Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Ciara Putri Wijaya


__ADS_3

Tiga Minggu Kemudian


Setiap hari Pingka ikut bersama Endra ke kantor, jika ia ingin ke toko roti maka harus di antar oleh Endra sendiri dan dia rela menunggu sambil bekerja sampai Pingka selesai. Usaha Endra sedikit membuahkan hasil pria bernama Dion itu tak lagi menemui istrinya, walau laporan para pengawal di toko. Pria itu selalu saja datang.


Dion sudah di ambang batas kesabarannya. Pertama, ia merindukan wanita yang menjadi istri orang tersebut. Kedua, ia cukup bersabar untuk tidak langsung menghancurkan Endra. Rencana yang sudah disusunnya bertahun-tahun akan sedikit terhambat karena belum bisa bertemu Pingka. Padahal ia hanya ingin membalas Endra melalui istrinya. Dengan sengaja mendekati Pingka tapi kesengajaannya telah menjebak dirinya sendiri, Dion jatuh cinta pada Pingka. Ia tak menyadari kapan perasaan terlarang itu muncul di hatinya.


Berpikir cukup lama, akhirnya Dion mengambil keputusan. Ia membalas Endra dengan cara membeberkan perbuatan pria itu di masa lalu pada  Pingka. Dengan begitu, istri yang sangat dicintai Endra itu akan dengan sendirinya pergi dari hidup laki-laki itu. Pingka membawa luka di hatinya dan Dion siap mengobati hati yang terluka itu lalu pada akhirnya Pingka akan jatuh di pelukannya. Itulah harapan Dion.


Di pelupuk matanya sudah bisa melihat bagaimana Endra memohon pada istrinya agar tetap menerima dan selalu berada di sisinya, atas paksaan Pingka akhirnya nanti Endra akan kembali pada wanita yang disebut Dion Kakak. Membayangkannya saja pria itu sudah terbahak senang apalagi itu benar terjadi.


"Baiklah, aku mulai darimu Pingka, maaf menyakiti hatimu tapi aku berjanji akan datang menyembuhkan lukamu." Dion tersenyum menatap foto Pingka yang di ambilnya diam-diam.


...----------------...


Endra meregangkan ototnya setelah bekerja setengah hari,  ia beranjak dari kursinya menemui Pingka di dalam kamar pribadinya.


"Sayang, ayo kita makan siang." Ajak Endra lalu mencium pipi mulus istrinya.


Pingka yang terlelap membuka matanya perlahan. "Kamu sudah selesai?"


"Iya sayang." Endra tersenyum.


Pingka ke kamar mandi sebelum pergi. Sebenarnya Endra tak tega memaksa istrinya ikut setiap hari ke kantor, tapi karena ia tak ingin Dion mengganggu ketenangan istrinya mau tidak mau harus dilakukannya.


"Dam, siapkan mobil kita makan siang dulu."


"Baik, Pak." Dami meraih kunci mobil dan membuka layar ponselnya menghubungi seseorang.


Beberapa menit kemudian di sinilah mereka di restoran ternama sedang menikmati makan siang. Pingka ijin ke toilet pada Endra, hanya dengan sorot matanya pria itu memberi perintah pada pengawal wanita yang juga makan siang tak jauh dari mereka untuk mengikuti istrinya.


"Dam, sudah kamu kirim orang untuk masuk Apartemen wanita itu?" Mimik wajah Endra begitu serius.


"Sudah, Pak. Kita tunggu kabar darinya dulu."


"Harusnya aku menjaga ini sejak lama, aku lengah karena Dion yang masuk penjara. Aku juga sibuk mengurus Melan dalam tahap pemulihan dari rasa traumanya saat itu, bahkan aku tidak berpikir mencari wanita itu lagi." Kata Endra.


"Sabarlah, Pak. Maaf keterlambatan saya. Harusnya saya sudah berada di samping Bapak waktu itu. Tapi karena keraguan saya pada kinerja saya sendiri maka saya menolak tawaran Tuan besar." Ungkap Dami sedikit menyesal.


"Tak masalah, Semoga ini cepat selesai sebelum istriku tahu." Ucap Endra cemas.


"Iya, Pak. Semoga saja Ibu tidak pernah tahu. Tapi kenapa Bapak tidak ingin Ibu tahu? " Balas Dami.


