Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Harus rela


__ADS_3

Sunyi seketika menguasai ruangan tempat Endra dirawat, semua orang dalam keadaan tegang tak menyangka ini akan terjadi, kebahagiaan sudah menunggu dengan indah di depan mata kini harus melambaikan tangannya untuk pergi.


Terdengar isak kecil dari mulut Melisa yang masih berdiri melingkarkan tangan di bulatan perutnya. Wanita itu tampak lusuh dan kacau .


Pingka mengumpul barang - barang bawaan nya yang sempat tertunda. Sambil berkemas wanita itu berkata. "Bayi itu butuh dirimu, jangan biarkan dia lahir tanpa ayahnya. Jangan menjadi pria yang tak bertanggung jawab."


Sorot mata penuh cinta itu berubah merah dan galak. Tak ada lagi kehangatan di sana. Jantung Endra berpacu lebih cepat saat mendengar kalimat Pingka.


"Jangan katakan itu, Pingka. Aku tidak yakin dia bayiku." Balas Endra dengan suara begitu lemah.


"Jangan melakukan hal bodoh ! Kamu tidak tahu rasanya hidup tanpa kedua orang tua sejak kecil. Apa kamu ingin bayi tak berdosa itu lahir tanpa melihat wajah ayahnya ?! Sangat menyakitkan Pak Endra !" Kata Pingka sedikit meninggi.


Hati Endra begitu sakit, sorot mata yang sudah hangat itu mulai meredup dan kembali dingin lagi. Raut wajah Pingka sudah tidak bersahabat. Suara lembut menyejukkan hati berubah menjadi menggelegar bak petir menyambar.


"Pingka percaya padaku" Balas Endra dengan tatapan memohon dan berusaha meraih tangan Pingka.


"Jangan jadi pria pengecut ! Bertanggung jawab atas perbuatan mu ! Kamu boleh membenci Ibunya tapi cintai anak kalian, dia tak bersalah. Perbuatan kalian yang salah." Ujar Pingka dengan kalimat sarat akan emosi. Tangan Endra yang memegang kedua pundaknya, Ia ditepis begitu saja.


Tidak ada penerimaan atas sentuhan Endra seperti biasanya. Pria itu terdiam tanpa kata. Ia tak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi. Endra juga berusaha mengingat apa saja yang dilakukannya malam itu pada empat bulan yang lalu.


"Kamu sudah sembuh, sesuai janjiku. Aku akan pulang setelah kamu sehat. Surat resmi perpisahan kita akan sampai padamu." Ucap Pingka dengan nada suara yang berat.


Pingka menarik kopernya lalu keluar dari ruangan itu tanpa menghiraukan Dokter Reno yang memanggil namanya, ia pergi ke suatu tempat  yang siap menampung segala emosi dan air matanya.


Wajah Endra panas dan perih mendapatkan tamparan keras dari Ibunya. Laki-laki itu menatap kosong. Meski wajahnya berpaling kesamping karena keras tamparan sang Ibu. Otaknya masih mencerna perkataan Pingka.

__ADS_1


"Kamu puas menyakiti, Pingka ?! Dan kamu masih disini membiarkan dia pergi begitu saja ! HAH !" Teriak Ibu Erly dengan lelehan air matanya.


Endra baru menyadari jika Pingka sudah tidak ada di ruangan itu. Ia berdiri dan keluar mengejar istrinya. Lalu melihat segala arah berharap menemui Pingka di sana. Endra mengusap wajahnya frustasi, sudah berlari ke segala sudut tapi tidak menemukan Pingka.


Sayang kemana kamu ? Maaf jika membuat terluka


...----------------...


Endra duduk disalah satu taman rumah sakit. Pikirannya menjadi kusut. Tak tahu apa yang harus dilakukannya ? Ingin menolak Melisa tapi ia memang benar - benar hamil. Yang mengganjal hatinya apa benar itu anaknya ? Jika memang dikandungan Melisa benar darah dagingnya maka, Ia tak punya pilihan selain menikahi mantan kekasihnya itu.


