Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Tumbangnya CEO 2


__ADS_3

Sandi dan Dokter Reno termenung di dalam ruangan Dokter. Mereka berpikir keras, bagaimana membawa Pingka datang untuk Endra ? Di ruangan dengan fasilitas mewah ini Endra mulai membuka matanya perlahan lalu berusaha mengembalikan kesadarannya.


Aku terlambat


Endra segera bangun dari ranjangnya.


"Aaaahh" Pria itu memegang perutnya meringis menahan sakit .


"Kamu bangun, Nak?Jangan bergerak tubuhmu lemah tetap berbaring." Ucap Ibu Erly senang bercampur cemas.


"Ibu, kenapa aku disini?" Endra kembali berbaring dan melihat tangannya tertancap jarum infus.


"Kamu pingsan di kantor, Sandi membawamu kesini." Jawab Ibu Erly membelai lembut kepala putranya.


"Aku sudah sembuh, Bu. Aku harus menjemput Pingka dan kali ini aku harus berhasil membawanya pulang." Endra ingin mencabut infusnya.


"Tunggu, kamu harus sembuh dulu  baru kita menjemput Pingka, Ibu akan menemanimu nanti." Ibu Erly menahan tangan putranya.


"Benarkah?" Mata Endra berbinar. Lalu mengurungkan niatnya mencabut infus.


"Iya, Nak. Sekarang kamu makanlah dulu biar cepat sembuh." Ibu Erly meraih mangkuk buburnya.


Endra mengangguk patuh lalu membuka mulutnya menerima suapan dari ibunya,  belum bubur itu tertelan Endra memuntahkannya karena merasa jijik.


"Endra. Ayolah, Nak ! Makan sedikit saja, kamu belum boleh makan nasi keras. Lambung mu terluka." Ibu Erly berusaha membujuknya.


Pria dewasa ini menggelengkan kepalanya dan menolak tangan ibunya. "Aku tidak bisa makan, Bu. Perutku sakit." Lirih Endra merasa nyeri kembali di ulu hatinya.


Ibu Erly menitikkan air matanya lalu menekan tombol disebelah kepala ranjang. Dokter Reno dan Sandi berlari keruangan Endra yang lumayan jauh bersamaan dengan Melan yang baru datang mengambil baju ganti Ibunya.


Reno segera memeriksa kondisi Endra dengan sigap. Sementara Sandi dan Ibu Erly serta Melan gelisah menunggu tak jauh dari ranjang Endra. Wajah pria ini memucat menahan sakit di perutnya keringat dingin mulai membanjiri wajahnya lagi.


Ibu Erly tak kuasa menahan tangisnya begitu juga Melan. Tak bisa melihat kesakitan yang dirasakan Kakaknya, ia memilih untuk keluar dari ruangan itu.


"En, kamu harus berusaha makan agar lambungmu tidak kosong." Dokter Reno menasehati.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menelannya."


...----------------...


Tanpa terasa hari sudah malam berbagai macam cara membujuk Endra makan tetap saja ia tidak bisa menelan makanannya. Dokter Reno sudah habis jam tugasnya memutuskan ikut menginap di rumah sakit. Dimas baru mendapatkan kabar dari Sandi langsung pergi ke rumah sakit. Dirinya iba melihat kondisi Endra begitu lemah. Dimas memutuskan menelpon Pingka, tapi jawaban sama yang ia dapat yaitu penolakan Pingka.


Dimas, Sandi dan Dokter Reno meminta kasur berukuran besar yang rendah untuk ditempati mereka bertiga buat beristirahat menunggu Endra. Sementara Ibu Erly istirahat di sisi Endra karena memang kasurnya muat dua orang dan Melan memutuskan untuk pulang ke rumah.


Jangan ditanya kenapa bisa seperti itu fasilitasnya, karena rumah sakit yang dibangun keluarga Saguna tiap ruangannya seperti apartemen lengkap dengan dapurnya agar keluarga pasien yang dapat giliran menunggu tidak kesusahan.


"Pingka. Ayo kita pulang, ikutlah denganku" Racau Endra dalam tidurnya.


Ibu Erly terbangun mendengar Endra bergumam. Dari raut wajahnya, ia sedang gelisah beberapa kali mengulang kata yang sama. Ibu Erly mendekat lalu menyentuh pipi putranya. Ia terkejut, merasakan tubuh Endra sangat panas. "Nak, bangun jangan seperti ini ! Ya Tuhan tubuhmu panas sekali." Ibu Erly panik.


