
Endra dan Pingka berangkat bersama ke rumah Ibu Erly. Selain menghindari omelan sang Ibu, entah kenapa Endra ingin sekali mengantarkan Pingka ke bandara. Ada rasa tak rela dalam dirinya saat Pingka menghabiskan cuti di kampung halamannya, belum juga berangkat dia mulai merasakan kesunyian.
...----------------...
Pingka menarik kopernya keluar dari mobil Endra. "Sampai disini saja terimakasih mau mengantarku." Ucapnya melangkah membelakangi Endra.
"Tunggu."
"Ya, ada yang ketinggalan?" Pingka membalikkan badannya. Disertai tatapan penuh tanya.
"Mana Ponselmu?" Endra mengulurkan tangannya meminta Ponsel Pingka. Ada rasa yang tak dimengertinya ketika gadis pedalaman itu membawa kopernya masuk untuk check in.
Pingka mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Mereka bertukar nomor ponsel, cukup lama Endra mengutak-atik ponsel milik Pingka.
"Rindukan aku." Ucap Endra tanpa sadar dan mengembalikan ponsel Pingka.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Bibirnya terangkat ketika melihat nama si pemanggil ternyata telpon dari Melisa. Dia pergi begitu saja sambil menjawab telpon kekasihnya.
Aku selalu merindukanmu... Pertanyaannya, apa kamu juga akan merindukanku ? Tapi tidak mungkin ada orang lain yang selalu kau rindukan
Pingka menatap lekat punggung laki - laki itu.
...----------------...
Pingka menikmati perjalan pulang kampung dengan perasaan bahagia, dia merasa nyaman saat berada di dekat laki - laki yang dua bulan lalu menjadi suaminya. Meski pun tak ada tanggapan baik dari Endra. Memang perasaan cepat berbalik. Tapi siapa yang menduga ketika hati sudah kecewa maka sulit diperbaiki.
Pingka juga harus menyiapkan hatinya untuk menghadapi Rania di kampung jika wanita itu tahu kepulangannya. Rania menyimpan dendam padanya karena Hendri ingin menceraikannya dengan alasan agar dia kembali pada Laki-laki itu.
Pingka sudah tiba di Kota kecil dekat dengan Desanya. Seorang laki - laki tinggi putih bersih dan tampan melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Kak Fajar ! Aku merindukan Kakak." Pingka berlari lalu memeluk tubuh sang Kakak penuh rindu.
"Kakak juga merindukanmu, Jingga ! Langsung pulang atau kita makan dulu. Lumayan dua jam perjalanan lagi." Ujar Fajar sambil menarik koper dan barang lainnya ke dalam mobil.
"Makan dulu, Kak. Aku hanya sarapan sedikit tadi sebelum penerbangan." Pingka membantu memasukan kopernya di dalam mobil.
"Ayo kita cari tempat makan." Fajar membuka pintu mobil untuk Pingka.
"Makan di tempat biasa, Kak. Aku rindu masakan di sana."
"Baiklah." Jawab Fajar yang tak luput memperhatikan wajah adiknya. Dia hanya ingin tahu, apa Pingka hidup bahagia setelah pernikahannya atau tidak ?
Bulan pertama pernikahan Endra dan Pingka selalu bertengkar. Bulan kedua Endra berubah menjadi ramah dan perhatian. Wajar jika Pingka menganggap laki- laki itu mulai menerima pernikahan mereka.
Setelah makan disalah satu rumah makan di Kota itu, Fajar dan Pingka melanjutkan pulang ke kampung yang ditempuh selama dua jam perjalanan.
"Tidurlah, perjalanan masih jauh."
"Tidak, Kak. Aku ingin melihat perubahan apa saja disini ?" Pingka melihat pemandangan sepanjang jalan.
"Proposal yang kalian kirim tempo itu, kini sudah dikabulkan. Listrik sudah masuk Desa kita, sekarang proses mendirikan tiang listriknya. Mungkin, dua bulan kedepannya akan menyala."
