
Berdasarkan hasil pemeriksaan Pingka dinyatakan sehat begitu juga dengan kedua bayinya, pengasuhan mereka sementara diambil alih oleh Melan. Pingka melangkah perlahan masuk kedalam rumah. Melan dan Bi Weni yang ikut menjemput masuk sambil menggendong bayi kembar Pingka.
"Sayang hati-hati perhatikan langkahmu." Endra memapah tubuh Pingka.
"Jangan cemas aku bisa melangkah dengan benar."
"Kita tempati kamar yang di bawah saja dulu, setelah kamu pulih total baru kita kembali ke kamar utama." Ucap Endra.
"Baiklah."
Endra mengantar Pingka bersama bayinya untuk beristirahat ke kamar. Lalu dia ikut bergabung bersama Sandi dan Ibunya di ruang tengah.
"Nak, keluarga Pingka sebentar lagi tiba. Ibu akan menyiapkan makan malam untuk kita semua." Ucap Ibu Erly.
"Ibu sebaiknya beberapa hari menginap disini saja sampai Pingka sembuh total."
"Kakak jangan khawatir. Aku, Kak Sandi dan Ibu akan tinggal di sini sampai bayi-bayi mu berat badannya normal. Dan kakak ipar bisa mengurus mereka sendiri, pemulihannya cukup lama. Kakak melahirkan kembar dengan persalinan normal." Tutur Melan.
Endra mengangguk faham. "Sekarang kamu istirahatlah, Ibu juga. Masalah makanan kita pesan saja nanti."
"Aku setuju, ayo kita istirahat semua." Seru Sandi.
...----------------...
Malam telah menyapa mereka, suasana rumah Endra begitu ramai. Sore tadi Fajar dan keluarganya tiba di rumah Endra. Bibi Halimah segera menyambangi cucunya yang baru lahir. Begitu juga Fajar dirinya sangat bahagia masih belum percaya Adik yang sedari kecil dijaga, disayang nya kini telah menjadi Ibu.
"Bagaimana kondisimu?" Fajar bertanya sambil duduk di tepi kasur.
"Sejak tadi malam aku merasakan sakit di tubuhku."
"Jingga, itu wajar karena kamu menguras semua tenaga mu melahirkan dua bayi." Ujar Mayang lembut.
__ADS_1
"Bibi bawakan ramuan khusus dari Desa, kemarin Bibi memesannya. Agar kamu cepat pulih dan segar kembali." Tambah Bibi Halimah.
"Jingga, jika ada keluhan langsung beritahukan Kakak, sering-sering berendam air hangat biar urat tubuhmu tidak kaku." Sambung Fajar penuh perhatian.
"Iya Kak, aku merasa tubuh ku pegal semua."
Endra tak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka di dalam kamar saat dirinya membawa nampan makanan untuk Pingka.
Kamu sudah berjuang keras sayang
Endra masuk lalu meletakkan nampan di atas nakas. "Bibi... Fajar... waktunya makan malam kalian makanlah dulu."
"Baiklah, ayo Bu kita keluar. Jingga juga akan makan." Fajar beranjak dari tempatnya duduk.
"Sayang, kamu makanlah bersama mereka. Aku bisa makan sendiri."
Endra menggeleng. "Kamu makan terlebih dulu karena dua bayi kita sebentar lagi minum Asi."
"Bibi, kalian makanlah dan minta tolong sama Bi Weni antarkan makanan lagi ke kamar." Ucap Pingka.
Mereka meninggalkan kamar Pingka lalu ikut bergabung di meja makan, sebelumnya Bibi Halimah sudah menyampaikan pesan Pingka.
Endra mengambil sendok ingin menyuapi Pingka. Laki-laki ini masih setia menemani istrinya.
"Tunggu kita makan sama-sama." Pingka menahan sendok ditangan Endra. Bertepatan dengan Bi Weni mengantarkan makanan. "Kamu juga makan, karena tenaga mu dibutuhkan olehku dan anak-anak kita." Sambung Pingka.
Endra mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah ayo kita makan."
Mereka berdua makan bersama, kamar kedua dari kamar utama ini cukup besar untuk mereka berkumpul.
__ADS_1
...----------------...
Dimas dan Salsa baru pulang dari luar kota langsung menuju rumah Endra. Salsa menangis sejak tadi karena menyesal tidak mendampingi Pingka melahirkan. Di sana juga ada Arin dan Dokter Reno lalu Arif dan Riska tak lama menyusul juga Ferdy dan Indira.
"Kalian disini?" Endra melihat ruang keluarganya penuh.
"Seperti yang kamu lihat, dimana bayi kembar ku?" Balas dokter Reno.
"Mereka bayiku, ayo masuk saja kamarnya luas."
Mereka semua masuk kedalam kamar yang ditempati Pingka. Salsa kembali menangis karena tidak bisa mendampingi sahabatnya itu melahirkan. Puas melihat dua bayi mungil itu mereka saling bercengkrama satu sama lainnya berbaur dalam rasa bahagia.
"Siapa nama mereka?" Tanya Fajar.
Mereka semua terdiam sejenak mendengar pertanyaan Fajar.
Endra berdiri di sisi ranjang bayinya. "Harsa Enggar Saguna dan Hara Vetrila Saguna." Mereka mengangguk setuju, atas pilihan nama yang diambil Endra. "Kamu setuju sayang." Tanya Endra lagi.
"Nama yang bagus aku setuju." Pingka tersenyum.
Pingka dan Endra merasakan kebahagian yang luar biasa setelah beberapa kali menghadapi masalah dalam rumah tangga mereka.
Para wanita berbincang seputar tumbuh kembang anak, di sana ada Melan, Salsa, Mayang dan Riska yang tengah hamil lalu indira dan Arin.
Sementara para pria berbincang dengan tema Lain. Ibu Erly dan Bibi Halimah bermain bersama Syila, Rafa dan Ciara. Malam ini menjadi malam yang teristimewa semua orang berkumpul di kediaman Endra menyambut putra putrinya.
Kehidupan yang kusangka telah rapuh dan jauh dari kebahagiaan ternyata terbalik 180 derajat. Kebahagiaan itu sekali lagi menyapaku, Tuhan semoga lukisan senyum bahagia di wajah orang-orang yang kukasih ini tidak pudar termakan waktu akan dan tetap ada selamanya.
Pingka
Wanita yang telah aku benci menumpang hidup kepada keluargaku, melalui dia Tuhan menolongku dari maut. Melalui dia pula Tuhan memberiku kebahagiaan. Sekali telah aku campakan tapi dengan tidak tahu malunya aku memintanya kembali, Tuhan ijinkan aku serakah sekali lagi, tetap jadikan dia istriku sampai kematian menjemput dan sampai terlahir kembali sebagi manusia baru.
__ADS_1
Endra
END