Apa Endra bisa hidup dengan ibu dari anaknya sementara cinta yang ia miliki sudah terenggut pergi bersama Pingka ? Endra membuka ponselnya melihat foto Pingka yang menyuapinya penuh cinta saat ia sakit. Tak lama alarm kalender berbunyi .


Endra tersentak hari ini adalah hari spesial untuk Pingka . Pria ini menitikkan air mata dengan rasa bersalah. Bukan kado terindah yang didapat Pingka, tapi malah goresan luka yang diterimanya.


...----------------...


Bendungan air mata Pingka akhirnya  jebol, ia menangis sepuasnya di sana. Sekali lagi harapan palsu mempermainkannya, perasaannya sudah terputus sampai disini.


Perasaan cinta, kasih dan sayang tidak ada lagi yang tersisa. Hanya benci dan benci, hati yang pernah terluka membentuk kepingan kini hancur menjadi serpihan kecil.


Ingatannya kembali pada waktu itu, bagaimana hangat dan mesranya Endra bersama Melisa. Jadi tidak mungkin itu bukan bayi Endra, sementara Melisa adalah calon istri impiannya. Bisa saja mereka  melakukan kesalahan mengingat mereka saling mencintai.


"Aku harus rela, aku harus bangkit" Lirih Pingka menguatkan dirinya sendiri. Wanita rapuh ini berusaha menenangkan dirinya dan menghentikan air mata yang masih ingin keluar.


Wajah sendunya mulai terlihat lelah setelah berjaga beberapa malam ditambah banyak menangis hari ini, ia membawa tubuhnya bersandar di dinding tembok matanya menerawang jauh, pikiran dan jiwanya kosong.

__ADS_1


'AKU HAMIL ANAK MU'


Kalimat itu menggema kembali dipendengaran Pingka, air mata yang mulai kering mengalir lagi di pipinya. Ia masih belum percaya jika suaminya akan memiliki bayi bersama mantan kekasihnya.


"AAA..."


Pingka berteriak menangis sambil memukul kepalanya sendiri. Tubuh itu lumpuh di atas matras penuh keringat dan air mata. Tak ada seorang pun yang menghiburnya saat ini.


...----------------...


Tanpa terasa hampir tiga jam Pingka menghabiskan waktu di sana, hati yang begitu amat terluka membuat dirinya diam seribu bahasa. Dengan tertatih ia menuju ruang ganti dan mengganti pakaian lalu menarik kopernya  mencari hotel di dekat terminal, ia berniat  beristirahat sejenak dan membersihkan dirinya.


Kali ini ia pulang ke kampung halamannya membawa air mata kepedihan. Entah kapan untuknya bisa  kembali lagi ke tempat  ini ? Tekadnya sudah bulat untuk meninggalkan semua cerita tentang Endra di Kota itu.


Hari esok ia akan membuka lembaran baru tanpa pria itu lagi membayangi hidupnya. Merasa cukup kuat dan tenang, Pingka memesan tiket bus  keberangkatan jam sembilan malam. Kali ini ia akan menikmati perjalanan panjang selama lima jam.


Ayo Pingka semangat dalam lima jam ke depan, sungguh kado ulang tahunmu sangat manis. Selamat tinggal kota penuh kenangan... Selamat ulang tahun untukku yang malang. Berbahagialah kamu disini


Pingka tersenyum getir


Matanya menikmati pemandangan malam dari kaca jendela bus.


...----------------...


Endra selalu menghubungi ponsel Pingka, tapi tidak aktif. Ia duduk di atas kasur dengan pikiran yang kalut, masih dengan nafas memburu lelah bercampur marah. Ia menatap tajam pada Melisa yang duduk bersandar di sofa mengelus lembut perutnya yang sudah membuncit.

__ADS_1


Kedua kalinya Pingka pergi dari sisinya, yang pertama pergi atas kemauan Endra sendiri dan yang kedua ia pergi setelah mendengarkan pengakuan Melisa


__ADS_2