Ibu Erly segera membangunkan Dokter Reno karena Endra tak berhenti mengigau dan tubuhnya juga panas lalu menggigil. Dokter Reno segera memeriksa suhu tubuh Endra yang mulai meringkuk kedinginan. Endra semakin lama semakin meracau tak jelas, tiba -tiba kesadarannya semakin menurun. Ibu Erly menangis kembali melihat selang oksigen tertancap di hidung putranya .


Dimas dan Sandi ikut terbangun mendengar ibu Erly sesenggukan. Mereka bertanya pada Dokter Reno tetang kondisi Endra.


"Bagaimana?" Tanya Sandi duduk di atas kasur.


Dimas dan Sandi berdiri lalu mendekat ke ranjang Endra, mereka menatap sendu pada wajah pucat sahabatnya itu. Pria kasar dan tegas ini terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ibu Erly ingin menelpon Pingka  tapi beberapa detik kemudian niat itu dibatalkannya.


...---------------...


Sejak demam Endra meninggi, semua orang tidak ada yang tertidur sampai menjelang pagi, Sandi berpamitan akan pergi ke kantor bagaimana pun ia akan menggantikan tanggung jawab Endra selama ia sakit.


Dimas juga pergi ke kantor, mereka berjanji akan mengunjungi Endra saat makan siang dan menunggunya bila malam hari. Ibu Erly begitu senang melihat para pemuda itu setia menemani putranya.


Berapa jam sudah Endra belum juga bangun walau demamnya sudah menurun. Melan datang mengantarkan makanan dan keperluan ibunya sebelum pergi ke kampus.


Dokter Reno kembali bertugas karena Endra belum juga makan, ia menggantikan cairan infus dengan nutrisi berharap dari situ Endra memiliki tenaga untuk bangun.


Endra mengerjabkan mata beberapa kali mencoba untuk bangun, tapi tidak bisa. Jangankan untuk bangun menggerakkan tangannya saja ia tak mampu.


"Nak, jangan memaksakan dirimu untuk bangun, sebentar Ibu akan membersihkan tubuhmu." Kata Ibu Erly.

__ADS_1


Endra hanya mengangguk pelan baru pertama kalinya ia merasakan dirinya lemah tak berdaya .


Ibu Erly menyeka tubuh Endra dengan air hangat kuku penuh cinta, ia kembali merasakan merawat seorang anak laki-laki yang berusia 10 tahun kebawah. Tanpa sadar ia menitikkan air matanya. Endra menyadari air mata Ibunya lalu perlahan mengangkat tangannya dengan gemetar mengusap air mata di pipi Ibu Erly.


Kepalanya menggeleng lemah dengan sorot mata memohon jangan menangis begitu arti tatapan itu. Selesai membersihkan tubuh putranya, Ibu Erly mengambil mangkok bubur di pinggir kasur.


"Kamu makan dulu ya." Kata Ibu Erly menyendok bubur. Endra menutup mulutnya melihat jijik pada bubur itu. "En. Makanlah, Nak ! Kamu ingin menjemput Pingka, 'kan? Ayo makan dulu biar cepat sembuh." Ibu Erly mencoba merayu.


Endra mengangguk lalu membuka mulutnya, dengan bersusah payah ia menelan bubur itu agar mulus melewati tenggorokannya.


Suapan ke tiga, Endra kembali memuntahkan makanannya karena perutnya tiba-tiba sakit. Ibu Erly hanya menghela nafas melihat putranya tak bisa menerima makanan sama sekali.


...----------------...


Istirahat siang, Dimas dan Sandi datang kembali ke rumah sakit, membawa beberapa makanan lembek untuk Endra.


"Bagaimana, apa dia sudah makan?" Tanya Sandi duduk di sofa.


"Belum, hanya minum susu sedikit, tadi sempat makan bubur tapi dimuntahkannya." Jawab Ibu Erly sedih.


"Sabarlah, Bi. Mungkin, perutnya belum bisa menerima makanan. Jangan patah semangat." Dimas merangkul pundak Ibu Erly.


Melan datang membawa rantang makanan untuk Ibunya, pulang dari kampus ia menyempatkan diri mengambil makanan yang sudah dimasak oleh Bi Lia.


"Ibu makanlah dulu."


Ibu Erly mengangguk lalu duduk makan, begitu juga Sandi dan Dimas serta Dokter Reno yang baru saja selesai menyuntikkan pereda nyeri di selang infus Endra.


Mereka makan bersama di ruangan itu, di saat makan mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita di depan ruangan  Endra.


"Selamat siang semuanya." Sapa wanita itu tersenyum manis.


...----------------...


Sampai disini ya jari Author keritang gak keriting lagi 😁

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca Minta 👍 dan ⭐ nya juga terimakasih 😍


__ADS_2