
Usia pernikahan Pingka kini menginjak sepuluh bulan. Sedih pasti dirasakannya, wanita-wanita yang telah menikah setelahnya semua sudah berstatus calon Ibu. Endra dan Pingka sudah pernah memeriksakan diri mereka dan hasilnya normal, muncul keraguan di benak Pingka jika hasil pemeriksaannya salah.
Endra masih betah bersembunyi di ceruk leher istrinya dengan tangan melingkar erat di tubuh Pingka.
"Sayang ayo bangun ! Kita jalan-jalan pagi. Beberapa hari ini tubuhku cepat lelah, sepertinya aku butuh udara segar pagi hari." Pingka menoel pipi suaminya.
"Sebentar lagi sayang, lima menit lagi." Balas Endra tanpa membuka mata.
Pingka mendengus kesal, ia menarik tubuhnya dari pelukan suaminya.
"Aku mau ke kamar mandi."
Puas menggerutu kesal wanita itu keluar dari sana. Wajahnya sumringah melihat suaminya duduk di kasur.
"Mau jalan kemana, hm?" Endra menarik Pingka ke atas pangkuannya.
"Keliling komplek."
Endra mengangguk. "Tunggu sebentar, aku ke kamar mandi."
"Iya jangan lama-lama." Pingka berdiri dari pangkuan Endra.
"Istri ku sudah tidak sabar rupanya." Kekeh Endra. Pingka menguncir rambut panjangnya, ia memakai baju panjang dan celana panjang dari bahan kaos. "Aku siap !" Endra keluar dari ruang ganti dan memakai baju yang sama seperti Pingka.
Semenjak kejadian beberapa waktu lalu, kehidupan mereka kembali aman dan tentram. Cuaca pagi ini agak dingin walau semalam tidak turun hujan.
"Sayang cuacanya dingin, kamu yakin mau keluar?" Tanya Endra.
"Iya, rasakan udaranya sangat segar besok aku harus keluar jam lima pagi."
Endra mengangguk. Ia memasukkan tangan kanan istrinya ke dalam saku bajunya. Mereka melangkah santai melihat dan menikmati pemandangan sekitar komplek. Rumah di sana besar- besar dan jarang.
"Gugu, lihat itu jambu kristal di depan rumah cat biru itu. Sepertinya sudah tua dan matang, aku mau itu." Tunjuk Pingka dengan wajah manjanya.
"Nanti minta tolong Bi Weni membeli di toko buah."
"Tidak mau, aku mau buah yang itu"
"Sayang ini masih jam 05.00 pemiliknya masih tidur." Jelas Endra.
"Kalau begitu biar aku mencurinya, dia pasti tidak tahu."
"Ya Tuhan. Sayang... Suamimu ini lebih dari pada mampu membeli jambu untukmu." Ujar Endra. Ia tak habis pikir istrinya ingin mencuri.
"Ya sudah kita minta baik-baik." Pingka melangkah menuju pagar rumah cat biru.
Endra menggeleng. "Baiklah, kamu tunggu di disini. Kamu kenapa sayang ? Pagi begini minta jambu harusnya minta cium atau peluk tanpa nego padamu pasti aku kasih." Ujarnya mengetuk pintu rumah cat biru tanpa pagar di depannya. Tanpa disadarinya jika Pingka mengekor di belakangnya. "Permisi" Ucap Endra.
Pemilik rumah keluar dengan setengah kesadarannya. "Pak Endra, silahkan masuk ada yang bisa saya bantu ?" Wanita pemilik rumah membuka pintu lebar.
"Maaf, membangunkan Ibu sepagi ini. Saya mau membeli buah jambu kristal itu beberapa biji." Endra menunjuk pohon yang tak jauh dari rumah itu.
"Oh silahkan, Pak. Tidak perlu membeli ambil saja. Istrinya hamil ya?" Pemilik rumah tersenyum ramah.