"Benarkah?" Pingka begitu senang usaha terakhir sebelum ia merantau ke Kota dikabulkan oleh pemerintah setempat.
"Ya, semua dalam proses termasuk Tower juga sudah dibangun dekat dengan Desa. Jadi nanti Desa kita tidak hanya mengharap Tower dari perusahaan saja. Tapi dekat kampung kita juga ada dan jaringan internet akan masuk ke sana." Jelas Fajar.
"Syukurlah akhirnya Desa kita akan maju secara perlahan."
Memang Pingka dan pihak Desa mengajukan proposal penerangan. Pihak Desa diminta menyiapkan proposal untuk diajukan agar listrik bisa masuk.
...****************...
Fajar dan Pingka tiba di Desa. Wanita itu menelusuri Desa tempatnya dilahirkan dan dibesarkan, Desa penuh kenangan manis dan juga pahit. Desa yang selalu jadi kebanggaannya. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Merasakan sensasi alam Desa yang belum begitu terkontaminasi oleh pabrik yang jauh.
__ADS_1
"Ayo masuk." Fajar mengeluarkan barang bawaan Pingka dari dalam mobil.
"Akhirnya, aku pulang juga. Aku sangat merindukan suasana di sini."
"Kak Pingka." Sapa anak laki - laki yang membawa kantong kresek hitam di tangannya.
"Rio ! Wah kamu sudah besar. Bawa plastik mau kemana ? Bagaimana kabar Ayah dan Ibumu?"
"Semua baik, Kak. Aku kesini mau minta buah rambutan." Rio menunjuk pohon rambutan depan rumah Bibi Halimah.
"Ayo Kakak ambilkan." Pingka meraih tangan mungil itu ke genggamannya. Ia melirik pohon rambutan yang tidak terlalu tinggi itu. Namun, buahnya sangat lebat.
"Ibu ... Kami datang." Fajar sedikit berteriak sambil menarik koper adiknya. Laki-laki ini tersenyum melihat rumah mereka yang selalu sepi.
Bibi Halimah tergopoh-gopoh dari arah dapur membuka pintu luar.
"Fajar. Pingka !" Iris matanya berkaca - kaca menyambut putranya ke dalam pelukannya.
"Bagaimana kabar Ibu?" Fajar merangkul pundak Bibi Halimah sambil terkekeh.
"Kabar Ibu baik, Nak. Jadi, kamu langsung ke Kota menjemput Pingka."
"Iya, Bu. Aku juga ambil cuti." Fajar mencari-cari keberadaan adiknya.
Bibi Halimah sangat menyimpan rindu yang teramat dalam pada putra dan keponakannya, Fajar sengaja menjemput Pingka langsung dari perusahaan tempatnya bekerja tanpa singgah dulu ke kampung.
"Ayo masuk. Pingka Ayo, Nak." Bibi Halimah sadar jika mereka jadi pusat perhatian.
"Sebentar Bi, aku ambilkan buah untuk Rio dulu."
"Jingga, ayo turun. Nanti kamu jatuh biar Kakak yang ambilkan." Teriak Fajar dari bawah pohon.
"Sedikit lagi, Kak." Pingka menjatuhkan beberapa ranting.
"Rio, nanti malam suruh Kak Ferdy kesini ya bawa gitarnya." Pingka mengusap rambut Rio.
"Iya Kak." Rio pergi meninggalkan rumah Bibi Halimah.
Pingka memeluk Bibi Halimah penuh kasih dan rindu. Air matanya mengalir tanpa ijinnya, cukup lama dalam posisi itu hingga menarik perhatian tetangga dan orang - orang lewat singgah memperhatikan adegan haru itu.
Fajar, Pingka dan Bibi Halimah berbincang banyak diruang tengah. Tak lupa mereka juga menanyakan tentang pernikahan Pingka dan Endra.
"Bersihkan tubuh kalian kita makan selepas itu." Titah Bibi Halimah.
