Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Ketakutan Endra


__ADS_3

Sandi menarik nafas panjang sebelum bercerita karena ia sudah tahu dari Dimas jika Pingka memiliki perasaan pada Endra. Mungkin saatnya menceritakan semua perasaan Pingka. Toh ! Hubungan Endra dan Melisa juga sudah berakhir. Biar laki-laki arogan itu tidak mendapatkan Pingka atau Melisa.


"Pingka begitu terlu—" Ucapan Sandi terputus karena deringan Ponselnya. "Halo" Jawabnya sambil masih melihat ke arah depan.


"Sandi, aku butuh bantuanmu saat ini, aku ingin meminta rekaman Cctv di depan kantor Endra sebelum kalian pergi ke Jepang."


"Untuk apa?" Tanya Sandi lagi.


"Ingin mencari tahu pelaku penusukan pada Pingka."


Mobil terhenti seketika, saking terkejutnya Sandi langsung menginjak pedal rem. Dadanya berdebar kencang, apa ini ? Pingka ditusuk orang. Kenapa ?


"Ba-bagaimana kondisinya?" Suara Sandi begitu lemah dan terbata. Endra yang memperhatikan raut wajah Sandi menjadi bingung sendiri.


"Masih di rumah sakit, dia juga sudah sadar tapi kondisinya masih lemah."


"Baiklah ambil saja pada petugasnya, aku akan hubungi dia." Sandi mematikan telpon. Ia menatap kosong ke depannya menghiraukan suara klakson di belakang mobil mereka. Bayangan kehilangan Winda menari-nari di kepalanya.


"Ada apa ?" Tanya Endra penasaran.


Sandi menoleh pada Endra sejenak lalu berucap." Pingka di tusuk orang."


"A-apa ? Ayo kita pulang malam ini."


Endra tiba-tiba panik dengan nada suara lemah. Tubuhnya gemetar hebat, terlintas kata-kata Pingka sebelum dia meninggalkan kantor. Pikiran buruk segera menyerang Endra dan ketakutan yang luar biasa menguasai dirinya. "Pingka, Jangan pergi. Aku mohon... Sandi, ayo kita berangkat cepat !" Endra sedikit berteriak.


Sandi tersadar dari lamunannya langsung menginjak pedal gas menuju hotel tempat mereka menginap. Berulang kali Endra menghubungi Melan sampai pada akhirnya suara serak di sana menjawab.


"Melan dimana Ibu?" Tanya Endra cemas. Terlebih mendengar suara isak Adiknya di dalam telpon.


"Ibu sakit, Kak. Setelah menangis histeris saat dapat kabar Kak Pingka ditusuk orang."


Jadi ibu sudah tahu

__ADS_1


Endra hampir terhuyung


"Ka-kamu jaga Ibu, Kakak segera pulang."


Endra terduduk lemas di kasur. Tanpa kata-kata, ia diam mematung. Mengutuk kebodohan yang ia lakukan.


"Ayo kita berangkat !" Kata Sandi setelah semuanya siap.


Endra dan Sandi bergegas menuju bandara, pikirannya terusik saat mengingat bagaimana perasaan Pingka tergeletak bersimbah darah dan wajahnya yang memucat menahan sakit. Membuat Endra tenggelam dalam rasa takutnya.


Bayangan Wajah Pingka yang ceria beberapa minggu ini memancing air matanya keluar, kesalahan Endra ialah mempertahankan kekasihnya dibanding istri sahnya dan hal itu, sudah melukai hati seorang wanita yang sudah melahirkannya.


"Apa susahnya Endra kamu mengabulkan permintaan Ibumu yang sudah menua."


Endra bicara sendiri. Sandi hanya terdiam di sisi Endra.


...----------------...


Pingka baru selesai makan, kondisinya masih lemah. Fajar menunggu kedatangan Dimas untuk mengambil rekaman Cctv di kantor milik Endra.


Tenang Jingga, mereka akan membayarnya. Kakak akan menuntaskan permasalahan ini


Fajar menatap manik mata Pingka yang sendu.


...----------------...


Endra langsung pulang ke rumah Ibunya setelah melewati penerbangan berjam-jam. Dengan tergesa-gesa ia menaiki anak tangga menuju kamar Ibunya.


