keinginannya, walau tak rela jika Pingka diliat banyak orang tapi ia harus memperkenalkan istrinya di depan publik agar orang - orang tahu jika ia berstatus menikah.


Pada mulanya Pingka menolak karena setelah ini pergerakannya akan terbatas tak sebebas dulu, tapi Endra membujuknya dengan berjanji  takkan membiarkan berita tentang dirinya keluar jika terjadi sesuatu di luar kendalinya suatu hari nanti. Hampir satu jam mereka masih berdiri menyambut tamu.


"Jibi kamu lelah ? Duduklah dulu." Endra memeluk pinggang istrinya.


Pingka mengangguk lalu mendudukkan tubuhnya di kursi. Endra masih saja menatap penuh cinta pada istrinya. Mungkin ia masih menganggap ini mimpi perjuangannya beberapa bulan lalu yang disangkanya gagal akhirnya berbuah manis.


"Apa kamu kenyang hanya memandanginya?" Suara serak seksi Dokter Reno mengusik pendengaran Endra.


"Kamu selalu saja mengganggu." Ucap Endra kesal.


"Aku bukan mengganggu tapi ingin memberikan air putih ini pada Pingka, biar tidak kekurangan oksigen." Balas Dokter Reno.


"Kenapa kamu perhatian sekali pada istriku, apa kamu ingin menggodanya?" Tanya Endra dengan raut wajah menyelidik.


"Dasar cemburu tidak pada tempatnya !" Dokter Reno melenggang pergi.


Pingka minum air putih yang dibawakan dokter Reno melalui sedotan, Endra yang melihat istrinya kehausan menjadi merasa bersalah pintar juga pikirnya Dokter tampan itu memberikan air sementara ia tak berpikir ke sana.


Mata Pingka berbinar melihat seseorang yang baru datang melangkah menghampirinya.


"Ravita." Pingka begitu senang dan berhamburan memeluk sahabatnya ini.


"Pingka aku merindukanmu." Ravita membalas pelukan Pingka.


"Sayang aku cemburu." Bisik Endra . Selalu begitu ia tak suka miliknya disentuh orang lain walau pun wanita.


Pingka melihat pada Endra sebentar lalu beralih pada pada Rangga yang berdiri dibelakang Ravita.


"Selamat Pak Endra." Ucap Rangga dan Ravita bersamaan.


"Terimakasih." Balas Endra datar.


Rangga dan Ravita sudah biasa melihat wajah datarnya Endra.


"Dia putrimu ? Cantik sekali, berapa usianya ?" Pingka mengelus pipi anak itu.


"Satu tahun setengah, bagaimana kabarmu ?" Ravita memperhatikan wajah sahabatnya itu begitu dalam.


"Aku baik-baik saja, maaf tidak datang di pernikahanmu." Pingka merasa bersalah.


"Tidak apa-apa yang penting kamu bahagia sekarang, aku tak menyangka jika Pak Endra jodohmu." Ravita tersenyum lembut.


"Tuhan sudah menulisnya seperti ini dan itu, jadi kita tinggal mengikuti alurnya." Jawab Pingka sambil menoel-noel pipi gembul putri Ravita.

__ADS_1


"Ehm ! Reuninya bisa kalian lanjutkan nanti ketika istriku di kota P dan kalian juga bisa datang ke rumah kami." Kata Endra datar.


"Baiklah, Pak. Dan terimakasih tumpangan gratisnya." Ucap Ravita tersenyum. Endra hanya menanggapinya dengan deheman karena ia hanya fokus pada wajah cantik istrinya.


"Kalian nikmatilah sajiannya jangan lupa putri kecil ini dikasih makan yang banyak." Kata Pingka mengusap lembut pundak putri kecil Ravita.


Rangga dan Ravita meninggalkan  pelaminan dan menuju kursi tamu yang sudah disiapkan. Pingka berdecak kesal melihat sikap suaminya begitu datar pada orang lain.


"Jibi kenapa wajahmu seperti itu?" Endra masih heran Pingka mendiaminya.


"Kamu kenapa bersikap begitu?" Pingka balas bertanya.


"Aku ?" Endra menunjuk dirinya sendiri.


"Kamu kenapa datar sekali sama mereka?" Pingka mulai kesal.


"Sayang, maaf wajahku memang begitu." Ucap Endra begitu manja.


"Kenapa denganku tidak ?" Pingka melihat wajah suaminya.


"Karena aku mencintaimu sayang, sepertinya kamu menyukai anaknya" kata Endra mengalihkan pembicaraan.


Pingka jadi melunak. "Dia menggemaskan" Ucapnya tersenyum manis.


"Kalau begitu, malam ini ayo kita cicil membuat yang seperti itu. Matanya atau bibirnya dulu." Endra tersenyum menggoda.


"Kenapa? Apa kamu meragukan ku?" Endra berbisik lembut.


"Aku datang bulan." Jelas Pingka.


"Apa ?!" Endra setengah berteriak hingga mengundang perhatian orang- orang.


"Gugu kenapa kamu berteriak?" Pingka merasa malu.


"Aku kelepasan Jibi, kenapa kamu tidak memberitahuku jika dapat tamu bulanan mu ? Aku bisa menunda hari pernikahan kita." Kata Endra pelan. Pingka terkekeh melihat wajah Endra yang sudah ditekuk.