"Tidak, Bu. Saya hanya kepengen saja buahnya." Balas Pingka tersenyum kaku.
Endra mengerti raut wajah istrinya berubah sendu. "Saya akan ambil buahnya, terimakasih sebelumnya."
"Sama-sama. Pak, Bu ! Jika mau lagi ambil saja walau saya tidak ada di rumah."
Endra mengambil tiga biji buah jambu kristal yang sudah matang, lalu memberikannya pada Pingka. Sekejap saja raut sendu tadi berubah sumringah melihat buah jambu kristal ditangannya.
"Ibu terimakasih, kami permisi dulu." Ucap Pingka lembut.
Wanita pemilik rumah mengangguk dan tersenyum sambil menutup pintu setelah Endra dan Pingka menjauh dari pekarangan rumahnya. Endra menggenggam lembut tangan istrinya, memberikan ketenangan jika semuanya akan baik-baik saja.
Tiba di rumah, Bi Weni sudah menyajikan sarapan diatas meja.
__ADS_1
"Nak Pingka sarapan sudah siap."
"Terimakasih, Bi. Maaf tidak membantu Bibi, tadi aku jalan-jalan."
"Tidak apa-apa, Nak. Wah ! Jambu nya besar sekali."
"Iya, Bi. Simpan saja di kulkas nanti saja aku makan."
Usai istirahat sebentar. Pingka dan Endra naik ke kamar mereka untuk membersihkan diri. Karena hari ini Weekend, jadi Pingka akan berkunjung ke rumah Salsa. Satu teman berkurang karena Ravita dan Rangga pindah ke kantor cabang milik Saguna group. Ravita berhenti bekerja karena ingin fokus pada keluarganya.
...----------------...
Dokter Reno sedang mematut tampilannya di kaca, hari ini dia tidak ada jam praktek. Dokter tampan itu berniat ingin melamar kekasihnya secara pribadi, sebelum memboyong keluarga Saguna secara resmi.
"Sempurna ! Pasti wajahnya bersemu merah saat aku melamarnya nanti. Menggemaskan !" Dokter Reno malu sendiri.
Selesai dengan persiapannya, Dokter Reno mengunjungi kediaman Endra terlebih dulu untuk membicarakan rencananya hari ini. Empat puluh lima menit kemudian mobil miliknya sudah memasuki halaman rumah Endra.
"Silahkan masuk, Pak." Ucap Bi Weni yang kebetulan berada di luar.
"Terimakasih, Bi !" Dokter Reno tersenyum.
Pria itu masuk dengan langkah kaki semangat serta senyum yang tak pudar di bibirnya. Endra dan Pingka melihat kearah suara kaki yang melangkah masuk.
"Hai, Cinta !" Sapa Dokter Reno pada Pingka.
"Sudah berapa kali kukatakan berhenti memanggilnya dengan sebutan itu." Ucap Endra kesal.
"Kamu sudah makan? Kalau belum makan sana minta sama Bi Weni" Seru Pingka.
"Terimakasih, aku sudah makan." Dokter Reno mengambil satu biji buah jambu kristal.
"Jambu ku." Pingka menunjuk buahnya yang sudah digigit dokter itu.
"Minta satu." Dokter Reno mengunyah daging buah jambu.
"Gugu. Ayo ganti jambu ku yang dimakannya." Rengek Pingka.
Mata Endra membulat sempurna. Mana mungkin ia kembali lagi ke rumah itu sudah senja begini. Setelah pagi buta tadi membangunkan pemiliknya.
"Sayang, dia cuma minta satu." Ucap Endra lembut. Sementara Dokter Reno tersenyum senang melihat raut wajah Endra.
"Tidak mau, aku maunya di ganti."
Kenapa dia jadi begini ?
Melihat wajah Pingka sedih Endra menjadi tak tega. "Iya sayang. Kamu tunggu disini biar aku sendiri ke rumah itu."
