Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Wedding Anniversary


__ADS_3

Siang itu Endra mengantar istrinya ke rumah Ibu Erly. Pingka tersenyum senang. Buah kelapa yang ingin ia buat es sudah serasa di tenggorokan. Endra ikut bahagia walau sedikit heran dengan perubahan istrinya, Dokter Reno mengekor dari belakang membawa mobil Pingka.


Mobil mereka berhenti di depan rumah Ibu Erly, Pingka penuh semangat langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam tanpa menunggu suaminya dan Dokter Reno.


"Ibu." Sapa Pingka duduk di samping Ibu Erly.


"Sayang kamu disini? Mana suamimu?" Ibu Erly kaget dengan kedatangan menantunya.


"Di luar bersama Reno, di mana Syila?" Pingka mencari balita itu.


"Tidur, dia sangat aktif." Ibu Erly senang menceritakan perkembangan cucunya


"Syukurlah, Ibu aku ingin meminta buah kelapa yang dibelakang mau dibuat es."


"Ambil sayang, kenapa kamu harus ijin dulu ? Ambil seberapa banyak yang kamu mau." Balas Ibu Erly.


"Ibu / Bibi".


"Kalian sudah makan siang?" Tanya ibu Erly.


"Belum, Bu. Aku ditinggal tadi pagi. Jadi melewatkan sarapanku." Adu Endra dengan wajah menggemaskan. Pingka tersenyum bersama Dokter Reno.


"Ayo makan siang, biar Ibu yang menyiapkannya."


Endra tersenyum senang kemudian berniat menyandarkan tubuhnya di bahu istrinya.


"Arif." Pingka berlari kecil lalu bergelayut manja ditangan pria itu.


"Sayang, jangan menyentuh pria lain." Tegur Endra. Wajahnya sudah masam melihat tangan lembut istrinya mencengkram kuat di lengan Arif. Apa lagi tubuhnya mendarat sempurna di atas sofa karena Pingka langsung berdiri ketika melihat Arif di ambang pintu.


"Kalian makan dulu ya." Pingka menarik Arif ke meja makan.


"Kamu duluan ya, aku ingin bicara pada suamimu." Arip berucap lembut. Pingka mengangguk lalu meninggalkan tiga pria itu diruang tengah. "Dia kenapa? Biasa manja juga tidak seperti itu." Tanya Arif.


"Aku juga tidak tahu."


Dokter Reno melipat tangannya di dada menyimak percakapan Endra dan Arif dengan senyum mengembang tiada henti.


Terus siksa mereka Pingka


Dokter Reno sangat bahagia.


Mereka bertiga menyusul Pingka untuk makan siang. Usai makan siang mereka santai sejenak sementara Pingka menyiapkan campuran es kelapa nya.


"Arif, ayo !"


Arif berdiri dan mengikuti Pingka. "Maaf Bi, Aku memasuki halaman belakang rumahmu." Ucapnya saat berpapasan dengan Ibu Erly.


"Tidak apa-apa, Nak. Ambil yang banyak untuknya." Ibu Erly mengusap lembut pundak Arif.


Arif bersiap memanjat kelapa yang tidak terlalu tinggi. "Kalau pohonnya seperti ini kamu juga bisa mengambilnya sendiri."


"Suamiku tidak mengijinkan ku memanjat pohon, lama-lama dia sudah seperti kak Fajar. Aku menjadi merindukan Kakakku itu." Pingka tiba-tiba menangis.


Arif kelabakan melihat Pingka menangis tersedu. Endra yang menyusul bersama Dokter Reno terkejut melihat Pingka duduk di kursi menangis dan Arif berusaha menenangkannya.


"Jangan menangis Pingka, aku akan memanjat sekarang." Arif duduk di depan Pingka.


Tangis Pingka belum juga berhenti, Arif menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ada apa ini ? Sayang kamu kenapa?" Endra cemas melihat istrinya tiba-tiba menangis.


"Dia merindukan Kakaknya."


Endra bertambah heran sejak kapan istrinya itu cengeng karena merindukan Kakaknya.


"Sayang, kamu bisa mengunjungi mereka jika merindukannya." Endra menarik tubuh Pingka ke pelukannya.


Pingka mengusap air matanya. "Kamu pakai parfum apa ? Baunya tidak nyaman seperti ini?" Ujarnya menjauhkan tubuhnya dari Endra.


"Parfum yang biasa aku pakai, Jibi."


"Ganti baju sana, jangan memakai parfum itu lagi."

__ADS_1


Endra tersenyum tapi juga heran melihat tingkah istrinya yang tak biasa. "Baiklah tunggu disini." Ia mengecup kening istrinya sebelum masuk ke rumah.


Dokter Reno duduk disampingi Pingka. Mereka berdua melihat Arif mengambil buah kelapa.


"Wah kamu seperti tarzan." Ledek Dokter Reno.


"Aku sudah terbiasa memanjat pohon di kampung dan kamu tahu wanita di sampingmu itu tarzan wanita." Balas Arif sudah turun ke bawah.