"Karena dia memang tidak perlu tahu, kejadian itu terjadi saat aku belum bertemu dengannya. Aku takut dia percaya masalah itu, sementara aku belum mendapatkan sesuatu untuk membela diriku."


"Menurut saya, sebaiknya Bapak menceritakannya pada Ibu, dari pada Ibu tahu dari orang lain. Walau bagaimanapun masalah itu sempat merugikan perusahaan Bapak. Dan juga mencoreng nama keluarga Saguna, tidak hanya Melan tapi Tuan besar juga jadi korban, karena pemberitaan itu juga beliau terkena serangan jantung." Dami memberi saran.


"Kamu benar aku akan menceritakannya nanti malam, aku tak menyangka permasalahan yang aku anggap selesai ternyata masih berlanjut sampai saat ini."

__ADS_1


Dari jauh Pingka sudah terlihat  dengan pengawal wanita yang mengekor di belakangnya. Tiba-tiba Ponsel Endra berdering di saku celananya.


"Kalian dimana? Apa tidak ingin ikut menyambut kelahiran bayi Dimas ?" Suara Dokter Reno begitu antusias.


"Apa ? Jadi istrinya ingin melahirkan ?" Endra tersenyum. Naik pangkat pikirnya Dimas.


"Iya, baru pembukaan tiga masih ada waktu. Ayo ke sini bawa cintaku." Ucap Dokter Reno dan tak lupa menggoda Endra.


"Berhenti menyebut istriku cintamu, dia itu cintaku !" Endra mematikan telpon karena kesal.


Pingka menghampiri Endra, wajah  suaminya terlihat kesal. Bertanya dengan sorot mata pada Dami tapi asisten itu hanya menggeleng kepalanya tidak tahu.


"Kenapa sayang?" Tanya Pingka lembut.


"Salsa mau melahirkan."


"Benarkah? Ayo kita ke sana." Pingka bersemangat lalu menarik tangan Endra untuk keluar dari meja. Pria itu terkekeh melihat wajah lucu Pingka yang menggemaskan. "Kenapa kamu tertawa ?" Tanya Pingka.


"Kamu lucu, sayang !" Endra terkekeh lagi. Ia lupa dengan kekesalannya tadi pada Dokter Reno.


Wajah bahagia yang di tampilkan Pingka membuat pria itu senang. Ia juga tak kalah semangat dari istrinya


...----------------...


Tiga puluh menit kemudian tibalah mereka di rumah sakit milik keluarga Saguna. Nampak Dimas dan ibunya menunggu di depan ruang bersalin meskipun pria itu ingin mendampingi istrinya menikmati rasa sakit. Tapi Salsa menolak karena masih pembukaan tiga. Ia tak ingin Dimas menjadi cemas.


"Bagaimana apa sudah melahirkan?" Pingka terengah karena berjalan cepat.


"Dia terlalu bersemangat." Seru Endra


Pingka hanya tersenyum lalu duduk di sebelah ibu Dimas dan mengajaknya berbincang mengurangi rasa tegangnya karena menyambut cucu pertama.


Menunggu sedikit lama akhirnya pembukaan lengkap. Dimas diminta masuk untuk menemani istrinya. Dengan mengikuti instruksi Dokter kandungan, suara tangis bayi menggema di ruangan itu menembus dinding ruang bersalin hingga mereka yang diluar bisa mendengarnya.


Pingka bahagia. "Cucu Ibu lahir" Ia memeluk Ibu Dimas dengan bahagia. wanita paruh paya itu membalas pelukan Pingka. Wanita itu berlari kecil lalu memeluk suaminya. "Gugu, bayi Dimas lahir. Salsa jadi Ibu ! Iya, dia jadi Ibu, sayang !" Pingka terisak haru di dekapan suaminya.


Endra menyaksikan kebahagiaan istrinya ikut berkaca-kaca. Bayi sahabatnya sudah seperti ini kebahagiaannya, bagaimana dengan bayinya sendiri ? Pasti Pingka akan lebih bahagia pikir pria itu.


Dimas tersenyum dengan buliran air mata bahagianya, mengusap peluh yang membanjiri wajah istrinya serta merapikan anak rambut yang menutupi wajah letih Salsa.


