Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Amplop Coklat


__ADS_3

Pria berwajah datar tapi tampan dan mempesona itu menatap malas di luar jendela. Perasaan apa saat ini yang melandanya? Gelisah karena tak lagi melihat penampakkan cantik di bawah sana. Ia lesu melangkah tak bersemangat memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Masih dengan wajah ditekuk dan semangat yang memudar. Endra memaksa begitu saja memasuki ruangan yang bertuliskan CEO.  Ia menghidupkan laptop dan memeriksa dokumen yang menanti di atas meja. Namun, tetap tidak fokus bekerja. Pikirannya kembali terusik saat melewati kursi sekretaris yang masih kosong, baru saja melihat pemandangan manis di meja itu hari kemarin dan hari ini kosong kembali.


Endra tak mampu menahan dirinya untuk segera tahu, disentuhnya tombol interkom di meja kerja miliknya.


"Keruangan Ku."


Sandi bergegas menuju ruangan Endra. Lalu berhenti sejenak melihat bangku sekretaris yang masih kosong kemudian lanjut melangkah mengetuk pintu .


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Sandi bertanya sebagai asisten.


"Kamu hubungi Pingka kenapa jam ini belum sampai?"


"Baiklah." Sandi mengeluarkan ponsel nya. Beberapa detik kemudian panggilan Sandi tersambung. "Kamu dimana?" Tanyanya.


" Diperjalanan sebentar lagi sampai."


"Baiklah sampai jumpa di kantor." Sandi memutuskan telpon. Ia menoleh pada Endra yang tampak kacau. "Dia diperjalanan." Ujarnya meletakkan ponselnya di atas meja.


"Syukurlah, kami bertengkar semalam. Dia pergi dari rumah belakang. Aku tidak tahu dia tinggal dimana ? Dia juga mengatakan akan mengundurkan diri hari ini." Tutur Endra dengan raut wajah kebingungan.


"Lalu... Kenapa kamu gelisah?" Sandi bertanya sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Hentikan dia untuk mengundurkan diri, aku yang bersalah karena sudah menyebutnya murahan saat dia menjawab telpon dari Dimas. Entah kenapa aku tidak suka dia tertawa bersama orang lain." Jelas Endra dengan sedikit penyesalan.


Sandi tertawa kesal. "Lakukan sendiri ! Bukankah ? Kamu atasan kami disini." Ucapnya dengan rasa kecewanya.


"Apa dia mau?" Endra bertanya dengan nada sedikit putus asa.


"Cobalah ! Dia karyawan yang kompeten." Sandi meraih ponselnya lalu pamit keluar dari ruangan Endra.


...----------------...


Endra membisu berusaha mencerna kata-kata Sandi. Pikirannya terhenti karena pintunya terdengar diketuk dari luar.


"Masuk."


"Permisi."


Suara merdu Pingka menerobos masuk kedalam gendang telinganya.


"Pingka silahkan duduk." Endra berdiri ingin keluar dari kursinya.


"Terimakasih, saya hanya ingin memberikan ini." Balas Pingka dengan nada datar dan tatapan yang dingin lalu menyodorkan amplop coklat.

__ADS_1


Endra terpaku melihat amplop coklat di atas mejanya sejenak, lalu beralih menatap bola mata Pingka. "Jangan mengundurkan diri Pingka. Perusahaan ku membutuh karyawan sepertimu." Ucapnya dengan wajah serius.


Pria ini tak merasa bersalah sedikit pun setelah memakiku


"Keputusanku sudah bulat."


"Maaf atas kejadian tadi malam, aku terbawa emosi." Ucap Endra dengan wajah berharap.


"Jangan menghinakan diri anda untuk meminta maaf pada orang rendahan seperti saya. Sekarang, anda sudah tahu seberapa murahan diri saya. Jadi, jangan menurunkan wibawa yang ada dipundak anda."


"Pingka aku hanya kelepasan emosi." Balas Endra lemah karena hatinya merasa ngilu mendengar penuturan Pingka.


"Sudahlah jangan menyibukkan diri anda untuk mempertahan karyawan seperti saya." Ujar Pingka dengan santai.


Endra menyobek amplop menjadi dua. "Aku tidak menerima pengunduran dirimu. Tidak ada penolakan !" Ujarnya dengan tatapan tajamnya


Pingka bersorak senang dalam hatinya.


Semoga awal yang bagus


"Baiklah, anda yang memaksa dan anda yang berkuasa." Ucapnya lalu meninggalkan ruangan itu.


Endra bernafas lega bisa mengatasi Pingka. Dimeja sekretaris wanita itu mengulum senyum tipis ada secercah harapan di sana. Sedikit ditariknya kesimpulan atas kejadian semalam.


...----------------...


Pecahan kaca rias dan barang lainnya berserakan dimana-mana isak tangis menggema dalam kamar milik Rania dan Hendri.