Tanpa terasa hari sudah mulai sore. Arif terpaksa ijin karena Pingka tidak mau ia bekerja lagi. Mereka menikmati es kelapa muda di taman belakang, tak lama Sandi dan Melan juga bergabung.


...----------------...


Tiga hari kemudian Endra membuat pesta kecil untuk merayakan Ulang tahun pernikahannya yang ke satu tahun. Banyak orang-orang mempertanyakan istrinya yang belum hamil. Bagaimana nanti pewaris dari keluarga Saguna? Jika istrinya tidak bisa memberi keturunan.


Endra hanya membalas dengan senyuman tanpa menjawab dengan kata-kata. Karena dialah yang mejalani rumah tangganya dan orang lain hanya memandangnya saja.


"Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apa pun kecuali maut yang memisahkan kita. Andai aku terlahir kembali maka aku akan meminta tetap dirimu yang mendampingiku." Endra mengecup kening istrinya yang masih terlelap. Pingka merasakan bibir kenyal suaminya menempel di keningnya. Perlahan ia membuka matanya dan tersenyum. "Kamu sudah bangun ?" Endra merapikan anak rambut istrinya. Ia seakan tak pernah puas melihat wajah istrinya itu.


"Hm, ayo bangun aku ingin ke kamar mandi."


Endra melepaskan pelukannya, Pingka pergi ke kamar mandi. Tiba-tiba, ia mual mencium aroma pewangi kamar mandi itu. Pingka merasakan perutnya bergejolak. Dan akhirnya memuntahkan isi perutnya yang kosong. Tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin. Endra mendengar suara Pingka yang muntah segera menggedor pintu kamar mandi.


Pingka berusaha membuka pintu dengan langkah yang lemas padahal baru sekali muntah. Mungkin karena perutnya kosong jadi tidak memiliki tenaga lagi.


Pintu terbuka Endra mendapati wajah pucat istrinya. "Sayang kamu kenapa ? Kamu sakit?"


"Tidak, aku hanya mual mencium aroma parfum ruangan ini."


"Baiklah kalau begitu, nanti aku minta Bi Weni menggantinya. Kamu pakai kamar mandi di kamar tamu saja dulu." Saran Endra dengan perasaan masih cemas.


Pingka setuju, Endra segera membuatkan air gula untuk istrinya supaya tenaganya cepat pulih.


...----------------...


Beberapa jam kemudian Pingka dan Endra menyambut tamu mereka yang hanya berjumlah lima puluhan orang di kediaman mereka. Perayaan Anniversary pernikahan mereka berjalan lancar, di sana juga ada Fajar sekeluarga. Pingka melepas rindu pada kakaknya itu dengan menangis haru walau merasa aneh tapi mereka tak protes. Dimas dan Salsa juga hadir membawa bayi mereka, Ciara semakin gemuk. Ia juga sudah bisa tersenyum. Ferdy juga datang menggandeng seorang wanita yang Pingka kenali.


"Ferdy."


Pria itu mendekat lalu menarik Pingka dalam pelukannya "Hei gadis kecilku selamat ulang tahun pernikahanmu." Ucapnya mengusap pundak Pingka.


"Nona."


"Indira." Pingka memeluk karyawan di toko rotinya itu.


"Sayang, jangan panggil Nona panggil dia Pingka." Seru Ferdy.


"Sayang?" Pingka mengulang panggilan Ferdy untuk Indira.


"Kami terlibat cinta lokasi." Ferdy tersenyum. Indira menundukkan kepalanya merasa malu.


"Benarkah ? Akhirnya kamu laku juga , Indira panggil aku Pingka terimakasih sudah mencintai pria kesayanganku ini."


Mata Endra melotot mendengar pria kesayangan dari mulut istrinya. "Sayang hanya aku pria kesayanganmu." Serunya melepaskan rasa cemburunya sejak tadi.


"Kamu bukan hanya pria kesayanganku. Tapi pria yang kucintai karena cintaku hanya kuberikan pada satu orang saja berbeda pada rasa sayangku, bisa kuberikan pada semua orang terdekatku." Jelas Pingka.


Wajah Endra merona senang. Senyum di bibirnya mengembang .


"Jadi kamu juga menyayangiku?" Seru Dokter Reno menghampiri mereka. Pingka mengangguk tersenyum. "Ah, terimakasih cintaku." Dokter Reno ingin memeluk Pingka.


Endra menatap tajam pada Dokter Reno. Lalu menggantikan Pingka untuk dipeluk dokter Reno.


"Bubar sana !" Titah Endra kesal.


Dokter Reno terkekeh lalu mengajak Ferdy mengambil makanan yang tersaji. Pingka merasakan perutnya mual lagi setelah mencium aroma parfum yang mendekatinya berbeda - beda .


"Sayang aku mual lagi"


Endra gemas bercampur cemas. "Mau Permen? Apa kamu lapar?" Ia Menangkup wajah istrinya dengan telapak tangannya.


"Aku tidak lapar, aroma parfum yang berbeda setiap orang menghampiri kita membuat aku mual." Jawab Pingka.


Endra tak tahu harus berbuat apa, karena tak mungkin ia membawa istrinya masuk ke kamar sementara tamu masih ada.

