
Perasaan gundah gulana belum berhenti menyerang hati si pria tampan yang tengah tergesa-gesa memasuki kantornya. Wajah sangar tambah sangar saat menaiki lift khusus dirinya karena merasa pergerakan lift itu begitu lambat.
Apa yang sebenarnya membuatnya ingin cepat sampai keatas lantai tempat ruangannya berada?
Kini ia sudah sampai didalam ruangan miliknya. Endra dengan cepat membuka pintu ruang pribadinya.
Hampir semua dokumen penting yang belum sempat dibawa ke rumahnya berceceran begitu saja, tangannya terhenti saat menemukan surat yang ia cari yaitu surat perpisahan.
Perasaannya begitu berdebar-debar dengan tangan gemetar ketika membuka lembaran kertas itu, berulang kali mengerjabkan matanya kalau penglihatannya salah.
Sebuah senyum terukir di bibirnya, perasaan berdebar itu berubah lega saat melihat tempat tanda tangan bagiannya belum tercoret sedikit pun.
"Dia masih milikku." Gumam Endra pelan. Ada rasa bahagia yang luar biasa dirasakannya karena surat perpisahan itu belum ia tanda tangan. "Aku akan menjemputmu, Pingka." Ucapnya memeluk dan mencium lembaran kertas itu.
Sandi tahu kedatangan Endra langsung mengetuk pintu ruangan pribadinya. Endra keluar dengan wajah berbinar. "Kamu menemukannya?" Sandi bertanya sambil melangkah ke sofa.
Endra menggeleng lemah tapi di bibirnya tersenyum tipis. "Dia sudah pulang di bawa Fajar dan Dimas, sekarang aku akan menyusul mereka menjemput istriku pulang." Jawabnya tanpa ragu.
"Istri?" Sandi bertanya dengan wajah kebingungan.
"Ya, dia masih istriku." Endra tersenyum lalu menunjukkan surat yang dipegangnya.
Sandi ikut bahagia saat melihat sendiri surat itu, hanya Pingka saja yang menanda tangani. "Jemput dia semoga berhasil." Sandi menepuk pundak Endra lalu keluar dari sana.
...----------------...
Endra bergegas pulang mempersiapkan segala keperluannya menyusul Pingka. Tapi setelah ini, ia harus membujuk Ibunya. Endra selesai berkemas lalu masuk ke kamar tamu. Ia terkejut tak mendapati barang Pingka satu pun.
"Bi, Bi Weni ! " Panggil Endra dengan nyaring.
__ADS_1
Bi Weni berjalan cepat dari dapur menaiki anak tangga mendengar namanya dipanggil. "Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Bi Weni bertanya sambil menunduk takut melihat wajah garang Endra yang sedang marah.
"Dimana barang-barang, Pingka?" Endra bertanya dengan suara datar dan sorot mata yang tajam.
"Ma-maaf, Tuan. Waktu itu Pak Dimas masuk begitu saja ke kamar ini tanpa menghiraukan larangan bibi. Lalu... dia keluar dengan dua koper besar." Jelas Bi Weni dengan kondisi tubuhnya yang sudah mengeluarkan keringat dingin.
"Sialan !!" Desis Endra mengepalkan tangannya.
"Maafkan Bibi, Tuan ! Tidak bisa mengatasi masalah ini. Waktu itu juga baju Pak Dimas penuh dengan darah."
"Baiklah tinggalkan saya sendiri dan beberapa hari ke depannya saya tidak pulang." Endra masuk kedalam kamar Pingka.
Direbahkan nya tubuh yang lelah sejenak di atas kasur tepat pada posisi sering di pakai Pingka. Aroma Shampoo dan parfum wanita itu melekat kuat di bantal, kasur dan guling.
Endra menghirup banyak - banyak aroma yang tertinggal seakan menambah pasokan oksigen di dadanya. Ia merasakan aura ketenangan dalam dirinya setelah memasuki kamar itu.
"Kamu memang cantik alami, Pingka." Gumam Endra lalu menuangkan Shampoo.