Selesai menyambut tamu selama lima jam Endra dan Pingka akhirnya beristirahat, kali ini Endra tidak lupa jika ia sudah menikah hanya saja kurang bersemangat. Keinginan untuk mempraktekkan adegan film yang sudah ditontonnya beberapa hari lalu sepertinya akan tertunda malam ini.


...----------------...


Di kamar ini Pingka dan Endra  mengistirahatkan diri mereka, Endra sudah membersihkan dirinya terlebih dulu.


"Gugu bantu aku melepas gaun ini, aku mau ke kamar mandi." Pingka mendekat kearah suaminya yang sedang memegang ponsel.


Endra langsung membantu istrinya melepas gaun dengan cara menarik resleting gaun Pingka, mata pria itu tak berkedip melihat kulit putih mulus bersih tanpa cacat milik istrinya.


Selama Pingka menjadi istrinya setahun lalu, ia tak pernah melihat secara langsung tubuh wanita itu. Yang terlihat selama ini hanya kaki dan tangannya, tapi siapa pun bisa melihat hanya dari kulit tangannya jika ia memiliki kulit yang mulus dan bersih.

__ADS_1


Fantasi liar Endra segera menggerayangi otaknya. Hasrat lelakinya dengan sendirinya bergelora. Tongkat pusaka nya perlahan tapi pasti sudah mencuat kepermukaan.


"Sayang." Suara Endra mulai serak dan berat.


"Hm, sudah selesai aku mandi dulu." Pingka melangkah masuk ke kamar mandi tanpa dia tahu pria dibelakangnya menatap sendu  pada  punggungnya yang putih.


Endra hanya mampu menelan Salivanya mengelus dada menenangkan libido yang sudah mulai naik.


Pingka selesai mandi keluar menggunakan daster tidur tanpa lengan di atas lutut dari bahan satin, rambut panjangnya yang masih sedikit basah jatuh di bahu membuat dirinya terkesan seksi.


Endra kembali tak berkedip melihat istrinya begitu cantik dan seksi setelah membersihkan diri. Menggoda itu lah tertangkap di matanya.


"Gugu ayo makan." Pingka meraih nampan di atas nakas. Sepertinya makanan itu baru diantar karena masih hangat.


Walau tak lapar tapi  Pingka berniat memakannya dua atau tiga sendok. Endra masih belum mengedipkan matanya terpana atas kecantikan alami milik istrinya , Maha karya nyaris sempurna dipahat Tuhan untuknya.


Sekali lagi ia mengutuk kebodohannya karena pernah menolak kedatang wanita indah dihadapan matanya ini saat pertama kali. Kedua kalinya Pingka hadir lagi  dan membawa sejuta pesona yang membuat dirinya setiap saat bisa menggila.


"Aku tidak mau makan itu Jibi, tapi mau makan kamu." Suara Endra begitu pelan.


"Kenapa ingin memakan ku? Aku bukan makanan." Pingka tiba -tiba polos entah karena lelah ia tak memahami maksud suaminya.


Endra mengira Pingka tak mendengar tapi kenyataannya wanita itu memiliki pendengaran yang tajam. Pria ini mendekat duduk di tepi kasur yang berhamburan kelopak bunga.


"Sayang, benar kamu kedatangan tamu bulanan?" Endra menyakini lagi.


Pingka meletakkan sendok lalu menatap dalam pada suaminya. "Kenapa?" Tanyanya menyeka mulutnya menggunakan tissue.


"Mau itu." Endra menyingkap daster Pingka ke atas dengan wajah begitu berharap.


Tapi dengan cepat Pingka menahannya. "Apa yang kamu lakukan ? Mau mengintip dalaman ku." Memukul punggung tangan Endra dan wajahnya merona malu


Pria itu semakin gemas pada istrinya karena bersemu merah. Endra memilin ujung daster istrinya sambil mendekat.


"Jawab dong, sayang." Endra merengek seperti anak kecil mau permen.


"Tidak, aku hanya bercanda." Balas Pingka tersenyum manis. Endra kegirangan tidak pakai lama, ia merebahkan istrinya. Memberikan ciuman sesukanya. "Kenapa kamu buas sekali?!" Pekik Pingka sambil menarik nafas karena dari tadi Endra tak memberinya jeda untuk menghirup udara.


"Maaf sayang aku terlalu bahagia, akan kulakukan dengan lembut." Endra mengusap pelan bibir istrinya.


"Apa itu kamu tiru dari film yang kamu tonton?" Tanya Pingka sambil membiarkan suaminya kembali menciumnya.


"Aku berbohong sayang, aku tidak perlu menonton atau refrensi lainnya, aku bisa melakukannya sendiri tanpa itu semua,  karena bakat alami yang aku miliki." Suara Endra terdengar berat setelah melihat belahan dada putih istrinya. Ia juga melihat bekas tusukan di dada Pingka lalu meninggalkan tanda merah di sana.


Bakat alami katanya, hal semacam ini tidak ada kaitannya dengan bakat alami. Orang gila pun bisa melakukannya


Dikamar lain di hotel ini orang- orang sudah terlelap tidur karena lelah tapi, tidak dengan kamar pengantin mereka  menyicil membuat mata bayi baru saja di mulai.

__ADS_1


__ADS_2