__ADS_1


"Pingka kenapa wajahmu pucat." Arif juga hadir di sana yang menarik perhatian adalah anak perempuan yang di gendongnya.


"Aku tidak apa-apa." Pingka mengalihkan pandangannya pada wanita di samping Arif "Rania." Wanita itu berhamburan di pelukan sahabatnya itu.


Rania membalas pelukan Pingka. Mereka berdua larut dalam rasa rindu dan haru. Endra mengusap pundak istrinya agar bisa mengendalikan emosinya, hal sama dilakukan Arif pada Rania.


"Terimakasih sudah datang."


"Endra. Pingka, aku akan menikah bulan depan." Ujar Arif.


"Menikah ? Sama siapa? Aku tidak pernah melihatmu dekat dengan wanita." Tanya Pingka.


Arif tersenyum. "Nanti aku perkenalkan dia sama sepertiku. Polwan !"


"Syukurlah, semoga lancar "


Arif dan Rania meninggalkan Endra dan Pingka. Semakin lama Pingka semakin pusing dan lelah, perutnya semakin mual. Entahlah ia merasa sensitif pada aroma parfum tiap orang yang mendekati mereka. Pingka masih berusaha bertahan demi tamu undangan. Endra juga memperhatikan raut wajah istrinya yang memucat.


"Sayang sepertinya kamu sakit." Endra membawa tubuh Pingka duduk di sofa.


"Aku hanya mual Gugu, perutku tidak nyaman dari tadi. Apa lagi parfum Arif membuatku pusing." Keluh Pingka.


Endra terkekeh aneh saja pikirnya. Istrinya mabuk parfum.


...----------------...


Satu jam kemudian tamu undangan sudah pulang hanya sisa keluarga inti saja yang bertahan. Pingka beberapa kali menyentuh pelipisnya karena merasa pusing. Perutnya juga semakin mual setelah Arif duduk disisinya.


"Sayang kamu kenapa?" Endra cemas karena Pingka semakin pucat.


"Perutku mual mencium bau parfum Arif"


Laki-laki pemilik nama ini memicingkan matanya. "Kenapa bisa mual ?" Bertanya karena merasa heran.


"Entahlah." Pingka langsung berlari ke dapur. Di Sana Pingka memuntahkan isi perutnya, Endra segera menyusul dan menggelung rambut istrinya agar tak kena muntahan. "Jangan kesini." Ucap Pingka lemah.


"Syutt... Muntahlah sayang jangan ditahan." Endra mengusap pundak istrinya. Pingka merasa lelah dan lemas setelah lama muntah. Semua orang melihat ke arahnya dengan wajah tegang.


"Kamu kenapa, sayang?" Ibu Erly menghampiri menantunya.


"Entahlah, Bu. Sejak tadi aku merasa mual. Apalagi di samping Arif."


Wajah Arif berubah kesal. "Kenapa denganku?"


"Hei bocah ganti bajumu sana." Titah Dokter Reno. Endra mengangguk agar Arif menurut, pria itu terpaksa menurut.


"Jingga sini." Fajar menarik tubuh Adiknya duduk bersamanya.


Pingka duduk disisi Fajar lalu menjatuhkan kepalanya dipundak  laki-laki itu. Seperti anak kecil ia merasa nyaman dan perlahan menutup matanya. " Jingga." Fajar menyentuh pipi Adiknya.


Pingka hanya diam dengan mata tertutup. Berapa kali Fajar memanggil namanya tidak ada respon dari adiknya itu.


Endra menjadi cemas. "Reno periksa istriku. "Titahnya mengambil alih tubuh Pingka yang lemah.


Semua orang menjadi panik, Dokter Reno bergegas mengambil peralatan medisnya. Ia mulai memeriksa Pingka setelah beberapa menit, seulas senyum terukir di bibir Dokter Reno.


"Bagaimana ? Kenapa kamu malah tersenyum."


"Tenang. Cintaku hanya pingsan, dia tak apa-apa semua normal. Dugaan ku sementara, ada calon Endra junior disini." Dokter Reno mengusap perut rata Pingka.


"Hei jangan menyentuh istriku!" Endra menepis tangan Dokter Reno.


Pria itu terkekeh. "Mayang kamu bidan, 'kan? Coba kamu periksa." Dokter Reno mempersilahkan.


"Baiklah." Mayang memeriksa hampir sama dengan apa dilakukan Dokter Reno. Ia juga meraba perut rata Pingka.


"Dokter Reno benar sepertinya Jingga hamil."


Endra mematung sejenak. Benarkah ? apa yang didengarnya. Penantian dua belas bulan lamanya akhirnya akan hadir. Apa cicilannya telah sempurna dan selesai?


Dokter Reno terbahak melihat wajah Endra Saguna larut dalam pikirannya.


"Pastikan besok ke Dokter kandungan."

__ADS_1


Semua orang merasa senang terlebih Endra. Ia tak bisa berkata-kata. Rasa bahagianya membungkam mulutnya, hanya ada senyum dan pelukan hangat pada tubuh istrinya yang tertidur.


__ADS_2