Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Pernikahan


__ADS_3

Pingka menghentikan langkahnya lalu melihat ke kiri dan ke kanan, sangat sepi belum ada kendaraan yang lewat, daerah itu memang kendaraan tidak padat karena dekat perumahan elit.


"Hai cantik, Yuk jalan sama kami yakin tidak kedinginan." Ucap Preman itu menaik turunkan Alisnya.


Pingka mundur selangkah ke belakang lalu mengusap pipinya yang basah.


"Kalau tidak mau ! Serahkan semua barang berharga mu, tapi jika kau menerima tawaran kami itu bonus namanya." Ucap preman satu nya lagi sambil tertawa menggoda.


Pingka melangkah mundur lagi dan ingin berbalik, tapi tangan preman itu menarik tas selempang miliknya. Dengan sigap Pingka melawan dua preman itu, terjadilah adu jotos di sana walau dia meringis menahan sakit di pergelangan kakinya. Pingka memang pandai bela diri saat dikampung, dia diajarkan untuk membela diri saat dia terdesak.


"Sialan !!" Ucap preman itu mengeluarkan pisau kecil disaku jaketnya.


Sebelum pisau itu menyentuh kulit Pingka, datang seorang laki - laki tinggi jangkung menendang lengan preman pemegang pisau. Preman itu meringis dan pisau terjatuh, tak membuang kesempatan. Pingka pun menyerang preman satu nya. Sampai pada akhirnya dua preman itu terkapar


"Wah keren !" Ucap laki - laki itu kagum.


"Terimakasih sudah membantu saya." Ucap Pingka berlalu meninggalkan tempat itu menyinggahi taksi yang lewat .


"Unik, gila ! Siapa yang membiarkan wanita malam-malam dijalan sepi begini." Gumam laki laki itu menaiki motor besar nya.


...****************...


Kantor...


Cahaya matahari menyapa dengan lembut dari celah jendela, wajah cantik alami itu   terlihat cerah di pagi hari. Perlahan tapi pasti dia membuka mata nya . Dengan mengumpulkan semua nyawa nya, dia berdiri untuk pergi ke kamar mandi.


Pingka selesai bersiap dan sarapan, tak lupa menyiapkan bekal untuk nya. Empat puluh lima menit kemudian, Pingka sudah duduk manis di kursi kerjanya. Endra, Sandi dan seseorang lagi melewati meja Pingka


"Selamat pagi, Tuan." Sapa Pingka menunduk


Endra hanya  diam  tanpa menjawab atau mengangguk terus saja lanjut melangkah, Sandi menoleh lalu memberikan sedikit senyuman dan mengekor Endra


"Hai Nona jagoan, jadi kamu bekerja disini. Ah, apa ada yang terluka ? Jika kamu tidak pandai membela diri mu. Mungkin, kamu pagi ini hanya tinggal nama." Ujar Laki laki itu .


Menghentikan langkah Endra dan Sandi


Pingka hanya tersenyum tipis.


"Terimakasih sudah membantu saya, maaf karena langsung meninggalkan anda karena hari sudah malam." Ucapnya sungkan


"Kamu mengenal nya?" Tanya Endra membalik badannya.

__ADS_1


"Tidak , aku bertemu dengannya  di pinggir jalan yang tak jauh dari tempat mu. Dia sedang dihadang preman." Ujar laki laki itu.


"Hati - hati dengan nya." Ucap Endra sinis. Ia pun berlalu meninggalkan meja Pingka dengan perasaan yang tidak orang lain tahu. Sandi juga masuk kedalam ruangan Endra dengan berbagai pertanyaannya.


"Siapa namamu ? Nama ku Dimas, aku baru tiba dari luar negeri kemarin." laki - laki itu mengulurkan tangan nya


"Pingka."


"Baiklah saya masuk kedalam dulu." Pamit Dimas langsung menuju keruangan Endra.


Pingka kembali bekerja dengan tenang, kejadian tadi malam pun tidak diingat nya lagi. Entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu sabar atas perlakuan buruk Endra . Pingka termenung sesaat


Apa aku tidak boleh berharap lebih pada pernikahan ini ? Aku belum jatuh cinta bisakah rumah tangga dibina dengan baik tanpa Amarah ?


...----------------...


Kediaman Saguna...


Pernikahan Endra dan Pingka baru saja selesai. Pernikahan sederhana  yang tidak mengundang orang lain, pernikahan yang hanya dihadiri keluarga Pingka yang mana disaksikan Fajar dan Bibi Halimah. Walau sedikit tak rela karena pernikahan adik nya seperti ini. Tapi Fajar tak mampu berbuat apa - apa. Pernikahan di kampung saja meriah , sedangkan ini sepi seperti kuburan bahkan Pingka hanya menggunakan kebaya biasa tanpa polesan make up  serta tidak ada cincin pernikahan atas permintaan Endra yang tak ingin ribet.


"Kakak pulang, jika terjadi sesuatu jangan disimpan sendiri. Kakak tidak tahu apa pernikahan ini awal kebahagiaan mu atau penderitaan mu." Ujar Fajar memeluk adik sepupu nya itu.


"Kakak tidak perlu khawatir jika memang aku tidak mampu aku akan pulang." Pingka tersenyum


"Nak, mulai sekarang panggil aku Ibu, jangan sungkan sampaikan keluh kesah mu pada Ibu." Ucap Ibu Erly


"Terimakasih, Bu." Jawab Pingka lembut.