Pingka dan Endra memasuki kamar mereka masing-masing. Di kamar itu lah, Pingka melepaskan segala penat dan lelah selama di Kota. Ia memejamkan matanya lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan menghembuskan perlahan.
Mata Pingka terbuka perlahan tanpa terasa air matanya mengalir dari sudut matanya, kerinduan pada kedua orang tuanya begitu amat terasa. Tidak ingin terlarut dalam kesedihannya, Pingka langsung berdiri dan membersihkan dirinya. Selesai membersihkan diri mereka makan malam bersama di meja makan yang sederhana.
"Ayo makan sayang, Bibi sengaja memasak sayur kampung kita."
Pingka menatap satu persatu makanan yang tersaji. Sungguh, makanan yang menggunggah selera. Ada sayur asam ikan Baung, pepes ikan Nila dan lalapan. Pingka memakan hampir seluruh masakan Bibinya.
"Pelan-pelan makannya, Jingga ! Seperti tidak pernah makan saja." Fajar tersenyum melihat adiknya lahap.
Mereka bertiga makan dengan tenang, rumah Bibi Halimah memakai lampu tenaga surya untuk penerangan sebelum tidur malam dan menyedot air dari sumur untuk mengisi bak mandi serta keperluan lainnya.
Mereka bertiga kembali bercerita lagi didepan televisi, hanya beberapa rumah saja yang memiliki televisi karena listrik belum masuk Desa. Setelah jam 12 malam maka lampu akan dimatikan dan diganti dengan lampu tembok.
"Kamu cuti berapa lama, Nak?" Bibi Halimah bertanya sambil membereskan barang dan oleh-oleh yang dibawa Pingka.
"Dua minggu, Bi. Besok antar aku ke pemakaman ya, Kak."
"Iya Jingga, apa kepulangan mu. Endra tahu ?" Tanya Fajar sambil memeriksa ponselnya kalau ada telpon masuk.
__ADS_1
"Iya, dia yang mengantarku ke bandara tadi pagi." Jawab Pingka tersenyum.
"Syukurlah semoga dia bisa menerima pernikahan kalian." Seru Bibi Halimah.
"Semoga saja, Bi."
Perbicangan larut begitu saja, tidak hanya seputar rumah tangga Pingka dan Endra saja. Tapi juga tentang pekerjaan dan teman-teman di Kota. Saat tengah berbincang pintu diluar diketuk oleh beberapa orang.
"Bibi Halimah."
"Tunggu sebentar." Bibi berdiri dan membuka pintu. "Ferdy, ayo masuk."
Pingka tersenyum senang melihat kedatangan teman - temannya. Mereka saling berpelukan melepas rindu.
"Bagaimana kabar kamu ?" Ferdy bertanya sambil mendaratkan tubuhnya di sisi Pingka.
"Aku baik, Fer. Ternyata Rio menyampaikan pesanku. Ayo kita duduk di teras luar." Pingka mengajak teman-temannya untuk bersantai di teras. Menikmati angin malam dan sang rembulan di ketinggian langit.
Di teras ini lah, Pingka dan teman-temannya duduk bermain gitar. Masih seperti dulu suasana Desa yang sepi dan dingin. Hanya ada orang lewat yang ingin pergi ke warung ujung jalan. Walau sepi tapi keamanannya tetap terjaga.
Pingka menyanyikan sebuah lagu dengan gitar yang dimainkannya sendiri, dia adalah salah satu siswa berbakat di jaman SMA nya. Teman - teman yang baru datang tadi adalah teman SMA nya, hanya Fajar yang berbeda. Dia lebih dulu setahun dari Pingka lebih tepatnya satu angkatan bersama Endra.
Walau mereka satu Universitas saat kuliah tapi Endra dan Fajar tak mengenal satu sama lain. Setelah lulus SMA. Pingka juga melanjutkan kuliah disalah satu Universitas di Kota yang jauh dari kampung. Dia sudah terbiasa hidup mandiri dan bekerja. Sambil kuliah Pingka bekerja di toko kue yang besar di Kota itu. Hal sama pun juga dilakukan Fajar semasa kuliah, dia bekerja di bengkel yang besar.