"Terimakasih sayang kamu istri yang hebat, terimakasih melahirkan seorang anak untukku. Dia cantik sepertimu, terimakasih beberapa detik lalu mengubah status kita menjadi orang tua sesungguhnya." Dimas mencium kening  istrinya.


Salsa hanya tersenyum dan mengangguk, ia juga tak kalah harunya dengan sang suami sampai tak mampu berkata-kata.


Di luar, Pingka masih betah berada di pelukan suaminya. Dari jauh Dokter Reno menghampiri mereka.


"Bagaimana sudah lahir?"

__ADS_1


"Sudah." Jawab Endra.


Dokter Reno bertanya menggunakan bahasa isyarat dan dibalas Endra dengan bahasa yang sama. Mereka mengerti perasaan Pingka, wanita itu sangat bahagia tapi disisi lain ia juga sedih pernikahan yang dijalani selama delapan bulan lamanya belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan padanya.


Saat mereka larut dalam pikiran masing-masing. Dimas keluar bersama perawat, dengan wajah bahagia dia menggendong putri kecilnya. Ibu Dimas berdiri lalu melihat cucunya yang baru lahir.


"Kamu cantik sekali, sayang."


Pingka mendekat lalu mengambil alih bayi cantik Dimas, tanpa canggung dia bisa menggendongnya dengan sempurna. Sesekali ia mencium dan menoel gemas pipi bayi itu.


"Selamat Dim naik pangkat hari ini jadi Ayah." Ucap Endra.


"Terimakasih." Dimas tersenyum senang.


"Kenapa wajahmu mirip Ayahmu ? Harusnya kamu mirip denganku." Dokter Reno menatap wajah bayi itu.


"Kenapa dia harus mirip denganmu? dia putriku harus mirip denganku" Balas Dimas kesal.


Dokter Reno terkekeh lalu mempersilahkan suster membawa bayi Dimas keruang bayi, Karena Melan sudah menunggu di ruangan bayi. Tak berapa lama kemudian Salsa juga di pindahkan keruang inap. Pingka masih setia menemani  sampai mereka semua berkumpul di ruangan Salsa.


"Selamat sayang kamu sudah menjadi Ibu." Ucap Pingka .


"Terimakasih, jangan sedih kamu juga bisa menjadi Ibu hanya waktunya yang belum sampai." Salsa menghibur Pingka.


Pingka mengangguk dan tersenyum. Sementara para pria duduk berkumpul di sofa entah apa yang mereka bicarakan sampai kedatangan Sandi dan Melan mengalihkan perhatian mereka.


"Selamat kawan, kamu naik satu level denganku" Sandi merangkul Dimas.


"Terimakasih, ini kebahagiaan luar biasa." Balas Dimas.


Endra tersenyum, sedikit iri rasanya melihat kebahagiaan dua sahabatnya.


"En, jangan sedih jika istrimu belum hamil bukan masalah serius hanya waktunya yang belum. Mungkin, Tuhan sedikit menunda karena ingin melihat kesungguhan mu, apa kamu bisa setia pada istrimu saat diberi ujian seperti ini?" Ucap Sandi.


"Tenang saja aku akan selalu bersama istriku dalam keadaan apapun. Mungkin, cicilan ku belum habis. Jadi dia belum hamil karena aku baru mencicil rambut dan sedikit-sedikit bagian tubuh lainnya." Balas Endra santai


Kening Endra pedas disentil Dokter Reno. "Kamu pikir sedang mencicil hutang !"


Endra meringis ingin membalas. Para wanita mendengar keributan di sofa mengalihkan pandangan mereka.


"Jika ribut keluar saja !" Titah Melan.


Para pria itu langsung diam dan duduk rapi di sofa tanpa bicara lagi. Melan, Pingka dan Salsa melanjutkan perbincangan mereka yang sempat tertunda. Lihat para suami itu menatap penuh cinta pada wanita kesayangan mereka. Dokter Reno merasa kesal karena kekasihnya tidak hadir di sana.


"Aku melihat siapa ?" Dokter Reno bersandar di sofa.


"Lihat tembok." Balas tiga pria disebelahnya.

__ADS_1


"Dim, siapa nama putrimu?" Tanya Pingka.


"Ciara Putri Wijaya." Jawab Dimas.


__ADS_2