Endra menatap tajam pada istrinya. Sungguh, ia muak dengan wajah yang sok polos menurut nya. "Ibu kami akan pindah ke rumah ku, hari ini juga." Ucapnya datar


"Kenapa, Nak? Menginaplah satu hari disini." Ujar ibu Erly


"Maaf, Bu. Aku hanya ingin memulai rumah tanggaku pertama kali di rumahku sendiri." Jawab Endra dengan mimik wajah yang susah ditebak.


"Baiklah jika itu mau mu. Pingka hati hati, Nak." Ucap ibu Erly walau tak rela


Melan memandang sinis pada Pingka yang baru saja menjadi kakak iparnya itu. Endra dan Pingka berkemas menarik koper masing - masing, usai berpamitan mereka meninggalkan kediaman Erly Saguna. Endra mengemudikan mobil miliknya begitu kencang, tanpa perduli pada Pingka yang ketakutan setengah mati. Dalam hatinya merasa puas saat melihat wajah ketakutan istrinya itu. Mobil mewahnya memasuki pekarangan rumah yang minimalis dan Asri.


"Selamat datang, Tuan, Nyonya!" Sapa Bi Weni. Pingka tersenyum dan mengangguk.


Endra menghentikan langkahnya saat berada diruang tengah. "Kamu puas !! Sekarang mimpimu terkabul, dasar wanita munafik ! Dengan wajah polos begitu kamu mampu meluluhkan hati Ibu ku. Selain dia, kamu juga mulai menggoda Sandi dan temanku. Dengar wanita udik ! Aku tidak sudi satu atap denganmu. Apa lagi satu kamar, kamu tinggallah dibelakang bersama para asisten rumah tangga." Ucap laki-laki itu langsung berdiri dan masuk ke kamar nya dengan membanting daun pintu yang begitu keras.

__ADS_1


Pingka terduduk lemas di lantai. Tak menyangka jika respon Endra tetap sama, tanpa terasa air matanya tumpah begitu saja. Pingka menyadari ada orang lain selain dirinya di sana. "Maaf saya membuat kekacauan." Ujarnya mengusap air mata.


"Jangan minta maaf, Nyonya. Bibi yang minta maaf tanpa bisa membantu apa - apa." Bi Weni sedih dan merasa bersalah.


"Panggil saya Pingka, Bi. Saya bukan siapa - siapa disini." Pingka memaksakan senyum


"Tidak, Nyonya adalah istri pilihan Nyonya besar." Bi Weni menolak permintaan Pingka.


"Tidak apa - apa, Bi. Saya hanya istri di atas kertas dan walau dinikahkan secara resmi serta disaksikan wali  saya dan di depan Tuhan. Tapi dalam hatinya, saya bukan istri yang diinginkannya." Pingka tersenyum pahit.


"Mari, Nak ! Pingka, Bibi  antar ke kamar Bibi." Bi Weni menarik koper Pingka.


...****************...


Rumah belakang...


Di sinilah Pingka tinggal sebagai istri Endra, di rumah belakang tempat hunian para Asisten rumah tangga. Mereka tidak tahu jika yang baru datang itu adalah istri Tuannya selain Bi weni.


Endra mengawasi dari kaca balkon kamarnya yang berhadapan langsung dengan rumah belakang. Dirinya tersenyum puas sudah mengepak wanita yang baru sah jadi istrinya beberapa jam lalu itu. "Tunggu masih banyak kejutan yang lainnya wanita udik." Gumamnya tersenyum sinis.


Bi Weni selesai memasak makan malam, wanita paruh baya itu menaiki anak tangga menuju kamar Tuannya. "Tuan makan malamnya sudah siap." Ucapnya mengetuk pintu kamar Endra.


Beberapa menit kemudian Endra turun ke bawah dan menuju ruang makan. "Dimana wanita itu ?"


"Di belakang, Tuan !"


"Bagus ! Dia tahu diri, katakan padanya jangan menyentuh barang - barang ku, atau pun berkeliaran di rumah ini. Jika ingin keluar suruh dia lewat pintu samping jangan menampakan wajahnya bila ada tamu." Ujar Endra panjang lebar


"Baik Tuan akan saya sampaikan." Bi Weni meninggalkan Endra sendiri dimeja makan.


Bi Weni langsung ke rumah belakang sambil berpikir bagaimana dia mengatakan perintah Endra. "Nak Pingka, Pak En—" Kalimat wanita paruh baya itu terputus tak mampu rasanya mengatakannya.


"Saya sudah mendengarnya, Bi. Bukan maksud saya menguping. Tapi kebetulan saya memang ada di sana untuk mengambil sisa barang barang saya tadi di dapur." Ujar Pingka tersenyum


"Bersabarlah, Nak !" Bi Weni mengusap pundak Pingka.


Endra menyelesaikan makan malam, setelah itu dia melanjutkan pekerjaannya diruang kerja.Tanpa merasa bersalah atau menyesal dengan apa yang telah dilakukannya.


Pingka makan malam bersama para  asisten rumah, walau di hatinya dilanda kesedihan.Tapi cukup terhibur dengan canda tawa para asisten rumah tangga yang sudah mulai berumur itu. Usai makan malam Pingka memutuskan untuk duduk di teras rumah. Matanya menatap kosong ke depan melamunkan perjalanan cintanya yang menyakitkan. Berstatus istri tapi bukan istri .


"Sudah malam ayo istirahat." Ajak Bi Weni membuyarkan lamunannya . Pingka mengangguk dan mengikuti langkah Bi Weni masuk kedalam rumah.

__ADS_1


...----------------...


Terimakasih sudah membaca jangan lupa dukungannya 🥰


__ADS_2