Pingka mengangguk dengan wajah menggemaskan. Melihat wajah istrinya seperti itu, Endra tersenyum lalu mencium pipi istrinya berulang kali.
"Ehm ! Masih ada orang disini." Seru Dokter Reno.
"Maaf sengaja, aku hanya berbagi kebahagiaan denganmu"
"Itu bukan berbagi Tuan, tapi pamer kemesraan ! Aku ke sini ingin memberitahu kalian berdua jika hari ini aku akan melamar Vina secara pribadi. Setelah dia menerimaku, baru aku mengajak Bibi kepada orang tuanya." Ujar Reno memberitahukan tujuan awalnya.
Endra dan Pingka diam sejenak mencerna apa yang disampaikan Dokter Reno.
"Kamu yakin? Ini tidak buru-buru" Tanya Endra serius.
"Aku yakin !"
"Maaf sebelumnya, Ren ! Hubungan kalian terhitung baru, apa kamu tidak mau mengenalnya lebih banyak lagi?" Tanya Pingka hati-hati.
"Aku bisa mengenalnya setelah menikah, aku hanya ingin segera meresmikan hubungan kami. Seiring waktu, aku dan Vina bisa lebih mengenal setelah kami tinggal bersama."
"Baiklah jika itu mau mu, kami hanya bisa mendukung dan mendoakan terbaik untukmu. Segera beritahu aku jika semua sudah siap." Ucap Endra.
__ADS_1
Dokter Reno mengangguk lalu meninggalkan rumah Endra, pria itu dengan riang gembira serta wajah berbinar bahagia dan tersenyum tanpa henti melajukan mobilnya. Hatinya berbunga-bunga, pikirannya menerawang. Bagaimana menggemaskannya nanti saat sang kekasih menerima lamarannya. Dokter Reno berkeyakinan jika perasaan Vina sama besarnya seperti perasaannya. Tak ingin lebih lama menghabiskan waktu untuk sebuah hubungan yang disebut sepasang kekasih, ia memantapkan hati untuk meminang belahan jiwanya
Mobil Dokter Reno berhenti di depan rumah sederhana milik Vina, ada sesuatu yang mencuri perhatian Dokter tampan itu. Sebuah mobil terparkir didepan rumah kekasihnya.
"Mungkin keluarganya, kebetulan sekali." Dokter Reno tersenyum.
Kakinya melangkah pelan ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya karena pintu rumah terbuka sedikit.
"Sayang setelah kita menikah nanti, kamu harus berhenti bekerja, karena tidak mungkin kita bekerja dalam kantor yang sama, aku akan membuat usaha sendiri untukmu."
Langkah Dokter Reno terhenti mendengar percakapan di dalam rumah kekasihnya.
"Baiklah jika itu mau mu, besok kita pulang ke kota ku untuk bertemu kedua orang tuaku." Balas wanitanya.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan dokter itu?"
"Aku hanya main-main dengannya, aku akan memutuskannya." Balas Wanita yang tak lain adalah Vina.
Dokter Reno terhuyung ke dinding, hatinya tersakiti. Dadanya sesak hanya dengan beberapa kata didengarnya. Cinta tulusnya terpatahkan dengan pengkhianatan. Mimpi yang sempurna dirangkainya lebur begitu saja saat dihadapkan dengan sebuah kenyataan, jika dirinya hanya sebagai permainan oleh Vina. Rasa sayang dan cintanya dihempaskan saat dirinya benar-benar mencintai wanita itu.
Dokter Reno diam beberapa saat merasakan ngilu di hatinya, bahkan luka tak berdarah ini meninggalkan sayatan yang amat sakit di hatinya .
"Tidak perlu memutuskan aku, karena aku sendiri yang mengakhirinya."
Suara dokter Reno mengejutkan dua insan yang sedang bermanja di atas sofa.
"Re-reno ka-kamu disini, sejak kapan?" Suara Vina terbata dan gemetar .