Bibirnya selalu tersenyum mengingat kata-kata kasir waktu itu. Di isinya bathtub dengan air hangat lalu diberikannya bubble bath dan minyak esensial. Endra berendam untuk merelaksasikan tubuhnya guna mengisi energi kembali karena dirinya tidak tahu apa yang menghadangnya kali ini.
Merasa cukup Endra membilas tubuhnya lalu meraih handuk masuk ke kamarnya. Tak lupa meminta Bi Weni mengantarkan makanannya ke kamar, sambil menunggu makanannya datang Endra kembali ke kamar Pingka mencari sesuatu yang tertinggal selain peralatan mandi.
Satu - persatu laci dan lemari dibukanya. Iris mata Endra tertuju pada laci di samping kasur kemudian dibuka nya, ada selembar amplop putih di dalamnya.
Endra membuka perlahan ada selembar foto yang bertulis 'Kebersamaan dengan pria kota sedang berlibur'. Iris matanya melebar setelah membalik foto itu , dadanya berdebar dan rasa sesalnya semakin bertambah setelah melihat orang - orang yang ada di foto itu. Endra bergegas ke kamarnya bertepatan dengan Bi Weni mengantarkan makanan.
"Bi, pindahkan semua barang yang dipakai Pingka ke kamar saya seperti, seprai, sarung, bantal, guling selimut serta apron dan yang pernah disentuh istri saya." Titah Endra sambil makan terburu-buru.
Bi Weni hanya mengangguk patuh dalam hatinya bertanya-tanya apakah Tuannya sudah gila? Sampai meminta barang-barang yang pernah disentuh Pingka, apa dia akan membuat Museum ? Lalu dimana Pingka ? Begitulah isi kepala Bi Weni saat ini. Pertanyaan itu hanya tersimpan di hatinya tak berani mengungkapkan karena selama ini Endra tak pernah memasang wajah bersahabat.
__ADS_1
...----------------...
Ibu Erly duduk termenung di kamarnya dengan pikiran kosong, wajahnya sedikit memucat dan lemah, hampir dua hari ini ia tidak makan dengan benar.
Berulang kali Melan membujuk sang ibu agar tetap menjaga kondisinya, tapi masih tidak dipedulikan wanita tua itu, bahkan makanannya sejak tadi belum tersentuh.
Endra menaiki anak tangga dengan membawa nampan. Menurut laporan Bi Lia, ibunya belum menyentuh makanan sama sekali. Ia perlahan membuka kamar ibunya lalu masuk duduk disisi kasur.
"Untuk apa kau kemari keluarlah !" Ujar Ibu Erly masih marah.
"Maafkan aku telah menyakiti hati Ibu, aku akan menyusulnya hari ini."
"Tidak perlu menyusulnya jika hanya membuatnya terluka, kamu sudah menceraikannya"
"Ibu maafkan aku , kenapa Ibu tidak mengatakan jika Pingka gadis kecil itu? Aku menemukan foto ini di laci." Endra memperlihatkan foto yang didapatnya.
Ibu Erly tergerak untuk melihat foto belasan tahun itu. "Ibu hanya ingin kamu menerimanya karena kamu mencintainya bukan karena balas budi telah menyelamatkan nyawamu." Wanita paruh baya itu mengusap air matanya.
"Maafkan aku, Ibu jangan menangis." Endra merasa sesak melihat air mata ibunya.
"Ibu menjodohkan mu bukan hanya karena janji, tapi Ayahmu memilihkannya untukmu. Karena Ia yakin bersamanya kamu akan membangun rumah tangga yang bahagia tanpa perlu mengatakan siapa Pingka. Tapi Ibu salah yang ada hanya luka untuk kalian berdua. Maafkan Ibu." Ibu Erly terisak.
"Maafkan aku, Bu. katakan dimana desanya ? Aku sudah lupa tempatnya. Pingka masih istriku, kami belum resmi berpisah" Ujar Endra
"Kamu menyusulnya?" Wajah Ibu Erly berbinar.
"Iya, aku menyusulnya. Tapi Ibu makanlah dulu" Endra meraih sendok .
Ibu Erly mengangguk lalu tersenyum sambil menuliskan sesuatu. "Baiklah ibu makan, kamu susul menantuku." Wanita paruh baya itu menyerahkan secarik kertas alamat Pingka.
__ADS_1