"Kau tahu Rania, aku berniat untuk memulai lembaran baru bersamamu. Tapi apa yang kau perbuat pada Pingka ?! Menghujatnya tanpa alasan." Kata Hendri dengan nada rendah tapi mengandung emosi yang besar.


"Berhenti membelanya !" Bentak Rania sambil menangis.


"Jelas aku membelanya, disini kamu yang bersalah. Jika bukan karena dirimu tidak akan mungkin Pingka diserbu warga ke rumahnya. Kamu menabur fitnah untuk dia, yang terluka adalah Pingka atas pernikahan ini. KAMU YANG MENJEBAKKU MALAM ITU !" Intonasi Hendri meninggi.


"CUKUP HEN ! Ya, aku bersalah. Maafkan aku." Rania berlutut di hadapan Hendri.


"Aku memaafkan mu. Tapi tinggalkan rumah ini ! Aku tidak ingin putriku mendapat pengaruh buruk darimu." Hendri melepaskan tangan Rania dari kakinya dan menyodorkan amplop coklat berlambang dari Pengadilan Agama.


Rania menangis sejadi-jadinya, dengan cara memfitnah Pingka yang menggoda suaminya dia berharap  Hendri berhenti mendekati Pingka. Tapi Rania salah, dia yang dijauhkan Hendri dan Putrinya.


Dendam dalam dirinya bukan mereda setelah tahu faktanya Hendri ingin memulai awal yang baru dengannya, tapi malah memicu dirinya semakin menyalahkan Pingka.


...----------------...


Endra mengajak Pingka bertemu disebuah cafe. Dengan senang hati Pingka menerima ajakan suaminya.

__ADS_1


Wanita itu membersihkan diri setelah pulang bekerja, sambil bersenandung dia menyisir rambut panjangnya. Senyum manis terpancar dari bibir merahnya, bisa dikatakan Pingka bahagia saat ini. Kata-kata Endra yang menyakiti hatinya terkikis begitu saja diterpa gelombang kebahagiaanya.


"Sudah lama menunggu?" Tanya Endra menarik salah satu kursi.


"Belum juga."


"Kita pesan makanan dulu." Ucap Endra ramah.


Pingka mengangguk, Endra memanggil waiters lalu memesan makanan dengan menu berbeda dengan istrinya.


"Kenapa memintaku bertemu disini?" Tanya Pingka lembut.


"Aku ingin kamu kembali ke rumah bersamaku di rumah utama." Jawab Endra langsung pada intinya.


Wajah Pingka berbinar bahagia, serasa mendapat keberuntungan malam ini, tanpa lama Pingka mengangguk dengan senyum manisnya. "Aku mau." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya pada Endra.


Endra tersenyum ada rasa senang di hatinya melihat senyum terukir di bibir Pingka. Senyumnya pudar saat ponselnya berdering tertera nama Melisa di sana. Endra berdiri lalu agak menjauh dari sana, cukup lama dia berbicara di telpon. Pingka tak ambil pusing semua butuh proses.


"Kenapa tidak dimakan?" Ucap Endra melihat Pingka memegang Ponsel.


"Ayo makan bersama." Pingka menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.


Endra mengangguk "Baiklah, setelah ini kita ke tempatmu bawa barang seperlunya saja."


Sekali lagi wajah Pingka merah merona karena bahagia. Sayangnya Endra tak melihat itu karena fokus melahap makanannya. Di sudut meja lain pria yang tak sengaja ada di tempat itu menyimak pembicaraan kedua insan yang tak jauh darinya ini.


Dimas tersenyum pahit. Bahagia, saat melihat pancaran bahagia di wajah wanita pujaan hatinya. Sedih, ketika bahagia itu tercipta tidak bersamanya, luka pasti ada tapi rasa bahagianya lebih besar saat senyum manis terukir di bibir Pingka.


Semoga kamu selalu tersenyum dan bahagia, itu doaku untukmu


Dimas terlebih dulu meninggalkan tempat itu.


...----------------...


Para asisten rumah bahagia mengetahui Pingka kembali, terlebih lagi wanita itu akan tinggal di rumah utama. Endra dan Pingka bersama naik ke lantai atas .


"Ini kamarmu pakailah fasilitas di rumah ini." Ucap Endra kemudian masuk kedalam kamarnya.


Pingka tak keberatan jika harus berpisah kamar. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya lalu menata barang-barang yang dibawa. Usai berganti baju  Pingka lalu merebahkan tubuhnya di kasur  menatap langit-langit kamar menerawang kejadian hari ini.


Aku takut memejamkan mata, takut mimpi ini akan hilang saat aku membuka mata.


...----------------...


Terimakasih sudah membaca dukung Author dengan kasih 👍⭐❤ dan Vote juga terimakasih 😍

__ADS_1


__ADS_2