Terlihat dari iris matanya saat ini Vina dilanda ketakutan. Dokter Reno berusaha tenang dan meredam amarahnya pada pria yang merebut kekasihnya itu. Ia tak ingin mengotori tangannya menyentuh mereka yang telah mengkhianatinya. Karena, walau ia melarangnya jika itu kemauan mereka Dokter Reno tak bisa berbuat apa-apa.
Dokter tampan ini duduk di sofa sedikit jauh dari dua orang itu. "Terimakasih memberikanku bahagia walau sesaat. Terimakasih memberiku cinta dan sayang walau itu palsu. Terimakasih memberi perhatian padaku walau tak tulus, tapi aku bahagia dengan hubungan yang seperti permainan untukmu, karena aku tak pernah menganggap hubungan ini sebuah permainan, selalu bahagia dengan pilihanmu, jaga dirimu baik-baik. Kenangan yang kamu ciptakan untukku. Akan selalu tersimpan dengan rapi di tempatnya sendiri." Dokter Reno meninggalkan rumah Vina.
Vina menatap punggung pria yang telah menghilang dari balik pintunya, ia tak menyesal tapi caranya yang terlalu cepat.
...----------------...
Dokter Reno melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, dia adalah tipe pria yang tenang walau saat ini dirinya tidak baik-baik saja. Mobilnya berhenti di depan rumah Endra, langkahnya sedikit lamban memasuki rumah mewah ini.
"Reno kamu sudah kembali?" Pingka berdiri dari tempatnya duduk.
Dokter Reno mendekat lalu menarik Pingka dalam pelukannya. Melihat hal seperti itu Endra kelabakan
"Lepaskan istriku !" Teriak Endra. Melangkah cepat menghampiri istrinya untuk memisahkannya dari Dokter Reno.
Sebelum terjadi Pingka memberikan tanda pada suaminya untuk berhenti Endra mengepalkan tangannya kesal dan cemburu melihat istrinya berpelukan pada sahabatnya di depan matanya. Merasa cukup tenang Dokter Reno melepaskan pelukannya pada Pingka. Matanya memerah dan sendu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Pingka lembut.
Dokter Reno menjatuhkan tubuhnya di sofa. Pria itu menundukkan wajahnya, bahunya bergetar. Ia menangis tanpa suara tidak ada rasa malu lagi padanya. Ia hanya mencari ketengan dalam hatinya. Endra duduk mendekat lalu mengusap pelan pundak Dokter Reno. Cukup tenang Ia meminum air putih yang sebelumnya diambilkan Pingka.
"Ceritakan ada apa?" Endra sudah lupa pada rasa kesalnya.
"Dia mengkhianati ku, hubungan kami sebuah permainan untuknya. Dia akan menikah dengan orang lain." Dokter Reno tersenyum pahit.
"Dia bukan jodohmu. Putus dengannya bukannya duniamu juga berakhir, 'kan?" Endra terkekeh.
"Kamu benar, kamu pasti tahu dia wanita pertama yang mengisi sudut hatiku yang kosong setelah kepergian Kakakku, rasanya begitu sakit bahkan lebih sakit saat aku kehilangan Kakakku."
"Aku mengerti, setidaknya. Tuhan menunjukkan siapa dia sebelum hubunganmu dan dia terikat dalam pernikahan. Dan rasanya akan lebih sakit lagi jika kejadian ini ada dalam pernikahan." Balas Endra.
Pingka tersenyum. "Dia kandidat gagal untuk menjadi permaisuri pangeran sepertimu, jika aku belum menikah. Aku pun mau mendaftar menjadi kandidat baru."
Mata Endra melotot sempurna .
"Sayang !"
Pingka hanya tersenyum manis. Dokter Reno tak bereaksi, biasanya dia lah yang antusias menggoda Endra. Mungkin inilah yang dinamakan patah hati.
__ADS_1