"Ibu." Endra masuk kedalam kamar. Ibu Erly membuang wajahnya saat tahu putranya masuk. "Ibu maafkan aku, bagaimana keadaan Ibu?" Endra mendekat. Tapi Ibu Erly memilih diam tak menjawab, dirinya terlanjur kecewa pada putranya. "Melan, rumah sakit mana Pingka dirawat?" Tanya Endra lagi


Melan menggeleng lemah.


"Aku tidak tahu, Kak. Tanyakan saja pada Kak Dimas, dia yang menolong Kak Pingka." Jawab Melan dengan mata yang mulai merah menahan air mata.

__ADS_1


Endra bergegas turun dari kamar Ibunya langsung pergi menemui Dimas di kantornya. Setiba di sana ia langsung masuk begitu saja


"Dimana Dimas ?" Endra bertanya dengan datar dan dingin.


"Maaf Pak Endra, Bos hari ini tidak masuk." Jawab Sekretaris Dimas ramah dan tersenyum.


Endra langsung mengeluarkan ponselnya berusaha menghubungi Dimas tapi tidak tersambung, Endra semakin gusar.


Sandi sengaja tidak ikut walau dirinya ingin sekali melihat kondisi Pingka, tapi hatinya tak kuasa membujuk otaknya untuk memerintah kakinya pergi dengan Endra.


Karena semenjak semalam, cuplikan wajah pucat pasi Winda terbaring kaku meninggalkannya untuk selamanya sangat mengusiknya . Walau sudah dua tahun berlalu, tapi ia masih belum melupakan istrinya itu. Sandi hanyut kembali dalam kenangannya tanpa ia sadari jika pipinya sudah basah karena air mata.


Endra pergi ke tiap rumah sakit, tapi belum menemukan Pingka di sana. Ia kembali menghubungi Dimas masih tidak tersambung. Ia teringat dengan Adi asisten Dimas lalu menelponnya.


"Di rumah sakit mana Pingka dirawat?" Tanya Endra dengan nada penuh harap.


"Di rumah sakit X , Pak. Semoga bapak tidak terlambat kare—"


Suara Adi terputus karena telpon dimatikan Endra. Dengan kecepatan penuh pria itu membawa mobilnya menuju rumah sakit, kata-kata Adi 'semoga tidak terlambat' membuatnya panik dan ketakutan.


Kumohon bertahanlah Pingka jangan tinggalkan aku


Endra berhenti di depan rumah sakit meninggalkan mobilnya sebarang tempat, tidak ada yang berani protes karena rumah sakit itu milik keluarga Saguna . Ia pun menyesal kenapa tidak sedari tadi pergi kesini malah mencari ke rumah sakit lain dan membuang waktu berharganya. Endra berlari menanyakan kamar Pingka. Setelah mendapatkannya, ia kembali berlari menuju ruangan yang dimaksud.


Endra membuka pintu, langkahnya terhenti saat melihat  ruangan itu kosong. Tubuhnya mematung, kata - kata Adi kembali terngiang, seketika Endra merasa seluruh benda hidup ikut terhenti berputar dan mati.


Jantungnya berdegup kencang, nafasnya tersengal dan dadanya begitu sesak, tak mampu rasanya menerima kenyataan, Endra melangkah lemah dan gontai. Beberapa kali hampir terjatuh menghampiri ranjang putih yang kosong tak ada seorang pun di sana. Seprai putih itu rapi dan bersih bahkan hampir tidak ada tanda-tanda bekas orang dirawat ruangan itu.


Mata Endra mulai perih dan berkaca-kaca, disentuhnya perlahan bantal dan kasur di atas ranjang. Berharap aroma tubuh wanita itu masih tertinggal di sana. Namun, harapan itu sia-sia .


Endra luruh ke lantai tak mampu menopang tubuh besarnya. Ia merasakan ada kesakitan yang sangat luar biasa saat tak menemukan sosok wanita cantik itu di sana. Ucapan Pingka 'Aku Pergi' dan kata-kata Adi asisten Dimas 'Semoga tidak terlambat' membuat Endra semakin jatuh dan menyesal


"Tidak mungkin ini terjadi, Jangan pergi Pingka. Jangan tinggalkan aku ...."

__ADS_1


Endra menangis sendiri diruang kosong. Berharap waktu bisa berputar kembali lalu meminta serta berharap adanya kesempatan kedua menyusun kembali anak tangga pernikahan yang sudah terlepas.


__ADS_2