Mereka senang bisa bertemu Pingka kembali. Walau tinggal lama di Kota tapi dia tidak berubah. Pingka masih bernyanyi dengan penuh penghayatan siapa pun yang mendengar pasti ingin ikut bernyanyi sampai lagunya habis.
Ponsel Pingka bergetar disaku bajunya tertera nama Endra di sana. Ia lupa mengabari laki-laki itu. Tunggu ! Mengabari ? Untuk apa ? Endra tidak mengharapkan kabar darinya.
"Halo Pak Endra" Pingka sedikit menjauh dari teman temannya.
"Bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan, Pak ? Sakit kupingku mendengarnya."
"Ma-maaf jadi aku harus memanggil apa?" Tanya Pingka terbata. Wajahnya serasa panas beberapa kali ia mengibaskan tangan agar mengurangi rasa merah di wajahnya. Tak hanya merona, Jantungnya pun bertalu indah mendengar suara suaminya itu.
"Panggil namaku saja, apa kamu sudah sampai ?"
"Iya, aku sudah sampai tadi sore." Rasa bahagia tak tergambarkan dari hati Pingka karena Endra menanyakan kabarnya.
"Suara apa ramai sekali ? Apa di sana banyak orang ?"
"Itu teman - temanku, kami berkumpul di depan rumah." Jawab Pingka melihat kearah teman-temannya.
"Baiklah aku makan dulu."
"Ya, jaga kesehatanmu." Balas Pingka lembut lalu telpon tertutup.
...----------------...
Pingka melepas segala rindu yang sangat mendalam di makam kedua orang tuanya. Dia duduk mengusap batu yang berukir nama ayah dan ibunya lalu mencabut anak-anak rumput yang bertumbuhan.
Menaburi bunga-bunga segar membuat Pingka kembali pada peristiwa berapa tahun silam. Ketika dia menangis meronta. Kehilangan kedua orang tuanya, kehilangan yang mencambuknya untuk hidup tegar dan mandiri. Kehilangan yang membentuknya untuk dewasa dan bertanggung jawab, kehilangan yang menamparnya agar selalu bertahan hidup.
Puing kenangan manis bersama ketika kedua orang tuanya masih hidup menciptakan lengkungan senyum manis di bibirnya.
"Ibu... Ayah, Apa kabar ? Aku pulang tapi tidak lama karena ada setumpuk pekerjaan menunggu di sana. Ibu... Ayah, aku ingin bercerita. Putrimu ini sudah tumbuh dewasa dan juga aku sudah menikah, Ibu Erly menepati janjinya pada Ibu. Tapi Dia menerimaku dengan terpaksa." Pingka terdiam sejenak menyeka air mata di pipinya. Mengatur nafasnya yang sedikit sesak. Wanita itu menghela nafas lalu berkata. "Ayah, terlalu burukkah? Aku menjadi istrinya. Entah sejak kapan aku mulai mencintainya. Aku tahu ini salah, dia tidak hanya menjadi suamiku. Tapi dia juga kekasih wanita lain yang lebih dulu memilikinya. Ayah... Ibu, akhir-akhir ini dia bersikap manis padaku. Sedikit harapanku ada padanya. Ayah... bolehkah ? Aku bermimpi dengan mata terbuka. Karena aku takut bermimpi disaat mata tertutup. Aku takut ketika mataku terbuka maka mimpi yang baru saja aku alami akan hilang begitu saja. Aku mencintai suamiku. Ayah... Ibu." Ujar Pingka mengusap air mata di pipinya.
...----------------...
Epilog
Endra menatap ponselnya lalu tersenyum saat mengingat Pingka memintanya menjaga kesehatannya.
"Melisa saja tidak pernah mengatakan itu, apa yang aku pikirkan ? Kenapa aku membandingkan kekasihku dengan wanita udik itu ? Sudah jelas Melisa yang terbaik." Gumamnya lalu menuruni anak tangga menuju meja makan.
__ADS_1